Chapter 151
"Baik, sekarang kalian boleh pimpin anak buahmu meninggalkan tempat ini."
"Huma..."
"Kedatanganku ini untuk menuntut balas, aku tidak ingin ada orang lain turut campur."
"Namun, hamba diperintahkan oleh Kiong Hu..."
"Tidak perlu lagi!"
"Huma, jenazah di atas pohon itu..."
"Jenazah si Maling Bintang, Si Ban-cwan!" kata Suma Bing sambil mengertakkan gigi.
"Ah, tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dua hari yang lalu, kita pernah bertemu dengan si Maling Bintang. Katanya, dia terburu-buru hendak menuju ke Ngo-san untuk menjelaskan kesalahpahaman kepada Huma!"
"Apa betul?"
"Tidak akan salah!"
"Bukan mustahil dia tertawan setelah berpisah dengan kalian."
"Bagaimana pun, si Maling Bintang berkepandaian tinggi dan banyak akal muslihatnya. Tak mungkin sedemikian gampang dia tertawan."
"Lalu bagaimana dengan jenazah yang terpancang di pohon ini?"
"Hamba merasa sangat ganjil!"
"Aku harus segera mengubur jenazah ini!"
"Biarlah hamba yang mengerjakan."
Segera Sim-tong Song Lip-hong melangkah lebar menghampiri jenazah Si Maling Bintang yang terpantek di atas pohon itu.
"Nanti dulu, Song Tongcu!"
"Huma masih ada perintah apa lagi?"
"Ada orang mengirim surat memberi peringatan. Katanya, jangan menyentuh jenazah itu!"
Song Lip-hong berjingkat, tanyanya menegaskan, "Jangan menyentuh mayat? Apa mungkin merupakan jebakan?"
"Hamba punya akal untuk mencobanya!"
"Bagaimana cara mencobanya?"
"Tadi kami menawan dua orang peronda. Biarlah aku suruh kedua peronda itu yang menurunkan mayat tersebut. Kalau ada jebakan apa pun, pasti segera dapat kita bongkar."
"Baiklah, laksanakan caramu itu!"
Song Lip-hong segera berpaling sambil memberi isyarat dengan tangannya. Dua orang anak buahnya berlari ke arah semak belukar dan tak lama kemudian kembali sambil menggusur dua orang anak buah Bwe-hwa-hwe.
"Lepaskan!" perintah Song Lip-hong. Kedua laki-laki tegap itu segera melepas tali yang mengikat kedua tangan tawanannya yang ditelikung ke belakang.
Dengan sinis, Song Lip-hong menatap kedua peronda musuh ini sambil berkata hambar, "Kalian berdua kuberi tugas menurunkan jenazah yang terpantek di atas pohon besar itu. Setelah itu, kamu boleh pergi. Tapi ingat, jangan sekali-kali kamu berani bermain lagak. Meskipun berada di daerahmu sendiri, kamu takkan ada kesempatan untuk bertingkah."
Setelah saling berpandangan, kedua anak buah Bwe-hwa-hwe itu berlari maju. Song Lip-hong dan Pau Bing-sian mengikuti dari kanan kiri berjarak tiga tombak. Suma Bing juga tidak mau ketinggalan.
Agaknya kedua peronda musuh itu insaf tiada harapan untuk hidup lebih lama lagi. Sekian lama mereka ketakutan dan saling pandang dengan hampa serta putus asa. Akhirnya, mereka mendekati pohon besar itu dan mulai mencabuti paku yang amblas pada badan jenazah tersebut.
Sebuah dentuman yang menggelegar menggetarkan bumi, disertai teriakan yang mengerikan.
Kejadian yang tak terduga itu berlangsung sangat cepat. Begitu suara sirap dan keadaan menjadi terang kembali, tampak pohon besar itu sudah roboh dan hancur berantakan. Dahan dan daun pohon beterbangan ke mana-mana. Kedua peronda Bwe-hwa-hwe itu, bersama jenazah Si Maling Bintang, bayangannya saja sudah tidak kelihatan lagi. Tubuh mereka hancur luluh tanpa meninggalkan bekas.
Tersirap darah Suma Bing, giginya sampai berkerotok saking gusar.
Sim dan Bu, kedua Tongcu, segera maju mendekat dengan badan yang kotor oleh runtuhan debu. Suara mereka gemetar haru.
"Huma tidak kurang suatu apa?"
Suma Bing mengangguk, dalam hati ia membatin, "Jikalau tiada orang yang memperingati aku dengan gulungan kertas tadi, mungkin aku sudah hancur tak berwujud manusia lagi. Tipu muslihat jebakan ini benar-benar keji. Sungguh kasihan Si Maling Bintang, setelah mati jenazahnya tidak dapat dikubur, malah hancur lebur."
Baru saja pikirannya lenyap, tampak seiringan orang tengah bergegas berjalan keluar dari hutan pohon Bwe sebelah dalam. Mereka mendatangi dengan cepat.
"Siap bertempur!" terdengar Pau Bing-sam memberi aba-aba kepada seluruh anak buahnya. Empat puluh kerabat Perkampungan Bumi serentak mengiakan. Sebat sekali mereka berpencar membentuk lingkaran setengah bundar, siap siaga menghadapi pertempuran.
Suma Bing berpaling dan berkata angkuh, "Kalian tidak perlu turun tangan."
Para pendatang itu berjumlah kira-kira lima puluh orang, dipimpin seorang pemuda yang gagah tegap. Dia bukan lain adalah ketua Bwe-hwa-hwe sendiri, Chiu Thong.
Begitu mendekat, sorot mata ketua Bwe-hwa-hwe menyapu pandang sekelilingnya. Seketika dia berseru kejut, lalu mengangkat sebelah tangan memberi perintah, "Berhenti! Cepat laporkan kejadian di sini kepada si orang tua!"
Muka Suma Bing merah padam dan membesi diliputi hawa sadis. Matanya menyala dan melotot besar menatap ketua Bwe-hwa-hwe dan anak buahnya. Semua rombongan dari Bwe-hwa-hwe yang baru muncul ini menunjukkan rasa kejut dan terkesima.
Tiba-tiba ketua Bwe-hwa-hwe menggerung gusar dan membentak berat, "Di mana Go-hiangcu berada?"
"Hamba ada di sini!" terdengar sahutan, lantas muncul sebuah bayangan dari antara kelompok di belakang sana. Ia maju menghadap sambil menekuk lutut.
Begitu melihat orang yang dipanggil sebagai Go-hiangcu ini, seketika berdetak keras jantung Suma Bing, sebab bentuk tubuh ini agaknya sudah sangat dikenal olehnya.
Terdengar ketua Bwe-hwa-hwe bertanya gugup, "Apa yang telah terjadi di sini?"
Go-hiangcu menyahut hormat, "Setengah jam yang lalu, mendadak Racun-diracun muncul. Semua saudara yang menjaga di pos-pos terdepan telah meninggal karena keracunan."
Sungguh kejut Suma Bing bukan kepalang. Racun-diracun adalah duplikat istrinya, Phoa Kin-sian dan Phoa Cu-sok. Sekarang istrinya tercinta sudah meninggal, maka orang yang dikatakan sebagai Racun-diracun itu pasti bukan lain adalah penyamaran Phoa Cu-giok adanya.
Tapi mengapa Phoa Cu-giok berbuat begitu? Tak heran dirinya leluasa masuk ke dalam sini, ternyata semua penjaga pos sudah mampus keracunan. Lantas teringat olehnya orang yang memperingati dengan gulungan kertas itu; apakah itu perbuatan Phoa Cu-giok? Menurut penuturan Thong Ping, sebelum Phoa Cu-giok pergi, dia pernah berkata hendak melakukan kerja bakti untuk menebus dosa dan menghibur arwah kakaknya yang berada di alam baka. Apakah inilah yang dia maksudkan dengan kerja bakti itu?
Dalam pada itu, terdengar ketua Bwe-hwa-hwe mendengus keras, "Go-hiangcu, lalu kenapa kau sendiri tidak keracunan?"
"Kebetulan hamba sedang bergerak meronda, beruntung hamba lolos dari lubang jarum!"
"Kenapa kau tidak bunyikan pertanda bahaya?"
"Belum sempat karena Sia-sin kedua Suma Bing sudah keburu tiba, maka..."
"Baiklah, kau mundur!"
"Terima kasih!"
Go-hiangcu berdiri sambil memutar tubuh menghadap ke arah rombongan Suma Bing. Sekilas mata melirik terus mengundurkan diri. Suma Bing menjadi melongo dan kecele. Bentuk tubuh Go-hiangcu yang sangat dikenalnya ini ternyata adalah seorang laki-laki yang berwajah kuning seperti orang penyakitan; selamanya belum pernah dilihat dan dikenal orang macam ini.
Ketua Bwe-hwa-hwe mengangkat kedua tangannya ke atas. Semua anak buahnya segera berpencar ke kedua samping dan berbaris rapi, meluangkan sebuah jalan di antara mereka. Pelan dan berat langkah Suma Bing maju berderap di atas tanah. Jarak mereka yang semula delapan tombak mendekat menjadi tiga tombak jauhnya.
Tiba-tiba ketua Bwe-hwa-hwe merangkap tangan memberi hormat dan menyapa, "Menghadap kepada Susiok."
Semula Suma Bing melengak dan kejut, serta-merta ia menghentikan langkahnya. Namun, di lain saat lantas dia paham, maka sahutnya mengejek, "Chiu Thong, apa katamu?"
"Menghadap kepada Susiok!"
"Siapa yang menjadi Susiokmu?"
"Selain kau Susiok, masa masih ada orang lain!"
Suma Bing bergelak tertawa, ujarnya, "Chiu Thong, Loh Cu-gi menghina guru dan mendurhakai perguruan. Kematiannya masih belum setimpal untuk menebus dosanya..."
Heran, sikap ketua Bwe-hwa-hwe ternyata tetap kalem dan sabar, sahutnya, "Sebetulnya Suhu hanya terfitnah saja, peristiwa itu..."
"Tutup mulutmu!" bentak Suma Bing murka. "Apa kau tahu maksud kedatanganku hari ini?"
"Harap Susiok suka menerangkan."
"Mencuci bersih seluruh Bwe-hwa-hwe!"
Rona wajah ketua Bwe-hwa-hwe berubah tak menentu, katanya lagi, "Suhu segera akan tiba, nanti dia akan menerangkan sendiri kepada Susiok."
Suma Bing mengertak gigi, desisnya, "Chiu Thong, dimulai dari kau untuk membuka pesta darah ini!"
Habis berkata, ringan sekali sebuah tangannya diayun memukul ke depan. Gelombang angin badai menerpa. Terdengar ketua Bwe-hwa-hwe mengeluh tertahan sambil sempoyongan setombak lebih. Serunya lantang, "Untuk membuktikan kebersihan hatinya, Suhu telah mengusung jenazah Suco kemari."
Hampir pecah jantung Suma Bing, tubuhnya berkelejotan seperti orang sakit ayan. Suaranya gemetar, "Apa yang kau katakan?"
"Jenazah Suco sekarang sudah berada di dalam markas, tubuhnya sudah direndam obat anti pembusuk. Sebentar lagi pasti Susiok dapat lihat sendiri."
Tubuh Suma Bing limbung, pandangan terasa gelap, hampir saja dia terjungkal jatuh. Mimpi pun dia tidak menyangka bahwa jenazah Suhunya, Sia-sin Khong Jiang, telah jatuh ke tangan Loh Cu-gi. Manusia jahat berhati serigala ini entah mengandung maksud muslihat apa lagi. Dendam dan sakit hati yang berlimpah hampir membuatnya gila.
Sebat sekali selicin belut, tiba-tiba dia turun tangan secepat kilat. Terdengar jerit tertahan, tahu-tahu ketua Bwe-hwa-hwe sudah tercengkeram pergelangan tangannya tanpa mampu berkelit atau menghindar. Para kerabat dari Perkampungan Bumi tanpa bersuara serentak maju ke depan tiga tombak.
Berubah pucat air muka ketua Bwe-hwa-hwe, matanya menunjuk rasa ketakutan yang luar biasa. Suaranya sember gemetar, "Susiok..."
"Sekali lagi kau berani sembarangan mengoceh," demikian ancam Suma Bing sambil mengertakkan gigi, "Biar kubeset tubuhmu hidup-hidup!"
Sekonyong-konyong dari dalam hutan sebelah sana, lamat-lamat terdengar sebuah seruan yang saling bersahutan, "Sesepuh tiba!"
Maka beramai-ramai para jagoan anak buah Bwe-hwa-hwe yang berjajar itu membungkuk sembilan puluh derajat tanda penghormatan akan kedatangan sesepuhnya.