Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 139

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 139

Kata si Maling Bintang, "Ciangbunjin Bu Khek Bun yang terdahulu adalah sahabat karibku yang paling kental. Perguruannya tertimpa bencana sedemikian mengenaskan, dapatkah atau tegakah aku berpangku tangan menonton saja?" Baru sekarang Suma Bing paham mengapa si maling tua tadi begitu berani dan sesumbar hendak menuntut balas tanpa memikirkan risikonya, bahkan rela untuk gugur bersama.

Mendadak teringat olehnya saat dirinya membunuh Bu Khek Sianglo tempo hari; gadis remaja bernama Tio Keh Siok itu, kepandaiannya jarang ada tandingannya di dunia persilatan.

Masa orang yang menyamar sebagai dirinya itu memiliki kepandaian sampai puncak tertinggi? Kalau tidak, masakan semudah itu dia membabat habis seluruh Bu Khek Po? Sebelum dirinya datang, pihak Bwe Hwa Hwe juga telah meluruk ke sana dan sesumbar hendak menumpas habis seluruh Bu Khek Po dengan tujuan utama Kipas Batu Pualam itu.

Sedang si durjana yang menyamar sebagai dirinya itu telah merebut Kipas Pualam tersebut. Kedua belah pihak ini bertujuan sama, yaitu mendapatkan Kipas Pualam itu.

Apakah bukan perbuatan orang yang diutus oleh pihak Bwe Hwa Hwe? Tapi dari mana datang tokoh silat sedemikian lihai dari Bwe Hwa Hwe? Seumpama Loh Cu Gi sendiri, lwekangnya juga tidak unggul jauh dibanding Tio Keh Siok.

Dalam jangka satu bulan, Perkampungan Bumi kehilangan Kiu Im Cinkeng, Ce Giok Pe Yap—benda pusaka pelindung perguruan Ngo Bi Pay—juga direbut orang. Ini benar-benar berita yang menggemparkan dan merupakan tipu daya yang menakutkan.

Untuk memecahkan tabir rahasia ini, pertama-tama harus menemukan dulu orang yang menyamar sebagai dirinya.

Siapakah dia? Karena pikirannya gelisah, ia memandang si Maling Bintang dan bertanya, "Cianpwe, ada beberapa pertanyaan, aku minta petunjukmu."

"Coba kau katakan!"

"Kipas Pualam dan Daon Giok Ungu dikatakan sebagai mestika pelindung perguruan mereka, di manakah letak kemujizatannya?"

"Konon kabarnya, Kipas Pualam dari Bu Khek Po dan Daon Giok Ungu dari Ngo Bi Pay itu adalah benda-benda mestika yang jarang didapat di dunia ini. Kipas itu dibuat dari batu pualam yang sudah berusia laksaan tahun, sedang Daon Giok Ungu itu dibuat dari batu giok hangat yang diukir, berusia laksaan tahun juga. Jikalau kedua kipas dan daun ini digabung, timbullah antara hawa negatif dan positif, lalu dua hawa ini dapat membantu seorang tokoh silat untuk menembus jalan darah mati dan hidup, sehingga bisa mencapai titik paling sempurna!"

Suma Bing mengangguk-angguk paham.

"Ada pertanyaan lain?"

"Dalam dunia persilatan masa ini, siapakah kiranya yang paling pandai dalam ilmu rias?"

"Ini... terutama dari aliran Pek Kut Hujin yang mempunyai ilmu Hian Goan Tay Hoat Ih Sek!"

Diam-diam Suma Bing mengangguk, lalu katanya lagi, "Menurut apa yang cayhe ketahui, ilmu Hian Goan Tay Hoat Ih Sek hanya dapat mengubah bentuk badan sendiri, tapi tak dapat untuk menyamai bentuk rupa orang lain."

"Ya, memang begitulah!"

"Adakah tokoh yang lain?"

"Sin Liong Kay Ho Heng, salah satu tetua Tianglo dari Kaypang, adalah seorang ahli dalam bidang ini."

"Sin Liong Kay Ho Heng? Tiada orang lain lagi?"

"Agaknya tidak ada lagi yang perlu diketengahkan!"

Alis Suma Bing mengerut semakin dalam. Dua sumber yang dikatakan si Maling Bintang ini agaknya kurang tepat dan tak mungkin terjadi. Betapa tenar dan mulia Kaypang Tianglo itu, sudah tentu dia takkan mau melakukan perbuatan rendah yang terkutuk itu. Sedang aliran dari Pek Kut Hujin adalah bibinya Ong Fong Jui dan muridnya; mereka tidak perlu dikhawatirkan dan tak perlu dicurigai. Lantas ia bertanya lagi, "Apa benar-benar tidak ada yang lain?"

Sekian lama si Maling Bintang memejamkan mata berpikir, tiba-tiba dia membuka mata dan berkata ragu-ragu, "Ada sih ada, tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Iblis itu sudah puluhan tahun yang lalu tidak muncul di dunia persilatan..."

Tergerak hati Suma Bing, tercetus seruan dari mulutnya, "Pek Bin Mo Ong?"

"Tidak salah!"

"Benar, tentu dia!" teriak Suma Bing berjingkrak.

"Apa benar dia?"

"Tak perlu disangsikan lagi!"

"Buyung, dengan alasan apa kau berani memastikan?"

Suma Bing berdiam diri. Dia tengah tenggelam dalam pemikiran untuk menyusun rasa kecurigaannya yang mengacaukan pikirannya. Menurut apa yang dikatakan bibinya tempo hari, Pek Bin Mo Ong sudah muncul lagi di dunia persilatan. Mungkin dia ini yang diangkat sebagai Mahapelindung oleh pihak Bwe Hwa Hwe.

Sedang Pek Chio Lojin sendiri juga pernah mengatakan bahwa gabungan antara Kiu Im Cinkeng dengan Kiu Yang Sinkang dapat melatih suatu ilmu digdaya, yaitu Bu Khek Sinkang. Sesepuh atau tulang punggung dari Bwe Hwa Hwe adalah Loh Cu Gi. Siapa pun yang telah dapat melatih Kiu Yang Sinkang sampai tingkat kedua belas, kalau dia mengincar dan ingin mendapatkan pula Kiu Im Cinkeng, adalah jamak dan tak perlu dibuat heran. Pek Chio Lojin adalah ayah mertua Loh Cu Gi. Sedang Raja Iblis Seratus Muka adalah suheng Pek Chio Lojin. Menurut sumber dari aliran ini, mungkin analisanya ini takkan salah dan luput.

Dirinya adalah musuh bebuyutan dari Bwe Hwa Hwe. Kalau pihak musuh menyamar sebagai dirinya untuk menyebar maut dan berbuat kejahatan, ini berarti satu kali panah mendapat dua ekor burung. Bukan saja tujuan dapat tercapai, malah mendatangkan musuh dan menimpakan bencana ini kepada dirinya.

Tak tertahan lagi, ia membuka kata, "Tepat, pasti perbuatan raja iblis itulah!"

"Buyung," ujar si Maling Bintang gelisah, "coba terangkan secara ringkas!"

Secara ringkas Suma Bing terangkan analisanya tadi. Berulang-ulang si maling tua membanting kaki dan menggaruk kepala, "Buyung, ini mungkin terjadi, mungkin terjadi!"

"Cayhe masih ada sedikit kecurigaan."

"Tentang apa?"

"Bu Khek Ciangbun Tio Leng Wa mempunyai seorang anak perempuan bernama Tio Keh Siok..."

"Ya, memangnya kenapa?"

"Kepandaiannya tidak lemah!"

"Budak itu semasa kecilnya bertemu rezeki. Dia bukan terhitung anak murid Bu Khek Bun lagi, tapi asal-usul perguruannya kurang jelas. Setiap tahun jarang pulang untuk menilik orang tuanya. Waktu peristiwa yang mengenaskan itu terjadi, kebetulan dia tengah pergi keluar!"

"Oh, tidak heran. Kalau tidak dengan kelihayan kepandaiannya, pasti sedikitnya dia dapat mencegah atau merintangi ketelengasan musuh!"

"Ini sudah kehendak Allah, dan tak perlu penjelasan lagi, Buyung. Dia... Cara bagaimana Phoa Kin Sian bisa meninggal?"

Sekali lagi Suma Bing harus menghadapi kenyataan yang merenggut hati dan menyedihkan ini. Sambil menahan air mata, secara ringkas ia bercerita. Si Maling Bintang menggeleng-gelengkan kepala sambil berdiam diri, gumamnya, "Takdir!" Suma Bing hanya tertawa pahit.

Kata si Maling Bintang sungguh-sungguh, "Buyung, bagaimana tindakanmu selanjutnya?"

"Mencabut rumput sampai seakar-akarnya!"

"Bwe Hwa Hwe maksudmu?"

"Tepat sekali!"

"Dapatkah kau memasuki barisan pohon bunga Bwe itu?"

"Cayhe sudah mempunyai perhitungan. Sekarang juga aku harus mengerjakan satu urusan besar!"

"Urusan besar apa?"

"Aku hendak menyambangi Si Gwa Sianjin, akan kuminta petunjuk tentang cara pemecahan barisan itu!"

"Kalau begitu, biarlah kita berpisah lagi melakukan pekerjaan masing-masing!"

"Cianpwe, silakan!"

Tubuh si maling tua yang tambun bergolek seperti mentok berjalan. Sebentar saja tubuhnya yang bundar itu sudah menghilang di balik hutan.

Menghadapi pusara Phoa Kin Sian, Suma Bing mengheningkan cipta dan memanjatkan doa serta berpamitan; air mata meleleh deras tanpa terasa. Setiap tiga tindak pasti dia menoleh dan berat untuk beranjak pergi, tapi toh akhirnya dia pergi juga sambil membekali hatinya yang sudah hancur luluh. Gundukan tanah itu memendam istri serta anaknya yang belum lahir.

Tidak jauh dari letak kuburan itu, di luar rimba sebelah sana, adalah jalan raya. Kuda yang membedal keras dan para kaum persilatan yang melesat lewat dari sampingnya secepat terbang, lambat laun membangunkan semangatnya yang sudah lesu sekian lama. Sadarlah dia dari kesedihan yang mencekam sanubarinya. Tanpa terasa gerak kakinya juga semakin cepat dan akhirnya dia berlari dengan pesatnya.

Bu Eng San, sesuai dengan namanya atau gunung tanpa bayangan, untung tempo hari Suma Bing pernah datang satu kali. Sedikit banyak dia sudah hafal akan jalanan yang harus ditempuhnya, tanpa banyak memakan waktu ia langsung menuju ke tempat tujuan. Tidak lama kemudian, tibalah dia di lereng gunung di pinggir sebuah batu besar yang berbentuk lancip. Di sinilah letak tempo hari dia bertanding dengan Si Gwa Sianjin.

Tempat yang lebih tinggi sebelah depan sana dia belum pernah datang. Kini dia menjadi ragu-ragu, haruskah dia terus menerjang ke atas? Karena keraguannya ini, segera dia gunakan ilmu gelombang suara memancar ribuan li; dia salurkan seluruh hawa murninya terus berseru lantang ke arah puncak, "Si Gwa Cianpwe, cayhe Suma Bing ada sedikit persoalan ingin bertemu!"

Sudah berkali-kali ia berseru tanpa reaksi atau penyahutan. Beruntun lima kali dia menggembor sangat keras, setelah dinanti selama sepeminuman teh dan masih tanpa reaksi, timbullah rasa heran dan curiganya. Sifat Si Gwa Sianjin sangat ganjil dan suka menyendiri. Bagaimana juga dia takkan mau meninggalkan tempat pertapaannya ini, tapi mengapa keadaan tetap sunyi senyap tanpa reaksi apa pun? Apa mungkin orang tua aneh ini tidak mau menemui orang yang belum dikenalnya? Atau...

Sekian lama dia ragu-ragu dan bimbang, akhirnya diambil keputusan untuk langsung meluruk ke atas saja. Kabut di puncak lebih tebal, keadaannya sangat gelap pekat, tapi Suma Bing sekarang lain dengan Suma Bing tempo hari waktu pertama kali datang; kejelian matanya dapat memandang sejauh sepuluh tombak. Tak lama kemudian, tibalah dia di atas sebidang tanah datar. Pemandangan di sini lain dari yang lain; di hadapannya berdiri tiga bangunan rumah gubuk. Kira-kira tiga tombak di luar rumah gubuk itu, berserulah Suma Bing lantang, "Suma Bing mohon bertemu dengan Cianpwe!"

Sungguh aneh, masih tetap tiada penyahutan. Tanpa terasa merinding tubuh Suma Bing. Jika si orang tua itu tinggal pergi entah ke mana, tentu telah terjadi sesuatu...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment