Chapter 161
Tatkala itu sang surya sudah tenggelam di peraduannya, sang malam mulai datang, keadaan bumi alam ini mulai remang-remang.
Darah dan mayat masih bergelimpangan di mana-mana menambah suasana semakin seram dengan bau anyir darah lagi.
Mendadak Suma Bing bergelak tawa, tawa yang penuh mengandung hawa membunuh dan ejekan. Dia tengah mengejek dan menertawakan hari kiamat Bwe-hwa-hwe yang telah datang di ambang pintu. Dia merasa menang dan puas bahwa berulang kali dia sudah lolos dari lubang jarum, secara aneh dan ajaib dia hidup kembali dari alam maut kematian. Lalu dia memeriksa setiap jenazah yang bergelimpangan dan girang, karena dia tidak menemukan jenazah Mo-in Siancu.
Begitu cepat tubuhnya meluncur tinggi ke puncak sebelah kiri sana. Di tempat inilah dia dan Mo-in Siancu lolos dari kepungan dalam ruang bawah tanah itu. Pintu rahasia itu kini telah hilang dan susah ditemukan lagi.
Baru saja dia sampai di atas, lantas terlihat olehnya di kejauhan sana bara api yang menyala-nyala tinggi menembus angkasa. Malah lapat-lapat terdengar pula teriak dan seruan gegap gempita, agaknya di sebelah sana tengah terjadi pertempuran sengit.
Sungguh terkejut dan heran ia dibuatnya, karena tempat kebakaran itu adalah Markas Besar Bwe-hwa-hwe.
Siapakah yang telah dapat memecahkan barisan Imheng-tin dan melepas api di markas besar Bwe-hwa-hwe ini? Dari gemuruhnya teriakan pertempuran dapat dipastikan bahwa orang yang menyerbu datang itu jumlahnya amat banyak.
Tiada waktu lagi bagi Suma Bing merenungkan tindakan apa yang perlu dilakukan.
Dia harus cepat-cepat bertindak supaya tidak kehilangan kesempatan untuk menuntut balas.
Setelah mencari arah tujuannya, secepat anak panah tubuhnya melesat ke arah bangunan gedung-gedung yang tengah dimakan api itu.
Semakin dekat suara pertempuran semakin jelas, jerit dan pekik yang mengerikan terdengar di mana-mana.
Api berkobar semakin besar dan mengganas semakin hebat.
Beberapa bayangan manusia menyongsong kedatangan Suma Bing. Sekilas didapati jubah para pendatang ini bersulam Bunga Bwe besar, maka tanpa banyak bicara lagi, sekali tangan diayun para pendatang itu disapu jungkir balik.
Daya luncuran tubuhnya terus melaju semakin cepat. Ketika suara jeritan para korbannya itu terdengar, tubuhnya sudah meluncur jauh hingga ke gelanggang pertempuran.
Darah mulai membanjir di tanah, mayat bergelimpangan dan bertumpuk di mana-mana, bayangan berkelebatan, sinar berkedip-kedip dari kilauan senjata yang tertimpa sinar api seperti bintang-bintang menari-nari di angkasa.
Tanpa bersuara Suma Bing tiba di pinggir gelanggang pertempuran, dia harus meneropong dulu situasi pertempuran ini.
Pertama-tama dilihatnya di antara berkelebatnya bayangan pertempuran itu ada beberapa bayangan seragam putih yang timbul tenggelam. Itulah dua belas Rasul Penembus Dada.
Malah dia melihat pula Cohpit dari Perkampungan Bumi. Agaknya tidak sedikit pula para kerabat dari Perkampungan Bumi yang ikut datang menyerbu. Justru yang mengherankan, di antara sedemikian banyak orang yang ikut bertempur tidak sedikit pula terdapat orang-orang dari golongan suci.
Terdengar suara terkekeh tawa orang laksana gembreng berbunyi. Suma Bing memandang ke arah datangnya suara, matanya menjadi terbelalak.
Terlihat olehnya Siaulo tengah mengepung ketat Hwehud. Ternyata mengandalkan tenaga gabungan Ngo-lo masih terdesak sedemikian hebat sehingga mereka harus berputar-putar seperti sedang menari, sejurup pun mereka tidak mampu balas menyerang.
Akhirnya dia menjadi paham, bukankah Hwehud adalah murid murtad dari Siau-lim-si? Nafsu kekejian Suma Bing semakin tebal. Sekali meluncur langsung dia menubruk masuk ke dalam gelanggang pertempuran.
Begitu tangan dan kakinya bergerak, segera terdengar lolong kesakitan dan jerit kematian saling menyusul.
Bayangan manusia saling roboh bergantian, darah dan anggota tubuh yang tidak lengkap lagi beterbangan ke empat penjuru.
Kini sorot mata semua orang tertuju ke arah Suma Bing.
Maka gegap gempitalah seruan kegirangan: "Tuan muda!" "Huma!" "Suma Siauhiap!" "Siau-sicu!" Mata Suma Bing merah membara seperti kesetanan. Kaki tangannya terus bergerak seperti harimau mengamuk di antara gerombolan kambing, siapa saja yang berada di hadapannya pasti roboh tanpa ampun.
Demikianlah tubuhnya timbul tenggelam di tengah gelanggang pertempuran, dari barat ke timur dari selatan ke utara. Ke mana pun dia lewat, darah dan daging manusia pasti tercabik-cabik beterbangan diselingi jeritan yang memekakkan telinga.
Yang membuat hatinya heran ialah sejauh itu dia masih belum melihat bayangan Loh Cu-gi, musuh besar utama yang harus mampus.
Sekonyong-konyong terdengar gelak tawa yang menusuk telinga diselingi seruan tertahan seperti orang muntah-muntah.
Kiranya Siau-lim-ngo-lo masing-masing sudah menyemburkan darah segar, dan serentak terkapar di atas tanah.
Sekali melenting Suma Bing meluncur menubruk ke arah itu: "Minggir!" Demikian hardiknya, suaranya tidak keras tapi menggetarkan semangat setiap hadirin.
Hwehud mendelik terbelalak, serunya terkejut: "Bedebah, kau tidak..............." Sebelum habis ucapannya, kedua tangan Suma Bing sudah menghantam tiba membawa kekuatan bagai runtuhnya gunung terus merangsang ke atas tubuhnya.
Selicin belut, Hwehud menggeser beberapa kaki ke samping.
Bagai orang gila yang kesurupan laksana bayangan yang selalu mengikuti bentuknya, Suma Bing terus menyerbu dengan hebatnya, sekaligus dilancarkan delapan belas kali pukulan.
"Brak!" diselingi dengus yang aneh seperti babi hendak disembelih, sontak tubuh Hwehud terhuyung-huyung sambil memuntahkan darah segar.
"Serahkan jiwamu!" Dengan gerak kilat, sekali cengkeram tahu-tahu Suma Bing sudah menyekal pergelangan tangan lawan dan sekaligus tangan yang lain diangkat mengepruk ke atas kepala.
Mendadak dia teringat sesuatu dan cepat-cepat menarik balik tangannya, lantas berpaling dan menggapai kepada tertua dari Siaulo, serunya: "Taysu, mari kuserahkan kepadamu!" Habis berkata tubuhnya terus berkelebat menghilang.
Sambil mengucap sabda Buddha, Ngo-lo segera menubruk maju meringkus murid murtad yang jahat itu.
Sebuah bentakan yang nyaring dan sangat dikenal terdengar dari pojok yang agak gelap sana.
Begitu cepat Suma Bing melejit ke arah datangnya suara.
Di sana terlibat dua orang tengah bertempur sengit. Pihak musuh adalah Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong, sedang lawannya adalah seorang perempuan yang bukan lain adalah istrinya, yaitu putri dari Perkampungan Bumi, Pit Yau-ang.
"Adik Ang, minggirlah!" "Engkoh Bing, kaukah itu!" teriak Pit Yau-ang kegirangan sambil menyurut mundur.
Begitu melihat Suma Bing muncul, serasa gentar jiwa Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong. Begitu memutar tubuh terus hendak lari.
"Lari ke mana kau?" Bagai bayangan setan Suma Bing berkelebat menyergap di hadapan Chiu Thong terus mencengkeram dada lawan.
"Blang!" Telak sekali pukulan Chiu Thong yang dahsyat menghunjam di dada Suma Bing, namun sontak dia tertolak sempoyongan oleh tenaga sakti pelindung badan Suma Bing. Tangannya sakit seperti tulangnya hancur lebur. Sedikit lengah dan terkesima, tangan Suma Bing sudah mencengkeram dadanya terus dijinjing tinggi...
Serentak pada saat itu juga delapan sinar berkilau dari ujung pedang menusuk dan membabat tiba. Pit Yau-ang menghardik keras terus menubruk maju menghalangi serangan yang membokong ini. Begitu lengan bajunya dikibaskan, sekaligus empat batang pedang terpental serong ke samping, sedang empat bilah pedang lainnya tak urung masih tetap menyelonong ke punggung Suma Bing.
Sudahlah tentu Suma Bing tidak berdiam diri saja dilubangi tubuhnya. Begitu tangan lainnya membalik dan diayun, jeritan yang ngeri dari empat orang yang bersamaan semakin meributkan suasana yang memang gaduh itu.
Mereka terpental terbang jauh dan entah bagaimana nasibnya. Hal ini membuat Pit Yau-ang terguncang, terkejut, dan terkesima.
Wajah Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong, pucat pasi, tubuhnya gemetar dan lemas seperti tidak bertulang lagi.
"Di mana Loh Cu-gi berada?" tanya Suma Bing beringas dan gusar. "Tidak tahu!" terdengar suara dari mulut Chiu Thong yang gemetar.
Sambil mengertakkan gigi, sekali tarik dan membetot, Suma Bing menanggalkan lengan kiri Chiu Thong dari badannya.
Sontak Chiu Thong memekik kesakitan seperti babi hendak disembelih. Wajahnya mengerut dan berkerut-kerut saking menahan sakit.
Wajah Suma Bing sudah berubah hitam membesi.
Sepasang matanya memancar buas seperti serigala yang kesetanan, tanyanya lagi: "Katakan tidak?" Saking kesakitan Chiu Thong menjadi nekat dan membandel, "Tidak!" suaranya serak lirih.
"Bagus!" Tanpa ragu-ragu telapak tangan Suma Bing mengepruk batok kepala musuh bebuyutan ini. Sambil menjerit seram, Chiu Thong terkapar di tanah, badannya hancur lebur menjadi tak berbentuk.
"Engkoh Bing, aku............aku terlalu girang, sungguh tidak menyangka..............." Dua butir air mata mengalir membasahi pipinya, dia menangis karena sangat gembira, "Adik Ang, segala persoalan nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku harus menemukan Loh Cu-gi!" Tanpa memedulikan istrinya lagi dia terus berlari ke luar gelanggang pertempuran.
Suma Bing sudah menjelajah ke empat penjuru. Ke mana pun dia pergi dan melihat anak buah musuh, semua dibunuhnya tanpa ampun.
Sekonyong-konyong sebuah bayangan menyongsong datang dan berseru gugup: "Suma Bing, lekas ikut aku!"
Sebenarnya Suma Bing sudah bersiaga hendak menyerang. Begitu mendengar suara orang, sedikit terkejut dia menarik kembali tenaganya. Bentuk tubuh orang ini memang sangat dikenalnya.
Waktu pertama kali dirinya menerjang masuk ke dalam barisan Imheng-tin tempo hari, justru laki-laki berwajah kuning seperti berpenyakitan ini juga pernah muncul. Hanya wajahnya saja sedikit pun tidak terekam dalam sanubarinya.