Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 159

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 159

Setelah merandek sejenak, Loh Cu-gi berkata lagi, "Sundel, wajah dan tubuhmu sedemikian cantik jelita, sangat sayang jika kuhancurkan. Nanti setelah kau kehabisan tenaga, baru kututuk urat nadimu untuk memunahkan seluruh ilmu silatmu. Hehe, dengan kemolekanmu ini, biarlah para anak buahku menikmati harumnya bunga secara bergilir di dalam kamar..."

"Tutup mulutmu!" Mo-in Siancu berteriak beringas. Matanya mendelik lebar, seruling di tangannya bergerak semakin gencar dan ganas. Namun, ibarat semut di dalam kuali, kekuatannya hampir terkuras habis. Tingkahnya ini malah menjadi bahan tertawaan Hwehud.

"Roboh!" Serentak Hwehud melancarkan delapan kali pukulan berantai. Suara geledek dan embusan bayu menggelegar serta berhempas kencang; perbawa serangan ini sungguh menakjubkan. Kontan Mo-in Siancu memekik, darah segar menyemprot bagai anak panah, sementara tubuhnya terhuyung lima tindak lalu roboh telentang di atas tanah. Seruling di tangannya terbang terpental jatuh ke dalam jurang.

"Ah, sayang sekali!" seru Loh Cu-gi dengan nada terkejut tanpa perasaan.

Pada saat yang bersamaan, para anak buah Bwe-hwa-hwe yang berada di atas dinding batu di sebelah sana tiba-tiba menjadi gaduh. Disusul dengan jerit serta pekik kesakitan dan ketakutan, mereka terjungkal satu per satu dari atas.

"Apa yang terjadi?" Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong, berseru terkejut, lalu melesat memburu ke tempat itu. Laksana seekor burung raksasa merah, Hwehud tidak ketinggalan melesat maju. Bahkan wajah Loh Cu-gi tak urung menjadi pucat.

Tampak sebuah bayangan hitam lencir melayang keluar dari jalan rahasia di sebelah samping. Dengan sangat ringan, bayangan itu meluncur tiba di tengah gelanggang.

"Racun, diracun!" hardik Loh Cu-gi murka.

Sinar merah melesat, kontan Kiukang dilancarkan untuk menyerang. Gerak-gerik sang "Racun" sungguh lihai dan indah. Tubuhnya jumpalitan ke arah kiri, begitu kaki menyentuh tanah, ia terus berputar balik ke tempat asalnya. Berbarengan dengan gerak tangannya, bau harum terbawa angin, merangsang ke arah Loh Cu-gi.

Seketika Loh Cu-gi merasa mata berkunang-kunang dan kepala terasa berat. Diam-diam ia mengeluh dalam hati, "Racun!" Cepat-cepat ia mengerahkan hawa murni untuk menutup panca indranya, lalu berputar ke seluruh sendi dan urat nadi. Bersamaan dengan itu, tubuhnya melesat ke arah yang berlawanan dengan hembusan angin.

Pada saat Loh Cu-gi melesat menyingkir, tiba-tiba "Racun" menjinjing Mo-in Siancu yang rebah di atas tanah, lalu berlari ke arah berlawanan. Anak buah Bwe-hwa-hwe yang menjaga di bagian tugu sebelah sana beramai-ramai keluar mencegat dan merintangi jalannya. Begitu tangan "Racun" bergerak mengebut, beberapa orang yang memapak paling depan kontan menjerit roboh dengan darah hitam mengalir dari tujuh lubang indranya. Mereka yang masih hidup merasa arwahnya terbang, cepat-cepat menyingkir ke samping memberi jalan bagi sang "Racun". Dengan gesit, ia terbang menghilang dalam sekejap mata.

Waktu Hwehud menyusul tiba dari arah lain, keadaan sudah sunyi senyap, tidak tampak lagi bayangan orang tersebut. Rupanya sang "Racun" sadar bahwa tidak mungkin bertahan menghadapi Loh Cu-gi dan Hwehud dengan mengandalkan ilmu silat, sehingga ia membokong dengan racunnya yang hebat lalu menghilang tanpa jejak.

Setelah berlari sejauh sepuluh li lebih, ia mencari sebuah gua dan meletakkan Mo-in Siancu di atas tanah. Sebetulnya luka Mo-in Siancu tidak sedemikian berat hingga tidak bisa bergerak atau berjalan; ia hanya berpura-pura pingsan untuk mencari kesempatan meloloskan diri. Suma Bing sudah terjatuh ke dalam jurang dan kecil kemungkinan jiwanya terselamatkan. Mo-in Siancu masih ingat pesan Suma Bing untuk mengirimkan kabar, dan sakit hatinya harus segera dibalas.

Baru saja "Racun" meletakkan tubuhnya, Mo-in Siancu bergegas bangun, hal ini membuat sang "Racun" berjingkrak kaget. Sudah tentu "Racun" ini adalah duplikat Phoa Cu-giok.

"Kau ini Racun?" tanya Mo-in Siancu dengan heran. Phoa Cu-giok mengiakan. Jika dulu Mo-in Siancu bertanya dengan kasar seperti itu, Phoa Cu-giok pasti tidak sudi menjawab, bahkan mungkin membunuhnya. Namun, sekarang keadaan sudah berbeda, dan karena ia sudah mengetahui asal-usul Mo-in Siancu, ia tidak mengambil hati.

"Kenapa kau menolong aku?" tanya Mo-in Siancu lagi.

"Karena Suma Bing."

"Kenapa pula dengan Suma Bing?"

"Sebab Cianpwe pernah menolong Suma Bing, maka terpaksa Wanpwe harus menyerempet bahaya untuk turun tangan."

"Apa hubunganmu dengan Suma Bing?"

"Hubungan kita sangat erat, maaf, aku tidak dapat menjelaskan."

Mata Mo-in Siancu berlinang air mata. "Dia sudah meninggal," katanya pilu.

"Wanpwe akan menuntut balas untuknya."

"Aku juga pasti menuntut balas, tapi aku harus mengerjakan sesuatu..."

"Apa permintaannya kepada Cianpwe?"

"Ini... dia meminta aku menyampaikan pesannya."

"Racun" berpaling ke mulut gua dengan gelisah. "Bagaimana dengan lukamu, Cianpwe?"

"Tidak menjadi soal!"

"Kalau begitu, Wanpwe mohon diri!" Ia memberi hormat lalu berlari keluar gua.

Dengan pandangan yang tidak habis mengerti, Mo-in Siancu memandangi bayangan orang tersebut menghilang di kejauhan. Perasaan hatinya sulit digambarkan.

Kini, marilah kita ikuti keadaan Suma Bing yang meluncur jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya meluncur semakin cepat, lalu mendadak ia merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat seperti menumbuk sesuatu. Saking kesakitan, ia kehilangan kesadaran. Rasa nyeri yang hebat membuatnya tersadar kembali.

"Eee, kiranya masih hidup!" terdengar sebuah suara serak dan berat.

Saat Suma Bing membuka mata, pertama-tama yang terlihat adalah seorang tua berambut uban yang buta sepasang matanya. Orang tua ini duduk bersila di hadapannya, sementara dirinya terbaring di antara tumpukan tulang-belulang manusia. Sedikit saja ia bergerak miring, seluruh tubuhnya terasa sakit luar biasa seakan tulang-tulang ruasnya copot. Ia hampir jatuh pingsan lagi.

"Sungguh ajaib!" seru orang tua buta itu heran.

Setelah kesadaran Suma Bing pulih sepenuhnya, ia mengawasi orang tua itu dengan tajam. Mulutnya melongo keheranan tak dapat bicara. Dari tempat sedemikian tinggi ia jatuh namun tidak mati, itu sudah suatu keajaiban, namun lebih aneh lagi ada orang yang masih hidup di dalam jurang ini.

"Kudengar dari suaramu, agaknya kau ini seorang bocah cilik, ya?" kata si orang tua. Suma Bing mengiakan, lalu bertanya, "Bagaimana Cianpwe bisa tinggal di tempat seperti ini?"

"Tinggal di tempat ini? Hahahaha..." Nada tertawanya seperti orang gila yang menangis, suaranya sedemikian keras hingga telinga Suma Bing hampir pecah. Dalam batinnya, Suma Bing menilai latihan tenaga dalam orang tua ini tidaklah lemah.

"Entah siapakah nama Cianpwe yang mulia?" tanya Suma Bing.

Orang tua itu membalas tanpa memedulikan pertanyaan Suma Bing, "Buyung, bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam jurang ini?"

"Terpukul jatuh ke mari."

"Kau ini termasuk anak buah bagian mana?"

"Aku... Cayhe bukan anak buah Bwe-hwa-hwe."

"Lalu kenapa bisa..."

"Aku terjebak."

"Kau terjatuh ke sini dan tidak mati itu sudah aneh, hampir saja Lohu..."

"Hampir kenapa?"

"Kusangka kau sebagai hidangan lezat!"

Tanpa terasa Suma Bing merinding. Apakah mungkin orang ini memakan daging manusia untuk bertahan hidup di jurang ini? Serta-merta pandangannya menyapu ke sekeliling. Jurang ini berbentuk lurus seperti sumur, luasnya tidak lebih dari setengah hektar, dengan tulang-tulang putih bertumpuk di mana-mana. Keadaan yang remang-remang menambah suasana menggiriskan dan seram. Baru sekarang Suma Bing merasakan hawa apek hingga hampir muntah saking mual.

"Orang yang kelaparan tidak memilih makanan lagi, kau tahu?" Lalu terdengar bunyi tenggorokan, agaknya ia tengah menelan air liur. "Buyung, Lohu..." Sepasang tangannya yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang meraba ke atas tubuh Suma Bing.

Semangat Suma Bing serasa terbang. Luka dalamnya sangat berat ditambah luka luar, apalagi jalan darah dan urat nadinya tertutup sehingga ia tidak kuasa untuk meronta, bahkan sekadar membalikkan tubuh pun tidak bisa. Hanya ada rasa ketakutan yang mencekam hatinya. Darah seolah berhenti mengalir. Dengan gemetar ia memaki, "Tua bangsat, berani kau!"

Si orang tua seolah-olah tidak mendengar. Kedua tangannya terus meraba dan memijat-mijat seluruh tubuh Suma Bing. Mendadak ia menarik tangannya sambil berseru kejut, "Buyung, tidak heran kau tidak sampai mati!"

Suma Bing menghela napas lega. "Apa kata Cianpwe?"

"Ajaib, aneh bin ajaib!"

"Ajaib? Apanya yang ajaib?"

"Lwekangmu sangat tinggi, tentu jarang tandingan di dalam Bu-lim. Urat nadimu tertutuk oleh cara memutuk nadi dan menutup hawa murni, dan oleh karena inilah malah melindungi jalan darah jantungmu yang terpenting, hingga dari ketinggian sekian ini kau tidak mampus terpelanting."

Jantung Suma Bing berdebur keras. Tak disangka, sekali raba, orang tua buta aneh ini dapat mengetahui bahwa urat nadinya tertutuk buntu. Agaknya orang tua ini bukan tokoh sembarangan. Sekuntum bunga harapan tumbuh dalam hati kecilnya yang sudah putus asa. Jika orang tua ini mengetahui seluk-beluk tentang menutup urat nadi, tentu ia juga paham cara membukanya. Namun, siapakah dan tokoh macam apakah orang tua ini? Kenapa ia terjatuh ke dalam jurang ini hingga menjadi cacat? Puncak dari atas jurang ini adalah Panggung Hukuman Bwe-hwa-hwe; bukan mustahil ia salah satu pesakitan yang dijatuhi hukuman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment