Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 153

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 153

Siapa tahu sekarang mereka malah datang sendiri dan menggabungkan diri ke dalam Bwe-hwa-hwe. Ini boleh dikata, Tuhan selalu menuruti permintaan umat-Nya. Maka, segera ia mengejek dingin, "Tak peduli siapa pun yang sudi diperbudak oleh Bwe-hwa-hwe, semua akan kusempurnakan!" Kata-kata yang takabur dan angkuh ini membuat para gembong iblis itu naik pitam dan menggerung gusar.

Sebaliknya, Loh Cu-gi acuh tak acuh, katanya, "Suma Bing, kau sudah ambil kepastian belum?" "Ya, akan kutumpas dan kucuci bersih seluruh Bwe-hwa-hwe!" "Tanpa memikirkan segala akibatnya?" tanya Loh Cu-gi sambil mengangkat kedua tangannya serta mengancam sungguh, "Bagaimana pendapatmu, apakah sekali pukulanku ini cukup untuk menghancurkan peti mati itu?" Dingin sanubari Suma Bing.

Seumpama kepandaiannya setinggi langit pun, tak mungkin dirinya dapat menyelamatkan jenazah suhunya dari kepungan sekian banyak gembong iblis yang lihai dan tinggi kepandaiannya. Apalagi latihan Kiu-yang-sin-kang Loh Cu-gi sudah mencapai kesempurnaannya; sekali pukul saja dapat melumerkan besi baja. Kini dia berdiri tidak jauh dari peti mati itu; untuk membumihanguskan dan menghancurkan peti itu boleh dikata sangat gampang, membalikkan tangan saja. Meskipun akhirnya dirinya dapat membabat habis seluruh musuhnya ini, bagaimana juga dia akan menyesal karena toh jenazah suhunya sudah rusak. Sebaliknya, kalau menerima usul lawan, hatinya berat dan tidak rela.

Sesaat itu, hatinya gundah dan susah mengambil kepastian. Saking gugup dan gelisah, dia menggigit gigi sehingga berbunyi berkerot-kerot. Loh Cu-gi mendesak terus tanpa memberi hati, "Suma Bing, semua akibat dari keputusan ini terletak dari kebijaksanaanmu." Pandangan Suma Bing kesima memandangi peti mati tempat suhunya terbaring. Terbayang akan masa lalu yang pedih dan berat rasa hatinya. Agaknya, Loh Cu-gi dapat meraba isi hatinya ini. Serunya sambil mengekeh dingin, "Pada tengah hari tiga hari kemudian, kunantikan kedatanganmu di luar lembah. Saat itu baru kita tentukan lagi di mana kita harus bertempur, bagaimana?"

Suma Bing membanting kaki keras, sahutnya terpaksa, "Baik, tapi ada sedikit syarat." "Katakan!" "Para durjana yang ikut dalam peristiwa berdarah di Puncak Kepala Harimau dulu, tak peduli apa kedudukannya, aku harus memberantas mereka semua." Setelah merenung sekian lama, baru Loh Cu-gi menyahut, "Baiklah!" "Kalau begitu, bolehlah kau hidup lebih panjang tiga hari lagi." "Nanti dulu, kau harus bersumpah untuk selamanya tidak mencari perkara pada Bwe-hwa-hwe!" "Perkataan seorang kesatria berat laksana gunung, buat apa merengek harus sumpah apa segala seperti kaum lemah?" "Terhitung kau licik, kau boleh membawa jenazah itu, tapi peti mati itu harus kau tinggalkan." "Loh Cu-gi, di alam baka pasti suhuku juga akan menolak mengubur jenazahnya dengan menggunakan peti matimu. Legakan hatimu. Seumpama tidak kau katakan, aku Suma Bing juga tidak sudi membawa peti matimu."

Loh Cu-gi tertawa terkekeh-kekeh tanpa membuka suara lagi. Dia terus memberi aba-aba pada semua anak buahnya; beriring mereka segera pergi. Demi menyelamatkan jenazah suhunya, Suma Bing tidak sayang untuk menerima segala hinaan yang terbesar. Dia berlutut di depan peti mati dan menggumam bersabda, "Suhu, semasa hidup kau larang aku panggil suhu, setelah berada di alam baka harap kau terima panggilanku ini. Tecu sungguh tidak berbakti sehingga membuat kau tidak tenteram setelah meninggal. Setelah penguburan selesai nanti, aku bersumpah untuk menunaikan perintahmu mencuci bersih nama baik perguruan, akan kuhancurleburkan murid murtad itu."

Selesai sembahyang, perlahan ia bangkit berdiri terus maju hendak membuka... "Huma, nanti dulu!" demikian cegah Bu-tong Pau Bing Kiam dengan gugup. "Kenapa?" tanya Suma Bing sambil menarik pulang tangannya. "Tentu Huma belum melupakan kehancuran jenazah si Maling Bintang si Ban-cwan tadi!" Suma Bing berjingkat kaget, serunya, "Menurut pangcengcu peristiwa itu bisa terulang lagi?" "Kemungkinan sangat besar!" "Masa..." "Harap Huma mundur dulu!" "Maksud Seng Tongcu..." "Biarlah hamba yang membuka peti ini." Suma Bing tersenyum, ujarnya, "Tak ada alasan untuk kamu yang menempuh bahaya. Silakan kalian mundur!" Sahut Sim-tong Song Lip-hong dengan serius, "Betapa tinggi dan luhur kedudukan Huma, mana boleh sembarangan bekerja dan menempuh bahaya, ini memang sudah menjadi tugas yang harus hamba lakukan."

Tengah perdebatan ini, sekonyong-konyong sebuah bayangan hitam melesat tiba secepat kilat terus meluncur di hadapan mereka. Itulah seorang berbentuk tinggi lencir dan seluruh tubuhnya serba hitam seperti arang. "Racun diracun!" tanpa merasa, Sim-tong Song Lip-hong berseru kejut.

Suma Bing sendiri sudah tahu siapa orang yang datang itu, maka jengeknya, "Phoa Cu..." "Cepat mundur!" Racun Diracun segera menukas perkataan Suma Bing dengan gugup, "Lekas!" serunya lagi. Terhadap Phoa Cu-giok, boleh dikata Suma Bing sudah membencinya sampai ke tulang sumsumnya. Meskipun karena janjinya terhadap istrinya yang almarhum sehingga dia tidak membunuhnya, namun rasa kebenciannya masih meluap-luap. Maka, segera katanya dengan nada rendah, "Apa maksudmu?" Dalam pada itu, tampak lagi beberapa bayangan berkelebatan dari hutan sebelah dalam sana.

Racun Diracun menjadi gugup dan gelisah, serunya pula sambil membanting kaki, "Lekas mundur, nanti terlambat!" Suma Bing menjadi curiga dan insaf mungkin ada gejala apa lagi, maka dengan penuh tanda tanya ia tatap Racun Diracun lalu sekali berkelebat mundur lima tombak. Demikian juga Sim dan Bu dua Tongcu juga ikut mundur. Secepat kilat, tiba-tiba Racun Diracun mengayun tangannya. Terus memukul ke arah peti mati dari kejauhan. Melihat ini, keruan Suma Bing berjingkrak gusar, "Berani kau!"

Sebuah ledakan dahsyat menggelegar menggetarkan bumi dan langit, debu membubung tinggi ke angkasa sehingga alam sekelilingnya seketika menjadi gelap, tercium bau belerang. Lamat-lamat terdengar suara Racun Diracun dari kejauhan, "Cihu, jenazah si Maling Bintang dan suhumu adalah palsu belaka!" Suma Bing tergetar mundur dan kesima. Palsu, apakah artinya ini? Waktu keadaan menjadi terang kembali, bayangan Racun Diracun sudah menghilang, sedang peti mati itu juga telah hancur lebur tanpa bekas. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Suma Bing. Kurang lebih dua jam lamanya sudah dua kali dia terhindar dari malapetaka yang mengancam jiwanya ini.

Dia tengah merenungi perkataan Phoa Cu-giok tentang kepalsuan dari kedua jenazah itu. Bukankah bentuk tubuh si Maling Bintang dan gurunya lain dari bentuk tubuh manusia umumnya? Sekali pandang saja lantas dapat tahu. Lantas bagaimana cara menjelaskan tentang 'palsu' itu? Apakah mungkin Bwe-hwa-hwe betul-betul dapat mencari penggantinya yang palsu untuk membuat jebakan yang keji ini? Mendadak sepercik sinar terang berkelebat di otaknya, teringat olehnya tentang penyamaran orang atas dirinya itu. "Raja Iblis Seratus Muka!" diam-diam hatinya berseru.

Dia berani memastikan kalau Raja Iblis Seratus Muka ini pasti berada di Bwe-hwa-hwe. Dengan kepandaian khusus yang lihai serta keahliannya dalam ilmu penyamaran itu, tidak sukar baginya mencari bentuk tubuh orang lain yang hampir sama untuk diolah dan dirias untuk memalsu si Maling Bintang serta gurunya. Tapi sebuah pikiran lainnya segera menghapus analisanya ini. Betapa sukar dan rumit serta terahasia tempat gua suhunya itu, malah dia sendiri yang menyumbat mulut gua itu setelah suhunya meninggal. Seumpama betul Loh Cu-gi dapat menemukan tempat itu, jarak yang sedemikian jauh serta kematian suhunya pun sudah sekian lamanya, masakan jenazahnya belum membusuk dan rusak? Meskipun telah diberi obat antibusuk, itu juga terjadi setelah diusung keluar; tak mungkin tetap dapat membuat mukanya sedemikian hidup seperti sedang tidur saja.

Karena pemikirannya ini, seketika terbangun semangatnya dan berkobarnya semangat ini bergolak pula darahnya dan timbul nafsunya untuk membunuh. Ucapan Bu-tong Pau Bin-sam menyadarkan dirinya dari lamunan, "Huma, kita sudah terkepung!" Selayang pandang Suma Bing menyapu ke sekitarnya, tampak rombongan Loh Cu-gi sudah mendatang sampai di hadapannya; empat penjuru sudah terkepung oleh berlapis-lapis tembok manusia. Semua adalah anak buah Bwe-hwa-hwe, jumlahnya tidak kurang dari lima ratus orang. Para kerabat Perkampungan Bumi yang berjumlah empat puluh orang itu segera menyebar menghadap ke arah musuh, menanti perintah untuk bergerak.

Suma Bing harus cepat-cepat menerawangi situasi yang dihadapi ini. Cepat dia ambil keputusan, lantas katanya terhadap kedua Tongcu itu, "Kalian harus memimpin semua anak buahmu untuk berusaha menerjang keluar kepungan!" Bu-tong Pau Binsan mengunjuk rasa berat, sahutnya, "Huma, hamba sekalian..." "Ini perintahku!" Sim dan Bu dua Tongcu saling pandang sekali, lalu sahutnya berbareng, "Terima perintah."

Pada saat itu juga terdengar bentakan dan teriakan yang gegap gempita. Kiranya para anak buah Bwe-hwa-hwe itu telah mulai bergerak menyerang. Seketika terdengarlah berdentingnya senjata beradu serta angin yang ribut dan jeritan kesakitan bagi yang luka. Darah mulai mengalir dan membanjir di atas tanah. Suma Bing mendesak maju sambil membentak bengis, "Loh Cu-gi, jebakanmu yang hina dan rendah itu kiranya sia-sia juga."

Sebuah bayangan meraih berkelebat, tahu-tahu Hwe-hun-koay-hui sudah merebut maju di hadapan Loh Cu-gi, sambil terkekeh tawa dia berkata, "Buyung, kau sangka kau takkan mati?" Suma Bing mendengus ejek, "Hwe-hun Lokoay, hari itu kau dapat lari, tapi hari ini tumbuh sayap pun kau takkan dapat lari lagi." "Bedebah, serahkan jiwamu!" Sambil menggerung keras, segulung badai yang dahsyat bagai gugur gunung segera melanda ke arah Suma Bing. Terdengar geledek menggelegar dan disertai angin ribut yang memekakkan telinga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment