Chapter 145
Dengan menggunakan ilmu *Coan im jip bit*, ia berbisik cepat kepada si nenek aneh beruban, "Cianpwe, orang yang mendatangi ini adalah musuh besarku. Bolehkah cayhe turun tangan membunuhnya?"
"Tidak bisa! Jangan kau melanggar peraturanku!"
"Aku tidak peduli dengan segala peraturan tetek bengek itu!"
"Buyung, kau berani..."
Pada saat itu, Hui Bing Khek sudah melihat si nenek beruban. Seketika ia menghentikan langkahnya, tertawa menyeringai, dan berkata, "Tokoh kosen siapakah ini?"
Sikap si nenek ogah-ogahan. Tanpa mengeluarkan suara, tiba-tiba kedua tangannya diangkat lalu perlahan ditarik kembali. Baru saat itulah Hui Bing Khek merasakan keadaan ganjil yang tidak menguntungkan dirinya. Tersipu, ia memutar tubuh, namun sudah terlambat. Suatu daya tenaga sedot yang mahakuat tiba-tiba menyeret tubuhnya kembali.
Pada saat itulah Suma Bing bertindak. Sebelah tangannya diayunkan, sejalur gelombang kekuatan hawa yang kuat menerjang ke tengah-tengah antara kedua orang itu.
*Bum!* Terdengar ledakan dahsyat. Kontan Hui Bing Khek terjungkal jungkir balik, namun lantas ia merasa bebas dari kekangan tenaga sedot tersebut.
"Setan kecil, berani kau!" teriak si nenek beruban gusar.
Hui Bing Khek mengira ada tokoh yang diam-diam telah membantu menyelamatkan jiwanya. Maka tanpa ayal lagi, secepat kilat ia menjejakkan kedua kakinya, lalu melesat jauh kembali ke dalam hutan.
Namun, tiba-tiba *blang*, ia memekik kaget. Tubuhnya yang tengah melayang di udara terpental balik dan jatuh ke atas tanah. Ketika melihat dengan saksama, tanpa terasa ia berseru ketakutan, "Sia sin kedua!"
Perlahan Suma Bing merogoh keluar cundrik penembus dada serta mendesis mengancam, "Hui Bing Khek, serahkanlah jiwamu!"
Arwah Hui Bing Khek serasa terbang saking ketakutan. Tanpa berani bercuit lagi, ia terus melesat ke samping hendak melarikan diri. Sebuah teriakan panjang yang menyayat hati memecah kesunyian alam sekelilingnya.
Tubuh Hui Bing Khek terbanting mati di atas tanah tanpa berkutik lagi. Dadanya berlubang tertembus cundrik tajam sampai ke punggungnya, darah mengalir berlimpah-limpah! Dalam waktu yang bersamaan, di dalam hutan yang berjarak puluhan tombak, terdengar pula suara seruan kejut dan ketakutan yang riuh rendah.
Sebuah bayangan abu-abu berkelebat melewati samping Suma Bing dan langsung melesat ke dalam hutan. Tersirap darah Suma Bing; tanpa berayal, ia pun melesat menyusul. Belum ia tiba, terdengarlah jeritan saling susul yang menggiriskan bulu roma. Saat Suma Bing menginjakkan kaki di atas tanah, di hadapannya sudah bergelimpangan puluhan mayat yang pecah dan hancur batok kepalanya; keadaan mereka sangat mengenaskan.
Si nenek aneh beruban mengibaskan tangan serta berkata, "Mari kembali, kita rundingkan urusan penting itu!"
Terhadap Bwe Hwa Hwe dari Loh Cu Gi, sampai semua anak buah atau kerabatnya, rasa benci Suma Bing sudah meresap sampai ke tulang sumsum. Maka, ia tidak menganggap perbuatan atau cara turun tangan si nenek aneh ini terlalu kejam. Tanpa membuka suara, ia mengikuti si nenek kembali ke mulut lembah.
Namun, dalam benaknya masih terganjal satu pertanyaan yaitu tentang Maha Pelindung seperti yang dikatakan oleh para korban tadi. Seperti diketahui, jika dugaan bibinya, Ong Fong Jui, tidak salah, yang diangkat sebagai Maha Pelindung itu pasti tidak lain adalah Raja Iblis Seratus Muka yang menyamar untuk menyebar maut dan melakukan kejahatan. Kalau ini betul, bagaimana pun ia tidak akan melepas durjana laknat ini begitu saja.
Bersamaan dengan itu, suatu keraguan juga tengah menusuk sanubarinya. Jika Kiu Im Cinkeng benar-benar sudah jatuh ke tangan Loh Cu Gi, sedang latihan *Kiu yang sinkang* Loh Cu Gi sudah mencapai puncak kesempurnaan, maka jika ditambah lagi dengan *Kiu im cinkeng*, tanpa memerlukan banyak waktu lagi, ia pasti dapat menyempurnakan diri melatih *Thay khek sinkang*. Sampai saat itu, seumpama dirinya berhadapan untuk menuntut balas, pasti ia akan menghadapi banyak rintangan.
Saat ini, tugas yang terpenting baginya adalah mencari cara untuk memecahkan barisan pohon bunga Bwe itu. Kalau ini bisa terlaksana, menuntut balas dan menyapu bersih musuh tidaklah terlalu sukar.
Lain halnya dalam pemikiran si nenek aneh ini. Agaknya perhatiannya tengah tercurah untuk memecahkan batu besar yang merintangi di mulut lembah itu, maka ia mendesak, "Buyung, bagaimana jawabanmu?"
Otak Suma Bing harus bekerja keras. Jika membantu memecahkan barisan itu, tujuan si nenek masuk ke dalam untuk membunuh orang demi melampiaskan dendam selama enam puluh tahun hakikatnya tidak ada jalan damai. Sebaliknya, ia juga sangat memerlukan petunjuk dari penghuni lembah ini untuk dapat memecahkan Bwe Lim Ki Tin. Demi kepentingannya ini, tentu tidak mungkin ia membantu si nenek untuk memecahkan barisan di mulut lembah.
Setelah diterawangi secara masak, barulah ia menjawab, "Maaf, aku tidak mungkin bisa membantu!"
"Benar-benar kau tidak mau?"
"Tidak mungkin!"
Sigap sekali si nenek beruban berjingkrak bangun, namun akhirnya melosoh duduk lagi dengan lesu. Katanya masygul, "Buyung, aku tidak akan menyia-nyiakan budi bantuanmu ini."
Hati Suma Bing tidak tergerak oleh bujukan yang mengharukan ini, malah jawabnya, "Bagaimanapun, aku tidak sudi membantu orang secara semena-mena!"
"Buyung, mari kita persoalkan untung ruginya!"
"Dengan syarat maksudmu?"
"Benar, silakan kau ajukan syaratmu!"
Tergerak hati Suma Bing, katanya, "Syarat yang kuajukan, apa benar Cianpwe pasti dapat mematuhi?"
Hampir saja si nenek mengumbar kemarahannya, tapi sekuat mungkin ia menahan diri dan bersabar. Apa boleh buat, akhirnya ia berkata, "Buyung, baiklah, coba kau katakan."
"Aku tidak berminat untuk mengajukan!"
"Setan keparat, kau pembual besar yang bermulut kosong!"
"Kenapa harus kukatakan? Toh Cianpwe takkan mampu melaksanakan!"
"Setan kecil, kalau tidak kau katakan, dari mana kau tahu kalau aku tidak mampu?"
"Kenyataan memang begitu."
"Kenyataan apa?"
"Cianpwe terintang oleh barisan dalam mulut lembah itu sehingga tidak dapat masuk selama enam puluh tahun. Ini sudah menyatakan..."
"Menyatakan bahwa Lwekang-ku tidak becus?"
"Bukan!"
"Lalu apa?"
"Syarat yang hendak kukatakan juga mengenai ilmu tentang barisan yang aneh-aneh."
"Ini..."
"Maka kukatakan kalau Cianpwe takkan mampu melaksanakan."
"Eh, aku ada akal."
"Ada akal apa?"
"Penghuni lembah ini adalah seorang ahli dalam bidang itu. Kalau kau dapat membantu aku masuk ke dalam lembah, maka boleh kuperintahkan penghuni lembah itu untuk memberi petunjuk tentang persoalanmu itu."
"Bukankah tujuan Cianpwe masuk ke dalam untuk membunuh orang?"
"Memang tidak salah, tapi penghuni lembah itu sendiri pernah berkata, kalau aku mampu memecahkan barisan itu dan masuk ke dalam, maka dia rela dan tunduk menerima segala perintahku tanpa berani membangkang."
"Termasuk juga jiwa mati hidupnya?"
"Sudah tentu."
"Tapi aku tidak sudi berbuat serendah itu."
"Apa?"
"Cayhe membantu kau membunuh dia, lalu dari dia mendapat petunjuk untuk kebaikanku. Dapatkah aku melakukan perbuatan yang rendah begitu?"
Agaknya si nenek beruban sudah tak kuat lagi menahan amarahnya setelah dikocok pulang-pergi oleh Suma Bing. Dengan beringas, perlahan ia bangkit berdiri, sorot matanya memancarkan kebuasan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar gelak tawa aneh yang melengking tinggi, menusuk telinga dan menyedot semangat orang. Mengandalkan keampuhan Lwekang, Suma Bing saat itu ternyata juga terpengaruh sampai darah terasa bergolak menyesakkan dada, jantungnya berdebar keras. Jelas, pendatang baru ini agaknya bukan tokoh sembarang.
Si nenek beruban sendiri juga terpengaruh dan tersedot oleh suara tawa itu sehingga memandang ke depan tanpa berkedip. Begitu lenyap suara tawa itu, disusul segulung bayangan merah secepat kilat terjun dari tengah udara. Waktu Suma Bing menegasi, serta-merta giris dan dingin perasaan hatinya.
Kiranya pendatang baru ini adalah seorang laki-laki yang berbadan tinggi besar mengenakan jubah merah marong. Rambut dan jenggotnya juga merah, bahkan kedua bola matanya pun memancarkan sinar merah. Seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah serba merah, raut wajahnya seram dan menakutkan.
Terdengar si nenek beruban berseru kejut lalu menegur, "Kau ini Hwe Hun Koay Hud, bukan?"
"Tidak salah!" Sambil menjawab, Hwe Hun Koay Hud mundur setindak. Agaknya ia terkejut karena tidak mengenal siapakah si nenek beruban ini, sebaliknya lawan sekali buka mulut lantas dapat menyebut nama julukannya.
Suma Bing sendiri juga melengak. Hwe Hun Koay Hud, nama ini sangat asing baginya. Akhirnya terdengar Hwe Hun Koay Hud berkata tergagap, "Kau ini..."
"Tidak kenal, ya sudah," sahut si nenek beruban dengan sikap angkuh.
Sepasang mata aneh Hwe Hun Koay Hud tengah menyapu dan menatap ke arah Suma Bing. Seringainya dingin, "Buyung, kau inikah calon majikan Perkampungan Bumi yang bernama Suma Bing?"
Si nenek aneh beruban terperanjat setelah mendengar asal-usul Suma Bing. Terdengar Suma Bing menyahut dingin, "Benar."
Hwe Hun Koay Hud tertawa terbahak-bahak, serunya, "Bagus sekali."
Tergerak hati Suma Bing, tanyanya, "Apanya yang bagus, Tuan?"
"Bedebah, kau panggil aku dengan sebutan Tuan?"
"Ini terhitung kupandang kau cukup tinggi."
"Ha, keparat! Lohu sudah hidup seratus tahun lebih, tak duga hanya dipanggil sebagai Tuan oleh bocah hijau berbau tetek ibumu..."
"Kalau Tuan merasa ini kurang tepat, tak usah kau banyak mulut."
Di mulut, Suma Bing bersikap angkuh, sebenarnya hatinya juga terkejut dan kebat-kebit. Ternyata orang aneh serba merah ini juga sudah berusia seabad lebih; tidak heran sekali bertemu si nenek aneh beruban itu lantas kenal asal-usulnya. Yang mengherankan dan merupakan pertanyaan, dari mana ia dapat mengetahui nama dan asal-usul dirinya.
Sorot mata Hwe Hun Koay Hud yang merah marong itu berjelalatan. Dengan nanap dan tajam ia mengawasi Suma Bing sekian lama lalu katanya, "Buyung, kau tahu maksud kedatangan Lohu kemari?"
Acuh tak acuh Suma Bing menyahut, "Kedatangan Tuan kemari lantaran aku?"
"Tepat sekali!"
"Harap tanya..."
"Untuk mencabut nyawamu!"
Membesi wajah Suma Bing, dengusnya dingin, "Lantaran aku Tuan kemari?"
"Sudah tentu!"
"Coba katakan."
"Kau tahu apa kedudukan aku orang tua saat ini?"
"Kalau tidak Tuan katakan sendiri, siapa dapat tahu?"
"Akulah Maha Pelindung dari Bwe Hwa Hwe, sudah jelas?"
Suma Bing melonjak kaget sampai mundur tiga langkah, bukan karena takut, namun karena anggapannya bahwa yang dinamakan sebagai Maha Pelindung dari Bwe Hwa Hwe itu pasti dijabat oleh Raja Iblis Seratus Muka.