Chapter 142
"Sungguh aneh, siapakah yang membunuh mereka? Sedemikian kejam cara dia membunuh." Para anak buah jagoan Bwe Hwa Hwe untuk apa datang ke atas pegunungan yang jarang dijajaki manusia ini? Waktu dia mengangkat kepala memandang ke mulut selat, tergetar seluruh tubuhnya, merinding bulu kuduknya, dan ia mundur tiga langkah berturut-turut.
Tampak seorang nenek berhidung betet, berpipi tirus, dan bermuka lebar tengah duduk angker di atas sebuah batu besar yang mencegat di jalanan masuk ke dalam selat sempit itu. Kedua mata nenek tua beruban ini seakan mata burung hantu yang memancar di malam hari, memancarkan sinar kehijauan. Dengan tajam dan mengancam, ia menatap Suma Bing.
Tak perlu disangsikan lagi, orang yang membunuh para jagoan dari Bwe Hwa Hwe itu pastilah nenek tua ini.
Tanpa membuka mulut, si nenek aneh itu mengangkat telapak tangannya yang kurus kering ke arah Suma Bing, lalu perlahan-lahan ditarik mundur. Dalam kejut dan herannya, Suma Bing mendadak merasa suatu kekuatan daya sedot yang besar sekali tengah menarik dirinya maju ke depan. Jarak kedua belah pihak kira-kira empat tombak, tetapi lawan dapat mengeluarkan tenaga daya sedot sedemikian besar, hal ini benar-benar sangat mengejutkan.
Dalam keadaan tidak bersiaga, Suma Bing terseret oleh daya sedot itu sampai sempoyongan maju beberapa langkah. Maka, ia segera mengerahkan hawa murninya serta menahan tubuhnya sekuat tenaga. Daya sedot itu semakin lama semakin kuat. Suma Bing mengerahkan kekuatan Giok Ci Sinkang; perlahan-lahan tenaga murninya tersebar ke seluruh tubuh, terus saling bertahan dan bentrok dengan tenaga daya sedot tersebut.
Seketika pandangan mata si nenek aneh menunjukkan rasa heran dan kejut. Sekarang dia menggunakan kedua tangannya dan menariknya mundur sehingga rambutnya yang ubanan berdiri tegak. Keadaannya yang ganjil menjadi semakin aneh, lucu, sekaligus seram dan menakutkan. Kini Suma Bing sudah bersiaga dengan daya pertahanan sekokoh gunung; wajahnya yang membesi menunjukkan ketenangan.
Tiba-tiba si nenek aneh itu menarik kedua tangannya. Suaranya terdengar serak kasar seperti suara burung kokok beluk, "Setan kecil, kau ada isinya juga, tapi kau harus mati." Perkataan tanpa juntrungan ini membuat Suma Bing melongo sambil menggaruk-garuk kepala. Begitu bertemu orang lantas hendak membunuh, inilah kejadian aneh yang belum pernah didengarnya. Apakah dia seorang kuntilanak yang kehilangan kesadarannya? Tengah berpikir demikian, pandangannya menyapu ke empat penjuru. Tanpa terasa, perasaannya tenggelam dan membeku. Tampak di mana-mana terserak tulang-tulang putih manusia; ada kerangka yang masih lengkap, ada pula yang sudah berantakan tak keruan.
Maka ia menyahut dengan tertawa mengejek, "Apa aku pasti mati?"
"Benar!"
"Mengapa?"
"Bagi siapa pun yang melihat aku, dia harus mampus!"
Suma Bing mengekeh dingin, serunya, "Belum pernah kudengar kejadian seaneh ini." Bola mata si nenek aneh memancarkan sinar kehijauan. Tanpa berkedip, dia memandang Suma Bing dengan perasaan gusar dan kebencian yang meluap-luap. Biasanya, bagi mereka yang bermusuhan besar, baru terunjuk sikap garang seperti itu. Namun, lain halnya dengan si nenek aneh ini; ternyata dengan sikap dan pandangan yang mengancam itu dia memandang Suma Bing. Benar-benar sangat aneh dan susah dipercaya. Suma Bing sendiri juga melongo heran.
Si nenek aneh tertawa terserok-serok, seringainya dingin, "Setan kecil, kulanggar kebiasaanku untuk memberi kesempatan kau meninggalkan namamu..."
"Melanggar kebiasaan? Kebiasaanmu itu tak perlu kau langgar, aku tidak sudi meninggalkan namaku!"
"Setan kecil, kau tidak tahu kebaikan!"
"Memangnya kau bisa apa?"
"Jadi kau ingin menjadi tulang-tulang kering tanpa nama?"
Suma Bing geli dan jengkel dibuatnya, ejeknya tak acuh, "Cayhe masih belum ingin mati!"
"Tapi kau sudah pasti harus mati!"
"Kalau begitu, aku ingin minta pengajaran, entah siapakah tokoh kosen ini?"
"Setan kecil, jangan banyak cerewet!"
"Sayang sekali!"
"Apa yang sayang?"
"Engkau tidak mau menyebut nama atau gelaranmu. Kalau kau mati, bukankah juga menjadi tulang-tulang kering yang tidak bernama seperti mereka-mereka itu?"
Tenggorokan si nenek aneh berkerok-kerok mengeluarkan suara aneh yang keras. Rambutnya yang ubanan seperti perak berdiri tegak semua, teriaknya beringas, "Setan kecil, terhitung kaulah yang sudah pernah melihat wajahku dalam waktu yang paling panjang. Sekarang serahkanlah jiwamu!"
Belum lenyap suaranya, tubuhnya mendadak melejit maju ke depan Suma Bing, terus mengulurkan tangan mencengkeram dada. Cara cengkeramannya ini benar-benar hebat luar biasa, kiranya tiada tandingan di seluruh kolong langit ini. Sampai Suma Bing sendiri yang berkepandaian sedemikian tinggi pun tidak mampu berkelit lagi.
Keruan kejutnya bukan kepalang. Tanpa disadari, tubuhnya bergerak secara refleks menggeser kedudukan ke samping setombak lebih. Tanpa disadarinya, dia menggunakan gerak Bu Siang Sin Hoat untuk menyingkir dari cengkeraman lawan. Setelah itu, lantas ia menyesal. Dia pernah bersumpah pada Giok Li Lo Ci selamanya takkan menggunakan gerak tubuh ini. Juga kepada pihak Siau Lim Si, dia pernah berjanji untuk mengubur ilmu ini dari sanubarinya; untuk selamanya takkan muncul di kalangan Kangouw. Sungguh tidak nyana, dalam keadaan terpepet dan tanpa sadar, dia telah menggunakan ilmu yang digdaya itu.
Melihat cengkeramannya mengenai tempat kosong, si nenek aneh mengeluarkan seruan kejut, tetapi tangannya masih tetap bergerak secepat kilat. Tahu-tahu cengkeraman jurus kedua sudah merangsang tiba pula. Lwekang Suma Bing setiap saat timbul menurut kesigapan perasaannya. Dalam waktu yang pendek, Giok Ci Sinkang sudah menyelubungi seluruh tubuhnya. Telapak tangannya bergerak miring seperti membacok, memapak cengkeraman musuh.
Memang Giok Ci Sinkang sakti mandraguna. Waktu cengkeraman si nenek aneh merangsang tiba terpaut tiga sentimeter di atas kepala Suma Bing, mendadak tertolak kembali oleh tenaga kuat yang merintangi tenaga serangannya. Hanya dalam waktu yang pendek itulah, bacokan telapak tangan Suma Bing juga sudah memapas tiba di depan dada musuh. Kepandaian si nenek aneh ini memang luar biasa sekali. Kalau dia teruskan cengkeramannya, pasti dirinya juga akan konyol. Maka gesit sekali dia menekuk sikunya ke bawah untuk menangkis.
"Blang!" bacokan telapak tangan Suma Bing telak sekali membentur siku lawan. Terdengar si nenek aneh memekik kesakitan, cepat-cepat ia mundur tiga langkah. Suma Bing sendiri juga terkejut melihat kekuatan musuh; agaknya inilah musuh paling tangguh selama dia berkelana di dunia persilatan.
Mendadak si nenek aneh berteriak nyaring, "Tidak benar!" Suma Bing tertegun dan melongo. Sorot si nenek ubanan memancarkan kemurkaan, makinya sambil menuding Suma Bing, "Setan kecil, tadi kau melancarkan Bu Siang Sin Hoat bukan?"
Suma Bing menjadi serba salah, harus mengakui atau tidak. Seperti diketahui, secara ceroboh tanpa sengaja dia melancarkan ilmu yang sudah pernah dijanjikan untuk tak ditunjukkan lagi di kalangan Kangouw. Kini telah ditunjuk secara terang-terangan oleh lawan, tak heran dia maju mundur dan bimbang dibuatnya.
"Katakan, setan kecil!" teriak si nenek beruban sambil berjingkrak seperti orang gila.
Naiklah hawa amarah Suma Bing, sahutnya dingin, "Kalau benar, kau mau apa?"
Si nenek beruban melangkah setindak, geramnya sambil menggigit gigi, "Kiong Ji Lan, si budak rendah itu termasuk apamu?"
Suma Bing tersentak kaget sampai mundur dua langkah, matanya kesima memandangi si nenek aneh. Dari Kang Kun Lojin diketahui bahwa Kiong Ji Lan adalah nama asli dari Bu Siang Sin Li. Bu Siang Sin Li adalah tokoh aneh yang sangat disegani pada ratusan tahun yang lampau. Kini secara semena-mena dimaki sebagai budak rendah oleh lawan, ini benar-benar sangat keterlaluan dan luar biasa. Dari sini dapatlah diperkirakan kalau si nenek aneh ini pasti juga bukan tokoh sembarangan, mungkin tingkatannya juga tidak rendah. Tapi siapakah dia ini?
Agaknya si nenek aneh ini terpengaruh oleh perasaannya; kulit mukanya yang kurus tirus tinggal pembungkus tulang itu bergerak dan gemetar, raganya juga tergetar. Keadaan ini membuat Suma Bing semakin heran dan tak habis mengerti. Sekian lama bibir si nenek bergerak-gerak baru akhirnya terdengar suaranya berkata, "Katakan, setan kecil!"
"Apa yang harus kukatakan?" balas tanya Suma Bing.
"Kiong Ji Lan, si budak busuk itu apamu?"
"Maksudmu Bu Siang Sin Li Locianpwe?"
"Cis, Locianpwe apa segala, budak rendah..."
Suma Bing pernah menerima ilmu digdaya dari Bunga Iblis yang diwarisi oleh Bu Siang Sin Li. Dalam hatinya, ia merasa sangat kagum dan hormat kepada cianpwe aneh yang sudah lama mangkat itu. Tatkala mendengar makian lawan, dia menjadi gusar dan merasa ikut terhina. Sahutnya dingin kaku, "Kau sudah tua, jangan sembarangan membuka mulut memaki orang lain. Untuk selanjutnya, kuharap kau bicara mengenal sopan santun!"
"Setan kecil, berani kau memberi kuliah pada aku orang tua?"
"Jikalau kau tua tapi tidak mengenal penghargaan, seumpama tinggi tingkatanmu, apa pula faedahnya?"
"Setan kecil, sebetulnya kau ini apanya?"
"Apapun bukan."
"Hah, lalu Bu Siang Sin Hoat itu dari mana kau pelajari?"
"Kiranya hal itu tidak menyangkut persoalanmu!"
"Aku orang tua harus menanyakan secara jelas."
Otak Suma Bing harus bekerja keras. Batinnya, lebih baik kukorek keterangan yang lebih jelas dari mulutnya, siapa tahu persoalan itu merupakan rahasia terpendam dalam sejarah dunia persilatan yang sangat berharga. Maka segera ia menyahut dengan suara berat, "Apa kau benar-benar ingin mengetahui?"
"Sudah tentu!"
"Terlebih dulu kuminta kau mau bicara secara terang, nanti biar kututurkan dan kubeberkan secara terang-benderang."
"Setan kecil, kau tidak setimpal untuk menanyakan urusan pribadiku!"
"Kalau begitu, aku juga keberatan memberi tahu!"
"Kau ingin mampus?"
"Tidak gampang kau hendak membunuh aku!"
Agaknya si nenek beruban hampir saja hendak mengumbar nafsu amarahnya, namun sikapnya berubah menjadi lunak lagi. Serunya uring-uringan, "Setan kecil, karena dialah maka selama puluhan tahun ini kedua tanganku selalu berlepotan darah!"
Suma Bing mengerutkan kening, tanyanya, "Jadi kau membunuh karena Bu Siang Locianpwe?"
Si nenek manggut-manggut sambil mengiakan.