Chapter 149
Tanpa terasa, pandangan matanya beralih ke arah ibunya, San Hoa Li Ong Fang Lan. Sorot matanya seakan tengah berkata, "Apakah aku telah berbuat salah?" Tangan Hian Thian Ceng Li yang sudah terangkat tinggi gemetar hebat; lama sekali ia tak kuasa memukulkannya.
Untuk detik seperti sekarang inilah ia rela menunggu dengan sabar dan tekun di luar lembah selama enam puluh tahun. Karena Li It Sim pula, dia telah menyebar maut dan membunuh banyak orang tak berdosa, sehingga kedua tangannya berlumuran darah tokoh-tokoh persilatan yang mati penasaran. Namun, setelah detik yang dinantikan ini sudah di depan mata, ia sendiri agaknya tak kuasa turun tangan.
"Mengapa?" "Li It Sim, benarkah kau rela mati?" terdengar Hian Thian Ceng Li berkata pilu.
"Ya, benar!"
"Tiada omongan apalagi yang perlu kau ucapkan?"
"Yang sudah lalu biarlah tenggelam, dan yang akan datang buat apa disesalkan!"
"Hanya kalimat itu saja?"
"Jikalau... ai!" Mendadak Hian Thian Ceng Li berpaling dan berkata kepada San Hoa Li Ong Fang Lan, "Kalian menyingkir dari sini!" Wajah San Hoa Li Ong Fang Lan berubah tegang, serunya khawatir, "Sukoh, kau..."
"Lekas minggir!" San Hoa Li tak berani membantah lagi. Sambil menggamit Suma Bing, ia berseru, "Anak Bing, mari pergi!"
Suma Bing tak kuat lagi menahan perasaan dukanya, teriaknya penuh haru dan menyesal, "Li Locianpwe, Wanpwe akan merasa menyesal seumur hidup ini!"
Sepasang mata Hwe Soh Ki Khek dipentang berkilat, nadanya berat dan serak, "Buyung, jangan kau meratap diri. Lohu tidak menyalahkan kau, malah aku harus menyatakan terima kasih atas berita dari kawan tuaku itu!"
Tanpa bersuara, Suma Bing mengikuti di belakang ibunya beserta keempat gadis berbaju putih itu. Kira-kira ratusan tombak kemudian, barulah mereka menghentikan langkah. Tanpa membuang waktu, Suma Bing bertanya, "Bu, sebenarnya karena persoalan apakah sehingga Li Locianpwe dan Sukohco sampai bermusuhan?"
"Karena cinta!"
"Mereka adalah..."
"Duduk perkara yang jelas aku kurang terang, mungkin pada masa remajanya dulu Sukohcomu terlalu tergila-gila mencintai Li Locianpwe itu. Sayang, dia bertepuk sebelah tangan; akhirnya dari cinta timbullah rasa benci!"
"Mereka sudah berusia sedemikian lanjut, kenapa..."
"Nak, sejak dahulu kala sampai sekarang, ada berapa manusia yang dapat melepaskan diri dari belenggu cinta asmara?"
"Bu, sebetulnya aku hendak minta petunjuk kepada Li Locianpwe tentang..."
"Tentang urusan apa?"
"Mengenai sebentuk barisan yang aneh."
"Lantas bagaimana?"
"Di luar lingkungan markas besar Bwe Hwa Hwe dibangun sebuah barisan aneh sebagai tedeng aling-aling yang kokoh dan ampuh!"
"Kenapa dalam kesempatan tadi kau tidak mau bilang?"
"Dalam keadaan yang begitu, mana ada muka aku membuka mulut."
"Kau masih ada kesempatan!"
"Kesempatan apa?"
"Menurut hematku, Sukohcomu tidak akan tega turun tangan membunuhnya."
"Kukira tidak begitu, betapa besar sikap kebencian Sukohco tadi!"
"Nak, masih ada sesuatu yang belum dapat kau selami. Cobalah sekarang kau bercerita tentang pengalamanmu selama ini!"
Suma Bing bercerita tentang pengalaman menuntut balas di Bu Khek Po, cara bagaimana istri tercinta Phoa Kin Sian meninggal, dan mengenai orang lain yang memalsukan dirinya hingga menimbulkan banyak bencana di berbagai tempat.
Kata San Hoa Li sambil menghela napas, "Nak, kau harus belajar menghadapi nasibmu yang sudah tersurat dalam takdir. Sebagai seorang persilatan, selama hidupmu ini kau harus berani dan tabah menghadapi gelombang hidup yang tidak menentu dan penuh bahaya. Agaknya perlu aku perintahkan Ih Yan Chiu dan sebelas Rasul lainnya untuk membantu kau!"
"Bu, jangan!"
"Nak, ini tidak akan memengaruhi hasratmu untuk menuntut balas seorang diri."
"Tapi anak berharap dapat bekerja seorang diri."
"Nak, kau jangan kukuh dan keras kepala. Inilah maksud baik ibumu, jangan kau menampik lagi. Mereka hanya akan selalu membuntuti gerak-gerikmu secara diam-diam; mungkin dalam suatu keadaan yang mendesak, tenaga mereka sangat berguna bagimu." Terdesak oleh kebaikan ibunya, terpaksa Suma Bing mengangguk setuju.
Mendadak San Hoa Li berpaling ke arah hutan sebelah sana dan berseru nyaring, "Sahabat dari mana itu, harap keluar untuk bertemu."
Benar juga, dua kali berkelebat sebuah bayangan, tahu-tahu sudah hinggap di hadapan mereka. Jantung Suma Bing berdebar, teriaknya gugup, "Nona Tio."
Yang datang ini memang adalah Tio Keh Siok, murid Hwe Soh Ki Khek Li It Sim.
"Nona Tio, apa yang telah terjadi?" tanya San Hoa Li gelisah.
Agaknya Tio Keh Siok sudah kehilangan perasaan gusar dan bencinya. Sikapnya kalem, katanya sambil bersoja, "Sungguh tak nyana, Cianpwe kiranya adalah ahli waris dari Panggung Berdarah. Harap terimalah hormat Wanpwe."
"Nona jangan banyak peradatan, tentang Suhumu..."
"Mereka sudah pergi."
"Siapa yang pergi?"
"Suhu dan Hian Thian Ceng Li sudah pergi semua."
"Bagaimana akhir keadaan di sana?"
"Kedua orang itu sudah mendapat kata sepakat. Sekarang suhu pergi menuju tempat perjanjiannya dengan Kang Kun Lojin Buyung Ceng untuk bertemu; dia bersumpah untuk tidak menunjukkan diri lagi selama hidup ini. Tentang Hian Thian Ceng Li Locianpwe, entahlah dia pergi ke mana."
"Bagus, penyelesaian begini sungguh membuat hatiku puas!"
Kata Tio Keh Siok kepada Suma Bing, "Tuan ingin mengetahui cara pemecahan barisan yang melindungi markas besar Bwe Hwa Hwe itu, bukan?"
Suma Bing tercengang, lantas ia paham pasti Sukohconya tidak lupa akan janjinya dan mengajukan persoalan ini kepada Hwe Soh Ki Khek, maka segera sahutnya, "Benar, memang begitulah."
"Pernah satu kali secara kebetulan aku sudah berkenalan dengan barisan itu. Menurut teorinya, barisan itu termasuk yang dinamakan Im Yang Ngo Heng Tin."
Kening Suma Bing berkerut dalam. Untuk membalas dendam ayahnya dengan tangannya sendiri, ia telah membunuh Bu Khek Sianglo yang menjadi Susiokco Tio Keh Siok, malah melukai Tio Keh Siok pula. Besar anggapannya kalau lawan pasti membencinya sampai ke tulang sumsum. Haruskah dirinya menerima kebaikan ini dari dia? Meskipun saat ini ia betul-betul ingin mengetahui cara pemecahan barisan itu, ia tidak mengharap mendapat keterangan dari mulutnya.
Karena pikirannya ini, dengan berat ia berkata, "Nona hendak memberitahu kepada Cayhe..."
"Aku mendapat perintah Suhu untuk menyampaikan saja," sela Tio Keh Siok dingin. "Ini bukan maksudku sendiri, harap tuan maklum akan hal ini."
"Jikalau nona tidak sudi memberitahu, boleh tak usah dikatakan."
"Hm, Tuan, aku hanya menyampaikan penjelasan Suhu. Ini juga berarti melaksanakan perintah beliau yang terakhir. Aku tak kuasa dan tuan juga harus dengar." Suma Bing menjadi serba susah.
Kata Tio Keh Siok selanjutnya, "Im Yang Ngo Heng Tin termasuk barisan luar dari perguruan sesat yang aneh. Barisan ini merupakan kombinasi dari dua unsur barisan yang berlawanan, susah untuk dapat diselami, tapi gampang untuk dipecahkan. Asal mengerahkan tujuh tenaga orang yang bekerja sama, sekali gebrak saja pasti barisan ini akan berantakan..."
"Satu orang saja tak dapat mengatasi?"
"Bisa keluar masuk tanpa rintangan, tapi susah untuk memecahkan. Ketujuh orang itu harus melalui pintu tengah terus menerobos ke pusatnya, lalu begini..." selanjutnya ia berjongkok dan mengambil ranting kayu untuk menggambar dan memberi penjelasan dengan mencoret-coret di atas tanah.
Dasar otak Suma Bing memang encer, sekali lihat dan dengar saja cukup dapat dipahami. Segera ia memberi salam dan berkata, "Cayhe menyatakan banyak terima kasih."
"Mana aku berani terima, selamat bertemu!" Habis berkata, ia sedikit membungkuk ke arah San Hoa Li, terus melejit jauh menghilang di balik pohon.
"Nak," kata San Hoa Li serius, "Ibumu percaya akan kekuatan Lwekangmu, pasti kau dapat melaksanakan pembalasan dendam ini. Harap jagalah dirimu baik-baik, aku pergi."
Suma Bing berat untuk berpisah, katanya tersengal, "Bu, kapan aku baru dapat bertemu pula dengan kau?"
"Kapan-kapan saja pasti kita dapat bertemu kembali."
"Bu, kuatkanlah imanmu, aku pergi!"
Begitulah setelah keluar dari alas pegunungan, Suma Bing langsung meluncur ke markas besar Bwe Hwa Hwe. Semakin cepat kakinya bergerak, semakin berkobar rasa dendamnya. Terbayang saat-saat pembalasan dendam ini; darah musuh besar akan mengalir keluar. Rasanya belum puas dan belum terlampias sebelum terjadi banjir darah di Bwe Hwa Hwe.
Dia lupa waktu, lupa perutnya yang kosong, dan lupa akan badannya yang lelah. Terus berlaju cepat menuju markas besar musuh yang misterius itu. Hari itu dia tengah meluncur secepat anak panah melesat dari busurnya. Tiba-tiba sebuah bayangan seorang perempuan yang rasanya sangat dikenalnya berkelebat di kejauhan sana.
Di saat mereka bertemu pandang setelah dekat, kedua belah pihak berseru kejut berbareng dan sama-sama menghentikan kakinya. Perempuan ini bukan lain adalah Thong Ping yang diperkosa oleh Racun Diracun sehingga melahirkan di dalam gua itu. Sesaat Suma Bing merasa serba salah dan kikuk, sebab dia tak bisa melaksanakan janjinya terhadap Thong Ping untuk membunuh Racun Diracun atau duplikat dari Phoa Cu Giok.
Thong Ping sedikit menekuk tubuh dan memberi salam, "Suma Siauhiap, tidak nyana di tempat ini bisa bertemu dengan kau!"
Terpaksa Suma Bing mengeraskan kepala dan menebalkan muka berkata, "Nona Thong, aku..."
Wajah Thong Ping tampak agak kurus dan pucat, tanyanya gelisah, "Ada apa?"
"Nona Thong, Cayhe sangat menyesal!" kata Suma Bing masgul.
"Kenapa?"
"Tak tahu bagaimana aku harus memberi penjelasan."
"Maksud Suma Siauhiap tentang Racun Diracun..."
"Ya, terpaksa Cayhe harus ingkar janji dan menelan ludahku sendiri..."
Thong Ping menghela napas sedih dan menyayat hati, katanya, "Suma Siauhiap, aku heran dan curiga, mengapa aku masih hidup sampai sekarang?"
Suma Bing gelagapan tak dapat bicara. Dia pernah melulusi Thong Ping untuk membunuh Phoa Cu Giok, namun dia tidak melaksanakan sumpahnya itu. Sekarang dia tidak mengerti bagaimana dia harus mengambil sikap untuk membujuk orang yang sangat dikasihani ini.