Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 148

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 148

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Berbuat menurut perintah Ibunda!"

"Aku tidak mengizinkan!"

"Terpaksa Tesun berlaku kurang ajar!"

Habis ucapannya, secepat kilat ia memutar tubuh dan kedua tangannya diayunkan.

"Jangan!" teriak Hian-thian-ceng-li keras, berusaha mencegah.

Namun, kedua tangan Suma Bing sudah telanjur dipukulkan. Dentuman menggelegar menggetarkan bumi pegunungan dalam celah itu. Batu dan debu berhamburan seolah-olah bumi merekah dan laut tumpah. Setelah suasana mereda, tampak batu cadas sebesar gajah raksasa itu telah hancur lebur menjadi setumpukan debu kerikil yang menjulang tinggi.

Melihat ini, tubuh si nenek tampak gemetar dan bergidik. Kedua matanya memancarkan cahaya tajam berkilat-kilat, memandang ke mulut lembah tanpa berkedip. Lama kemudian, ia mendadak tertawa nyaring seperti orang kehilangan semangat.

Pada saat itulah, sebuah bayangan putih langsing meluncur tiba dari mulut lembah sebelah dalam. Sekejap mata saja, ia sudah berada di hadapan mereka. Dia bukan lain adalah Tio Keh-siok yang belum lama berselang masuk ke dalam lembah.

Setelah kakinya menginjak tanah, sepasang mata Tio Keh-siok menatap ke arah Suma Bing dengan tajam seperti ujung pedang. Tanpa terasa, Suma Bing merinding dipandang begitu rupa. Sinar mata yang mengandung rasa kebencian berapi-api itu takkan terlupakan selama hidupnya. Kontan terasa olehnya suatu keganjilan dalam kejadian ini.

Perlahan-lahan, pandangan Tio Keh-siok beralih ke arah Hian-thian-ceng-li. Sambil menekuk lutut, ia memberi hormat serta berkata dingin, "Locianpwe, Suhu tengah menantimu di dalam lembah."

"Suruh dia keluar menemui aku."

"Kesehatan Suhu terganggu dan tidak leluasa untuk bergerak."

"Hm, tidak leluasa apa segala?"

"Kenapa Locianpwe mendesak orang sedemikian rupa?"

"Budak setan, berani kau kurang ajar terhadap aku?" Wajah Tio Keh-siok menegang, desisnya geram, "Locianpwe, Suhu telah menantimu dengan segala perlengkapan!"

"Apa, dia hendak turun tangan dan mengingkari janjinya?"

"Suhu sudah mandi dan ganti pakaian. Dengan tenang dia tengah menantikan Dewa Kematian menjemput nyawanya, tapi..."

"Tapi apa?"

"Ada satu hal yang belum dapat kumengerti!"

"Coba katakan!"

"Apa hubungan Suma Bing dengan Locianpwe?"

"Sutitsun (cucu murid keponakan)."

"Apakah Locianpwe ada niat untuk melindunginya..."

"Tutup mulutmu..." Hian-thian-ceng-li menggerung keras saking murka. Rambutnya yang ubanan sampai berdiri, dan tanpa kuasa tubuhnya terhuyung dua langkah.

Tanpa takut, Tio Keh-siok terus berkata dengan dongkol, "Sebelumnya Wanpwe sudah dengar, jikalau Suhu terjadi apa-apa, Wanpwe bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini. Kalau Cianpwe tidak ingin menimbulkan bencana di kemudian hari, silakan sekarang juga turun tangan melenyapkan Wanpwe sekalian!"

Hati Suma Bing sedih dan perih sekali. Dia maklum bahwa tindakannya ini salah, namun bagai menaiki harimau yang susah turun, tak mungkin dia membiarkan sukohconya mendapat malu dan serba susah. Maka dia berkata dingin, "Nona Tio, selalu Cayhe nantikan pembalasanmu!"

Tio Keh-siok melirik ke arah Suma Bing dengan benci dan kemarahan yang meluap-luap, makinya, "Suma Bing, aku takkan melepas kau!"

Mendadak terdengar sebuah suara berat serak berkata, "Anak Siok, mundur, jangan kurang ajar!"

Dari balik tumpukan puing-puing batu, muncul bayangan seseorang yang turun dan hinggap di atas tanah. Bayangan yang muncul ini adalah seorang pria tua dengan rambut, jenggot, serta kumis yang sudah memutih semua. Wajahnya penuh kerutan, dan sinar matanya redup, agaknya mengandung kesedihan yang berlimpah. Begitu menginjak tanah, ia langsung duduk tanpa bergerak.

Tio Keh-siok menyapu pandang semua hadirin dengan geram, lalu mundur ke belakang orang tua itu serta memanggil, "Suhu!"

Kalau tadi beringas, sekarang Hian-thian-ceng-li sebaliknya terbungkam seribu bahasa. Tubuhnya gemetar semakin keras. Dengan penuh keanehan, Suma Bing memandang orang tua beruban ini; batinnya yakin dialah penghuni lembah yang dikatakan oleh sukohconya itu.

Seperti orang tua umumnya yang loyo, penghuni lembah ini duduk dengan sikap lesu. Tiada sesuatu yang mengejutkan, malah sepasang sinar matanya pun suram. Sikapnya dingin dan tenang menatap ke arah Hian-thian-ceng-li tanpa membuka suara.

Setelah hening sekian lamanya, akhirnya Hian-thian-ceng-li memecah kesunyian, katanya, "Ada apa lagi yang perlu kau katakan?"

Berkatalah penghuni lembah dengan berat dan tersendat, "Kau dan aku kan sudah menjadi tua bangka yang dekat masuk liang kubur..."

"Omong kosong! Yang kumaksudkan adalah janjimu dulu!"

"Silakan apa yang hendak kau perbuat, aku menurut saja."

"Masih ada urusan apa lagi yang perlu kau sampaikan kepada muridmu?"

"Urusan terakhir?"

"Benar, hari ini juga kau harus kubunuh!"

Sekilas sepasang mata penghuni lembah memancarkan cahaya terang lantas menghilang lagi, katanya tenang, "Silakan kau turun tangan!"

"Sampai mati pun kau tidak menyesal?" teriak Hian-thian-ceng-li kalap.

Penghuni lembah tertawa, ujarnya, "Menyesal? Apanya yang perlu disesalkan? Orang hidup bagai mimpi, setelah sadar dari tidur, semuanya juga lantas hilang..."

"Sedemikian kejam dan keji kau menghancurleburkan impian orang lain?"

"Mimpi itu timbul dari hati..."

"Dasar kau tanpa perikemanusiaan!"

"Terserah bagaimana kau hendak berkata. Sekarang biarlah aku menebus dengan jiwaku, masa masih belum cukup?"

"Li It-sim," Hian-thian-ceng-li menggeram sambil mengertak gigi, "Setelah kubunuh, tetap juga kubenci kepadamu!"

Nama Li It-sim itu menggetarkan sanubari Suma Bing. Teringat olehnya akan cerita yang dikisahkan oleh Kang Kun Lojin. Sungguh tidak disangka dia masih hidup. Li It-sim yang berjuluk Hwe-soh-ki-khek adalah suami Bu-siang-sin-li, atau ayah kandung Li Hui, perempuan yang terkurung selama dua puluh tahun di belakang puncak Siau-lim-si.

Tidak perlu disangsikan lagi, persoalannya dengan Hian-thian-ceng-li ini pastilah menyangkut asmara masa remaja mereka dulu. Memang soal cinta merupakan persoalan yang susah diselesaikan; sampai sekarang pun, meski sudah berusia seratus tahun lebih, mereka masih terbawa dalam pertikaian yang menyedihkan ini.

Begitulah, karena pikirannya ini, tanpa terasa mulutnya berseru kejut, "Bu-lim-sam-ki!"

Seruan kagetnya menggetarkan seluruh hadirin. Terutama Li It-sim dan Hian-thian-ceng-li merasa heran dan terperanjat, dari mana Suma Bing bisa mengetahui asal-usul riwayat orang tua ini. Sementara San-hoa-li Ong Fang-lan terkejut mendengar kebesaran nama Bu-lim-sam-ki.

Sorot mata Li It-sim bercahaya terang, katanya haru, "Buyung, apa yang kau katakan?"

Suma Bing membungkuk dan menyahut hormat, "Bukankah Locianpwe salah satu dari Bu-lim-sam-ki yang berjuluk Hwe-soh-ki-khek?"

"Dari mana buyung semuda kau ini bisa tahu?"

"Apakah Cianpwe masih ingat kepada Buyung Ceng Locianpwe?"

Tiba-tiba Hian-thian-ceng-li menyela, "Kang Kun Lojin?"

"Ya, benar," sahut Suma Bing mengangguk.

Mendadak Hwe-soh-ki-khek Li It-sim bangkit berdiri. Hampir saja Suma Bing berseru kaget; baru sekarang dia melihat dengan jelas bahwa Li It-sim ini ternyata cacat, kakinya hanya tinggal satu. Maka terbayang dalam benaknya cerita yang dikisahkan Kang Kun Lojin itu. Demi memperoleh cinta kasih Bu-siang-sin-li, dengan menempuh bahaya besar ia menyelundup ke Siau-lim-si untuk mencuri Bu-siang-po-liok. Karena ketahuan, akhirnya ia terkepung dan terluka parah, bahkan menjadi invalid untuk selama-lamanya.

"Buyung," ujar Li It-sim, suaranya tersendat dalam tenggorokan, "Kau kenal pada Kang Kun Lojin?"

Suma Bing membenarkan.

"Dia... masih hidup dalam dunia fana ini?"

"Dia masih sehat walafiat!"

"Oh, adakah dia pernah menyebut tentang diriku..."

"Dia pernah menuturkan kepadaku!"

"Semua cerita itu?"

"Ya, benar. Beruntung Wanpwe ada kesempatan untuk mendengarkan!"

"Ada hal lain apa lagi yang dia katakan?"

"Dia pernah berkata dan berpesan, jikalau Wanpwe bertemu dengan Locianpwe, dia minta aku menyampaikan bahwa dia ingin bertemu kembali di tempat perpisahan dulu."

"Tapi sudah tidak mungkin!" ujar Li It-sim dengan suara tertahan.

Suma Bing melongo, tanyanya, "Mohon tanya, kenapa tidak mungkin?"

Tanpa menjawab, pandangan Li It-sim beralih ke arah Hian-thian-ceng-li. Baru sekarang Suma Bing paham akan duduk perkaranya. Rona wajah Hian-thian-ceng-li berubah-ubah beberapa kali. Akhirnya tekadnya sudah bulat dan berkata tegas, "Li It-sim, tidak keterlaluan bukan bila kau kubunuh?"

"Mungkin begitu!"

"Mungkin apa maksudmu?"

"Hanya itulah yang dapat kukatakan!"

Sekali melejit, Hian-thian-ceng-li melesat di hadapan Li It-sim. Sedemikian dekat jarak mereka, sekali jamah saja cukup untuk merenggut nyawanya. Perlahan-lahan Hwe-soh-ki-khek Li It-sim duduk kembali di atas tanah, sikapnya tenang dan pasrah pada nasib.

Tangan kurus kering Hian-thian-ceng-li perlahan-lahan diangkat tinggi. Suasana menjadi sedemikian tegang mencekam; suatu tragedi yang menyedihkan bakal terjadi. Tampak tubuh Tio Keh-siok bergerak bersiaga.

Kata Hwe-soh-ki-khek dengan tenang, "Anak Siok, kau mundur. Lagi pula, kau harus ingat, selamanya jangan kau bersikap hendak menuntut balas apa segala."

"Suhu, kau..."

"Minggir, ini perintah!"

Apa boleh buat, Tio Keh-siok mundur beberapa langkah sambil menggigit bibir. Dua butir air mata meleleh membasahi pipinya. Betapa perih dan sedih hati Suma Bing, susah dilukiskan dengan kata-kata. Jikalau dirinya tidak menghancurkan batu besar itu, tragedi yang mengenaskan ini tidak bakal terjadi. Sekarang menyesal pun sudah terlambat. Memang hakikatnya dia sendiri tidak akan mampu dan kuasa untuk merintangi tragedi yang bakal terjadi ini, sebab Hian-thian-ceng-li adalah sukohconya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment