Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 141

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 141

Mendadak Suma Bing membanting kaki, serta-merta mulutnya berseru, "Pasti dia!"

"Dia siapa?"

Suma Bing tidak menjawab. Dendam dan kebencian bergelora dan tengah mengalir deras dalam darah panasnya. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa semua peristiwa ini pasti adalah perbuatan Loh Cu-gi atau orang lain suruhannya. Dia sudah menurunkan ilmu *Kiu-im sinkang* kepada para anak buahnya. Ketiga pemuda yang dibunuhnya di Bukhek-po tempo hari sebagai bukti yang nyata. Bukankah mereka bertiga mampu melancarkan ilmu dari ajaran *Kiu-im sinkang*?

"Siapakah dia?" desak Tio Keh-siok lagi.

Kejadian ini merupakan penghinaan yang menjelekkan nama perguruannya. Sudah tentu sukar baginya untuk membuka mulut memberi keterangan secara jelas, sehingga terpaksa dia mengalihkan pembicaraan, "Apakah Nona kenal dengan si maling bintang, Si Ban-cwan?"

"Dia adalah sahabat kental dari kakekku!"

"Asal mula peristiwa ini dia mengetahui paling jelas. Kalau ada kesempatan, silakan Nona langsung tanyakan kepadanya!"

"Kenapa tidak kau katakan sendiri?"

"Aku mempunyai kesulitan yang susah kuucapkan!"

"Suma Bing, mengandalkan ucapanmu yang ngelantur dan tanpa bukti serta saksi ini, lantas kau hendak menghindari tanggung jawabmu?"

"Lalu apa kehendak Nona sebenarnya?"

Tepat saat itu, mendadak dari dalam gubuk terdengar jeritan serak yang menyayat hati. Tio Keh-siok dan Suma Bing terkejut bersama. Berbareng mereka berpaling, ternyata bayangan Si-gwa Sianjin sudah menghilang dari dalam gubuk. Sebentar Suma Bing mengerutkan alis, lantas ia ikut terbang masuk ke dalam gubuk. Terdengar dari bilik sebelah samping jeritan Tio Keh-siok yang menyedihkan, "Losuheng, Losuheng...!"

Sedikit berpikir, tanpa ayal lagi segera Suma Bing menerobos ke bilik sebelah kiri itu. Sekali pandang, seketika ia tertegun di tempatnya. Tampak Si-gwa Sianjin menggeletak telentang di atas sebuah dipan dalam bilik itu. Badannya berlepotan penuh darah, keadaan kematiannya sangat ngeri dan menyedihkan.

Siapakah yang dapat turun tangan sebegitu cepat dalam waktu yang singkat ini? Sedemikian gampang dia membunuh seorang aneh yang tidak kemaruk harta dan nama di dunia fana. Kepandaian silat Si-gwa Sianjin sendiri bukan olah-olah lihainya, maka dapatlah dibayangkan algojo kejam itu pasti berkepandaian yang susah diukur tingginya. Terang dia tadi duduk tenang di ruang depan itu, bagaimana mendadak kedapatan telah mati konyol di atas dipan dalam bilik sebelah samping ini?

"Ganjil sekali!" Suma Bing berkata seperti tengah menggumam. Dengan langkah lebar, dia mendekati tempat tidur.

Sambil mengusap air mata, Tio Keh-siok bertanya, "Apanya yang ganjil?"

Tanpa menjawab terlebih dahulu, Suma Bing memeriksa jenazah dengan saksama, lalu serunya terburu-buru, "Kejar, jangan sampai si algojo itu lolos!"

Sekali melesat, tubuhnya melompat keluar dari jendela. Tampak alam di sekitar dirinya hitam kelam diliputi kabut putih. Sepuluh tombak di luar pandangannya, keadaan semakin kelam dan remang. Tanpa terasa dia menghela napas, ujarnya, "Sayang, dalam suasana demikian, sepuluh orang pun gampang saja melarikan diri dengan selamat!"

"Apakah yang telah terjadi?" tanya Tio Keh-siok keheranan.

"Si pembunuh itu telah lolos!"

"Apa kau melihat si pembunuh itu?"

"Tidak!"

"Lalu apa maksud perkataanmu tadi?"

"Suhengmu sudah meninggal kira-kira setengah harian..."

"Setengah harian? Apa betul?"

"Betul, jenazah itu sudah dingin kaku, darahnya juga sudah membeku, kulitnya juga sudah berubah kehitaman. Semua ini sudah cukup membuktikan."

Tergetar seluruh tubuh Tio Keh-siok, beruntun dia mundur tiga langkah, katanya gemetar, "Lalu orang di dalam ruang tengah tadi...?"

"Dialah pembunuhnya!"

Lagi-lagi Tio Keh-siok mundur dua langkah, air mukanya berubah, serunya penuh haru, "Dia bukan Losuhengku..."

"Palsu!"

"Jadi kau sudah tahu sebelumnya?"

"Tidak, sekarang baru aku tahu!"

"Mengapa?"

"Waktu tadi cayhe tiba kemari, lantas aku merasa sikap dan nada perkataan suhengmu agak ganjil, tapi aku tidak berani memastikan. Selanjutnya kau lantas datang, begitulah duduk penjelasannya!"

"Siapakah dia?"

"Menurut hematku, pastilah ini perbuatan dari Pek-bin Mo-ong yang pandai merias diri dan malang melintang di Bulim itu. Jadi yang memalsu diriku membabat habis Bukhek-po dan melakukan kejahatan di Ngobi-san dan..." sampai di sini ia menelan kembali perkataannya sebab dia merasa tidak semestinya menceritakan juga tentang hilangnya *Kiu-im cinkeng*.

Maka setelah merandek sejenak, lantas dia menyambung lagi, "Mungkin semua peristiwa itu dilakukan oleh satu orang!"

Tio Keh-siok berkata dengan curiga dan tak percaya, "Bukankah Raja Iblis Seratus Muka itu sudah lama tidak muncul dalam Bulim?"

"Memang, tapi sekarang dia muncul lagi!"

"Apa maksudnya dia berbuat begitu?"

"Membabat habis Bukhek-po adalah untuk Kipas Pualam, sedang di Ngobi-san tujuannya adalah hendak merebut Ce-giok Pe-yap..."

"Lalu mengapa pula dia membunuh suhengku juga?"

"Karena dia paham pelajaran tentang ilmu barisan!"

"Kiranya kau sudah tahu semuanya?" tanya Tio Keh-siok sambil memandang Suma Bing penuh kekaguman.

"Ini hanya sedikit analisaku menurut keadaan!"

"Aku ingin mendengar penjelasanmu?"

"Kalau kipas pualam dan daun giok ungu itu digabung, dalam waktu yang singkat dapat membuat seseorang memperoleh tenaga dalam yang tiada taranya... Tentang tujuannya membunuh suhengmu adalah supaya rintangan utama dari barisan pohon-pohon bunga Bwe di luar markas besar Bwe-hwa-hwe tetap utuh!"

"Bwe-hwa-hwe?"

"Ya, sebuah perkumpulan yang berambisi hendak menguasai dunia persilatan!"

"Raja Iblis ini mungkin adalah Mahapelindung yang baru saja diangkat belum lama ini. Tapi, ini hanya merupakan dugaan saja. Bagaimana duduk persoalan sebenarnya perlu pembuktian dengan kenyataan yang harus kita selidiki secara mendalam!"

Sekian lama Tio Keh-siok bungkam, akhirnya berkata sambil menggertakkan gigi, "Bwe-hwa-hwe, pasti aku dapat menyelidikinya!"

Memandang ke arah Tio Keh-siok, Suma Bing membuka mulut hendak berkata apa-apa, namun ditelannya kembali. Kalau dia seperguruan dengan Si-gwa Sianjin, pasti dia ini juga paham intisari pelajaran tentang segala barisan. Sekarang Si-gwa Sianjin sudah wafat, maka perjalanannya ini gagal total. Kalau minta petunjuk kepadanya, berat rasanya untuk mengucapkan. Bukankah setengah jam yang lalu mereka adalah musuh bebuyutan yang harus menentukan mati dan hidup?

Tio Keh-siok membalas pandang Suma Bing dan berkata, "Untuk apa Tuan datang kemari?"

"Untuk menyambangi suhengmu!"

"Untuk apa?"

"Ada persoalan hendak minta petunjuknya, kini dia sudah menemui ajalnya maka tak perlu disinggung lagi. Hanya aku agak heran, suhengmu pandai dan paham akan segala pelajaran barisan, mengapa di tempat kediamannya ini tidak dipasang perangkap semacam itu?"

"Seorang aneh kelakuannya juga aneh. Dia anggap tiada rasa tamak untuk memperebutkan segala kemewahan duniawi, maka dia segan mengatur barisan jebakan!"

Suma Bing mengiakan dan manggut-manggut paham.

"Sekarang Tuan boleh pergi!"

Sebetulnya ingin rasanya Suma Bing menanyakan asal-usul perguruan orang tersebut, namun dasar sifat pembawaannya yang dingin dan congkak setelah mendengar pengusiran orang secara halus ini, dia manggut-manggut serta menyahut, "Kalau begitu, baiklah aku minta diri."

"Dan tentang..."

"Tentang apa?"

"Tentang kematian kedua susiokcoku, baiklah perhitungan ini kita batalkan!"

Suma Bing terharu dibuatnya. Agaknya Tio Keh-siok juga seorang gadis yang berpandangan objektif dan tahu aturan, maka ujarnya sopan, "Sungguh, cayhe sangat menyesal. Tapi memang terpaksa aku harus melakukannya!"

"Sudahlah, silakan!"

Sudah dua kali Suma Bing diusir secara halus, sudah tentu tiada muka dia terus tinggal di tempat itu. Maka tanpa banyak kata lagi, dia terus melesat turun gunung. Begitulah tengah ia berlarian pesat, samar-samar terlihat olehnya sebuah bayangan berkelebat di kejauhan sana bergerak cepat di tengah lautan kabut. Tergerak hatinya, batinnya, 'Bukan mustahil dia ini orangnya!' Karena pikirannya ini, gerak tubuhnya dipercepat, maka secepat burung terbang dia mengejar dengan kencangnya.

Gerak tubuh bayangan itu tidak lemah, terhalang oleh kepekatan kabut lagi, serta keadaan alam pegunungan itu sangat berbahaya dan penuh semak belukar pula, maka bayangan itu kadang-kadang terlihat dan kadang-kadang menghilang. Sedemikian kencang Suma Bing mengejar, namun sebegitu jauh masih belum dapat menyusulnya.

Satu jam kemudian mereka sudah keluar dari lingkungan lautan kabut. Kini bayangan misterius itu sudah menghilang dan tak terlihat lagi. Berdiri di atas sebuah puncak bukit, sungguh hati Suma Bing merasa sangat menyesal dan masygul. Dia curiga kalau bayangan itu adalah Raja Iblis Seratus Muka, orang yang membunuh Si-gwa Sianjin. Atau mungkin juga orang yang memalsukan dirinya untuk melakukan berbagai kejahatan yang menggemparkan dunia persilatan itu. Kalau bisul jahat ini tidak lekas-lekas dilenyapkan, akibatnya susahlah dibayangkan.

Karena tekadnya yang besar, sepasang matanya mencorong tajam menyapu keempat penjuru. Sekonyong-konyong jeritan beberapa orang yang mengerikan memecah kesunyian alam pegunungan. Terkejut Suma Bing dibuatnya, di alam pegunungan yang belukar ini dari mana datangnya suara jeritan itu? Terdengar dua kali jeritan lagi samar-samar terbawa angin. Didengar dari datangnya suara, agaknya berada di balik bukit tempat dia berada.

Suma Bing jejakkan kedua kakinya, seenteng burung walet tubuhnya melesat turun menuju ke bukit di belakang sana. Sesampai di bawah bukit, tepat di depannya terbentang sebuah mulut selat yang sempit. Beberapa mayat manusia tampak bergelimpangan tergenang dalam cairan darah. Sekilas pandang, lantas Suma Bing mengenal mereka adalah para anak buah Bwe-hwa-hwe. Semua berjumlah tujuh orang, cara kematian ketujuh orang ini semua sama, yaitu hancur lebur batok kepalanya, sungguh sangat mengerikan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment