Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 147

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 147

"Ya, Nak, perbuatanmu itu..."

"Apa Ibu juga beranggapan aku dapat berbuat begitu rupa?"

"Tapi kenyataan..."

"Itu bukan kenyataan yang terbukti!"

"Bukan kenyataan?"

"Ada seseorang yang menyamar sebagai aku telah melakukan semua itu."

"Oh, siapakah dia?"

"Saat ini masih belum diketahui, anak sedang menyelidikinya secara saksama."

Agaknya San Hoa Li merasa sangat terkejut. Ia berkata sambil menggandeng tangan Suma Bing, "Kalau begitu, kau bangunlah, Nak."

Suma Bing berdiri. Segera empat pengikut di belakang dirinya membungkuk memberi hormat sambil menyapa, "Menghadap Majikan Muda!"

Suma Bing membalas dengan anggukan. Serta-merta ia berpaling memandang ke arah si nenek aneh, lalu berbisik, "Dia orang..."

Wajah San Hoa Li Ong Fan Lan sedikit berubah. Cepat ia melesat maju ke depan, terus berlutut dan menyembah dengan takzim di depan si nenek. Keempat pengikutnya juga turut berlutut dan menyembah.

Si nenek aneh melambaikan tangan serta berseru, "Bangunlah, tak perlu sungkan."

Suma Bing melongo dan terheran-heran. Betapa janggal keadaan ini benar-benar susah dilukiskan. Setelah tertegun sekian lama, ia pun maju mendekat.

Segera San Hoa Li Ong Fan Lan menggapaikan tangan serta berkata, "Nak, ayo menghadap Sukohco!"

Kontan Suma Bing terhenyak di tempatnya. Salah satu dari empat gadis berseragam putih itu, yang menjadi pemimpin Rasul Penembus Dada bernama Ih Yan Chiu, segera berbisik, "Tuan Muda, kau sudah dengar!"

Suma Bing tergagap bagai sadar dari mimpi. Cepat-cepat ia tampil ke depan, terus berlutut, lalu berseru, "Menghadap Sukohco!"

"Sudahlah, bangun!"

Perlahan Suma Bing bangkit berdiri. Teringat pengalamannya selama ini, tanpa terasa wajahnya merah padam; sikapnya risi dan kikuk.

Si nenek sendiri merasa serba salah. Dengan keheranan, ia memandang San Hoa Li Ong Fan Lan dan berkata, "Apa benar dia ini anakmu?"

"Benar, Sukoh."

"Kenapa kau tidak pernah bilang?"

"Memang ini kecerobohanku, harap Sukoh suka memaafkan."

Si nenek termenung sekian lama. Mendadak ia melambaikan tangan dan berkata, "Kalian boleh pergi."

San Hoa Li Ong Fan Lan berkata penuh hormat, "Apakah anak kurang ajar ini telah berbuat salah terhadap Sukoh?"

"Tidak tahu tidak berdosa, lekas kalian pergi."

San Hoa Li menatap tajam ke arah Suma Bing. Agaknya ia bertanya-tanya akan semua kejadian yang baru saja berlangsung; sinar matanya penuh tanda tanya.

Suma Bing berpikir, bagaimana ia harus memberikan penjelasan kepada ibunya dalam waktu singkat ini. Cepat-cepat ia berputar menghadap si nenek lantas berkata, "Mohon kau, Orang Tua, segera memberikan perintah."

Si nenek aneh beruban mendengus dingin, "Tidak perlu lagi, pergilah!"

Suma Bing melongo. Ia berkata lagi, "Bukankah Sukohco ingin..."

"Sekarang tidak perlu!"

"Mohon bertanya, kenapa?"

"Urusan aku, orang tua, tidak perlu kalian dari tingkatan rendah turut campur."

"Tapi..." Suma Bing sebenarnya hendak mengatakan, bukankah kau tergesa-gesa ingin memecahkan barisan itu dan masuk ke dalam lembah? Namun, setelah sampai di ujung bibir, ia merasa perkataannya ini kurang hormat, maka ia menelannya kembali.

Agaknya San Hoa Li mulai paham setelah mendengar percakapan tadi. Ia menyela, "Sukoh, ada urusan apakah yang memerlukan tenaga anak Bing?"

"Tidak perlu lagi!" sentak si nenek uring-uringan sambil menggoyangkan tangan. "Cepat kalian pergi saja."

Tentang asal-usul atau riwayat ayah bundanya sendiri, Suma Bing sedikit pun tidak tahu. Bahwa si nenek beruban ini mendadak bisa menjadi Sukohconya benar-benar sebuah mimpi yang tak terduga olehnya. Sungguh ia sangat menyesal waktu melihat rupa si nenek saat bertemu untuk pertama kalinya tadi.

Dalam pertimbangannya, penyebab Sukohconya rela menunggu dan merana selama enam puluh tahun pasti tidak lepas dari persoalan cinta. Sekarang setelah diketahui duduk perkaranya, sudah tentu ia tidak sudi minta bantuan pada angkatan muda. Persoalan bak teka-teki ini mungkin ibunya mengetahui, tapi di hadapan Sukohconya tidak enak pula ia menanyakannya.

Mengenai usia Sukohconya, mungkin sudah melebihi seratus tahun. Tiada orang yang kekal di dunia ini, meski setinggi dan sedalam apa pun latihan semadinya, paling banyak hanya bisa hidup lebih lama puluhan tahun dari orang biasa. Kalau ia sendiri tidak mampu memecahkan barisan itu dengan kemampuannya sendiri, akhirnya ia pasti meninggal dunia di luar mulut lembah itu.

Sekarang, kalau ia mau membantu si nenek yang menakutkan dan harus dikasihani ini untuk menghancurkan batu besar itu, bagaimanakah akibatnya? Ia masuk ke dalam lembah adalah untuk membunuh orang; tidak peduli apa sebab musababnya, yang terang sebuah tragedi bakal terjadi. Dapatkah dibenarkan perbuatannya?

Sorot mata ibunya yang gelisah, gugup, dan penuh tanda tanya melirik lagi ke arah dirinya. Dalam situasi sekarang ini, mau tak mau ia harus mengambil keputusan. Mungkin karena malu akan kedudukannya yang tinggi, si nenek segan membuka mulut, padahal sanubarinya benar-benar ingin dirinya membantu untuk menyelesaikan cita-cita yang tertunda selama puluhan tahun.

Setelah dipertimbangkan dengan tegas, ia berkata kepada ibunya, "Bu, Sukohco minta aku menghancurkan batu besar di mulut lembah itu untuk memecahkan barisan di dalamnya."

San Hoa Li Ong Fan Lan menjadi tegang. Ia menyahut dengan tergagap, "Oh, Nak..."

"Cepat kalian pergi!" teriak si nenek aneh berjingkrak gusar.

Tersipu-sipu, San Hoa Li Ong Fan Lan berlutut dan berseru, "Sukoh, mohon dimaafkan kalau perkataan murid ini kurang ajar. Apakah faedahnya Sukoh menunggu selama ini?"

Daging di wajah si nenek berkerut dan gemetar. Ia berkata sedih, "Budak, bangunlah."

"Sukoh setuju?" tanya San Hoa Li Ong Fan Lan sambil bangkit berdiri.

"Tidak!" nadanya sudah agak lunak, tidak seketus semula.

"Sukoh, murid mewarisi kepandaian Unsu adalah karena jodoh. Mungkin Unsu tidak akan menduga setelah beliau meninggal puluhan tahun bisa mendapat seorang murid seperti aku. Sekarang aku juga ada jodoh dapat menemukan Sukoh yang masih sehat walafiat meskipun sudah tua. Meskipun aku sebagai Sutit (cucu murid) hakikatnya seperti murid sendiri juga, maka murid memberanikan diri berlaku kurang ajar, harap Sukoh berpikir panjang."

Suma Bing tertegun mendengar perkataan ibunya itu. Naga-naganya si nenek ini pasti ada hubungan saudara sepupu dengan majikan Panggung Berdarah, yaitu Bu Lim Ci Sin. Didengar dari nada perkataan ibunya, kiranya setelah ia mendapat buku pelajaran ilmu silat peninggalan Bu Lim Ci Sin, baru ia bersua dengan Sukohnya ini.

Kejadian dalam dunia ini memang serba-serbi dan susah diduga sebelumnya. Hanya belum diketahui siapakah nama julukan si nenek beruban ini, yang terang pasti ia juga salah seorang tokoh silat nomor wahid pada zaman mudanya dulu. Karena desakan pikirannya ini, tanpa terasa mulutnya bertanya, "Sutitsun mohon bertanya nama julukan Sukohco!"

Sekian lama si nenek aneh beruban ragu, akhirnya ia berkata dingin, "Hian Thian Ceng Li!"

Suma Bing mundur tiga langkah saking kaget, wajahnya pun berubah. Ia pernah dengar dari penuturan suhunya, Sia Sin Kho Jiang, tentang Hian Thian Ceng Li ini. Ia sebenarnya seorang gadis cantik rupawan pada puluhan tahun yang lalu; kecantikannya pernah menggegerkan dunia persilatan dan banyak pemuda yang tergila-gila olehnya. Bukan saja cantik, malah kepandaian silatnya pun bukan main tinggi dan lihai.

Sungguh tidak nyana, si nenek tua kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang yang reyot ini ternyata adalah Hian Thian Ceng Li yang dulu serba pandai dalam ilmu silat dan sastra.

"Sukoh," terdengar San Hoa Li berkata pula, "Setelah cita-citamu dapat terkabul, murid mohon kau, Orang Tua, suka kembali lagi ke Panggung Berdarah, supaya murid dapat melayani..."

Mendadak Hian Thian Ceng Li terbahak keras seperti orang gila. Ia berseru, "Budak, kalau cita-citaku terkabul, buat apa aku terus merana di dunia fana ini!"

"Sukoh, kau..."

"Ai!" Helaan napas yang menyedihkan ini sungguh memilukan hati.

Suma Bing sendiri juga ikut mendelu; ia tidak paham apa yang dipersoalkan tentang cita-cita. Namun, dalam pandangannya, Hian Thian Ceng Li, si makhluk aneh yang tua renta ini, kini berubah menjadi seorang tua yang harus dikasihani.

Waktu hanya terpaut satu jam saja, namun anggapannya sudah berubah sama sekali. Timbul keinginannya sekarang untuk mendarmabaktikan sedikit tenaganya untuk seorang angkatan tua yang benar-benar memerlukan bantuan sebelum mangkat.

Terdengar San Hoa Li berkata dengan nada berat dan sungguh, "Anak Bing, dapatkah kau melakukan?"

Suma Bing tercengang, sahutnya, "Bu, melakukan apa?"

"Menghancurkan batu besar itu?"

"Aku percaya aku dapat!"

"Baik, lekaslah kau bekerja!"

Hian Thian Ceng Li tetap membungkam, agaknya ia setuju. Suma Bing mengangguk, terus melangkah ke depan mulut lembah. Kira-kira terpaut dua tombak di depan batu besar itu, Suma Bing berhenti. Hatinya kebat-kebit tidak tenteram, namun saat itu sudah tiada tempo baginya untuk memikirkan apakah tindakannya ini benar atau salah.

Perlahan kedua tangan terangkat di depan dada, Giok Ci Sinkang sudah terkerahkan sampai puncaknya.

"Buyung, nanti dulu!" tiba-tiba Hian Thian Ceng Li berseru mencegah.

Serta-merta Suma Bing menunda gerakannya. Dalam pada itu, Hian Thian Ceng Li sudah melompat tiba di sebelah sampingnya, sedang ibunya beserta empat pengikutnya masih tetap berdiri di tempatnya semula.

"Sukohco masih ada petunjuk apa?"

"Buyung, kau masih ingat permintaanmu tadi?"

"Ini..."

"Aku dapat minta penghuni lembah itu nanti memberi petunjuk memecahkan persoalanmu."

Sifat pembawaan Suma Bing yang terkeram dalam sanubarinya tiba-tiba berontak. Ia menyahut, menggeleng dengan angkuhnya, "Tidak perlu lagi!"

"Kenapa?"

"Masih banyak para ahli lain yang dapat membantu aku dalam bidang itu."

"Mengapa harus sedemikian susah payah?"

"Cucu murid membantu Sukohco menghancurkan batu dan memecahkan barisan, sebaliknya tujuan Sukohco adalah untuk menuntut balas. Memang cucu murid tidak berbakti, kalau aku masih minta petunjuk dan bantuannya, bukankah ini menambah dosa yang tak terampunkan dalam lembaran sejarah dunia persilatan!"

Berubah air muka Hian Thian Ceng Li. Agak lama kemudian baru ia berkata, "Kau memang benar, sekarang kau boleh pergi!"

"Tidak!" sahut Suma Bing menggelengkan kepala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment