Chapter 144
Wanita tua yang aneh di hadapannya ini bukan mustahil adalah seorang korban kegagalan cinta. Tak tertahan lagi, Suma Bing segera bertanya, "Penghuni di dalam lembah itu apakah seorang pria?"
Sikap si nenek semula tampak lesu dan masygul, namun lantas berkobar perasaan bencinya. Ia mendesis rendah, "Buyung, kau berkata benar!"
"Orang di dalam lembah itu berhubungan sangat erat dengan *cianpwe*?"
"Ya, erat sekali sampai aku bersumpah harus membunuhnya baru lega hatiku."
Tubuh Suma Bing gemetar dan bergidik. Jika terkaannya tidak salah, pasti rasa benci yang berlebihan ini timbul karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Lalu kenapa *cianpwe* harus selalu membunuh orang?"
"Aku benci seluruh lelaki di seluruh kolong langit ini!"
"Kenapa?" tanya Suma Bing berjingkat.
"Buyung, sudah terlalu banyak kau bertanya!"
"Hanya karena benci maka *cianpwe* membunuh orang?"
"Benar, itu juga terbatas ratusan *li* dalam lingkungan selat ini. Jikalau ada orang berani menerjang masuk, hanya ada satu jalan bagi dia, yaitu mati!"
"Bukankah perbuatan ini terlalu kejam?"
"Kejam? Hahaha..." Gelak tawa yang menggila itu seakan tangisan setan di malam hari, seumpama lolong serigala di tengah malam, membuat orang merinding seram.
Agak lama kemudian, tawa yang memilukan itu berhenti. Ia melanjutkan, "Secara mentah jiwa hidupku selama ini dikubur hidup-hidup. Seorang gadis jelita harus hidup merana dalam jurang kesedihan sehingga menjadi seorang nenek tua yang bongkok dan tinggal kulit pembungkus tulang ini. Apakah ini tidak terlalu kejam?"
"Ini..." Suma Bing kehilangan kata-kata. Bukankah dirinya sendiri juga tengah terombang-ambing dalam dendam dan budi?
Berhenti sebentar, ia memutar haluan, "Lalu apa yang *cianpwe* tunggu sampai sekarang?"
"Memecahkan barisan dan masuk ke dalam!"
"Tapi..."
"Hahahaha... Puluhan tahun yang sudah terbuang ternyata tidak sia-sia. Telah kutunggu saatnya seperti ini; akhirnya Tuhan telah mengirim kau datang kemari!"
Suma Bing diam-diam terkejut. Ia bertanya heran, "Apa maksud perkataan *cianpwe* ini?"
"Kau dapat membantu aku memecahkan barisan itu!"
"Sedikit pun aku tidak paham akan segala barisan."
"Itu tidak menjadi soal!"
"Sungguh aku tidak paham."
"Kulihat dari cara turun tanganmu tadi, agaknya kau melatih suatu ilmu sakti semacam *Sian thian bu khek sinkang* yang berfungsi melindungi badan. Kalau kau dapat menggunakan ilmu saktimu itu untuk memecahkan batu besar itu, barisan tersebut akan hancur total tanpa kita menyentuhnya lagi. Kau sudah paham?"
Baru sekarang Suma Bing sadar, ternyata si nenek tua ini hendak meminjam tenaganya atau ilmu *Giok ci sinkang*-nya untuk menghancurkan batu besar itu. Ia pun menyindir, "Kiranya *cianpwe* juga seorang yang welas asih!"
"Memangnya kenapa?"
"Apakah *cianpwe* berpendapat kalau aku pasti mau membantu?"
Si nenek tua berjingkrak berdiri, semprotnya gusar, "Apa bocah jadah, kau tidak mau membantu?"
Suma Bing menyahut tawar, "Tiada alasan aku harus membantu kau memecahkan barisan itu supaya kau dapat leluasa membunuh orang."
"Berani kau menentang aku!" teriak si nenek dengan murka.
Sekilas Suma Bing menyapu pandang lawan dengan dingin, lalu katanya enggan, "Ini bukan soal berani atau takut."
"Kubunuh setan cilik seperti kau ini!"
"Tidak segampang perkataan yang kau ucapkan."
Saking murka, badan si nenek sampai gemetar. Rambutnya yang memutih riap-apian dan sepasang matanya memancarkan cahaya yang menakutkan. Namun, sikap Suma Bing tetap tenang seolah-olah tidak melihat. Ia berkata, "Maaf, *cayhe* minta diri."
"Setan kecil, seumpama tumbuh sayap juga kau takkan dapat lolos!"
"Apakah perkataan *cianpwe* ini tidak keterlaluan?"
Sekonyong-konyong, sebuah bayangan putih bagai awan mengembang, laksana air mengalir enteng, melayang tiba tanpa suara. Diam-diam hati Suma Bing tercekat melihat bayangan orang yang sudah dikenalnya ini. Sesaat ia berpikir, bayangan putih itu pun telah melayang tiba. Tanpa kuasa, Suma Bing berseru kejut, "Kau!"
Memang yang mendatangi ini bukan lain adalah Tio Keh Siok, putri Bu Khek Ciangbun atau adik seperguruan dari Si Gwa Sianjin. Entah untuk apa Tio Keh Siok muncul di sini. Aneh, si nenek tua sedikit pun tidak memberikan reaksi akan kedatangan Tio Keh Siok; ia acuh tak acuh tanpa mengerling sedikit pun. Agaknya, Tio Keh Siok sendiri heran melihat kehadiran Suma Bing di tempat ini. Dengan penuh tanda tanya, ia memandang Suma Bing dan berseru, "Kau!"
"Apakah Nona Tio sudah selesai mengurus jenazah *suheng*-mu?"
"Bagaimana bisa kau..." Baru setengah perkataannya, matanya melirik ke arah si nenek aneh, seketika ia menelan kembali perkataan selanjutnya. Terdengar si nenek mendengus sekeras-kerasnya sambil menggerung.
Setelah memandang Suma Bing dengan keheranan, Tio Keh Siok berkelebat melesat memasuki selat sempit itu. Sebat sekali, ia sudah memutar ke belakang batu besar itu lantas tubuhnya terbang menghilang. Kecepatan gerak tubuhnya benar-benar luar biasa, seumpama setan melayang dibawa angin lalu.
Suma Bing terhenyak dan terpekur. Kalau Tio Keh Siok dapat masuk ke selat itu sedemikian gampang tanpa rintangan, pasti ia adalah murid orang dalam selat itu. Ia memanggil Si Gwa Sianjin sebagai *losuheng*. Kalau diukur dari usia Si Gwa Sianjin, maka usia orang dalam selat itu sedikitnya sudah seabad. Rekaannya ini agaknya memang sedikit mendekati kenyataan. Justru yang mengherankan, kalau penghuni lembah itu sudah selama enam puluh tahun tidak pernah keluar meninggalkan tempat kediamannya, lalu dari mana ia bisa memperoleh seorang murid wanita yang masih sedemikian muda? Si Gwa Sianjin termasyhur akan ilmu barisannya, maka dapatlah diperkirakan kalau penghuni lembah itu pasti juga seorang ahli dalam bidang ini.
Maka, timbullah sedikit harapan dalam benak Suma Bing.
"Buyung," terdengar si nenek aneh mendesis, "Kau kenal dengan budak kecil itu?"
"Ya, pernah bertemu beberapa kali!"
"Hm." Entah apa maksud suara dehemannya ini, Suma Bing tidak sudi banyak memikirkan. Malah, ia lantas bertanya, "Dia juga orang dari lembah itu?"
"Benar!"
"Murid penghuni lembah itu? Bukankah penghuni lembah itu sudah mengasingkan diri selama enam puluh tahun tak pernah keluar, dari mana ia dapat memperoleh murid semuda itu?"
"Sepuluh tahun yang lalu, budak kecil itu masih merupakan orok mungil. Ia diculik seorang penjahat dan dibawa lari lewat daerah ini. Penculik itu telah kubunuh dan budak kecil itu lantas dibawa masuk ke dalam lembah oleh murid terbesar penghuni lembah itu, dan selanjutnya dirawat sampai besar..."
"O, tidak heran..."
"Apanya yang tidak heran?"
"Agaknya *cianpwe* tidak bersikap bermusuhan terhadap dia!"
"Sudah kukatakan aku hanya membenci kaum pria!"
"Boleh dikata *cianpwe* pernah menanam budi karena menolong jiwanya, bukan?"
"Omong kosong, selamanya aku tidak pernah menanam budi pada orang lain. Sudah suratan takdir yang mengatur cara hidupnya!"
Suma Bing membatin, watak si nenek aneh ini mungkin tidak lebih sesat dan lebih ganjil dari sifat-sifat gurunya, Lam Sia!
Bola mata si nenek aneh berputar, agaknya ia teringat sesuatu. Serunya, "Buyung, kau mau membantu aku memecahkan barisan itu bukan?"
"*Cayhe* tidak pernah mengatakan demikian!"
Tiba-tiba terdengar derap langkah orang banyak disertai suara ribut percakapan yang mendatangi semakin dekat. Si nenek aneh berbalik dan berbisik, "Buyung, ada orang datang!"
"Memangnya kenapa?"
"Kau jangan sekali-kali berani melanggar ketentuanku. Sekarang kau minggir ke samping!"
Lebih baik aku menonton saja cara bagaimana ia hendak menghadapi orang-orang yang baru datang itu, pikir Suma Bing. Sambil mengiakan, ia minggir ke samping dan mengumpat di belakang sebuah batu besar.
Si nenek aneh masih tetap duduk di atas batu besar di mulut selat itu tanpa bergerak. Warna pakaiannya hampir sama dengan warna batu yang diduduki, ditambah sekelilingnya ditumbuhi rumput dan dedaunan yang lebat. Kalau tidak maju mendekat, memang sukar dibedakan dan dilihat dengan tegas.
Derap langkah dan suara percakapan orang-orang itu semakin keras dan sudah dekat di dalam hutan. Terdengar sebuah suara serak berat berkata, "Lapor kepada *hu hoat* (pelindung), di mulut selat itulah *Hu hiangcu* beramai menemui ajalnya."
Terdengar pula sebuah jawaban yang bernada dingin kaku, "Apa kalian benar-benar melihat sendiri kalau mereka mampus di tangan seorang nenek tua renta?"
"Ya, ketujuh rekan itu semua meninggal dalam sekejap saja!"
"Kenapa kalian tidak maju membantu?"
"Ini... hamba memang berdosa. Sebab dilihat situasi waktu itu, jikalau kita maju juga seumpama kutu menerjang api saja. Sedang tugas penting hamba beramai hanyalah mencari jejak Sia Sin kedua!"
"Hm, baik. Justru Lohu tidak percaya akan semua kejadian ini, biar kuselidiki sendiri secara seksama..."
Seketika timbul amarah dan nafsu membunuh Suma Bing yang bersembunyi di belakang batu itu. Kiranya para kurcaci dari *Bwe Hwa Hwe* ini tengah mencari jejaknya sehingga sampai di sini. Agaknya, setiap gerak-geriknya selalu menjadi incaran dan dalam pengawasan ketat pihak musuh.
Terdengar suara serak berat itu berkata lagi, "Lapor *hu hoat*..."
"Ada apa lagi?"
"Menurut pendapat hamba yang bodoh ini, lebih baik kita nantikan dulu kedatangan *Thay siang hu hoat* (maha pelindung)..."
"Tak usah, Lohu mempunyai perhitungan sendiri."
Tanpa terasa melonjak keras jantung Suma Bing. Maha pelindung yang dikatakan pihak lawan itu entah tepat atau tidak dengan rekaannya, yaitu *Pek Bin Mo Ong* atau Raja Iblis Seratus Muka. Jikalau benar, terhitung raja iblis ini memang sudah ditakdirkan untuk mampus hari ini.
Di tengah benak berpikir, terlihat sebuah bayangan orang muncul dari balik rimba, pelan-pelan menghampiri ke mulut lembah! Begitu melihat dengan tegas orang yang mendatangi ini, Suma Bing berjingkrak kaget. Kiranya orang itu bukan lain adalah Hui Bing Khek, sisa dari empat setan gantung yang masih hidup; ia merupakan pelindung atau kaki tangan terpercaya dari Loh Cu Gi, musuh besarnya nomor satu.