Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 138

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 138

"Tapi kau tiada kesempatan lagi untuk terhindar dari kejaran ular sakti penghisap darah ini..." Berdiri bulu kuduk Suma Bing. Sungguh di luar sangkaannya bahwa si maling tua menggunakan binatang aneh yang dikabarkan sebagai penghisap darah itu untuk menghadapi dirinya.

Selama ratusan tahun, sukar dicari meski hanya seekor ular sakti penghisap darah ini. Ular semacam ini merupakan raja di antara ular. Badannya kebal senjata tajam, besarnya hanya seukuran jari manis, dan di tengah tubuhnya tumbuh sepasang sayap sehingga ia dapat terbang dengan sangat pesat. Begitu membaui darah manusia, ia segera menembus kulit, merongga ke dalam tubuh, dan masuk ke dalam aliran darah sembari menyedot darah dan memuntahkannya kembali sampai darah orang itu habis dan mati.

Wajah Pit Yau Ang yang pucat ketakutan bersemu kehijauan. Rasa takut dan gugup merangsang benaknya. Teriaknya tersendat, "Senior, aku adalah istrinya..."

"Lohu sudah tahu!"

"Bolehkah Siau-li bicara beberapa patah kata dulu?"

"Silakan!"

"Senior menggunakan cara sedemikian keji untuk menghadapinya, pasti mempunyai alasan yang kuat?"

"Sudah tentu!"

"Junior minta penjelasan?"

"Menggunakan cundrik penembus dada, dia membunuh Bu Khek Sianglo. Ini demi menuntut balas, hal itu dapat dimaklumi. Tapi tidak semestinya dia membanjirkan darah dan membabat seluruh Bu Khek Po sampai ke akar-akarnya, bahkan ayam dan itik juga tidak ketinggalan dibunuhnya semua. Malah yang paling keterlaluan, dengan kekerasan dia merebut Kipas Batu Pualam."

Keterangan ini membuat Suma Bing melonjak kaget. Dari mana soal ini harus dijelaskan? Serunya menegaskan, "Apa? Membanjirkan darah di Bu Khek Po?"

"Masa kau berani menyangkal?" bentak si maling bintang dengan beringas.

"Memang, aku menyangkal!"

"Ketua Bu Khek sendiri yang mengatakannya kepadaku sebelum ajal. Ini bukti yang paling kuat bahwa kau takkan luput dari tuntutan keadilan ini!"

"Ingin kutanya, kapan peristiwa itu terjadi?"

"Setengah bulan yang lalu!"

"Setengah bulan yang lalu?" Si maling bintang membenarkan dan menegaskan sekali lagi.

Legalah hati Suma Bing. Ujarnya, "Aku mendampingi pusara di sini sudah satu bulan lebih, selangkah pun belum pernah pergi."

"Siapa yang menjadi saksi bahwa kau belum pernah pergi selangkah pun?" desak si maling bintang.

"Ini..."

"Buyung, mungkin di jagat ini ada dua Suma Bing?"

Sebuah bayangan berkelebat mendatangi. Itulah seorang perempuan paruh baya yang bersolek berlebihan. Dia tidak lain adalah Ong Fong Jui, bibi Suma Bing. Semua hadirin tertegun dibuatnya.

"Bibi!" seru Suma Bing kegirangan.

Napas Ong Fong Jui agak memburu, wajahnya agak kumal dan sedikit pucat. Sekilas ia menyapu pandangan ke seluruh hadirin, lalu matanya melotot ke arah Suma Bing dan berkata, "Anak Bing, apakah kau sudah gila?"

Berubah air muka Suma Bing. Sahutnya, "Aku..."

"Secara kekerasan kau merebut Ce Giok Pe Yap, benda pusaka pelindung Perguruan Ngo-bi-pay. Malah kau lukai dan bunuh Ong Tionglo, salah satu dari ketiga pelindung mereka."

Suma Bing merasa ada sesuatu yang ganjil dalam urusan ini. Sangkalnya gemetar, "Bibi, aku belum pernah berbuat demikian!"

"Kau tidak?" desak Ong Fong Jui sambil mengangkat alis.

"Ya, selama sebulan lebih, selangkah pun aku belum pernah pergi dari sini!"

"Apa benar?"

"Tiada perlunya keponakan berbohong. Apa Bibi juga berpendapat keponakanmu bisa berbuat hal-hal yang demikian itu?"

"Engkoh Bing," sela Pit Yau Ang dengan wajah berubah. Suaranya juga gugup. "Katamu selama satu bulan kau tidak meninggalkan tempat ini?"

Dirangsang berbagai pertanyaan ini, Suma Bing menjadi pusing tujuh keliling. Sahutnya keras karena jengkel, "Tidak salah!"

"Kau... benarkah..."

"Adik Ang, apa artinya ini?"

"Dua puluh hari yang lalu bukankah kau kembali ke perkampungan..." Pit Yau Ang menyangka karena ingin menghindari tuntutan yang mendesak inilah Suma Bing mengeluarkan kata-kata tersebut. Maka perkataannya hanya diucapkan setengah-setengah saja untuk mengawasi reaksinya.

Lain halnya dengan Suma Bing, hatinya putih bersih dan tiada ganjalan apa pun. Begitu mendengar perkataan Pit Yau Ang yang diucapkan setengah-setengah ini, lantas dia merasakan kalau persoalan ini pasti ada latar belakangnya. Kejadian ini terjadi mendadak dan semua menimpa ke atas bahunya; ini pasti bukan terjadi secara kebetulan saja.

Maka dengan mendelikkan mata, ia bertanya, "Adik Ang, apa yang kau katakan?"

"Aku..."

"Katakan!"

"Dua puluh hari yang lalu, bukankah kau pernah kembali ke perkampungan secara tergesa-gesa untuk mengambil Kiu Im Cin Keng?"

"Kiu Im Cin Keng?"

"Ha, kau..."

"Demi Allah, selangkah pun aku belum pernah meninggalkan tempat ini!"

Semua hadirin berubah air mukanya. Si maling bintang, Si Ban Cwan, mundur beberapa langkah. Serunya terheran-heran, "Buyung, jadi bukan kau yang membabat habis seluruh penghuni Bu Khek Po?"

"Senior, masa kau tidak percaya kepadaku?"

"Aneh..."

"Pasti ada seseorang yang menyamar sepertiku untuk menyebar kejahatan ini."

"Ya, selain ini tiada keterangan lain yang dapat menjelaskan. Tapi siapakah dia? Dan apa maksud tujuannya?"

Mendadak Ong Fong Jui membentak keras, "Siapa itu yang main sembunyi-sembunyi!" Tubuhnya lantas melenting dengan kecepatan bagai kilat keluar hutan.

"Buyung," ujar si maling bintang penuh penyesalan, "aku si maling tua terlalu sembrono."

Suma Bing tertawa. Sahutnya, "Senior tak usah gelisah dan jangan pikirkan lagi hal ini. Yang sudah lalu tak perlu dipersoalkan lagi."

Pit Yau Ang tampil ke hadapan Suma Bing. Suaranya gugup dan gelisah, "Engkoh Bing, buku Kiu Im Cin Keng itu adalah kepunyaan Ayah..."

Kata Suma Bing dengan gemas, "Adik Ang, aku akan mencarinya kembali sekuat tenaga. Orang yang menyaru sebagai aku itu, aku bersumpah akan menghancurluluhkannya!"

"Eh, Engkoh Bing, pusara ini..."

"Phoa Kin Sian telah meninggal," kata Suma Bing pilu. "Sebab kematiannya biarlah kelak kuceritakan kepadamu!"

Meskipun pernikahan Pit Yau Ang dengan Suma Bing dirayakan dengan tata cara resmi, tetapi kalau diselami secara mendalam, hakikatnya Phoa Kin Sian adalah istri pertama yang sah. Jadi, mau tidak mau Pit Yau Ang hanya sebagai istri kedua. Setelah mengetahui saingannya itu telah meninggal, entah bagaimana perasaan hatinya, susahlah diutarakan. Maka dengan tersipu-sipu ia maju ke depan kuburan dan berlutut memberi penghormatan terakhir serta mengheningkan cipta sekian lamanya sebelum berdiri lagi.

Suma Bing berpikir bolak-balik. Serunya tegas, "Sebetulnya aku hendak mendampingi pusara ini selama seratus hari. Dengan adanya kejadian di luar dugaan ini, terpaksa kubatalkan janjiku kepada almarhumah!"

"Engkoh Bing, aku..."

"Adik Ang, lebih baik kau kembali saja ke perkampungan!"

"Aku ingin ikut kau..."

"Adik Ang, untuk mencegah kejadian yang terulang seperti ini, lebih baik kau pulang saja."

Perkataan ini membuat getar perasaan Pit Yau Ang, sehingga terpaksa ia manggut-manggut. Mendadak Suma Bing teringat sesuatu, sikapnya serius. "Adik Ang, letak perkampungan kita sedemikian rahasia, bagaimana orang yang menyamar sebagai aku itu bisa masuk?"

Komisaris Luar Teng Tiong Cwan tiba-tiba bertekuk lutut dan menyahut tersengal, "Lapor Huma, karena kesalahan hamba yang ceroboh tanpa penelitian yang seksama, maka hamba menyuruh seorang Hiangcu untuk mengundang serigala itu masuk ke dalam rumah..."

"Coba kau tuturkan secara jelas!"

"Anak buah hamba, Toan Bu Jiang Hiangcu, sedang bergilir piket untuk memeriksa daerah sekitar seratusan li. Secara tiba-tiba dia bertemu dengan orang yang menyamar sebagai Huma itu. Kita tak dapat membedakan antara tulen dan palsu, maka ia diundang masuk..."

"Aku sudah paham!" kata Suma Bing terus berputar menghadap Pit Yau Ang. Katanya pula, "Adik Ang, selanjutnya bagaimana?"

Kata Pit Yau Ang penasaran, "Bajingan itu pura-pura sedang sakit selesma, hingga suaranya berubah serak. Karena tidak menduga, aku kurang periksa dan terjebak ke dalam tipu dayanya. Begitu bertemu, dia lantas menanyakan Kiu Im Cin Keng, katanya ada keperluan yang sangat mendesak. Lalu cepat-cepat dia pergi lagi membawa buku itu. Setelah kejadian itu aku baru sadar dan merasa ada hal-hal yang ganjil, maka buru-buru aku keluar menyusulmu untuk menanyakan kebenaran ini!"

Komisaris Luar Teng Tiong Cwan tampil ke depan lagi dan berkata, "Anak buah hamba, Toan Hiangcu, bertugas secara lalai. Nanti setelah kembali pasti akan dihukum secara setimpal sesuai dengan peraturan dan undang-undang kita. Tentang hamba sendiri, harap Huma berkenan menjatuhi hukuman yang setimpal juga."

Suma Bing mengibas tangan, katanya, "Teng Congkoan, silakan bangun. Kejadian ini terjadi di luar dugaan, kesalahan bukan terletak padamu seorang. Sejak kini tidak perlu dipersoalkan lagi, hanya untuk selanjutnya kalian harus hati-hati dan waspada!"

"Terima kasih atas kemurahan hati Huma!"

"Adik Ang, kau dan mereka bertiga segeralah pulang!"

"Tapi kau hanya seorang diri, mana bisa aku lega hati..."

"Kau tidak perlu banyak khawatir tentang diriku."

"Biar kutugaskan Sim Tong serta tiga orang Hiangcu untuk menjadi pengawalmu..."

"Ini juga tidak perlu!"

"Aku hanya menugaskan mereka mengikuti secara diam-diam. Kalau perlu, mereka bisa memberi kabar kepada kita."

Tak enak bagi Suma Bing untuk terus menolak kebaikan istrinya, sehingga terpaksa ia manggut-manggut. "Begitu juga baik."

"Engkoh Bing, jagalah dirimu baik-baik. Setelah segalanya selesai, segeralah kembali."

"Aku pasti kembali. Adik Ang, kau juga hati-hati!"

"Hamba sekalian menghaturkan selamat berpisah!" Coh Yu Hu Pit dan Teng Tiong Cwan berbareng membungkuk memberi hormat.

Suma Bing sedikit membungkuk sebagai balasan serta katanya, "Kalian tak perlu banyak peradatan!"

Dengan rasa berat yang menekan, Pit Yau Ang pun berpisah. Dengan nada berat, si maling bintang Si Ban Cwan berkata kepada Suma Bing, "Buyung, menghadapi tipu muslihat yang rendah ini, kau mempunyai perhitungan bagaimana?"

"Terutama harus menangkap pentolannya dulu."

"Menurut anggapanmu, siapakah orangnya yang telah berbuat semua ini?"

"Saat ini susah dikatakan!"

"Eh, kenapa bibimu pergi lantas tidak kembali lagi?"

Sejenak Suma Bing melengak, lantas sahutnya, "Mungkin mengejar musuh!" Di mulut ia berkata demikian, namun dalam batin ia berpikir bahwa bibinya sudah mewarisi seluruh kepandaian Pek-kut Hujin. Mengingat tingginya kepandaian sang bibi yang susah dicari tandingannya di dunia persilatan, keselamatannya tentu tidak perlu dikhawatirkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment