Chapter 150
Thong Ping menyambung lagi, "Baru sekarang aku sadar ternyata imanku sedemikian lemah. Aku telah kehilangan keberanian untuk menghadapi kematian, tetapi rela dan pasrah ditimpa kemalangan serta penderitaan hidup yang sengsara ini. Mengapa...?"
Suma Bing merasa hati kecilnya perih seperti ditusuk jarum. Karena merasa ingkar janji, ia berkata dengan suara rendah, "Nona Thong, aku tidak perlu memohon maaf, tetapi selamanya aku akan merasa menyesal terhadapmu."
"Suma Siauhiap, tidak perlu kau bersikap demikian."
"Nona Thong, seorang laki-laki sejati harus dapat menepati janjinya, tapi aku..."
"Aku tahu, karena kau terdesak oleh keadaan!"
Suma Bing berjingkrak kaget, "Apa, kau sudah tahu?"
Thong Ping mengangguk.
"Dari mana kau..."
"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku!" Wajah Thong Ping semakin pucat. Sekuat mungkin dia menahan mengalirnya air mata, namun akhirnya ia terisak juga.
"Dia? Siapa?"
"Phoa Cu Giok!"
"Dia... berani menemui Nona?"
Air mata meleleh di kedua pipinya yang pias. Ujar Thong Ping sambil terisak, "Dia datang dan bertobat di hadapanku. Dia minta aku turun tangan membunuhnya. Aku maklum bahwa rasa kebencianku ini selama hidupku tidak akan mungkin dapat terhapus lagi. Anaknya diberi nama Phoa Ki; dengan nama ini, dia berharap kelakuan bejat ayahnya tidak menurun kepada anaknya. Dia pun sudah menerangkan semuanya dengan jujur. Siauhiap, selamanya aku akan membenci dia, tapi... aku sangat sayang kepada anakku!"
Bagai terlepas dari belenggu yang mengekang dirinya, Suma Bing menghela napas lega. Ia berkata, "Nona Thong, sungguh kau seorang yang bijaksana dan baik. Yang Maha Kuasa sungguh kurang adil, mengapa segala sengsara dan derita hidup ini semua ditimpakan kepada seorang wanita lemah seperti kau ini!"
"Siauhiap," kata Thong Ping sambil mengusap air matanya, "Yang sudah lalu biarlah berlalu, jangan sampai semua peristiwa sedih ini mengganjal dalam sanubarimu."
"Nona Thong, tiada apa lagi yang dapat kuucapkan, selain merasa menyesal dan minta maaf kepadamu!"
"Ai!" Keluhan yang merawan ini melimpahkan semua penderitaan dan kemalangannya.
"Nona, kau jadi membunuhnya?"
"Aku... tatkala itu rasanya ingin benar, tapi bagaimanapun juga aku tidak tega turun tangan."
"O, seharusnya memang dia setimpal dihukum mati..."
"Aku merasa malu karena tak berbakti kepada ibu di alam baka."
"Ke mana dia sekarang?"
"Dia sudah pergi entah ke mana!"
"Hanya begitu saja pertanggungjawabannya terhadapmu?"
"Sebelum pergi, dia berkata kelak dia akan mengatur pertanggungjawabannya serta berharap melakukan pekerjaan besar yang dapat membawa kesejahteraan bagi kaum persilatan khususnya dan bagi masyarakat umumnya untuk menebus segala dosanya serta menghibur arwah cicinya yang berada di alam baka."
"Demikian juga pengharapanku, supaya dia bisa hidup kembali menjadi manusia yang berguna. Kalau tidak..."
"Bagaimana?"
"Nona Thong, kalau kudapati perbuatannya tidak sesuai dengan kemanisan mulutnya itu, pasti aku akan bertindak tanpa kepalang tanggung!"
"Gubukku yang reyot tidak jauh dari sini, harap Siauhiap..."
"Sungguh menyesal, aku ada urusan sangat penting yang harus segera kuselesaikan. Biarlah kita berpisah untuk sementara waktu!"
Setelah berpisah dengan Thong Ping, Suma Bing melanjutkan perjalanan semakin cepat. Memang segala sesuatu kejadian di dunia ini sulit diduga sebelumnya. Sebetulnya ia tengah khawatir bagaimana harus memberi penjelasan kepada Thong Ping, siapa sangka kejadian ternyata demikian akhirnya.
Beberapa hari kemudian, di luar barisan pohon bunga Bwe di dalam lembah sempit tempat Markas Besar Bwe Hwa Hwe berada, datanglah seorang pemuda cakap yang berwajah dingin membeku dan diselubungi hawa membunuh yang tebal. Dia tak lain adalah Sia Sin kedua, Suma Bing, atau calon majikan Perkampungan Bumi yang dipandang sebagai tempat keramat oleh kaum persilatan.
Tiba di depan barisan pohon Bwe, darah Suma Bing bergolak semakin keras; nafsu kekejaman yang sadis terbayang pada wajahnya. Hutan pohon Bwe di hadapannya sekarang sudah tidak menjadi rintangan berarti lagi bagi dirinya. Setelah menyapu pandang situasi barisan yang dinamakan Im Yang Ngo Heng Tin, ia memperdengarkan suara dinginnya berulang-ulang, terus melejit cepat sekali menerobos masuk dari pintu tengah langsung menuju...
Mendadak tubuhnya yang melambung tinggi itu terpental balik dan meluncur turun ke atas tanah. Jantungnya terasa menciut seakan-akan seluruh tubuhnya membeku. Di atas sebuah pohon Bwe yang tinggi besar terpancang sebuah mayat manusia. Mulutnya terpentang dan giginya meringis, kedua matanya melotot keluar, kaki dan tangannya terpentang lebar. Telapak tangan, kaki, serta bagian tengah dadanya tertancap paku sebesar buah kelengkeng, sehingga tubuhnya terpantek di atas pohon. Darah yang membeku berwarna hitam mengalir dari sang korban, terus membasahi seluruh pohon dan tanah di bawahnya. Keadaan ini sungguh menusuk hati dan menyeramkan.
Mayat yang mengenaskan ini tak lain adalah jenazah si Maling Bintang, Si Ban Cwan. Dari wajah korban yang berkerut, agaknya dia hidup-hidup dipantek di atas pohon hingga meninggal. Kematiannya kira-kira terjadi satu hari yang lalu. Sedemikian seram cara kematian si Maling Bintang, malah mati dipantek di depan barisan pohon pelindung markas besar Bwe Hwa Hwe. Siapa pun takkan dapat menduga peristiwa yang mengharukan ini. Si Maling Bintang terkenal akan kebijaksanaan, kejujuran, serta suka membantu kesukaran orang lain. Demi membantu Suma Bing mencapai cita-cita menuntut balas sakit hati orang tua serta gurunya, ia telah menjalin hubungan erat dengan Suma Bing.
Melihat keadaan dan cara kematian orang yang dianggap sangat berbudi ini, kedua mata Suma Bing sampai merah padam hampir melelehkan air darah. Tubuhnya kejang dan tangan mengepal keras, ingin rasanya sekali hantam ia bikin mampus para musuhnya. Untuk menghadapi si Maling Bintang, pihak Bwe Hwa Hwe tidak segan-segan menggunakan cara kejam dan telengas. Terang, karena si Maling Bintang secara gamblang membantu usaha Suma Bing mencapai angan-angannya, ini berarti dia secara terbuka bermusuhan dengan pihak Bwe Hwa Hwe.
Suma Bing menggerakkan langkahnya yang berat mendekati jenazah di atas pohon. Dua butir air mata tanpa terasa meleleh keluar membasahi raut mukanya yang membesi kehijauan. Diulurkan sebelah tangannya menyentuh jenazah itu, tiba-tiba segulung bayangan putih melesat kencang mengarah mukanya. Sigap sekali ia memiringkan kepala sambil mengulurkan tangan menjepit benda yang meluncur itu dengan kedua jarinya. Kontan ia berjingkat kaget karena yang meluncur itu ternyata bukan senjata rahasia, melainkan segulungan kertas. Sejenak ia melengak, lalu mundur dua langkah sambil celingukan ke sana-kemari, namun tidak tampak bayangan seorang pun.
Waktu gulungan kertas itu dibuka, terlihat empat huruf besar yang berbunyi: "Jangan sentuh mayat ini!" Ditulis dengan arang secara tergesa-gesa sehingga tulisannya agak coret-moret. Apakah maksudnya ini? Siapakah yang mengirim gulungan kertas ini? Sekarang dirinya telah memasuki pintu tengah, namun tidak terlihat bayangan seorang pun, ini sudah merupakan suatu kejanggalan yang harus diperhatikan. Tapi mengandalkan kekuatan ilmunya, nyalinya menjadi besar; sedikit pun tidak gentar menghadapi bahaya. Gulungan kertas itu menyadarkan semangatnya dari kesedihan; perasaan indra keenamnya mengetuk hati, memberitahukan bahwa bukan mustahil pihak Bwe Hwa Hwe sudah mengatur tipu daya hendak menjebak dirinya.
Tapi siapakah orang yang memberi peringatan ini? Mengapa tidak boleh menyentuh mayat ini? Sekian lama ia bimbang, akhirnya pandangannya menatap ke arah jenazah si Maling Bintang yang tak enak dipandang mata.
"Tidak, aku harus mengubur jenazahnya dulu," demikian ia berkata dalam hati, terus melangkah maju dua langkah dan mengulurkan tangan...
Sekonyong-konyong terdengar kesiur angin dari baju yang terbawa terbang diselingi derap langkah yang ramai. Terpaksa Suma Bing menarik kembali tangannya, terus memutar tubuh bersiaga. Terlihat olehnya bayangan puluhan orang berkelebatan meluncur tiba di hadapannya. Dua di antaranya yang paling gesit, sigap sekali melangkah maju berjarak tiga tombak, terus membungkuk dan berseru lantang: "Hamba beramai menghadap Huma!"
Para pendatang ini adalah para kerabat dari Perkampungan Bumi di bawah pimpinan Sim dan Bu, dua Tongcu. Suma Bing sedikit mengangguk dan bertanya heran, "Kalian..."
Sim-tong Tongcu, Song Lip Hong, segera tampil ke depan dan melapor dengan hormat: "Hamba beramai, begitu menerima kabar bahwa ternyata Huma seorang diri telah meluruk ke markas besar Bwe Hwa Hwe, maka bergegas kami menyusul tiba untuk menerima tugas!"
"Ini..."
"Harap Huma suka mundur dahulu, hamba ada pesan yang perlu disampaikan!"
Suma Bing mengiakan dan mundur sejauh lima tombak diikuti kedua Tongcu itu.
Dengan sikap serius, berkatalah Bu-tong, Pan Bing-say, "Menurut laporan mata-mata yang hamba sebar, ternyata belakangan ini Bwe Hwa Hwe telah mengundang berbagai gembong penjahat dari aliran hitam yang sudah lama tidak pernah muncul. Di antaranya Hwehud juga telah diundangnya datang dan diangkat sebagai Maha Pelindung mereka. Selain itu, masih ada Lamniu, Tiangpan, Tok-jiau Kho Wan, dan Ngohok Thauto, dan lain-lain. Mereka sudah menggabungkan diri ke pihak Bwe Hwa Hwe."
Terpancar sinar kemarahan pada kedua mata Suma Bing, desisnya: "Lamhay-si-niu (Empat Camar dari Lam-hay) juga menggabungkan diri ke pihak Bwe Hwa Hwe?"
"Benar!"
"Bagus sekali!"
Sim dan Bu, kedua Tongcu, menjadi melengak heran; entah apa yang dimaksud "bagus" oleh Suma Bing ini, mereka tidak tahu. Tanya Suma Bing selanjutnya, "Bagaimana keadaan di perkampungan?"
"Sejak Huma samaran itu datang dan menipu Kiukeng, sampai sekarang tiada terjadi apa-apa lagi!" demikian jawab Sim-tong, Song Lip-hong.