Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 156

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 156

"Pedang berdarah!" tiba-tiba terdengar gadis yang membawa seruling itu berseru terkejut.

"Tidak salah," sahut Loh Cu-gi dengan tersenyum puas, "benda pusaka yang paling diincar oleh kaum persilatan."

"Dapatkah aku melihatnya untuk membuka mataku?"

"Ini... silakan Siancu ambil dan melihatnya biar puas!" Ia lantas mengangsurkan pedang berdarah itu kepada gadis pembawa seruling tersebut.

Sambil menimang-nimang dan mengelus pedang darah itu, sang gadis bertanya, "Entah di mana letak khasiat pedang berdarah ini?"

Loh Cu-gi tampak bimbang, namun akhirnya berkata, "Konon kabarnya, selain pedang berdarah ini, masih ada sekuntum Bunga Iblis. Bila pedang darah dan Bunga Iblis disatupadukan, seseorang dapat memperoleh kepandaian sakti yang tiada bandingannya di dunia ini. Ini menurut cerita orang, entah bagaimana kebenarannya."

"Benda macam apakah Bunga Iblis itu?"

"Hal itu aku sendiri tidak dapat menerangkan."

"Dengan pengalaman Siancu yang luas saja masih belum tahu, apalagi Cayhe, tak perlu dikatakan lagi."

"Kita kembali ke persoalan penting ini, cara bagaimana kau hendak mengompres dia?"

**MO-IN SIANCU JATUH CINTA KEPADA SUMA BING**

"Bagaimana kalau menurut pendapat Siancu?"

"Bukankah Tuan tadi mengatakan ada rencanamu?"

"Menurut pendapatku, lebih baik kita punahkan dulu ilmu silatnya."

Suma Bing mengerang murka, mulutnya menyemprotkan darah segar. Ia membentak beringas, "Loh Cu-gi, dalam hidupku tak dapat mengkremus tubuhmu, setelah mati aku akan menjadi setan gentayangan mengejar sukmamu!"

Loh Cu-gi menyeringai sadis. Gadis pembawa seruling mengerutkan alis, katanya, "Apa tidak sayang?"

"Sayang?" balas tanya Loh Cu-gi heran dan terperanjat.

"Kalau kepandaian silatnya dipunahkan, betul-betul harus disayangkan."

"Tapi kalau diumbar begitu saja, bukankah sangat menakutkan? Apa Tuan tidak memikirkan akibatnya?"

"Akibat apa?"

"Suma Bing adalah Huma dari Perkampungan Bumi, mempunyai sangkut-paut dengan Pek-kut Hujin. Ketua Jeng-kang-hwe dan Busin mungkin juga ada hubungan."

"Kekhawatiran Siancu terlalu besar. Asal jiwanya masih hidup, cukup untuk menggertak mereka mundur teratur."

"Menggunakan dia sebagai sandera, maksudmu?"

"Sementara terpaksa begitu!"

"Selanjutnya bagaimana?"

"Siancu, setahun kemudian, bukannya aku berani besar mulut, dalam dunia persilatan ini tiada seorang pun yang perlu ditakuti lagi."

"Bagaimana kalau kita gunakan dan manfaatkan tenaganya?"

"Hal itu tidak mungkin."

"Agaknya kau lupa satu hal. Bukankah istrimu itu adalah putri Pek-chio Lojin? Tentu dia dapat memberitahu caranya kepada Tuan!"

Agaknya Loh Cu-gi sadar dan ingat sesuatu. Tanyanya, "Maksud Siancu menggunakan I-sing-hoan?"

"Benar. Sebutir I-sing-hoan cukup membuat dia lupa segalanya dan setulusnya menjadi budakmu seumur hidup."

"Cayhe tidak berani menyerempet bahaya ini!"

"Kenapa?"

"Khawatirku kalau terjadi sesuatu di luar dugaanku. Bukankah tokoh-tokoh di belakangnya itu tak dapat dipandang enteng?"

Gadis pembawa seruling tertawa geli, ujarnya, "Apakah Tuan pernah mencurigai asal-usul ilmu silatnya yang hebat itu?"

Agaknya Loh Cu-gi tergetar kaget oleh pertanyaan ini. Sahutnya, "Siancu ada pendapat apa?"

Terlihat bibir gadis pembawa seruling itu berkomat-kamit. Agaknya tengah berkata menggunakan ilmu *Thoan-bit* kepada Loh Cu-gi. Rona wajah Loh Cu-gi berubah bergantian, akhirnya tampak dia terbahak-bahak.

Serunya, "Sungguh tidak merendahkan pamor julukan Mo-in Siancu (Dewi Irama Iblis), sungguh aku merasa kagum dan takluk."

Dengan sendirinya Suma Bing lantas membatin, "Oh, kiranya dia bernama Mo-in Siancu. Sebelumnya belum pernah terdengar nama julukan ini, entah rencana apa lagi yang tengah diaturnya bersama Loh Cu-gi."

Terdengar Dewi Irama Iblis tertawa terkikik, ujarnya, "Kalau kenyataan tepat seperti dugaan, Tuan sendirilah yang harus memberi putusan."

"Baiklah, aku menurut pendapat Siancu."

"Dalam waktu tiga jam, pasti aku memberi laporan yang memuaskan."

"Sungguh menyusahkan Siancu saja, sebelumnya Cayhe ucapkan terima kasih."

Habis berkata, Loh Cu-gi mendekati dinding lalu menekan sebuah batu. Segera terbuka sebuah pintu rahasia di sampingnya. Setelah menoleh memandang Suma Bing, dia melangkah lebar ke sebelah dan pintu itu pun menutup kembali. Begitu pintu itu tertutup, segera Suma Bing merasa hidungnya mencium bau harum. Ternyata Mo-in Siancu mendekat dan membebaskan jalan darahnya yang tertutup.

Suma Bing merangkak bangun dengan sikapnya yang garang.

"Silakan duduk!" kata Mo-in Siancu tersenyum simpul, suaranya merdu menarik.

"Tidak perlu," dengus Suma Bing kaku.

"Suma Bing, duduklah, jangan keras kepala, itu tidak akan menguntungkan bagimu." Sambil berkata, tangannya yang putih halus menekan pundak Suma Bing sehingga dia terduduk di atas kursi Loh Cu-gi tadi.

Meskipun jalan darahnya sudah bebas, namun urat dan nadinya yang tertutup masih belum bebas. Tenaga untuk berontak atau melawan saja tak ada. Tindak-tanduk Dewi Irama Iblis ini sungguh sangat genit dan menggiurkan, sayang benak Suma Bing diliputi kebencian dan dendam kesumat. Sedikit pun dia tidak terpengaruh oleh godaan yang dapat merangsang dan membangkitkan sifat kelaki-lakiannya. Seumpama tenaga dalamnya masih tetap seperti sedia kala, pasti tanpa banyak pikir lagi dia sudah turun tangan membunuhnya.

Kata Dewi Irama Iblis dengan nadanya yang menyedot sukma, "Suma Bing, berkata setulus hati, aku tidak tega melihat kau hancur lebur."

"Mo-in Siancu," semprot Suma Bing dongkol, "kalau ada omongan, bicaralah secara gamblang, jangan main diplomasi apa segala."

"Sikapmu ini benar-benar takabur dan sombong luar biasa." Demikian ujar Mo-in Siancu. Mendadak sikapnya berubah serius, "Suma Bing, jikalau kau ingin mati, seratus jiwamu juga sudah melayang semua."

Suma Bing melotot gusar, katanya gemas, "Ingin rasanya kuhantam mampus kau ini."

Mo-in Siancu malah terkekeh-kekeh, katanya, "Suma Bing, kau sendiri, apa kau masih ingin hidup?"

Suma Bing melengak. Lantas terpikir olehnya mungkin lawan tengah menjebak dirinya lagi, maka lantas sahutnya acuh tak acuh, "Mati atau hidup tidak kukawatirkan lagi."

"Aku bicara sungguh!"

"Ingin kudengar rencana apa saja yang tengah kau atur untuk menjebak aku?"

"Rencanaku adalah menolongmu keluar dari elmaut."

"Hahahahaha, aku Suma Bing bukan bocah berumur tiga tahun, tahu!"

"Suma Bing, kau betul-betul tidak percaya?"

"Tidak percaya! Ingin aku tahu untuk apa kau hendak menyelamatkan aku?"

"Masa kau tidak tahu?"

"Tidak!"

"Baiklah kuberitahu, sebab..."

"Sebab apa?"

Dengan lengan bajunya, Mo-in Siancu menutup mulut dan tertawa genit, sahutnya, "Sebab aku cinta padamu."

Betapapun dingin dan kaku sikap Suma Bing, tak urung menjadi merah jengah mukanya. Baru sekarang dia berhadapan dengan seorang gadis cantik jelita yang bebas dan berani. Sesaat mulutnya seperti tersumbat, tak mengeluarkan suara.

"Ai, katakanlah, mengapa kau diam saja?" Bola matanya yang jeli dan bening itu pelerak-pelerok genit dan mesra.

"Mo-in Siancu, kau tidak tahu malu. Coba katakan maksudmu sebenarnya, aku Suma Bing tidak suka menikmati tingkahmu yang manis ini."

"Aku cinta padamu, aku hendak menolongmu."

"Terima kasih akan kebaikanmu ini."

"Suma Bing, baiklah aku bicara terus terang kepadamu. Jikalau bukan serentetan bujukanku, saat ini kau sudah menjadi seorang invalid. Loh Cu-gi tidak akan memberi ampun padamu. Aku mengatakan kepadanya untuk menggunakan pengaruh nama serulingku untuk mengekang semangatmu dan mengorek asal-usul ilmu silatmu yang lihai itu. Kalau dugaanku tidak meleset, pasti kau sudah memperoleh Bunga Iblis, bukan?"

Berdebar-debar jantung Suma Bing. Sungguh lihai gadis ini, tepat benar dugaannya. Kalau menurut apa yang dikatakan ini, agaknya ucapannya tadi boleh dipercaya, tapi...

Kata Mo-in Siancu selanjutnya, "Loh Cu-gi licik dan banyak akal muslihatnya. Untuk menghadapi kau, dia sudah mengatur sepuluh langkah biji caturnya. Seumpama kepandaianmu setinggi langit juga jangan harap dapat lolos dari kekangannya. Dua jenazah palsu itu tidak membuat tubuhmu hancur lebur. Irama seruling iblisku ini baru langkah ketiga, terserah kau mau percaya."

Tidak mau tidak, Suma Bing harus percaya. Tapi apakah maksud tujuan orang benar-benar seperti yang dikatakan itu? Mungkin mundur itu untuk maju. Biarlah dengan kenyataan saja untuk membuktikan, tapi apakah rencananya selanjutnya? Sesaat hatinya risau dan sulit mengambil keputusan.

Kata Mo-in Siancu lagi, "Suma Bing, kau percaya tidak terserah, sekarang biarlah kutolong dulu meninggalkan tempat ini. Hanya perlu kujelaskan terlebih dulu, aku sendiri tak mampu membuka urat nadimu yang tertutup itu..."

Sampai di sini, keteguhan hati Suma Bing semakin goyah. Sebenarnya ia tidak sudi menerima budi seorang gadis, tapi dia harus hidup terus untuk menuntut balas, inilah harapannya sekarang yang terbesar. Kalau dia dapat lolos dari kurungan elmaut ini, boleh dikata memang merupakan suatu kejadian ganjil. Setelah direnungkan sekian lamanya, tiba-tiba ia berkata, "Entah siapa nama Nona yang harum?"

Mo-in Siancu tersentak kaget dan girang di luar dugaan, sahutnya, "Aku bernama Phui Kiau-nio."

"Nona ada pegangan dapat menyelamatkan diriku?"

"Tentu!"

"Sebelumnya perlu kuterangkan bahwa aku tidak mungkin menerima uluran cintamu."

"Apa, kau..."

"Aku tidak mungkin cinta kepada Nona. Jikalau Nona terasa putus asa, boleh silakan tak usah urus diriku."

Berubah air muka Mo-in Siancu. Sekian lama dia terlongong memandangi Suma Bing, lalu katanya, "Suma Bing, tak duga aku, Phui Kiau-nio... ah sudahlah, memang salahku sendiri yang terlalu gampang mengumbar perasaan. Tapi aku tidak akan mengubah maksudku."

"Aku tidak bermaksud untuk memaksa kau," kata Suma Bing rada risi dan kikuk.

Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang agak lirih dari kamar sebelah. Segera Mo-in Siancu berkata berbisik, "Ada orang datang, berbuatlah seperti kau sudah kehilangan semangat."

Habis berkata, serulingnya diangkat ke dekat bibirnya. Terus terdengarlah irama seruling yang halus merdu. Tiba-tiba terbuka sebuah pintu rahasia di dinding sebelah sana. Seorang perempuan setengah umur bergegas masuk. Dia bukan lain adalah istri Loh Cu-gi, Ang-siu-li Ting Yan. Kedatangan Ang-siu-li Ting Yan tanpa diundang ini benar-benar mengejutkan Suma Bing dan Mo-in Siancu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment