Chapter 140
Dengan rasa waswas, ia memandangi ketiga bangunan gubuk itu. Kedua pintunya hanya dirapatkan sehingga bergerak-gerak keluar masuk diembus angin pegunungan dan mengeluarkan suara keriat-keriut; suara ini menimbulkan suasana giris dan seram.
Akhirnya, dengan memberanikan diri, ia beranjak maju, mendorong pintu, dan melangkah masuk. Pandangannya menyapu sekeliling, tanpa terasa ia berseru kejut heran.
Tampak seorang tua berambut ubanan yang mengenakan jubah kuning, dengan tenang dan kereng, duduk di atas sebuah bale-bale. Dia tidak lain adalah Sigwa Sianjin yang ingin ditemuinya.
Tersipu-sipu Suma Bing membungkuk tubuh memberi hormat serta menyapa, "Cayhe sembrono menerjang masuk kemari, harap Cianpwe suka memaafkan!" Sepasang bola mata Sigwa Sianjin yang berkilat-kilat itu memancar memandang Suma Bing tanpa berkedip. Lama kemudian, baru ia mengeluarkan suara dengan ogah-ogahan, "Buyung, kau inikah Sia-sin kedua, Suma Bing?" Pertanyaan ini membuat hati Suma Bing melonjak kaget. Bukan untuk pertama kali orang tua ini bertemu dengan dirinya, bagaimana bisa mengeluarkan pertanyaan seperti ini? Apalagi nada suaranya agaknya berlainan, cuma yang terang bahwa orang itu memang Sigwa Sianjin adanya.
Maka, sambil mengerutkan alis, ia menyahut, "Agaknya Cianpwe seorang pelupa. Bukankah dulu Cayhe pernah datang mohon sebatang rumput ular, masa..."
"O, lantas apa maksud kedatanganmu kali ini?"
Suma Bing semakin tertegun heran; suara ini benar-benar bukan keluar dari mulut Sigwa Sianjin yang masih dalam ingatannya. Maka dengan seksama dan penuh rasa kecurigaan, ia menatap wajah Sigwa Sianjin, hatinya tengah berpikir keras.
Terdengar Sigwa Sianjin berkata dingin, "Suma Bing, tempat kediaman Lohu ini selamanya dilarang bagi siapa pun untuk sembarangan menerobos masuk!"
Mendadak Suma Bing mendapat satu akal. Cepat-cepat ia mengangkat tangan sembari berkata, "Cianpwe, harap sukalah kau memberi lagi sedikit rumput ular itu..."
Sigwa Sianjin mengekeh tawa mengejek, serunya, "Buyung, rumput ular adalah barang berharga yang tidak ternilai, dari mana aku punya begitu banyak untuk diberikan kepada bocah seperti kau ini yang serakah."
Penyahutan ini seketika menghilangkan rasa kecurigaan Suma Bing. Katanya pula memutar, "Sebetulnya Cayhe masih ada satu urusan yang minta petunjuk!"
"Coba katakan!"
"Urusan ini mengenai Bwe-lim-ki-tin (barisan hutan bunga Bwe yang aneh)..."
"Apa?"
"Barisan hutan pohon Bwe!"
"Selamanya belum pernah Lohu dengar tentang barisan semacam itu!"
Suma Bing bungkam menelan ludah. Memang dirinya sendiri yang menamakan barisan itu sebagai Bwe-lim-ki-tin. Sebab Bwe-hwa-hwe menggunakan pohon-pohon Bwe itu untuk membentuk barisan, hakikatnya dia sendiri tidak mengetahui barisan apakah ini namanya, cuma sembarangan saja dia menamakannya Bwe-lim-ki-tin. Kini setelah diberondong pertanyaan, dia sendiri menjadi geli, maka segera ia menambahkan, "Barisan ini terbentuk dari pohon-pohon bunga Bwe secara..."
"Lantas kau sendiri yang menamakannya begitu?"
"Ya, begitulah!"
"Berapa banyak perubahan semua barisan di kolong langit ini takkan dapat lepas dari sumbernya semula. Semua tidak akan lepas dari Ngo-heng, Im dan Yang, atau aturan-aturan Kiu-kong-pat-kwa, hanya caranya saja yang penuh variasi dari sang pencipta sendiri. Lohu sendiri belum pernah melihat barisan macam apakah itu, sudah tentu tidak dapat memecahkan barisan apakah itu."
Suma Bing menjadi serba susah, namun dia belum putus asa. Desaknya lagi, "Cianpwe sudilah kiranya ikut Wanpwe turun gunung..."
"Buyung, sudah puluhan tahun Lohu belum pernah meninggalkan gunung ini!"
"Dapatkah dibuat pengecualian?"
"Tidak mungkin!"
"Cayhe rela mengorbankan apa saja sebagai penggantian atas jerih payah ini!"
"Penghargaan?"
"Benar, dengan syarat apa pun untuk saling tukar!"
"Lohu tiada niat untuk memperebutkan nama lagi, dan tak mau mohon kepada orang lain!"
"Apa Cianpwe tak sudi membantu kesukaran ini?"
"Benar!"
Dingin perasaan Suma Bing. Katanya apa boleh buat, "Kalau begitu Cayhe minta diri," seraya merangkap tangan terus membalik tubuh hendak pergi.
"Nanti dulu!"
"Cianpwe masih ada pertanyaan?"
"Mendadak timbul niatku untuk berkenalan dengan Bwe-lim-ki-tin seperti yang kau sebutkan itu!"
Diam-diam Suma Bing membatin, 'Orang aneh bertabiat aneh pula.' Cepat-cepat ia memberi hormat lagi serta ujarnya, "Cayhe mengucapkan banyak terima kasih!"
"Tidak perlu, masih terlalu pagi kau menyatakan terima kasihmu. Kan Lohu belum pasti mau memberitahukan cara bagaimana untuk memecahkan barisan itu!"
Suma Bing menjadi gopoh dan mangkel dalam hati, namun apa boleh buat, ujarnya, "Terserah apa yang Cianpwe kehendaki, kapan kita berangkat?"
"Sekarang!"
"Kalau begitu, silakan!"
Sekonyong-konyong terdengar sebuah seruan yang nyaring melengking, "Losuheng (kakak tua)!"
Mendengar suara ini, tergerak hati Suma Bing; suara ini agaknya pernah didengarnya entah di mana. Sebuah bayangan putih berkelebat, tahu-tahu di dalam gubuk itu sudah bertambah seorang gadis serba putih yang cantik rupawan bak bidadari. Dia tidak lain adalah Tio Keh-siok, putri Bu-khek Ciangbun, Bu-khek-chiu Tio Leng-wa.
Tanpa tertahan, Suma Bing berseru kejut. Tibanya Tio Keh-siok ini benar-benar di luar dugaannya, sedang panggilan "kakak tua" itu ternyata ditujukan kepada Sigwa Sianjin; ini lebih mengejutkan hatinya. Kalau Tio Keh-siok dengan Sigwa Sianjin ternyata adalah Suheng-moay (kakak-adik seperguruan), ini benar-benar susah dipercaya. Paling banyak usia Tio Keh-siok baru dua puluh tahun, sedang Sigwa Sianjin sedikitnya juga sudah mencapai tujuh puluh tahun. Bagaimana bisa mereka belajar dalam satu perguruan? Tokoh macam apa pula guru mereka itu?
"Losuheng!" sekali lagi Tio Keh-siok memanggil.
Sorot mata Sigwa Sianjin berjelalatan tidak tenang, samar-samar saja ia mendehem. Waktu pandangan Tio Keh-siok menyapu ke arah Suma Bing, kontan dia tersentak kaget bagai disengat kala. Wajahnya segera berubah beringas dan merah padam, makinya sambil menuding Suma Bing, "Suma Bing, akan kubeset kulitmu dan kuhancurkan tubuhmu!"
Suma Bing menyeringai dingin, sahutnya, "Menuntut balas bagi Bu-khek-sianglo?"
Tio Keh-siok mendelik semakin buas, teriaknya, "Suma Bing, kau ini seekor anjing yang rendah, sedemikian kejam kau menggunakan tanganmu memusnahkan seluruh Bu-khek-po!"
Suma Bing sudah paham apa yang dimaksud oleh lawannya, sahutnya dingin, "Nona Tio, sudikah kau dengar beberapa patah perkataanku?"
"Tidak sudi, aku hanya hendak membunuhmu!"
"Hal itu mungkin susah terlaksana!"
Sambil menggerung keras, Tio Keh-siok melesat maju, menggerakkan tangan secepat kilat; pukulannya mengurung seluruh tubuh Suma Bing. Kekuatan pukulan ini bukan main dahsyatnya, apalagi dilancarkan dalam nafsu kebencian yang menyala-nyala.
Suma Bing berkelebat sebat sekali bagai belut, dengan lincah dan tepat serta indah sekali ia menghindarkan diri dari serangan lawan, berbareng tubuhnya melesat keluar sampai di luar gubuk. Tio Keh-siok memekik gusar sambil mengejar keluar pintu.
Yang mengherankan, ternyata Sigwa Sianjin masih tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak atau bergeming, serta tidak juga mengeluarkan suara. Sedemikian dahsyat dan hebat pertempuran dua tokoh silat tinggi yang sudah mencapai kesempurnaan kepandaiannya. Suma Bing bermaksud memberi penjelasan secara terang, maka dia tidak mau melukai lawan; setiap jurus gerak serangannya pasti mempunyai perhitungannya sendiri. Sebaliknya bagi Tio Keh-siok, bukan saja kepandaiannya memang sudah sempurna, apalagi lawan melancarkan serangannya dengan gencar serta sengit, maka tak heran Suma Bing mencak-mencak dan terdesak di bawah angin.
Dalam sekejap mata saja, kedua belah pihak sudah melangsungkan gebrak yang kedua puluh jurus lebih. Sampai akhirnya mau tak mau Suma Bing harus berpikir, kalau dirinya tidak memberikan sedikit hajaran kepada lawan, tak mungkin dia dapat membuat lawannya tunduk. Hubungannya dengan Sigwa Sianjin sebagai kakak-adik seperguruan, kalau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan mungkin bisa membawa akibat jelek bagi tujuan kedatangannya ini.
Karena pikirannya ini, segera ia membentak, "Nona Tio, berhenti, aku ada perkataan hendak kukatakan!"
Sikap Tio Keh-siok mendengar tapi acuh tak acuh, malah serangannya semakin dipergencar. Perbawa akibat dari serangannya ini benar-benar laksana geledek menggelegar. Sambil melayani setiap serangan musuh, Suma Bing masih sempat berkata lagi, "Kalau kau tidak mau berhenti, jangan salahkan aku berbuat dosa padamu!"
"Suma Bing!" desis Tio Keh-siok menggertakkan gigi, "kalau bukan kau yang mati, biar aku yang mati!"
Suma Bing menjadi dongkol dan gemas, terpaksa akhirnya ia lancarkan jurus kedua dari Giok-ci-sinkang yaitu "bintang berpindah jungkir balik". Kontan terdengar suara keluhan seperti orang hampir muntah. Terlihat Tio Keh-siok terhuyung puluhan langkah jauhnya, tubuhnya limbung hampir roboh, mulutnya yang kecil melelehkan darah segar, wajahnya yang memang membesi gusar berubah semakin menakutkan.
Terbayang rasa menyesal di wajah Suma Bing, serunya gugup, "Nona Tio, Cayhe membunuh Bu-khek-sianglo adalah untuk menuntut balas sakit hati orang tuaku, perhitungan ini dapat kuakui. Tentang peristiwa yang menggemparkan Kangouw dengan terjadinya pembunuhan besar-besaran dan habis-habisan di Bu-khek-po serta peristiwa di Ngo-bi-san dan lain-lain, perlu kutegaskan sekali lagi aku menolak dan menyangkal tuduhan itu."
Tio Keh-siok mendelik gusar dan menatap Suma Bing dengan kebencian, "Kau menyangkal? Hm..."
"Ada seseorang yang menyamar sebagai aku, menebar maut, dan melakukan kejahatan. Sekarang Cayhe sendiri tengah menyelidiki peristiwa ini, entah siapakah kiranya durjana itu...?"
"Ah, omong kosong!"
Berubah air muka Suma Bing, sahutnya, "Keteranganku sampai di sini saja, terserah kau mau percaya tidak?"
Rona wajah Tio Keh-siok tidak menentu, otaknya tengah menerawangi tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Lama kemudian baru dia membuka suara lagi, "Apakah bentuk tubuh seseorang juga dapat dipalsukan?"
"Betapa besar dunia ini, tidak sedikit orang pandai dan yang ahli dalam bidang ini!"
"Bagaimana tentang ilmu silatnya?"
"Ilmu silat?"
"Benar, dalam dunia Kangouw selain aliran dari Lam-sia Kho-jiang, ada siapa lagi yang pandai menggunakan Kiu-yang-sinkang?"
Tanpa terasa tergetar dan berdebar keras jantung Suma Bing, serunya kaget, "Maksud Nona bahwa semua korban itu adalah karena terkena pukulan Kiu-yang-sinkang?"
Tio Keh-siok mengiakan sambil bertolak pinggang.