Chapter 155
Di sekitarnya, terdapat banyak pohon Bwe besar yang malang melintang, diselingi tumpukan batu-batu yang membumbung tinggi.
Tiba-tiba dia sudah terlalu dalam terjebak dalam pusaran perasaan benci dan dendam yang segera berkecamuk dalam benaknya.
Sungguh, bahkan dalam mimpi pun ia tidak menyangka bahwa Tio Keh-siok ternyata bisa bertindak sedemikian jauh memberi keterangan palsu.
Begitulah, dalam keadaan yang mendesak ini, ia terpaksa harus bersikap tenang dan menerawang kembali ke saat pertama kali kakinya melangkah masuk tadi, serta memikirkan kedudukannya sekarang.
Namun, semakin dipikirkan, terasa semakin rumit dan membingungkan; semakin ia berusaha memutar otaknya, malah semakin kacau balau, sampai-sampai arah timur atau selatan pun susah dibedakan lagi. Gelisah dan gusar membuat sifat-sifat gilanya kambuh. Mengarah ke satu sasaran, dengan sekuat tenaga ia menghantam ke depan, besar harapannya dapat membuka sebuah jalan keluar dalam kurungan ini.
Demikianlah, setiap kali tangannya terayun, pohon-pohon dan batu-batu itu berterbangan sampai porak-poranda.
Namun, tenaganya ini sia-sia saja. Akhirnya, saking lelah, ia berhenti sendiri. Mendadak terdengar suara Loh Cu-gi dari samping sana yang mencemoohkan, "Suma Bing, semua dendam dan sakit hati selanjutnya akan berakhir sampai di sini." Saking gusar, kepala Suma Bing sampai terasa panas; pandangannya menyapu ke arah datangnya suara, namun tak terlihat bayangan manusia. Terdengar suara itu berkata lagi, "Suma Bing, mengingat kita masih seperguruan, biarlah kubuat kau mati dengan badan utuh." Bentak Suma Bing sambil mengertakkan gigi, "Loh Cu-gi, kalau berani keluarlah!" "Suma Bing, kau sangka aku sudi bergelut mati-matian melawanmu? Hahaha, kau salah!" "Loh Cu-gi, kau anjing hina dina yang paling rendah!" "Bocah keparat, maki dan tumpahkanlah ludahmu, inilah saat-saat terakhir bagimu!" Sekonyong-konyong, samar-samar terdengar suara irama seruling yang sangat merdu dari hutan di bagian dalam sana.
Suma Bing terkesima heran, "Dari mana terdengar irama seruling ini?" Sedemikian merdu irama seruling ini, bagai suara pancuran air di pegunungan, seperti gema suara di dalam lembah nan sunyi, laksana angin sepoi-sepoi menghembus daun-daun pohon. Tanpa disadari, suara itu membuat pendengarnya tenggelam dalam lamunan yang menyegarkan badan. Rasa penasaran dan dendam sakit hati yang merangsang dengan keinginan membunuh, seakan-akan tersedot hilang oleh irama yang memesona ini.
Tiba-tiba irama seruling berubah sedemikian halus, panjang, dan mesra, seolah-olah sepasang kekasih yang tengah sayang-sayangan di tengah malam dengan saling berbisik, sehingga menimbulkan rangsangan nafsu yang menggelora. Samar-samar terbayang sang kekasih tengah menari-nari lemah gemulai dengan selendang sutranya yang panjang terurai, sungguh memesona dan menakjubkan sekali.
Tanpa disadari, Suma Bing terlongong seperti orang mabuk; kupingnya panas dan jantungnya berdebur keras, timbullah suatu keinginan yang susah dibendung lagi.
Bagaimanapun, kesadaran Suma Bing masih belum lenyap seluruhnya; samar-samar terasa olehnya suara seruling ini sangat aneh dan janggal. Karena sedikit kesadaran ini, tersentaklah hati nuraninya. Cepat-cepat ia mengerahkan ilmunya untuk menenangkan gejolak hatinya.
Irama seruling masih terus bergelombang sambung menyambung dengan iramanya yang menyedot semangat dan sukma orang.
Lambat laun Suma Bing merasa semakin gelisah; perhatiannya susah dipusatkan karena gangguan ini, hatinya geli seperti dikilik-kilik. Ternyata usahanya sia-sia.
Maka akhirnya ia memejamkan mata, mulutnya komat-kamit menghafalkan pelajaran Giokkang...
"Brak!" Mendadak Suma Bing merasa tubuhnya tergetar hebat sehingga terhuyung-huyung. Diam-diam ia mengeluh, "Celaka!" Saat ia membuka mata, di hadapannya berdiri tiga bayangan orang.
Seorang di antaranya adalah Loh Cu-gi, musuh besarnya. Seorang lagi adalah Maha Pelindung Bwe-hwa-hwe, Hwehud. Sedangkan yang terakhir adalah seorang gadis ayu jelita bak bidadari yang mengenakan selendang panjang untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kulitnya putih halus, wajahnya seakan-akan tertawa penuh mengandung arti, dan di tangannya tergenggam sebatang seruling batu giok.
Sekilas Suma Bing memandang ketiga orang ini, lantas secepat kilat ia bergerak memukul ke arah Loh Cu-gi.
Loh Cu-gi tertawa sinis. Menghadapi serangan Suma Bing yang dahsyat ini, sikapnya tetap angin-anginan.
"Blang!" Dengan telak pukulan Suma Bing ini mengenai dada musuh.
Bukan saja Loh Cu-gi tidak kurang suatu apa pun, bahkan air mukanya pun tidak berubah. Sebaliknya, Suma Bing sendiri malah tergetar mundur dan jatuh duduk di atas tanah.
"Hahahahahaha..." Loh Cu-gi bergelak tertawa panjang kegila-gilanan saking puas.
Bergegas Suma Bing melompat bangun. Seketika ia merasa seolah-olah dirinya telah terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan air danau yang dingin; kaki tangannya dingin membeku, hatinya menciut, kedua kakinya hampir tak kuat lagi menyangga berat tubuhnya.
Baru sekarang ia sadar dan merasakan bahwa mendadak ternyata tenaga dalamnya lenyap seluruhnya, hawa murninya susah dipusatkan lagi.
Betapa perih hatinya ini beribu kali lebih sedih dari kematian.
Siapa akan menduga dalam keadaan begini dirinya terjatuh ke dalam tangan musuh besarnya ini?
Sambil tertawa, Loh Cu-gi bertanya kepada gadis yang membawa seruling itu, "Jikalau bukan karena irama seruling iblis Siancu (Dewi), mungkin bocah ini susah ditaklukkan."
Sepasang bola mata sang gadis melirik-lirik sambil menatap Suma Bing. Mulutnya menyahut perlahan, "Dia kuat mendengarkan tiga gelombang irama iblis; kekuatan pemusatan hatinya itu sungguh harus dipuji."
Terdengar Hwehud juga turut bicara, "Entah ada hubungan apa antara bocah keparat ini dengan Hian-Thiancengli itu?"
Wajah Loh Cu-gi berubah, sahutnya, "Susah diketahui." Gadis itu juga tersentak kaget, tanyanya sambil tersenyum simpul, "Hianli yang mana?"
Agaknya tulang-tulang Hwehud sudah lemas. Wajahnya berseri tawa dengan mulut ternganga lebar, sahutnya, "Dewi kan sudah tahu, hanya pura-pura tanya saja."
"Masa di dunia ini ada dua Hianli?" "Oh, ini sungguh susah dipercaya, dia masih belum mati?" "Jikalau bukan karena mengejar bocah ini dan secara kebetulan bertemu aku, aku sendiri juga tidak tahu kalau dia masih hidup!"
"Kukira kalian masih ingat majikan panggung berdarah Bulimci-sin, bukan? Kalau mau dikata Hianli masih hidup, mungkin juga Busin juga masih hidup, seumpama bocah ini..." ia terdiam bicara sampai di sini. Matanya melirik tajam ke arah Suma Bing, lalu sambungnya lagi, "Benar-benar ada hubungan dengan Hian-Thiancengli, kita harus hati-hati untuk bertindak!"
Loh Cu-gi manggut-manggut, ujarnya, "Siancu, Cayhe sudah ada rencana lain."
Suma Bing heran dan tak habis mengerti, tokoh macam apakah gadis pembawa seruling ini? Dilihat usianya belum cukup dua puluh, tapi toh Loh Cu-gi membahasakan dirinya Cayhe sedemikian merendah diri, sedangkan Hwehud yang sudah berusia seabad pun berlaku sedemikian hormat kepadanya.
Tengah ia berpikir-pikir ini, terdengar Hwehud tertawa keras, katanya, "Kenapa tidak tanyakan langsung kepada bocah ini?"
Loh Cu-gi menyeringai dingin, katanya, "Cayhe mempunyai cara tersendiri, silakan Jiwi kembali untuk istirahat!"
Sang gadis tertawa genit, ujarnya, "Mendadak aku merasa tertarik kepada bocah ini..."
Sekilas air muka Loh Cu-gi berubah. Dasar licik, secepat itu pula sudah kembali seperti biasa, katanya, "Ucapan Siancu ini..."
"Ingin kulihat cara bagaimana sesepuh ketua hendak menghukumnya. Hal ini tidak menjadi halangan, bukan?"
"Tentu tidak, tentu tidak!" Demikian sahut Loh Cu-gi sambil menyeringai, lalu berpaling kepada Hwehud, katanya, "Silakan Thay-Siang Huhoat kembali dulu, jikalau ada terjadi apa-apa supaya dapat memberi bantuan seperlunya."
Hwehud mengiyakan, lantas memutar tubuh dan melangkah pergi.
Dalam pada itu, berulang kali Suma Bing sudah berusaha menggunakan hawa murni dalam tubuhnya untuk menjebol jalan darahnya yang tertutup, namun dia kewalahan. Cara memutus urat dan menutup nadi ini benar-benar lihai, aneh, dan keji, sehingga tenaga murni dalam tubuhnya menjadi bocor dan susah dihimpun lagi.
"Siancu, silakan!" Demikian ujar Loh Cu-gi sambil mengempit Suma Bing. Sekuat tenaga Suma Bing mencoba berontak, tapi perbuatannya ini sia-sia saja seperti cacing kepanasan. Tanpa disadari, ia mengeluh, "Tamatlah riwayatku!"
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah gundukan tanah tinggi. Dengan ujung kakinya, Loh Cu-gi menginjak sebuah tombol, mendadak gundukan tanah itu terbelah ke dua samping dan terbukalah sebuah pintu terowongan.
Tampak undakan batu menjurus turun ke bawah dan serong ke samping.
Sambil tetap mengempit Suma Bing, Loh Cu-gi mendahului masuk. Sang gadis pembawa seruling itu mengintil di belakangnya. Pintu di belakang mereka, tahu-tahu sudah menutup sendiri.
Ternyata keadaan di dalam terowongan ini terang benderang seperti di siang hari bolong.
Setelah habis menuruni undakan batu, kira-kira berjalan maju ke depan sekitar sepuluh tombak, mereka sampai di sebuah ruang di bawah tanah yang terbuat dari batu-batu gunung.
Perabot dalam ruang ini sangat sederhana, hanya terdapat sebuah kursi dan sebuah dipan kayu.
Agaknya memang ini merupakan sebuah kamar tahanan istimewa yang khusus dibuat untuk mengurung tawanan. Setelah menutuk lagi beberapa jalan darah penting di tubuh Suma Bing,
"Bum!" Sekali lempar tubuh Suma Bing dibuang ke atas tanah. Terus dia sendiri duduk di atas kursi itu.
Baru kemudian ia menyilakan sang gadis, "Menyusahkan Siancu saja, harap duduk saja di atas dipan kayu ini!"
Hampir meledak dada Suma Bing saking menahan gusar, tapi saat itu untuk bergerak saja dirinya tidak mampu. Terpaksa dengan sepasang matanya yang merah membara berapi-api, ia melotot kepada Loh Cu-gi. Tanpa ragu-ragu Loh Cu-gi maju mendekat. Pertama-tama, cincin iblis yang berada di jari tengah Suma Bing ditanggalkan. Baru kemudian ia menggeledah cundrik penembus dada dan pedang berdarah yang disimpan di ikat pinggangnya. Bola mata Suma Bing hampir mencelat keluar sampai bibir matanya pecah dan mengeluarkan air darah. Sikapnya yang penuh kebencian yang meluap-luap ini benar-benar dapat menggetarkan bulu roma.