Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 152

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 152

Suma Bing melotot tajam ke arah hutan di sisi dalam. Tampak serombongan orang tengah mendekat, dan sosok di barisan terdepan tidak lain adalah Loh Cu-gi, musuh besarnya. Di belakang Loh Cu-gi, turut serta Hwe-hud yang diangkat sebagai Maha Pelindung, serta sepuluh orang tua berwajah bengis.

Sekejap saja mereka sudah tiba di dekat Suma Bing. Loh Cu-gi mengernyitkan kening dan berkata dingin, "Suma Bing, lepaskan dia!"

Darah Suma Bing mendidih. Otot di jidatnya menonjol, dan rasa kebencian yang meluap membuat wajahnya merah padam. Keadaannya sungguh membuat hati orang gentar. Dengan bengis, ia mendesis, "Loh Cu-gi, hari ajalmu sudah tiba!" Sambil menggeram, ia mencengkeram tangannya lebih kuat. Kontan terdengar jerit kesakitan yang menggetarkan seluruh hadirin. Ternyata pergelangan tangan Ketua Bwe-hwa-hwe telah hancur dicengkeramnya.

"Suma Bing!" bentak Loh Cu-gi gusar. "Berani kau melukai dia?"

"Apa yang tidak berani?" jengek Suma Bing. "Biar dia menjadi contoh untuk kau lihat!" Sinar dingin berkelebat, sebuah cundrik penembus dada telah tergenggam di tangannya.

Keringat sebesar kacang membasahi jidat Chiu Thong, Ketua Bwe-hwa-hwe. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat pasi, kehilangan kewibawaan layaknya seekor domba di bawah cengkeraman singa. Matanya memancarkan rasa belas kasihan saat mengerling ke arah suhunya, Loh Cu-gi.

"Apa hubungannya bocah keparat ini dengan Rasul Penembus Dada yang dikabarkan itu?" tanya seorang Thauto berwajah seperti singa dengan satu mata.

Loh Cu-gi melenggong, lalu menyahut, "Saat ini masih belum diketahui."

Hwe-hud juga menggerung gusar, "Buyung, berani kau menyentuh seujung rambut ketua, selain kau, bocah keparat ini juga akan kami bakar dan kami babat semua penghuninya sebagai pembalasan!" Perkampungan Bumi adalah salah satu tempat keramat yang ditakuti kaum persilatan. Meskipun sang Te-kun sudah pergi, mengandalkan kekuatan para jago yang lihai serta letak yang tersembunyi dengan peraturan ketat, menghancurkannya bagaikan mimpi di siang bolong.

Suma Bing mendengus acuh tak acuh, "Hwe-hud, kematian sudah di depan mata, masih berani kau mengoceh? Sekarang tontonlah cara aku turun tangan!" Sinar terang berkelebat, cundrik itu diayun mengarah ke ulu hati Ketua Bwe-hwa-hwe.

Meskipun rombongan Loh Cu-gi kebanyakan adalah gembong iblis yang berkepandaian tinggi, tak satu pun mampu menolong Chiu Thong yang terancam di bawah ujung senjata. Mereka hanya mampu berseru kaget dan berubah air muka.

"Suma Bing," cepat-cepat Loh Cu-gi berseru gugup, "kau akan menyesal seumur hidup!"

Ucapan itu membuat Suma Bing melengak dan menghentikan tindakannya, sehingga cundrik di tangannya tertunda di tengah jalan. Loh Cu-gi melanjutkan, "Suma Bing, jenazah suhumu berada di sini, apakah kau hendak melihatnya?"

Hampir meledak dada Suma Bing, teriaknya beringas, "Loh Cu-gi, mulut kotormu itu tidak berharga untuk memanggil 'Suhu' lagi!"

"Suma Bing, kau lepaskan dia dulu, marilah kita bicara."

"Tidak mungkin!"

"Jangan kau menyesal nanti!"

"Tidak ada yang perlu disesalkan."

"Berani kau bunuh dia, biar aku hancurkan juga jenazah Kho-lo-sia!"

"Binatang, kau berani?" bentak Suma Bing.

Loh Cu-gi menyeringai iblis, ujarnya dingin, "Boleh kau coba, nanti juga boleh kau lihat aku berani atau tidak!" Ia memberi tanda ke belakang, dan empat laki-laki bertubuh tegap dengan otot yang menonjol keluar menggotong peti mati, lalu meletakkannya di hadapan Loh Cu-gi. "Suma Bing, peti mati ini terbuat dari kaca yang tembus cahaya. Cobalah maju dan lihat agar tegas, apakah tulen atau palsu!"

Bola mata Suma Bing merah membara, tubuhnya gemetar. Ia maklum bahwa manusia seperti Loh Cu-gi yang kejam melebihi binatang, jika sudah berani mencelakai suhunya semasa hidup, tentu berani pula menghancurkan jenazahnya setelah mati. Jarak tiga tombak masih gampang baginya untuk menghancurkan peti itu dalam sekejap. Namun, ia harus memikirkan cara menyelamatkan jenazah gurunya, sekaligus memastikan apakah jenazah di dalam peti itu asli atau palsu.

Setelah merenung, sambil mengempit Ketua Bwe-hwa-hwe, ia melompat maju ke muka peti mati. Benar saja, peti itu terbuat dari kaca tembus cahaya. Sekali pandang, ia melihat jenazah yang rebah di dalamnya memang adalah gurunya, Sia-sin Kho Jiang. Wajahnya tampak tenang bagai sedang tidur nyenyak. Air mata tanpa terasa deras meleleh keluar. Sia-sin Kho Jiang telah membangkitkannya dari lembah kematian; sejak umur tiga tahun ia dibesarkan dan dididik. Budi sang guru setinggi langit dan sedalam lautan; bagaimana mungkin ia diam saja melihat jenazah gurunya akan dihancurkan?

Situasi tidak menguntungkan. Di bawah pengawasan sekian banyak gembong iblis, sulit baginya untuk melindungi peti mati ini tanpa cela.

Loh Cu-gi berkata lagi, "Suma Bing, lepaskan dia!"

Dalam keadaan mendesak, Suma Bing harus berpikir panjang. Ia menyahut, "Boleh, tapi kau harus serahkan dulu peti mati ini kepada pihak kami!"

"Kau sangka kau mampu berbuat begitu?"

"Kalau begitu, lihat dan gusurlah jenazah Chiu Thong ini dulu."

"Suma Bing, kau salah perhitungan. Chiu Thong adalah muridku. Meskipun menjabat sebagai ketua, seumpama ia harus berkorban demi kepentingan perkumpulan, pengorbanannya itu harus dibanggakan!"

"Jadi, kau rela membiarkan dia mati lebih dulu?"

"Kalau perlu, apa boleh buat. Banyak orang akan mengiring jenazahnya ke liang kubur, termasuk kau sendiri dan jenazah Kho-lo-sia!"

Hampir meledak dada Suma Bing, desisnya, "Loh Cu-gi, kaukah manusia?"

"Aku tidak peduli apa yang kau katakan."

"Lalu apa kehendakmu?"

Loh Cu-gi menyeringai, "Gampang sekali, bukan? Chiu Thong harus kau bebaskan, baru kita perbincangkan syaratnya."

Sendi-sendi tulang Suma Bing berkeretokan. Begitu besar semangat dendam kesumat yang menyala untuk menuntut balas, tak disangka setelah tiba di ambang pintu, terjadi hal-hal di luar prasangka. Bukan saja tubuh si Maling Bintang hancur lebur, sekarang jenazah suhunya juga dijadikan sandera. Seumpama tidak menghiraukan jenazah gurunya, segera ia dapat mulai membunuh para musuh dan antek-anteknya. Tapi, dapatkah ia berbuat demikian?

Akhirnya, dengan berat hati, ia melepaskan Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong. Pergelangan tangan Chiu Thong sudah hancur, sakitnya bukan kepalang. Setelah dilepas, badannya lemas dan segera diusung ke dalam oleh anak buahnya.

Loh Cu-gi menyeringai puas, ujarnya, "Suma Bing, sekarang marilah kita persoalkan perhitungan kita..."

"Coba katakan."

"Sudah tentu kau ingin membawa pergi jenazah Kho-lo-sia ini untuk dikubur, benar tidak?"

"Binatang, kau manusia yang lebih rendah dari binatang! Katakan kehendakmu!"

"Suma Bing, bicaralah yang sopan. Syaratku gampang dipenuhi dan sangat adil. Di antara kau dan aku terbentang jurang kesumat yang sangat dalam; hanya satu di antara kita yang boleh hidup di dunia fana ini. Kau tidak akan menyangkal ucapanku, bukan?"

"Tepat sekali!"

"Jikalau kau dapat bersumpah untuk selamanya tidak mencari perkara lagi kepada Bwe-hwa-hwe, maka jenazah suhumu ini dapat segera kau bawa pergi."

"Tidak mungkin, Loh Cu-gi!"

"Kau dengar dulu perkataanku. Tiga hari lagi, mari kita berjanji untuk bertanding satu lawan satu. Mati atau hidup, mengandalkan kemampuan masing-masing, bagaimana?"

Suma Bing mendengus dingin, "Loh Cu-gi, jangan kau berani main licik dan akal busuk. Aku sudah bersumpah hendak membuat banjir darah di Bwe-hwa-hwe. Mengandalkan kemampuanmu yang rendah itu, jangan harap kau kuat bertanding melawan aku secara kesatria."

"Suma Bing, jangan kau bicara takabur. Menjangan bakal mampus di tangan siapa, sulit ditentukan. Tujuanku utama adalah menyelesaikan dendam kesumat; mati atau hidup tidak perlu dihiraukan lagi, asal kau mau menyetujui untuk selamanya tidak mencari perkara lagi kepada Bwe-hwa-hwe!"

"Loh Cu-gi, sungguh pintar dan rapi benar rencanamu ini."

"Kau tidak setuju?"

"Ya, tidak."

Loh Cu-gi berpaling ke samping, menunjuk orang-orang di sampingnya, lantas berkata, "Suma Bing, lihatlah dengan tegas. Inilah Hwe-hud Maha Pelindung perkumpulan kita, Ngotai-tok-bok Thauto, Tianghoan, Cakar Beracun Kho Wan, dan mereka itu adalah Lamniu. Bagaimana kepandaian kawan-kawan seangkatan ini, pasti kau sudah pernah dengar. Ditambah aku sendiri, jikalau kita bergabung dan serentak menyerangmu, kau kuat bertahan berapa gebrak?"

Sepasang mata Suma Bing berkilat penuh dendam menyapu pandang ke arah Lamniu. Sebetulnya ia tengah merasa serba salah karena keempat tokoh yang tercatat dalam daftar hitamnya itu jauh berdiam di Lam-hay, sehingga untuk menuntut balas tentu sulit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment