Chapter 143
"Kenapa?"
"Karena dia telah membuat aku merana selama hidupku ini!"
Apa alasannya sehingga si nenek berani berkata begitu? Siapakah si nenek ini, mengapa pula dia berlaku begitu kejam? Mengapa dia mencegat di jalan masuk ke dalam selat sempit itu, ada apa dan siapakah yang berada di dalam sana? Dalam usahanya menuntut balas, Suma Bing harus menghadapi berbagai jebakan dan rintangan, bahkan dia harus berkecamuk dalam pertempuran di bawah keroyokan gembong silat lihai dari pihak Bwe Hwa Hwe langsung di bawah komando Loh Cu Gi sendiri!
Perkataannya ini membuat jantung Suma Bing berdebar keras, tanyanya, "Mohon dijelaskan!"
"Perkataanku habis sampai di sini!"
"Kalau begitu, harap diketahui bahwa cayhe dengan Bu Siang Locianpwe hanya ada sedikit jodoh."
"Jodoh, apa artinya?"
"Aku pernah menerima kebaikan dari dia orang tua!"
"Kau bukan muridnya?"
"Bukan!"
"Dapatkah dipercaya omonganmu ini?"
"Terserah kepada Cianpwe!"
"Lalu di mana dia sekarang?"
"Ini..."
"Hm, dia membuat aku merana selama hidup ini, aku harus membalas, aku harus menghadapinya secara langsung."
"Itu tidak mungkin!"
"Kenapa?"
"Sebab dia orang tua sudah lama wafat."
Mendadak si nenek aneh itu membanting kaki sambil menggerung gusar, "Dia sudah mati."
Suma Bing mengiakan. "Dia sudah mati... Tidak, dia tak boleh mati, dia harus mati di tanganku, dia... setan kecil, di mana dia dikubur... dia..."
"Masa Cianpwe hendak menuntut balas terhadap orang yang sudah meninggal?"
"Benar, kuhancurleburkan tulang belulangnya dulu, baru membabat keturunannya."
"Baiklah, aku tidak akan membuka mulut lagi."
"Setan kecil, tiada tempatmu turut bicara di sini..."
Dingin perasaan Suma Bing, serunya, "Orangnya mati, permusuhan pun impas."
"Katakan, di mana dia dikubur?"
"Aku tidak akan memberi tahu."
"Kau berani?"
"Bukan soal berani atau tidak, kan sudah cayhe katakan tidak akan memberitahu!"
"Kau ingin mati?"
"Mengandalkan kepandaianmu, kau belum mampu mencabut nyawaku!"
"Lihat serangan!" Diiringi ancamannya ini, serangannya juga lantas merangsang maju. Seketika gelombang angin puyuh bagai gugur gunung menerpa keras bergulung-gulung ke arah Suma Bing. Tersipu-sipu Suma Bing mengangkat tangan untuk menangkis.
Dentuman keras menggetar bumi membuat si nenek aneh itu terpental mundur tiga tindak, sedang Suma Bing hanya limbung bergoyang gontai, namun kakinya sedikit pun tidak bergeser.
"Setan kecil, kau..."
"Aku kenapa?"
"Kau murid siapa?"
"Tak dapat kuberitahu!"
Si nenek aneh beruban berteriak-teriak gusar sambil menyerang lagi. Tampak kedua tangannya bergerak diayun, memetakan bayangan delapan belas telapak tangan yang semuanya menungkup ke arah delapan belas jalan darah penting di tubuh musuh. Jurus serangan semacam ini benar-benar belum pernah didengar dan dilihat. Sudah tentu Suma Bing tidak berani berlaku gegabah; tidak kalah sigap, jurus "bintang berpindah jungkir balik", jurus kedua dari Giok Ci Sinkang, juga segera diberondong keluar untuk menandingi serangan musuh. Karena tidak mampu memunahkan serangan musuh yang hebat dan ajaib itu, maka terpaksa dia menyerang untuk balas menyerang.
Mendadak si nenek aneh menarik pulang serangannya di tengah jalan. Gesit sekali tubuhnya terus melesat ke samping sejauh setombak lebih, mulutnya juga berseru heran. Reaksi Suma Bing sendiri tidak kalah sigap; melihat lawan batal menyerang, dia pun mengendurkan tenaga dan membatalkan serangan balasannya.
Sekarang sinar mata si nenek aneh memancarkan cahaya yang berbeda. Dengan tajam dia menatap Suma Bing, tapi sinar matanya ini tidak seperti tadi yang beringas dan berapi-api. Malah suaranya kini terdengar kalem dan sabar, "Buyung, agaknya terpaksa aku harus melanggar sumpahlah!"
Sikap Suma Bing tetap dingin angkuh, tanyanya, "Melanggar sumpah apa?"
"Mendadak aku tidak ingin membunuh kau lagi."
Diam-diam Suma Bing tertawa geli. Pintar juga nenek aneh ini mengikuti arah angin memutar haluan; terang dia takkan bisa menghadapi dirinya, sebaliknya mengatakan melanggar sumpah apa segala. Dia pun segan menyindirnya, hanya sikapnya tetap angkuh, katanya, "Itu pun kenapa?"
"Pertama, cara bersilatmu kentara kau bukan murid budak rendah itu."
"Lalu ada apa lagi?"
"Kedua, mungkin kau dapat membantu aku melaksanakan satu cita-cita!"
Bukan terkejut, sebaliknya Suma Bing merasa aneh, tanyanya, "Cita-cita apa?"
"Aku tidak akan minta kepadamu secara cuma-cuma!"
"Cayhe sendiri juga belum tentu setuju!"
"Hm, orang paling sombong yang pernah kulihat selama seabad ini."
"Ah, terlalu dipuji-puji."
"Buyung, cobalah kau pandang ke dalam selat sempit itu."
Dengan heran Suma Bing memandang menurut apa yang diminta. Tampak selat sempit itu hanya selebar puluhan tombak, kedua sampingnya adalah dinding batu yang terjal seperti dipapasi dengan senjata tajam, sedemikian tinggi kedua lamping ini sehingga menembus langit, keadaannya sangat sunyi dan gelap menyeramkan, apa pun tidak kelihatan.
"Sudah lihat belum?"
"Melihat apa?"
"Lihatlah mulut lembah itu."
Sekarang Suma Bing memandang lebih seksama. Memang di mulut lembah itu muncul dan merintang di tengah jalan sebuah batu cadas besar persegi setinggi dua tombak lebih. Di belakang batu besar ini terserak tidak teratur banyak sekali batu-batu runcing yang sekilas pandang saja tiada sesuatu yang kelihatan aneh.
"Bagaimana?"
"Maksudmu batu besar itu? Adakah guna faedahnya?"
"Sudah enam puluh tahun lebih batu itu menghalangi aku masuk ke dalam lembah!"
Sudah tentu Suma Bing semakin heran dan tak mengerti sambil garuk-garuk kepala. Meskipun batu itu besar dan tepat berada di tengah, namun lembah itu lebar sepuluh tombak, jadi masih banyak tempat luang yang tidak terintang untuk keluar masuk. Orang akan menyangka perkataannya itu bukan keluar dari mulut seorang yang berotak waras.
Melihat sikap Suma Bing yang ragu-ragu, si nenek menegasi, "Buyung, kau tidak percaya?"
"Memang susah untuk dipercaya!"
"Lebih baik kau pergi mencobanya!"
"Mencoba bagaimana?"
"Coba kau dapat melewati batu besar itu sejauh sepuluh langkah tidak?"
Melihat sikap orang yang sungguh-sungguh, timbul keinginan Suma Bing. Batinnya, 'Bukan mustahil memang ada sesuatu keganjilan di dalam sana, biarlah kucoba.'
Cepat sekali dia berlari, badannya melenting ke arah mulut lembah itu. Baru saja ia mengitar ke belakang batu besar itu, pandangan di depannya mendadak berubah. Terlihat batu-batu aneh bermunculan dan berserakan bagai hutan, jalan di antara empitan batu-batu itu berliku-liku tidak menentu, dihembus angin sepoi-sepoi lagi sehingga terasa dingin menembus tulang. Bila dia berpaling melihat ke belakang, tanpa terasa berjingkrak kaget; pemandangan di belakangnya juga sama saja, batu aneh dan jaluran jalan yang sempit belak-belok berlapis-lapis, susah dibedakan mana timur, barat, atau selatan.
Ini merupakan sebuah barisan. Baru sekarang dia percaya akan perkataan si nenek aneh, ternyata bukan bualan belaka. Sekali melejit, Suma Bing lompat ke atas sebuah batu runcing yang agak tinggi, pemandangan dari ketinggian ini terlihat remang-remang gelap tanpa terlihat ujung pangkalnya.
Mendadak sebuah suara terkiang di pinggir telinganya, "Buyung, jangan banyak bergerak, biar kutolong kau keluar dari sini!"
Terasa lengannya kencang dicengkeram seolah-olah tubuhnya dijinjing ke tengah udara. Tahu-tahu saat pandangannya kembali terang, ternyata dirinya sudah tiba pula di luar mulut selat lagi. Pemandangan di depannya tidak berubah, tetap batu besar itu yang terlihat merintangi jalan.
"Bagaimana Buyung?" tanya si nenek aneh setelah duduk kembali di batu tempatnya tadi.
"Itu merupakan sebuah barisan?"
"Ya," sahut si nenek sambil manggut-manggut.
"Siapakah yang membangun?"
"Orang yang selalu kuingat selama enam puluh tahun itu."
"Siapa?"
"Aku tidak senang menyebut namanya!"
"Dengan Cianpwe adalah..."
"Musuh bebuyutan!"
"Dia menetap dalam lembah ini?"
"Benar, sudah selama enam puluh tahun aku menunggunya di luar sini..."
"Enam puluh tahun lebih?" tanya Suma Bing terperanjat, "Barisan itulah yang merintangi Cianpwe sehingga tidak bisa masuk ke dalam lembah sana?" Si nenek ganda manggut-manggut sebagai penyahutan.
"Pernahkah dia muncul?"
"Pernah!"
"Lalu kenapa Cianpwe tidak segera menyelesaikan secara berhadapan?"
"Itu terjadi sebelum enam puluh tahun yang lalu," si nenek menjelaskan dengan uring-uringan dan penuh kebencian. "Waktu pertama kali aku datang kemari dia pernah keluar, katanya jikalau aku dapat memecahkan barisannya itu dan masuk ke dalam sana, dia mandah terima perintah apa saja dan pasrah nasibnya di tanganku. Sejak saat itu, lantas dia tidak pernah muncul lagi sampai sekarang!"
Diam-diam Suma Bing melelet lidah, entah ada permusuhan apakah si nenek tua ini dengan penghuni dalam lembah itu, sedemikian berat dan rela dia mau menunggunya di luar lembah ini selama enam puluh tahun tanpa bosan-bosan. Kalau dia memaki Bu Siang Sin Li sebagai budak busuk, terang kalau usia dan tingkatannya pasti tidak berbeda seberapa. Itu berarti bahwa usianya pasti juga sudah seabad lebih.
Dari nada perkataannya, antara si nenek tua ini dengan Bu Siang Sin Li agaknya ada ganjalan hati atau permusuhan lama. Tapi siapa pula orang yang menghuni di dalam lembah itu? Mengapa dia sampai sedemikian sabar menunggunya selama puluhan tahun? Kalau barisan aneh itu merintangi dan dia sendiri tidak mampu memecahkan, bukankah seumur hidup dia menunggu di sini juga akan sia-sia?
Akhirnya, pikiran Suma Bing melayang dan terkenang akan Sucinya, Sim Giok Sia. Bukankah karena "cinta" sehingga Sucinya itu menderita dan sengsara selama tiga puluh tahun, sehingga mengubur seluruh masa remajanya. Akhirnya, meskipun dapat mencapai cita-citanya yang terakhir dan dapat terlaksana pertemuan kembali dengan Tiang Un Suseng, sayang nasib dan kodrat ilahi telah menuntun dan mengatur perjalanan hidup mereka selanjutnya. Sepasang kekasih yang dimabuk cinta ini akhirnya harus menemui ajalnya di dalam penjara bawah tanah Bwe Hwa Hwe. Lantas terbayang juga akan sumpah setia Giok Li Lo Ci kepada suhunya; sedemikian besar rasa cintanya kepada suhunya sehingga lupa waktu, lupa segalanya, sampai usia sendiri sudah lanjut masih tanpa disadari.