Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 158

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 158

Dalam pada itu, bayangan beberapa orang telah melesat tiba dan turun ke atas tanah. Orang yang terdepan adalah Loh Cu-gi sendiri. Di belakangnya mengintil Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong, serta Hwehud dan si Cakar Beracun Kho Wan. Sekejap saja, mereka sudah berdiri tiga tombak di hadapan Mo-in Siancu.

Loh Cu-gi menyeringai seram, ujarnya, "Siancu, kau tidak sengaja, bukan?"

Mo-in Siancu menyahut dingin, "Memang kusengaja, kau mau apa?"

Wajah Loh Cu-gi membayangkan hawa kebuasan yang sadis, semprotnya, "Siancu akan menyesal sesudah kasep."

Kata Suma Bing sambil menarik baju Mo-in Siancu, "Cici, silakan kau tinggal pergi, jangan pedulikan aku lagi."

"Jangan omong kosong," kata Mo-in Siancu tanpa berpaling, "Dik, kalau terpaksa, biarlah aku mendampingimu selamanya."

Suma Bing tergetar seperti tersengat aliran listrik. Baru beberapa jam saja mereka berkenalan, namun orang sudah sudi berkorban untuk dirinya sampai sehidup semati. Katanya penuh keharuan yang melimpah, "Cici, kau tiada harganya berbuat begitu."

"Dik, mungkin inilah yang dinamakan jodoh yang membawa dosa, tapi saat ini tak perlu kita risaukan tentang mati atau hidup!"

Loh Cu-gi terbahak-bahak panjang, ujarnya, "Suma Bing, kuperingatkan sebelum kau mati, ubahlah cara panggilanmu! Dia cukup menjadi nenekmu, tahu!"

Suma Bing berjingkat kaget. Tak heran Loh Cu-gi dan sekalian gembong penjahat itu menaruh hormat dan tunduk padanya; padahal lahirnya ia kelihatan masih muda, tidak lebih dari dua puluh tahun.

Mo-in Siancu melintangkan serulingnya, tantangnya, "Loh Cu-gi, apa yang hendak kau lakukan?"

Dengan nada yang menakutkan, Loh Cu-gi berkata, "Siancu, apakah istriku harus mati secara penasaran?"

"Tidak, bukan?"

"O, jadi kau hendak menuntut balas baginya?"

"Hutang jiwa bayar jiwa, ini kan sudah umum dan jamak!"

"Jangan kau main gertak terhadap aku. Sudahkah kau bayangkan akibat dari irama seruling iblisku?"

"Siancu, kau takkan ada kesempatan merampungkan sebuah lagumu saja!"

Lahirnya Mo-in Siancu berlaku tenang, sebenarnya hatinya risau dan kebat-kebit. Ia sendiri paham kesempatan untuk menang sangat mendesak. Mengandalkan kepandaian Loh bertiga, sedikitnya mereka kuat bertahan sampai lima gelombang irama serulingnya. Meskipun kelima gelombang irama iblis ini dapat dilancarkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, waktu yang pendek ini sudah cukup berkelebihan bagi ketiga orang tersebut untuk melancarkan serangan. Kalau hendak meloloskan diri saja tenaganya cukup, tapi bagaimana dengan Suma Bing? Bukankah ia sudah berjanji hendak mendampinginya selalu?

Suma Bing juga sudah dapat menerawangi situasi yang tegang tersebut. Maka, ia berkata kepada Mo-in Siancu, "Cici, lulusilah sebuah permintaanku."

"Urusan apa?"

"Kuharap kau dapat sekuatnya meloloskan diri sendiri."

"Tidak, Dik, sudah kukatakan..."

"Cici, kalau kau tidak mau meluluskan, aku akan mati tidak tenang!"

"Tidak mungkin."

"Cici, kalau kau dapat membawakan kabar untukku, seumpama harus mati, aku akan mati dengan lega dan puas."

"Pesan apa yang hendak kau katakan?"

Karena jalan darah tertutup, tak mungkin Suma Bing dapat melancarkan ilmu Thoanbit. Terpaksa ia berbisik, "Belum lama berselang, yang ikut pertempuran sengit di luar markas besar itu, di antaranya ada dua belas gadis serba putih. Kumohon kau beritakan keadaanku ini kepada salah satu di antara mereka."

Loh Cu-gi tertawa, serunya, "Siancu, tiada waktu lagi! Kalau masih ada omongan, silakan katakan dalam perjalanan menuju ke neraka saja!"

Mo-in Siancu bersikap tak acuh dan pura-pura tidak mendengar. Hanya matanya tetap menatap tajam ke arah lawan, namun mulutnya berkata kepada Suma Bing, "Dik, apa kabar berita ini sangat penting?"

"Sudah tentu, ini menyangkut cita-citaku yang belum terlaksana..."

"Dik, mungkin kita masih ada kesempatan untuk lolos!"

"Agaknya tak mungkin. Ada baiknya menggunakan kesempatan ini, hendak kukatakan sepatah kata kepadamu. Selama hidup ini, aku akan menyesal dan berhutang budi kepadamu."

Mereka berdua bukan terhitung sepasang kekasih, sebab biasanya cinta itu harus berpadu antara dua insan yang berlawanan. Bahwasanya Suma Bing tidak menerima curahan cinta orang, sebaliknya secara sepihak Mo-in Siancu mencurahkan seluruh cintanya. Pertemuan mereka yang aneh dan kebetulan itu mungkin akan membawa akibat yang menyedihkan, agaknya hal ini tak mungkin dihindari lagi.

Saat itu, memang banyak sekali omongan yang hendak dicurahkan, namun situasi yang mendesak ini terpaksa biarlah terpendam dalam sanubari masing-masing. Suara Suma Bing terdengar gemetar, katanya lagi, "Cici, dapatkah kau menyampaikan beritaku itu?"

Nada perkataan Mo-in Siancu seberat laksaan kati, "Dik, untuk harapanmu itulah aku harus tetap hidup."

"Cici, selamanya aku berterima kasih kepadamu."

"Dik, masa kau masih sedemikian kikir untuk mengatakan?"

Tanpa merasa ragu, Suma Bing bergoyang gontai hampir roboh, suaranya gemetar, "Aku... suka padamu!"

Dalam pada itu, Loh Cu-gi, Hwehud, dan si Cakar Beracun Kho Wan sudah mengepung mereka; jarak mereka kini tinggal setombak lebih. Jikalau ketiga gembong silat lihai ini serentak melancarkan serangan, pasti Suma Bing yang celaka lebih dulu.

Sepasang mata Mo-in Siancu memancarkan sinar kebencian, seruling batu giok diangkat melintang di depan dadanya. Suma Bing berteriak dengan garang, "Loh Cu-gi, ingin rasanya kuremas tubuhmu, saat itu kelak pasti akan terlaksana."

Loh Cu-gi mendengus ejek, "Bedebah, tak mungkin tiba hari itu!" Habis ucapannya, bagai singa mengaum keras ia memberi aba-aba, "Maju!"

Badai angin pukulan yang dahsyat serempak menerjang ke arah mereka berdua dengan hebatnya. Mengayun dan menggerakkan serulingnya, Mo-in Siancu mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapak serangan gabungan ketiga musuhnya. Di tengah suara benturan menggelegar ini, Mo-in Siancu tersurut mundur lima langkah. Sedang Suma Bing yang berada di belakangnya tergulung terbang ke tengah udara setinggi tiga tombak, meluncur jatuh, dan terbanting keras. Namun, sambil menggigit bibir, ia merangkak bangun.

Loh Cu-gi menyeringai sadis, sebelah tangannya perlahan diangkat.

"Kiukang!" tanpa terasa Suma Bing berteriak kejut. Tepat pada waktu itu juga, sejalur sinar merah melesat keluar secepat kilat. Dalam waktu yang bersamaan, gesit dan selicin belut, Mo-in Siancu menyeret Suma Bing melesat menyingkir setombak lebih.

Suara seruling iblis Mo-in Siancu sudah mulai ditiup. Tiga bayangan manusia dengan kecepatan kilat sekaligus menubruk ke arahnya. Sambil tetap meniup serulingnya, Mo-in Siancu sigap sekali memutar tangannya dan mendorong ke depan. Secara kebetulan, Loh Cu-gi bertiga yang meluncur datang tepat memapak ke arah angin pukulan serangan Mo-in Siancu. Saking dahsyat angin pukulan ini, kontan mereka bertiga tertolak turun dan menginjak tanah, sedang Mo-in Siancu sendiri juga terhuyung-huyung.

Irama seruling mendadak melengking tinggi, seolah-olah laksaan tentara serentak menyerbu maju. Si Cakar Beracun yang Lwekangnya agak rendah seketika pucat pasi, keringat dingin membasahi jidatnya. Para anak buah Bwe-hwa-hwe yang mengepung di luar gelanggang pertempuran juga mulai kacau balau. Loh Cu-gi dan Hwehud sendiri juga bercekat hatinya. Kalau Mo-in Siancu dibiarkan terus meniup serulingnya, pasti mereka berdua juga susah dapat melawan, demikian batin mereka.

Sambil menggerung keras, serentak mereka bergerak menghantam dengan seluruh kekuatan tenaganya. Terdengar jeritan panjang yang mengerikan, tampak tubuh Suma Bing berputar-putar terbang ke tengah udara terus melesat jatuh ke dalam jurang yang dalam.

Irama seruling seketika sirap dan berganti suara pekik gugup dan ketakutan. Sebat sekali, Mo-in Siancu meluncur menyambar ke arah tubuh Suma Bing, tapi sudah terlambat. Bagai bintang jatuh, Suma Bing sudah meluncur jauh ke tengah jurang, hanya tertinggal suaranya yang menjerit panjang bergema di tengah udara.

Hancur luluh sanubari Mo-in Siancu. Saking duka, ia menjadi gusar dan mengamuk, serulingnya digerakkan memetakan sinar berkerlip, terus menubruk balik ke arah musuh-musuhnya dengan kalap. Terdesak dan kaget karena kehebatan serangan seruling yang mengancam jiwa ini, terpaksa Loh Cu-gi dan Hwe-hun-koay-hud melompat mundur.

Celaka bagi si Cakar Beracun; sedikit berlaku lengah, baru saja tubuhnya bergerak, sinar seruling sudah menungkrup ke atas kepalanya. Terdengar jeritan keras, kontan batok kepala si Cakar Beracun hancur lebur dan tamatlah riwayatnya.

"Sundel, terimalah kematianmu!" sambil menghardik, Loh Cu-gi sudah memutar balik secepat angin lesus sambil mengirim pukulannya ke arah Mo-in Siancu.

Memang Mo-in Siancu sudah bertekad untuk gugur bersama, serulingnya diputar sekencang kitiran, terus menubruk maju juga melawan dengan kekerasan. Dalam sekejap mata saja, mereka sudah saling serang sebanyak enam gebrak, tenaga kekuatannya seimbang.

Tiba-tiba sinar merah merangsang masuk ke dalam gelanggang pertempuran. Kiranya Hwehud juga tidak mau ketinggalan turut mengerubut. Keruan saja, situasi pertempuran seketika berubah. Sepuluh jurus kemudian, Mo-in Siancu sudah terdesak mundur tanpa mampu balas menyerang lagi. Berulang-ulang menghadapi detik-detik berbahaya, dilihat dari keadaannya yang mengenaskan ini, mungkin dalam lima gebrak lagi pasti jiwanya bisa melayang di bawah kerubutan dua gembong iblis jahat ini.

Sedikit mengendurkan serangannya, Loh Cu-gi menyeringai iblis, "Phui Kiau-nio, aku harus menamakanmu dewi atau sundel? Kiukang cukup dapat membumihanguskan tubuhmu, namun cara demikian terlalu murah untuk kau. Tahukah kau cara bagaimana aku akan menghadapimu? Hahahaha..."

Rambut Mo-in Siancu awut-awutan, wajahnya berkeringat dan pucat pasi, napasnya juga kempas-kempis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment