Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 160

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 160

"Buyung, apakah kau masih ingin hidup?" mendadak orang tua itu bertanya. Suma Bing tersentak kaget, "Apa maksud ucapan Cianpwe ini?"

"Kalau kau masih ingin hidup, Lohu dapat membuka urat nadimu yang buntu, tapi..."

"Apa syaratnya?"

"Mungkin tak urung kau juga harus mati. Ketahuilah, dinding jurang yang curam setinggi ratusan tombak ini, seumpama kera pun jangan harap dapat memanjat naik."

"Hal itu Wanpwe dapat mencobanya!" seru Suma Bing girang sekaligus terharu.

"Baiklah, biarlah Lohu bebaskan penderitaanmu ini." Sambil berkata, segera jarinya bergerak menotok dengan cepat. Begitu hawa murni dalam tubuh Suma Bing terbuka, terasa hawa murni seperti air dalam bendungan yang jebol melanda keluar bagai air bah.

Dalam sekejap saja hawa itu mengalir dan memenuhi seluruh tubuh. Rasa kesakitan yang menyiksa badan sekian lama seketika hilang seluruhnya. Tergesa dia bangkit berdiri, sementara orang tua buta itu menarik kembali jari-jarinya.

"Buyung, kau harus berobat." Suma Bing menurut. Segera dia duduk di atas tanah dan mengheningkan cipta, mengerahkan tenaga untuk mengobati luka dalamnya. Kiukang dan Giokkang adalah dua unsur ilmu silat yang tiada bandingannya di jagat ini.

Tak sampai setengah jam kemudian, semangat dan kesegaran tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, bahkan kesegaran badannya bertambah lipat ganda. Begitu sepasang matanya dibuka, seluruh keadaan dalam jurang itu dapat dilihatnya dengan jelas. Pemandangan semacam ini sungguh sangat seram dan mengerikan; di mana-mana terlihat mayat bergelimpangan tanpa ada tempat yang kosong.

Terdengar orang tua buta itu berseru memuji, "Buyung, hebat benar Lwekangmu."

Segera Suma Bing membungkuk memberi hormat, "Sungguh tak ternilai besarnya budi Cianpwe ini. Adakah keperluan yang harus Wanpwe lakukan?"

"Buyung, apakah kau punya pegangan untuk terbang keluar dari jurang sumur ini?"

"Mungkin tidak terlalu sulit!"

"Bagus, susah payahku tidak sia-sia, matipun aku dapat tersenyum!"

"Sudah tentu Wanpwe akan berusaha menolong Cianpwe keluar dari tempat ini..."

"Tidak perlu lagi!"

"Tidak perlu? Cianpwe..."

"Sepasang mata Lohu sudah buta, urat nadi kakiku juga sudah putus. Masa ada muka aku muncul lagi di muka umum?"

Suma Bing terperanjat, tanyanya, "Apa Cianpwe teraniaya...?"

Rambut uban orang tua buta itu mendadak berdiri tegak, giginya berkerot gusar, desisnya, "Buyung, kuminta kau melakukan sesuatu untukku!"

"Wanpwe wajib melakukan!"

"Bagus, kau harus menuntut balas untukku!"

"Harap tanya siapakah musuh itu..."

"Mengandalkan Lwekangmu sekarang, itu sudah cukup berlebihan. Sungguh Tuhan Maha Pengasih!"

"Siapakah musuh besar Cianpwe itu?"

"Dia termasuk murid keponakanku. Dengan jarum emas, kedua mata Lohu ini ditusuk hingga picak (buta), urat nadi kakiku juga dipotong, terus diterjunkan ke dalam jurang sini. Sampai sekarang sudah tujuh hari lamanya. Siapa nyana, di tempat seperti neraka ini aku bisa bersua dengan bocah seperti kau."

"Siapa dan apakah nama julukan orang itu?"

"Sesepuh Ketua Bwe-hwa-hwe, Loh Cu-gi!"

Berdebar hati Suma Bing, tanyanya gemetar, "Loh Cu-gi?"

"Ya. Kau sendiri sampai terjatuh kemari, tentu juga..."

"Siapakah nama Cianpwe?"

"Akulah Pek-bin-mo-ong!"

Suma Bing berjingkrak mundur saking kaget seperti disambar geledek. Siapa nyana orang tua buta dan cacat kedua kakinya ini kiranya adalah Raja Iblis Seratus Muka yang sangat diharapkan untuk dilenyapkan. Agaknya Pek-bin-mo-ong merasakan keganjilan sikap Suma Bing yang mendadak berubah, tanyanya heran, "Buyung, ada apakah?"

Dalam waktu singkat Suma Bing tak kuasa menjawab. Orang tua ini adalah musuh besarnya, tapi juga penolong jiwanya.

"Eh, ada apakah?" tanya Pek-bin-mo-ong sekali lagi.

Kata Suma Bing dingin, "Menyamar sebagai Sia-sin kedua, Suma Bing, menipu Kiukang dari Perkampungan Bumi, mencuci bersih dengan darah seluruh Bu-khek-po, merampas Kipas Pualam dan membunuh tiga Tianglo serta lima pelindung partai Ngo-bi-pay, merebut Ceyap dan membunuh Sijin..."

Mendadak Pek-bin-mo-ong bangkit berdiri, tapi karena kedua kakinya sudah cacat dia jatuh terduduk lagi, serunya kejut, "Buyung, kau tahu semua?"

"Sudah tentu aku tahu, karena akulah Suma Bing tulen!"

Badan Pek-bin-mo-ong limbung hampir roboh, wajah tuanya bergetar berkerut-kerut, saking terharu mulutnya menggumam entah apa yang diucapkan. Untuk melenyapkan Pek-bin-mo-ong sekarang ini bagi Suma Bing segampang membalikkan tangan, tapi orang tua ini tadi telah menolong jiwanya. Berarti dirinya berhutang budi, apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang tua yang buta dan cacat. Mimpi pun dia tidak menduga bakal bertemu dengan musuh besar yang selalu dicarinya di dalam jurang seperti neraka ini.

Kata Pek-bin-mo-ong dengan lesu dan patah semangat, "Jalan Tuhan itu memang lurus, ke mana-mana juga akhirnya bertemu. Suma Bing, bolehlah kau turun tangan."

Lama sekali baru Suma Bing menghela napas dan berkata, "Dendam dan budi saling impas, berarti di antara kita sudah tiada utang-piutang lagi. Tapi seperti yang pernah kuucapkan tadi, betapapun, aku tetap akan membawamu keluar dari tempat ini."

"Suma Bing, mengandalkan ucapanmu ini, baiklah Lohu mendoakan supaya daun jatuh kembali ke akarnya. Lohu sudah bertekad untuk tetap tinggal di sini selamanya."

Suma Bing merasa serba kikuk dan tak enak; bagaimana pun jiwanya telah tertolong oleh orang tua cacat ini, maka katanya, "Tuan benar-benar sudah bertekad demikian?"

"Suma Bing, usia Lohu sudah hampir seabad, apalagi yang perlu diberatkan? Lohu seorang yang dekat dengan liang kubur, namun aku masih ingin mengetahui suatu rahasia."

"Tentang apakah itu?"

"Apa benar kau telah memperoleh Pedang Darah dan Bunga Iblis?"

Tergerak hati Suma Bing, setelah mengiakan, dia balas bertanya, "Benda-benda pusaka yang telah Tuan peroleh itu, apakah semua terjatuh ke tangan Loh Cu-gi?"

Sekian lama Pek-bin-mo-ong merenung, lalu ujarnya kalem, "Betapa jaya dan tenar nama Lohu selama ini, sudah malang melintang melakukan berbagai pekerjaan besar, siapa nyana dalam usia yang sudah lanjut ini malah terjungkal di tangan Loh Cu-gi binatang itu. Mungkin inilah yang dinamakan hukum alam. Memang Kipas Pualam dan Daun Giok Ungu telah berada di tangan manusia serigala itu."

"Lalu Kiukang di mana?"

Tubuh Pek-bin-mo-ong bergetar semakin keras, wajahnya juga berkerut-kerut, desisnya dengan penuh kebencian, "Karena soal buku itulah maka mata Lohu dibutakan serta diputus urat nadi kedua kakiku ini, terus diterjunkan ke dalam jurang ini."

Sampai di sini dia menelan ludah lalu melanjutkan penuturannya, "Besar tekad Loh Cu-gi hendak mempersatukan Kiu-im Cin-keng dengan Kiukang supaya dapat terlatih ilmu kombinasi yang dinamakan Bukang Hehe. Manusia berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Setelah Lohu memperoleh Kiukang itu, tak lama kemudian telah hilang lagi..."

Keruan berdebar hati Suma Bing, Kiukang adalah benda peninggalan leluhur dari Perkampungan Bumi yang paling berharga dan tak ternilai. Hatinya menjadi gugup dan bertanya, "Siapakah yang telah memperolehnya?"

"Pek-kut Hujin!"

Suma Bing menghela napas lega, Pek-kut Hujin adalah duplikat penyamaran bibinya. Kalau buku itu terjatuh ke tangannya, seperti juga dirinya sendiri yang telah merebutnya kembali.

Kata Pek-bin-mo-ong lagi, "Loh Cu-gi menyangka Lohu sengaja hendak mengangkangi Kiukang itu, maka tak segan-segan dia turun tangan keji terhadapku."

Diam-diam Suma Bing memaki dalam hati, "Bangsat durjana yang kejam telengas!" Pek-bin-mo-ong adalah suheng dari mertuanya, Pek-chio Lojin, sedemikian tega dia turun tangan.

Tiba-tiba dari tumpukan tulang-tulang di sebelah sana menonjol keluar sebuah benda putih yang berkilauan. Segera Suma Bing maju mendekat dan memungutnya. Seketika hatinya dingin dan berkeringat seluruh tubuhnya. Itulah seruling batu giok milik Mo-in Siancu, kalau seruling ini terjatuh ke sini pasti keselamatannya juga dalam bahaya. Karena batinnya ini, dia merasa tak dapat mengabaikan waktu yang sangat berharga meskipun hanya sedetik jua. Cepat-cepat dia kembali ke depan Pek-bin-mo-ong dan katanya, "Tuan, setulus hati aku berkata, tetap aku ingin berdaya untuk membawa Tuan keluar dari tempat yang mengenaskan ini."

"Kuucapkan banyak terima kasih dan kuterima kebaikanmu ini, tapi tak usahlah!"

Melihat orang tua ini berkukuh, Suma Bing tidak enak terlalu memaksa, maka katanya, "Kalau begitu, Cayhe segera akan pergi!"

"Ya, nanti dulu. Lohu masih hendak berkata: Loh Cu-gi sudah memiliki semua kedok penyamaranku, binatang itu sangat licik dan telengas, kau harus selalu meningkatkan kewaspadaanmu, jangan lena sedetik pun!"

"Terima kasih akan petunjuk ini!" ujar Suma Bing terus memutar badan.

Brak!

Terdengar sebuah suara lalu disusul benda berat yang jatuh ke tanah. Waktu Suma Bing berpaling, seketika dia terkesima di tempatnya. Kiranya Pek-bin-mo-ong telah bunuh diri dengan memukul hancur batok kepalanya sendiri.

Setelah ragu sekian lama, lalu dia mengeduk tanah di dasar jurang itu untuk memendam jenazahnya dan membangun sebuah batu nisan yang bertuliskan: "Tempat Istirahat Pek-bin-mo-ong", enam huruf dengan ukiran jari tangannya.

Setelah semuanya selesai, baru dia mulai menjelajah seluruh dasar jurang itu. Agaknya selain dirinya tiada orang lain yang baru terjatuh ke dalam jurang ini. Maka dia mendongak mengawasi dinding jurang yang curam, menurut taksirannya tingginya ada dua ratusan tombak. Tempat ketinggian seperti ini bagi kaum persilatan umumnya sudah sangat melampaui kemampuan dari seseorang yang betapa hebat pun ilmu silatnya. Tapi lain halnya bagi Suma Bing yang membekali diri dengan ilmu sakti mandraguna; betapapun dia akan berdaya mencapai ke puncak.

Begitulah sambil bersuit panjang, tubuhnya mendadak melejit tinggi ke tengah udara. Sekali meluncur lima puluh tombak telah dicapainya, begitu daya luncurannya hampir habis, cepat-cepat ujung kakinya menotol dinding batu, maka tubuhnya melenting lagi lebih tinggi. Di tengah udara dia berjumpalitan dengan gayanya yang sangat indah, terus membalik lagi mendekat dinding dan sekali totol tubuhnya melesat lagi tiga puluh tombak. Setelah tiga empat kali jumpalitan, dalam sekejap mata saja tubuhnya sudah meluncur turun dan hinggap di atas panggung hukuman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment