Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 146

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 146

Namun sekarang, kenyataan menghancurkan semua kepastiannya.

Tentang perkampungan yang kehilangan buku berharga, Ngo Bi yang juga kehilangan pusaka pelindung perguruan, bahkan Bu Khek Po yang dilanda banjir darah, apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan Bwe Hwa Hwe? Kini hal itu menjadi teka-teki lagi.

Terdengar si nenek aneh menyeringai seram dan berdesis, "Hwe Hun Lo Koay, tidak gampang kau hendak membunuhnya!"

"Kenapa? Apa kau hendak mencampuri?"

"Mungkin!"

"Nenek keropos, kau sendiri sukar menyelamatkan diri. Bukankah puluhan anak buah Bwe Hwa Hwe semua mampus di tanganmu?"

"Hehehehe, Hwe Hun Lo Koay, kau sendiri sudah tiba di sini. Terhitung kau sendiri juga harus mengikuti jejak mereka!"

"Baik, nanti setelah kubereskan bocah keparat ini, baru aku menyelesaikan perhitungan kita." Suma Bing melangkah lebar kembali ke tempat asalnya. Wajahnya membeku diselimuti kekejaman, nadanya berat dan tertekan, "Kedatangan Tuan ini atas perintah Loh Cu Gi?"

"Wah, bocah keparat kurang ajar. Seharusnya kau katakan aku diundang oleh Loh Cu Gi kemari, tahu!"

"Mengandalkan perkataanmu ini, kau setimpal untuk mampus!"

"Keparat, besar benar monyongmu itu!"

"Kenyataan akan membuktikan perkataanku ini." Saking gusar, sambil menggerung, Hwe Hun Koay Hud lantas mengangkat tangan mengepruk ke batok kepala Suma Bing. Serangan ini bukan saja hebat dan dahsyat kekuatannya, tipuannya pun lain dari yang lain.

Suma Bing sudah mengerahkan Giok Ci Sinkang sampai tingkat kesepuluh. Tanpa menggeser kedudukan, kepalanya hanya dimiringkan sedikit, berbarengan dengan satu tangannya yang diangkat lurus ke depan untuk menangkis.

'Plak', terdengar benturan keras dari beradunya telapak tangan kedua orang tersebut. Masing-masing tergetar mundur satu langkah.

Diam-diam hati Suma Bing tercekat. Dari gebrak pertama itu, ia dapat mengukur bahwa lwekang musuh tidak lebih rendah dari dirinya.

Hwe Hun Koay Hud pun bukan kepalang kejutnya. Musuhnya ini seorang muda yang belum genap berusia dua puluhan, namun bukan saja kuat menandingi latihannya selama seratus tahun, bahkan kesudahannya seri tanpa ada pihak yang unggul atau asor.

Sementara itu, Suma Bing mengerahkan tenaga lagi, meningkatkan pertahanannya satu tingkat.

Sebentar melengak, lantas Hwe Hun Koay Hud melancarkan lagi serangannya sebanyak tiga jurus berantai. Setiap jurusnya merupakan ilmu yang jarang terlihat dan keampuhannya boleh dibanggakan. Suma Bing tidak berani ayal; kedua tangannya juga bergerak tidak kalah cepat untuk menangkis dan memunahkan serangan musuh.

"Bagus!" di luar dugaan, si nenek beruban berteriak memuji keras.

Tiba-tiba Hwe Hun Koay Hud mundur lima kaki, jubah merahnya yang besar melembung, perlahan kedua tangannya diangkat lapang di depan dada.

"Buyung, awas menghadapi ilmu Hong Lui Sin Lo yang lihai!" terdengar si nenek berseru memperingati.

Tercekat hati Suma Bing. Giok Ci Sinkang terkerahkan sampai tingkat kedua belas, siap menghadapi segala kemungkinan. Perlahan Hwe Hun Koay Hud menarik lalu menyurongkan kedua tangannya ke depan. Seketika angin ribut diselingi geledek menggelegar.

Kontan Suma Bing merasakan dirinya diterpa suatu gelombang kekuatan yang tidak kentara menindih ke seluruh tubuhnya. Cepat-cepat ia mengayun kedua tangannya, terus dipukulkan ke depan. Ledakan dahsyat disertai badai dan suara geledek menyambar membuat pasir, batu, dan tanah beterbangan membumbung tinggi ke angkasa. Gelanggang menjadi kelam diselubungi kabut hitam dari debu yang berhamburan. Saking hebat ledakan ini, sampai menimbulkan gema suara sekian lama di empat penjuru alam pegunungan. Keadaan tersebut seolah-olah dunia sudah hampir kiamat.

Darah bergolak di rongga dada Suma Bing, kakinya sampai amblas setengah kaki ke dalam tanah. Sementara Hwe Hun Koay Hud telah tersurut mundur ke tempat asalnya sejauh satu tombak. Si nenek beruban terkesima memandangi Suma Bing; agaknya dia terpesona akan gebrak pertandingan yang hebat seumpama memecahkan bumi dan menggegerkan langit ini.

Seketika, segulung awan merah melenting tinggi terus menghilang ke dalam rimba.

"Lari ke mana kau!" Suma Bing membentak beringas. Secepat anak panah dia terus berlari mengejar masuk ke dalam hutan, tapi bayangan Hwe Hun Koay Hud sudah menghilang tanpa jejak.

Diam-diam Suma Bing mengumpat dan menyumpah, "Hari ini kau dapat melarikan diri, besok kau takkan dapat lolos." Tak lama kemudian, dia sudah kembali ke hadapan si nenek aneh.

Kata si nenek aneh beruban penuh kekaguman, "Buyung, tidak kira Hwe Hun Koay Hud ternyata tidak kuat menahan sekali pukulanmu?"

"Sayang, dia dapat melarikan diri!" ujar Suma Bing penasaran.

"Apa kau benar-benar ingin mencabut jiwanya yang sudah tua itu?"

"Akan kukremus tubuhnya."

"Untuk balas dendam?"

"Boleh dikata demikian!"

"Bagaimana bisa setan tua itu sampai bermusuhan dengan kau?"

"Dia adalah mahapelindung musuh besarku. Bukankah kedatangannya itu lantaran aku?"

"O," si nenek aneh tercengang.

"Orang macam apakah Hwe Hun Koay Hud ini?"

"Masa kau belum pernah dengar?"

"Belum!"

"Kira-kira delapan puluh tahun yang lalu, di partai Siau Lim Si muncul seorang murid murtad dan durhaka. Dia itulah orangnya!"

"Apa pihak Siau Lim Si tidak mengambil tindakan terhadap dia?"

"Bukan tidak diambil tindakan, adalah kewalahan menghadapinya. Dia mencuri sejilid buku Hong Lui Keng. Dengan latihannya selama setengah abad, dia berhasil menguasai Hong Lui Sin Lo. Sedemikian ampuh ilmu silat ini sampai tiga tokoh terlihai dari Siau Lim Si yang kenamaan dengan julukan Siau Lim Sam Cun, yaitu Hui Kong, Hui Gong, dan Hui Bing, juga terkalahkan dalam mengeroyok dia seorang..."

Teringat oleh Suma Bing akan Hui Kong Taysu yang dipandang sebagai Buddha hidup oleh Siau Lim Si, ternyata adalah salah satu dari Siau Lim Sam Cun itu. Sampai sekarang Hui Kong Taysu masih hidup. Kalau pihak mereka mendengar kabar akan munculnya lagi murid durhaka dari tingkatan atas ini, entah dengan cara bagaimana mereka hendak menghadapinya. Kiranya ini merupakan noda hitam bagi lembaran sejarah kejayaan Siau Lim sejak partai ini didirikan beratus tahun yang lalu.

"Selanjutnya," demikian si nenek melanjutkan penuturannya, "Seluruh kekuatan Siau Lim sudah diboyong keluar untuk mengepung dan mengeroyok manusia laknat ini. Entah berapa banyak korban berjatuhan dari anak murid Siau Lim, tapi akhirnya toh dia masih dapat melarikan diri dan sejak saat itu terus menghilang entah ke mana. Peristiwa ini dulu pernah menggegerkan seluruh dunia persilatan."

"Peristiwa itu masih terkatung-katung sampai sekarang?"

"Buyung, kita bicarakan soal kita yang penting. Bagaimana dengan syarat yang kuajukan tadi?"

"Tak mungkin kulakukan."

"Bedebah, benar-benar kau tidak mau lakukan?"

"Tidak!"

"Berani kau katakan sekali lagi?"

"Tidak!"

"Baik, lihat ini!" Sambil berseru, ia menubruk dari atas batu besar tempat duduknya ke arah Suma Bing. Serangan kedua tangannya sangat gencar dan bergerak secepat kitiran. Suma Bing juga tidak mau kalah wibawa; dengan penuh semangat dia melayani setiap jurus serangan pihak lawan.

Maka terjadilah pertempuran hebat yang jarang terjadi selama ini, sehingga batu dan pasir beterbangan membumbung tinggi ke angkasa. Dalam sekejap mata saja tiga puluh jurus telah berlalu. Si nenek aneh menyerang semakin gencar seperti orang kalap; jurus serangannya adalah tipuan yang mematikan. Keruan Suma Bing, yang tiada niat melukai lawannya, menjadi kewalahan dan terdesak mundur. Akhirnya terpaksa dia menjadi nekat, jurus Bintang Berpindah jungkir balik dilandasi seluruh kekuatan tenaganya dilancarkan keluar secepat kilat.

Terdengar si nenek menguak keras hampir muntah. Tubuhnya terhempas dan terpelanting mundur sempoyongan sejauh delapan kaki. Menggunakan kesempatan peluang ini, tanpa ayal lagi Suma Bing menjejakkan kedua kakinya, terus melesat ke arah mulut lembah.

Dia berkesimpulan barisan yang dibentuk oleh penghuni lembah itu adalah untuk mencegah atau tegasnya merintangi si nenek masuk ke dalam. Jikalau dirinya memohon bertemu secara hormat mungkin dilulusi, siapa tahu, sebab tekadnya untuk memecahkan barisan Bwe Lim Ki Tin itu rasanya lebih penting dari segala urusan.

Mendadak terdengar si nenek beruban berteriak di belakangnya, "Budak, cegat dia!"

Mendengar ini Suma Bing malah melengak heran, entah apa yang disuruh si nenek untuk mencegat dirinya. Tanpa terasa, cepat-cepat dia hentikan langkahnya. Maka di lain saat, sebuah bayangan putih meluncur tiba menghadang di depannya, lalu disusul bayangan beberapa orang lagi yang juga merintangi di tengah jalan.

Begitu melihat orang terdepan yang mencegat di hadapannya ini, tercekat hati Suma Bing. Tersipu-sipu ia berlutut menyembah sambil berseru, "Bu, kaukah yang datang!"

Betul juga, yang baru datang ini ternyata adalah San Hoa Li Ong Fang Lan adanya. Terang ibundanya menjadi ahli waris dari Bu Lim Ci Sin dan menjadi majikan Panggung Berdarah. Bagaimana mendadak sekarang muncul di sini malah dipanggil sebagai budak oleh si nenek aneh beruban itu? Ini benar-benar kejadian yang luar biasa.

Agaknya San Hoa Li Ong Fang Lan sendiri juga terheran-heran, tanyanya, "Nak, bagaimana kau bisa berada di sini?"

"Bu, kau..."

"Kudengar kau menimbulkan banjir darah di Bu Khek Po, merebut Kipas Pualam, menerjang ke Ngo Bi San, serta melukai tiga pelindungnya dan lima Tianglo mereka untuk mengangkangi Ce Giok Pe Yap..."

"Karena peristiwa inikah maka Ibu keluar dari pesanggrahan?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment