Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 157

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 157

Mo-in Siancu menarik serulingnya lalu tersenyum simpul dan berkata, "Ada urusan apakah Hujin berkunjung kemari?"

Alis Ang-siu-li Ting Yan berkerut dalam, sekilas dia melirik ke arah Suma Bing dengan gemas. Lalu, ia berkata kepada Mo-in Siancu, "Harap Siancu memaafkan kelancanganku."

"Mana berani. Hujin ada keperluan apa?"

"Ada beberapa patah kata hendak kutanyakan kepada bocah ini."

Mo-in Siancu mengerutkan kening, katanya ragu, "Menurut pesan Sesepuh Ketua, Hujin sendiri pasti sudah tahu akan aturan itu, bukan?"

Terpaksa Ang-siu-li menunjukkan senyum kecut. Katanya mendesak, "Aku hanya ingin bertanya beberapa patah kata saja."

"Kalau begitu, silakan Hujin bertanya padanya!"

Ang-siu-li Ting Yan beranjak ke depan Suma Bing, lalu membentak bengis, "Suma Bing, aku hendak bertanya padamu!"

Suma Bing tersentak seperti baru bangun tidur, sahutnya, "Apa, ada apa kau..."

"Jawab pertanyaanku!"

"Apa yang harus kujawab?"

"Bagaimana cara kematian putriku, Loh Siau-ling?"

Bercekik hati Suma Bing. Loh Siau-ling sebenarnya dipukul mati oleh Phoa Cu-giok, tetapi seumpama Phoa Cu-giok tidak membunuhnya, pasti dirinya yang akan membunuh gadis itu karena dia adalah putri musuh besarnya. Karena pikiran ini, segera ia menyahut dengan dingin, "Dipukul mampus, bagaimana lagi?"

"Kau yang membunuhnya!" desis Ang-siu-li Ting Yan beringas. "Akan kuhancurkan tubuhmu ini!" Sambil membentak, sepuluh jarinya yang runcing itu langsung mencengkeram ke batok kepala Suma Bing.

Tenaga Suma Bing sudah punah, terpaksa dia pasrah saja menerima nasib dan menunggu ajal. Mendadak sebuah suara dingin mengejek, "Hujin, katamu kau hanya ingin bertanya beberapa patah kata saja."

Tanpa kuasa, Ang-siu-li Ting Yan menarik balik tangannya, tapi lantas diayunkan lagi sambil berteriak penuh kebencian, "Aku hendak membalas sakit hati putriku!"

Ringan sekali Mo-in Siancu berkelebat maju, terus mengulurkan seruling di atas kepala Suma Bing. Katanya berat, "Hujin, seumpama hendak menuntut balas pun tidak perlu tergesa-gesa!"

"Siancu," kata Ang-siu-li Ting Yan lesu, "Maaf akan kecerobohanku ini."

"Ah, Hujin terlalu sungkan. Silakan kembali dulu."

Sebuah derap langkah yang berat lamat-lamat terdengar mendatangi. Berubah air muka Mo-in Siancu. Ang-siu-li sendiri juga menunjukkan rasa tegang, katanya, "Mungkin suamiku datang!"

Sekali loncat, Mo-in Siancu tiba di pinggir pintu rahasia. Begitu ujung kakinya menginjak tanah, pintu rahasia itu segera tertutup. Lalu, ujung jarinya menekan sebuah batu pada dinding, terbukalah sebuah lubang sebesar kepalan tangan. Karena kecerobohan Ang-siu-li setelah masuk tadi lupa menekan tombol rahasia, mereka takkan mungkin mendengar kedatangan orang ini. Jikalau benar Loh Cu-gi yang datang, situasi dalam ruang tahanan ini pasti berubah.

Mo-in Siancu mendekatkan mukanya ke lubang kecil untuk mengintip pandangan si pendatang, lalu serunya dengan garang, "Siapa yang datang itu?"

Terdengar sebuah suara yang dapat dikenal menyahut, "Siancu, ini Cayhe!"

"Sesepuh Ketua? Ada petunjuk apakah?"

"Apakah istriku ada?"

"Ya, memang Hujin pernah datang tapi sudah pergi lagi. Sekarang aku tengah bekerja menurut rencana dan sudah mencapai taraf yang sangat memuaskan. Harap Tuan kembali dulu ke Lengsiu-tiam menanti kabar baik ini."

Keadaan kembali menjadi sunyi senyap, agaknya Loh Cu-gi sudah percaya dan kembali. Sambil menutup kembali lubang kecil itu, Mo-in Siancu menyeka keringat di atas jidatnya. Tanpa terasa tercetus kata-katanya, "Sungguh berbahaya, jikalau secara diam-diam tanpa bersuara dia masuk kemari, pasti terbongkarlah kelemahan kita."

Seketika Ang-siu-li Ting Yan menunjukkan rasa kejut. Dia heran serta curiga, tanyanya, "Apa kata Siancu?"

Karena lena, Mo-in Siancu sampai lupa bahwa Ang-siu-li Ting Yan masih berada dalam ruangan itu. Kata-katanya tadi sebenarnya ditujukan kepada Suma Bing, maka begitu pertanyaan diajukan, baru dia tersadar akan kecerobohannya. Namun, dasar pintar dan cerdik, dengan tenang dia menerangkan, "Hujin, aku masih ada urusan penting yang harus kukerjakan. Tentang kenapa, pasti suamimu nanti dapat memberi penjelasan kepada Hujin. Sekarang silakan Hujin menyingkir dulu, bagaimana?"

Agaknya Ang-siu-li mengerti. Sambil mengangguk-angguk dia menyahut, "Maaf akan gangguanku ini." Setelah melirik ke arah Suma Bing dengan benci, terus dia memutar tubuh.

Sebuah jeritan keras yang mengerikan terdengar dibarengi dengan muncratnya air darah ke empat penjuru. Kontan raga Ang-siu-li Ting Yan terkapar roboh di atas tanah. Kiranya dengan cara kilat tanpa kepalang tanggung, Mo-in Siancu telah menyerang dan membunuh Ang-siu-li Ting Yan.

Suma Bing merinding dan kaget, serunya, "Nona membunuh dia?"

Seakan tidak terjadi apa-apa, Mo-in Siancu tertawa, "Terpaksa harus dibunuh untuk menutup mulutnya."

"Mengapa?"

"Jikalau dia sampai keluar dari kamar rahasia ini, kita tidak ada waktu lagi untuk meninggalkan tempat ini."

"Kenapa pula begitu?"

"Tadi tanpa sadar aku telah kelepasan omong, dia sudah merasa curiga. Sedang Loh Cu-gi juga sedang mencari dia. Dengan kecerdikan Loh Cu-gi, pasti dia dapat menerka sesuatu peristiwa yang bakal terjadi. Saat ini tenagamu hilang seluruhnya, ini menambah kesukaran untuk lolos dari sini."

Sampai sekarang baru Suma Bing paham akan duduk perkaranya, lambat laun hilanglah rasa curiganya terhadap Mo-in Siancu. Kata Mo-in Siancu, "Mari sekarang juga kita harus pergi."

Sebetulnya Suma Bing sudah pasrah bahwa riwayatnya pasti tamat, siapa nyana situasi ternyata berubah sedemikian cepat. Sudah tentu hatinya merasa terharu, maka katanya, "Untuk selamanya, pasti Cayhe tidak akan melupakan budi kecintaan Nona."

"Sekarang tidak perlu banyak berkata, yang penting kita harus segera keluar." Lalu dia menekan dinding sebelah kanan, terbukalah sebuah pintu rahasia lain. "Mari berangkat!" katanya terus masuk lebih dulu ke dalam pintu rahasia itu.

Suma Bing mengikuti di belakangnya. Kiranya di luar pintu rahasia itu adalah sebuah lorong bawah tanah yang sangat panjang dan terasa dingin lembap. Lorong ini agaknya tak berujung pangkal, kadang-kadang tinggi, kadang-kadang menurun rendah. Karena tenaganya lumpuh, penglihatan Suma Bing banyak berkurang. Di dalam lorong ini gelap gulita sampai lima jari sendiri pun tidak kelihatan. Sambil menggeremet dan meraba-raba serta mendengarkan derap langkah Mo-in Siancu, dia berjalan sehingga sebegitu lama mereka masih belum pergi jauh.

Akhirnya Mo-in Siancu menjadi tidak sabar, katanya, "Berjalan cara demikian, sedikitnya kita harus membuang waktu setengah jam baru dapat keluar dari lorong ini. Kalau sampai ketahuan oleh Loh Cu-gi, celakalah kita berdua, seumpama tumbuh sayap juga jangan harap dapat lolos."

Dengan ilmu saktinya yang digdaya, kepandaian Suma Bing tanpa tandingan, kini keadaan dirinya malah membuat susah orang lain saja. Betapa perih dan duka hatinya susahlah ia uraikan dengan kata-kata, maka katanya risi, "Kalau begitu, silakan Nona tinggal pergi saja, tak usah urus diriku lagi."

"Apa tinggal pergi? Suma Bing, kalau bukan karena kau, masa aku sudi menyerempet bahaya ini."

"Maaf akan kata-kataku yang menyinggung tadi, hanya..."

"Sudahlah, tak perlu banyak mulut, mari kau ikut aku!" Tanpa menunggu persetujuan Suma Bing, lengannya terus dicekal kencang lantas diseret dan sedikit dijinjing lari ke depan dengan cepatnya.

Sepeminuman teh kemudian, jalanan lorong itu terus menanjak ke atas kira-kira ratusan tombak tingginya. Akhirnya, sampailah mereka di ujung lorong, terus Mo-in Siancu menekan alat rahasia, sejalur sinar matahari tiba-tiba menerobos masuk ke dalam. Sesaat Suma Bing tak kuasa membuka mata.

Mo-in Siancu menghela napas panjang, tangan yang mengempit Suma Bing masih belum dilepaskan. Keruan Suma Bing menjadi malu dan kikuk, tanyanya, "Siancu, tempat apakah ini?"

"Panggung hukuman."

"Panggung hukuman? Apa artinya?"

"Tempat Bwe-hwa-hwe melaksanakan hukuman. Coba kau lihat biar tegas, di kanan kiri itu merupakan sebuah garis batu dinding yang hanya cukup dilewati satu orang, di belakang dinding itu adalah sebuah jurang yang dalam tak kelihatan dasarnya. Setiap kali Bwe-hwa-hwe melaksanakan hukuman, cukup sekali dorong saja menyurung si pesakitan ke dalam jurang sana, menjadi beres dan tidak meninggalkan jejak!"

Suma Bing bergidik seperti kedinginan, katanya, "Marilah kita cepat pergi."

"Nanti sebentar, aku sedang berpikir siapakah yang mampu membuka urat nadimu yang tertutup itu. Selama belum terbuka, kau akan menjadi seorang invalid."

Suma Bing mendengus dengan gemas, lalu menghela napas dan ujarnya, "Tak peduli aku harus mengorbankan apa segala, aku harus berikhtiar membukanya."

"Suma Bing, memberanikan diri kupanggil kau sebagai adik. Sekarang aku teringat seorang yang mungkin dapat membantu kita."

"Siapa?"

"Tayih!"

"Di manakah Tayih (tabib bungkuk padang pasir) sekarang berada?"

"Di luar perbatasan!"

"Sedemikian jauh, dengan keadaanku ini masa kuat menempuh perjalanan jauh?"

"Habis tiada jalan lain, kepandaian semacam itu merupakan kebanggaan Loh Cu-gi sendiri, sudah tentu dia takkan sudi membukakan untuk kau!"

Bergolaklah darah panas Suma Bing, desisnya penuh dendam, "Kalau aku tidak memberantas Bwe-hwa-hwe sampai seakar-akarnya, jangan namakan aku Suma Bing."

Tanya Mo-in Siancu sungguh-sungguh, "Sebenarnya ada permusuhan apakah kau dengan Loh Cu-gi?"

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah gelak tertawa panjang yang menusuk telinga. Berubah air muka Mo-in Siancu, serunya gugup, "Celaka, cepat kita pergi!"

Tampak beberapa bayangan orang telah muncul di atas tembok batu itu. Seakan terbang semangat Suma Bing, dilihat dari keadaan dan situasi, untuk menerobos keluar agaknya sesukar naik ke langit. Betapapun tinggi lwekang Mo-in Siancu, juga takkan mampu membawa kabur seorang yang telah kehilangan tenaganya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment