Chapter 154
Sekali turun tangan tanpa kepalang tanggung, ia lancarkan kepandaian andalannya yaitu Lionglo. Serta-merta terpusatkan perhatian Suma Bing; Giokkang terkerahkan sampai dua belas bagian tenaganya. Tanpa berkelit atau menyingkir, dia juga lancarkan pukulannya.
Dentuman keras memecah kesunyian angkasa. Saking dahsyat benturan kekuatan ini, hawa yang sangat panas menerjang ke empat penjuru.
Kontan Hwe-hu Lokoay tersentak mundur tiga langkah. Mendapat angin, Suma Bing tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bagai bayangan setan, tubuhnya melejit maju secepat kilat. Ia susulkan juga jurus Mayapada remang-remang. Debu dan pasir bergulung seperti terjadi hujan badai di tengah gurun pasir. Tampak Hwe-hun-koay-hud terbang menyingkir tiga tombak jauhnya; baru untung-untungan terhindar dari pukulan dahsyat yang dapat memecahkan bumi dan mengejutkan langit ini.
Terdengar berdenting suara senjata gelang beradu, disusul dua bayangan berkelebat menubruk maju ke arah Suma Bing dari kanan dan kiri. Kali ini yang turun tangan adalah Tianghoan, dua gembong penjahat dari utara. Kedua gembong penjahat ini kenamaan akan senjatanya yang berupa gelang bundar besar. Maka dapatlah dibayangkan, kepandaian mereka akan senjata aneh yang lain dari yang lain ini pasti bukan olah-olah hebatnya.
Tampak bayangan bundar gelang berkelebatan berlapis-lapis sehingga memenuhi angkasa. Sedikit pun tidak terlihat lubang kelemahannya; sungguh perbawa serangan gabungan mereka ini laksana geledek dan kilat menyambar. Suma Bing paham pertempuran hari ini merupakan pertempuran mati-hidup yang menentukan. Sudah pasti pihak lawan bertarung dengan cara keroyokan untuk menghadap dirinya.
Sedang para gembong penjahat yang dihadapi ini rata-rata adalah tokoh silat yang lihai dan kenamaan. Merobohkan atau membunuh salah satu di antara mereka berarti mengurangi beban dalam pertempuran yang harus dihadapinya ini. Karena kesiagaannya inilah, kedua tangan diayun mengerahkan seluruh tenaganya, dipentang ke kanan dan kiri sambil memutar bundar, terus didorong keluar.
Kontan bayangan sinar gelang musuh yang berlapis-lapis hendak menindih itu tenggelam dilanda arus gelombang angin pukulan Suma Bing yang hebat. Tampak Tiang-lek-siang-hoan sendiri juga terpental sempoyongan beberapa tindak. Menggunakan peluang yang pendek inilah, secepat kilat mendadak Suma Bing bergerak dengan kecepatan yang susah diukur, menubruk ke arah musuh yang berada di sebelah kanan.
Jeritan yang menyayat hati menelan segala keributan di sekelilingnya sehingga mengagetkan pihak yang sedang bertempur. Kiranya salah satu dari Tianghoan itu sudah terpukul mabur sejauh tiga tombak dan terkapar di atas tanah tanpa bergerak lagi. Boleh dikata hampir dalam waktu yang bersamaan di mana terdengar jeritan panjang itu, salah seorang sisa Tianghoan itu juga terpental sungsal-sumbel sampai lima tombak jauhnya. Hanya dua gebrak saja cukup untuk melenyapkan dua gembong penjahat besar yang kenamaan. Kepandaian semacam ini benar-benar belum pernah terlihat selama seratus tahun ini.
Begitu dapat merobohkan Tianghoan, tanpa berhenti sedikit pun, tubuh Suma Bing langsung melesat ke arah Loh Cu-gi. Terdengar gerungan gusar yang keras; lagi-lagi Hwe-hun-koay-hud melancarkan serangannya dari sebelah samping. Kontan tubuh Suma Bing yang tengah meluncur ke depan itu tertolak ke samping delapan kaki. Dan belum lagi ia sempat berdiri tegak dan bernapas, secarik sinar merah yang membawa hawa panas menungkrup tiba pula ke arah dirinya. Kiranya Loh Cu-gi bermain licik menggunakan kesempatan ini untuk turut membokong dan menyerang.
Mengandalkan keampuhan dan kesaktian Giokkang untuk melindungi badan, sedikit pun Suma Bing tidak terluka atau kurang suatu apa karena serangan Kiukang Loh Cu-gi ini, namun tak urung badannya juga terpental setombak lebih. Rumput dan dedaunan di mana tadi dia berpijak kini sudah terbakar hangus dan mengepulkan asap tebal. Betapa hebat Kiukang itu dapatlah dibayangkan.
Terlihat bayangan berkelebatan lagi; Ngoho-Thauto, si Cakar Beracun Kho Wan, dan Empat Burung Camar dari Lam-hay berbareng menubruk maju meluruk ke arah Suma Bing. Sorot mata Suma Bing memancarkan sinar kehijauan yang menakutkan. Hanya sejurus Mayapada remang-remang saja cukup membuat keenam musuhnya tertolak balik tanpa mampu mengendalikan badan sendiri, disusul jurus Bintang Berpindah Jungkir Balik yang diarahkan kepada Ngoho-Thayto. Kontan terdengar pula pekik yang mengerikan; nyata si Thauto mata satu dari Ngo-tay-san ini menyemburkan darah segar sambil terhuyung mundur, terus jatuh duduk di atas tanah tanpa dapat bergerak lagi.
"Brak!" Telak sekali, sebuah pukulan Si Cakar Beracun juga telah menghantam punggung Suma Bing dengan keras. Seketika si Cakar Beracun terpental balik tiga langkah karena tolakan ilmu pelindung badan Suma Bing, sedang yang terpukul sampai terdorong ke depan tujuh langkah.
"Setan kecil, robohlah kau!" Sambil memaki, Hwe-hun-koay-hud mengajukan telapak tangannya segede kipas itu memapak dada Suma Bing yang terdorong sempoyongan itu. Dalam keadaan yang kritis ini, terpaksa Suma Bing menggerakkan tangan untuk menangkis. Cara perlawanannya ini dilakukan tergesa-gesa, maka kekuatannya juga sangat lemah, kurang separuh dari kekuatan tenaga biasanya. Sedang musuh sebaliknya mengerahkan seluruh kekuatannya. Di mana terdengar beradunya tangan masing-masing diselingi deheman keras seperti orang muntah-muntah, Suma Bing terpental jungkir balik setombak lebih.
Belum lagi tubuhnya menginjak tanah, empat jalur angin pukulan sudah menerjang pula datang. Keruan tubuh Suma Bing lagi-lagi bergulingan di atas tanah sebagai bola sampai dua tombak jauhnya. Untung ilmu saktinya melindungi badan; kalau tidak, seumpama tidak mati juga, pasti sudah terluka parah. Begitulah, segesit kera, begitu badan menyentuh tanah tubuhnya lantas melejit bangun berdiri. Beruntun terkena pukulan telak yang keras dan berat, namun tanpa kurang suatu apa, keruan para gembong penjahat itu terkesima, giris, serta gentar dibuatnya.
Pertempuran di luar gelanggang sebelah sana saat itu sudah terjadi banjir darah dan tertumpuklah gunung jenazah manusia. Bunuh-membunuh masih terus terjadi tanpa mengenal kasihan seperti serigala kelaparan atau banteng ketaton; senjata beradu dan jerit kesakitan terus terdengar saling susul. Suma Bing prihatin akan keselamatan para kerabat dari Perkampungan Bumi. Waktu matanya melirik, tergetarlah hatinya; ternyata dalam gelanggang pertempuran sana kini sudah bertambah dengan para gadis berkerudung serba putih. Kiranya dua belas Rasul Penembus Dada utusan ibundanya itu sekarang juga telah terjun dalam pertempuran sengit itu.
Sambil memekik panjang, Lamniu menyambar tiba pula sambil lancarkan serangannya. Sambil kertak gigi, Suma Bing lancarkan jurus Membuka Langit Menutup Bumi, salah satu jurus dari ilmu Giokkang yang paling hebat. Supaya dapat sekali serang menamatkan para musuh yang tercatat dalam buku daftar hitam itu, maka untuk pertama kali ini dia lancarkan ilmunya yang paling ampuh ini.
Empat bayangan manusia laksana layang-layang yang putus benangnya meluncur tinggi ke tengah angkasa terus melayang jauh entah ke mana. Yang celaka dan konyol adalah Thanto si mata satu dari Ngo-tay-san itu. Karena terluka parah tadi, dia duduk di tanah tanpa mampu bergerak lagi; kini tergulung pula oleh kekuatan angin pukulan Suma Bing yang dahsyat bagai gugur gunung ini. Tubuhnya terguling-guling sambil menyemburkan darah terus tak bergerak lagi. Baru pertama kali Suma Bing lancarkan pukulan Membuka Langit Menutup Bumi yang terampuh ini, betapa dahsyat dan perbawa ilmu ini sungguh luar biasa. Saking kejut, dia tampak berdiri kesima tak bergerak-gerak. Waktu suasana menjadi sepi dan tenang kembali, bayangan Loh Cu-gi, Hwe-hun-koay-hud, dan Si Cakar Beracun Kho Wan sudah menghilang tanpa karena.
Dalam pada itu, pertempuran di luar gelanggang juga sudah mereda; suara gaduh tadi sudah sirap. Anak buah Bwe-hwa-hwe sudah lari terbirit-birit tanpa mempedulikan kawan-kawannya yang menjadi korban dan tertumpuk di mana-mana. Salah seorang gadis berkedok serba putih itu menghampiri ke depan Suma Bing memberi hormat serta menyapanya, "Menghadap Tuan Muda!" Dia bukan lain adalah Ih Yan-chiu, pemimpin dari dua belas Rasul Penembus Dada. Maka beruntun sebelas Rasul lainnya juga maju satu per satu memberi hormat.
Suma Bing manggut-manggut membalas hormat, katanya, "Terima kasih akan bantuan kalian."
"Ah, Tuan Muda terlalu sungkan, hamba beramal hanya bekerja menurut perintah majikan."
Tidak ketinggalan Sim dan Bu, dua Tongcu, juga maju sambil membungkuk hormat, katanya, "Hamba berdua menunggu perintah."
Suma Bing menyapu pandang ke sekelilingnya, lalu tanya, "Bagaimana keadaan para saudara dari Perkampungan Bumi?"
Lapor Sim-tong Song Lip-hong, "Lima orang terluka parah, dua belas luka ringan, sedang yang meninggal ada sembilan orang!"
Suma Bing mengunjuk rasa sedih dan prihatin, ujarnya, "Kuburkan yang meninggal, yang terluka segera diobati, setelah itu kalian boleh segera pergi."
Tanpa berani berciut, kedua Tongcu itu mengundurkan diri sambil membungkuk tubuh. Lalu Suma Bing berpaling ke arah Ih Yan-chiu dan berkata, "Nona Ih beserta rombongan juga boleh segera meninggalkan tempat ini!" Habis berkata, tanpa menanti reaksi, terus putar tubuh melesat masuk ke dalam hutan barisan itu.
Sejak mendapat petunjuk dari Tio Keh-siok, murid Hwasohki-khek, mengenai inti perubahan atau rahasia barisan Imyang-ngo-heng-tin ini, Suma Bing sudah hafal di luar kepala. Maka tanpa takut atau sangsi lagi, dia terus menerobos masuk tanpa rintangan. Setelah sekian lama dia beranjak, mendadak terasa keadaan sekelilingnya sangat asing dan lain dari petunjuk yang diberikan kepadanya. Karena keraguannya ini, cepat-cepat dia hentikan kakinya. Dengan nanap dia awasi keadaan sekitarnya.