Chapter 162
Untuk apa dia meminta dirinya mengikuti dia? Demikian singkat dia membatin. Laki-laki berwajah kuning itu sudah melesat sejauh puluhan tombak; gerakan tubuhnya ternyata sedemikian lincah dan tangkas. Tanpa ayal, Suma Bing segera angkat kaki mengejar dengan kencang. Sekejap mata kemudian, mereka tiba di luar hutan pohon Bwe. Sekali berkelebat, bayangan laki-laki berwajah kuning itu lantas menghilang entah ke mana.
Di dalam hutan sebelah sana terdengar angin pukulan yang membumbung tinggi, debu dan kerikil bergulung ke tengah angkasa. Suma Bing melihat keganjilan ini dan mulai waspada. Diam-diam, dengan langkah ringan, dia maju mendekat memasuki hutan. Tampak seorang laki-laki kekar berjambang bak tengah bertempur sengit dikeroyok dua perempuan. Suma Bing heran dan terperanjat karena kedua perempuan itu tidak lain adalah bibinya, Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok.
Mengandalkan *lwekang* dan kepandaian, Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok ternyata tidak mampu merobohkan laki-laki berewok itu; malah mereka lebih banyak menjaga diri daripada menyerang. Sekilas Tio Keh-siok melirik kehadiran Suma Bing, segera dia berseru kejut, "Suma Bing, kau itu?"
Ong Fong-jui juga tergetar kaget mendengar seruan Tio Keh-siok itu sehingga gerak-geriknya menjadi sedikit lamban. Sepasang mata laki-laki brewok itu memancarkan sinar aneh dan ketakutan; menggunakan peluang ini, segera dia melesat terbang melarikan diri.
"Cegat dia!" teriak Ong Fong-jui keras dan gugup. Namun, gerak tubuh laki-laki berewok itu ternyata secepat kilat; hanya sekali berkelebat saja lantas hilang. Waktu Suma Bing sadar dan memburu dengan kencang sekaligus dia berlari sejauh ratusan tombak, namun bayangan orang sudah tidak terlihat lagi.
Di lain saat, Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok juga sudah mengejar tiba. Kata Ong Fong-jui *gegetun*, "Kalau tahu begini, siang-siang aku harus sudah menggunakan racun."
"Siapakah dia sebenarnya?" tanya Suma Bing heran dan tak mengerti.
"Dia itu Loh Cu-gi," sahut Ong Fong-jui gemas.
Berubah air muka Suma Bing sambil menggerung keras; kakinya sudah melangkah. "Anak Bing," cegah Ong Fong-jui sambil menggapai, "kau takkan dapat mengejar dia. Alat rahasia Bwe-hwa-hwe tersebar di mana-mana, jalan gelap dan jebakan malang-melintang di sana-sini."
Sambil mengertakkan gigi, Suma Bing berkata, "Masa kita harus membiarkan dia lolos?"
"Tentu tidak, namun kita harus menghadapinya dengan perhitungan yang masak."
Sampai di sini, tiba-tiba Tio Keh-siok menyela bicara, "Bukankah kau... kau sudah..."
"Ya, aku terjebak dalam barisan dan tertawan oleh musuh. Akhirnya aku terpukul masuk ke dalam jurang."
"Semua itu kami sudah tahu."
"Oh, kalian tahu dari mana?"
"Kita diberi tahu oleh seorang lelaki yang tidak diketahui namanya."
Suma Bing garuk-garuk kepala penuh tanda tanya. Apa mungkin Mo-in Siancu tidak mati dan menyampaikan pesan itu? Maka tanyanya gelisah, "Yang mengisiki kalian itu seorang perempuan?"
"Bukan, seorang laki-laki berwajah kuning. Kau kenal dia?"
Suma Bing menggelengkan kepala. Bayangan Go-hiangcu yang seperti sangat dikenalnya itu terbayang dalam benaknya; dia semakin heran. Bukankah orang itu pula tadi yang memancingnya ke tempat ini? Tapi bukankah dia seorang pangcu dari Bwe-hwa-hwe? Hal ini benar-benar membuat orang susah menduga dan sulit dimengerti.
Agaknya Ong Fong-jui ingin cepat-cepat mengetahui pengalaman Suma Bing, desaknya, "Coba ceritakan pengalamanmu belakangan ini."
"Untung aku tidak mati terbanting di dalam jurang; ialah di luar dugaan aku bertemu dengan seseorang!"
"Orang macam apakah itu?"
"Dialah Raja Iblis Seratus Muka yang menolong jiwaku."
"Di mana sekarang Pekong itu berada?" tanya Tio Keh-siok berlinang air mata.
Suma Bing menjawab tenang, "Sudah mati."
"Apa, mati? Kau yang membunuhnya?" bentak Tio Keh-siok beringas.
"Bukan! Dia mati bunuh diri."
Agaknya Tio Keh-siok tidak puas sebelum dapat menuntut balas sejak kematian suheng-nya, Sijin, maka desaknya sambil mengerut kening, "Suma Bing, kau sendiri tahu betapa jahat dan kejam sepak terjang Raja Iblis ini. Mengapa kau biarkan dia bunuh diri? Hm, aku paham sekarang, karena dia telah menolong jiwamu, bukan? Bunuh diri? Dapatkah dipercaya?"
"Nona Tio, jangan kau terangsang oleh emosi. Kalau kau berada di dalam kedudukan seperti aku, pasti kau sendiri juga tidak tega turun tangan. Ketahuilah, dia sendiri juga menjadi alat orang lain. Setelah menunaikan tugasnya, dia dibokong dan dicelakai sehingga matanya buta dan kedua kakinya cacat."
"Di manakah jenazahnya?"
"Di dalam jurang di belakang panggung hukuman dalam markas besar Bwe-hwa-hwe. Nona bisa pergi ke sana membuktikan sendiri."
"Sudah pasti aku mesti ke sana," geram Tio Keh-siok menggigit gigi. "Akan kuhancurkan dan kubuang ke mana-mana anggota tubuhnya."
"Pangkal mula dari semua permusuhan ini, algojonya adalah Loh Cu-gi, sedang para anak buah Bwe-hwa-hwe itu cuma pelaksana saja."
"Setelah pertempuran kali ini," sela Ong Fong-jui, "boleh dikata pihak Bwe-hwa-hwe sudah hancur luluh dan porak-poranda."
Bangunan gedung markas besar yang megah itu sudah terbakar habis, pertempuran juga sampai titik penghabisan, namun masih terdengar beberapa kali jerit dan seruan yang mengerikan. Tiba-tiba sebuah bayangan orang kecil bundar dan temok melayang dan meluncur; tiba-tiba dia berteriak keras, "Buyung, sungguh besar dan panjang jiwamu!"
Si pendatang ini bukan lain adalah Simaling Bintang, Si Ban-cwan. Suma Bing terperanjat, serunya, "Cianpwe, kau..."
"Hehe, kau heran kenapa aku simaling tua tidak hancur meledak, bukan?"
"Itu hanya jebakan saja. Cayhe sudah mendapat tahu dari peringatan Phoa Cu-giok, dan sekarang sudah terbukti."
"Phoa Cu-giok?" sela Ong Fong-jui. "Kau bertemu dengan dia?"
"Ya, dia muncul dengan bentuk 'racun diracun', sekejap saja sampai tak sempat untuk bicara barang sekejap jua!"
"Ai, semoga dia tidak mengecewakan pengorbanan cicinya."
Simaling Bintang menggapai kepada Suma Bing dan berkata, "Buyung, mari ikut Lohu menunaikan tugas penting!"
"Tugas penting?"
"Ikut saja tidak akan salah, kalau ada omongan nanti kita bicarakan lagi." Tengah berkata, mendadak dia ingat sesuatu lalu sambungnya lagi, "Simaling Bintang ini kiranya tidak mengecewakan hidupnya, jual beli kami ini ternyata paling lancar."
Kalau Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok menunjukkan rasa girang, sebaliknya Suma Bing garuk-garuk kepala keheranan. Setelah merogoh saku di dalam bajunya, Simaling Bintang mengangsurkan kedua tangan ke hadapan Ong Fong-jui serta katanya, "Daun giok ungu ini harap tolong disampaikan kepada It-hu-cu, ketua Ngo-bi-pay." Lalu dia mengangsurkan sebuah benda lain kepada Tio Keh-siok, katanya, "Kipas pualam ini kembali kepada pemiliknya lagi."
Tio Keh-siok menerima dengan kedua tangannya sambil memberi hormat, ujarnya, "Terima kasih, Cianpwe!"
Simaling tua mengangkat alisnya yang sudah memutih, serunya, "Ah, kerjaan gampang saja, jangan ambil dalam hati!" Lalu ia lempar dua jilid buku kecil ke arah Suma Bing, serunya, "Buyung, sambutlah Kyukeng ini."
Suma Bing sampai terbelalak, hampir dia tidak percaya kalau semua ini kenyataan. Kata Ong Fong-jui setengah memuji, "Maling Bintang Perampok Rembulan, nama ini kiranya tidak omong kosong belaka."
Simaling Bintang berseri tawa, ujarnya, "Semuanya juga berkat bantuan dari dalam."
Suma Bing melengak heran, tanyanya, "Bantuan dari dalam, siapa?"
"Go Hiangcu, laki-laki muka kuning itu. Kau pernah melihat, bukan?"
"Lagi-lagi orang muka kuning itu?"
"Buyung, waktu sudah sangat mendesak. Kalau ada urusan minta saja disampaikan, sebab kita tiada tempo untuk kembali lagi dalam waktu singkat!"
Suma Bing melengang mengawasi Simaling Bintang, hatinya tak mengerti dan penuh tanda tanya. Akhirnya, Simaling Bintang tidak sabaran lagi, katanya sambil membanting kaki, "Lekas, Buyung, kalau tidak, kau akan menyesal sesudah kasep."
Suma Bing manggut-manggut, lalu berpaling menghadap Ong Fong-jui, katanya, "Bibi, harap sampaikan kepada Pit Yau-ang, setelah semua urusan di sini selesai, mintalah dia pimpin anak buahnya kembali ke Perkampungan Bumi, demikian juga para gadis pengikut Ibunda."
Ong Fong-jui mengiakan lalu mengawasi Simaling Bintang, tanyanya, "Cianpwe, sebetulnya terjadi apa lagi?"
Simaling Bintang tertawa misterius, ujarnya, "Kelak kalian akan tahu. Rahasia alam saat ini tidak boleh dibocorkan."
"Cianpwe," ujar Suma Bing gelisah, "Loh Cu-gi itu sempat meloloskan diri."
"Buyung, ikut aku saja tidak akan salah." Tanpa menanti jawaban, ia terus seret tangan Suma Bing lantas berlari kencang masuk ke dalam hutan.
Setelah belak-belok ke kanan kiri, tak lama kemudian mereka sudah keluar dari lingkungan barisan Imheng-tin. Suma Bing menurut saja diseret sekian lama dengan keheranan; hatinya risau dan gelisah. Seperti mencari sesuatu, Simaling Bintang celingukan ke sana ke mari, lalu katanya pasti, "Ke arah sini, mari!"
Sekarang Suma Bing mengintil di belakangnya terus berlari kencang. Meskipun kepandaian Simaling Bintang terpaut jauh dibanding dengan Suma Bing, namun ilmu ringan tubuhnya ternyata hebat sekali. Begitu dikembangkan, tubuhnya melesat bagai meteor terbang. Sepanjang jalan setiap kali sampai di persimpangan jalan, Simaling Bintang tentu membungkukkan tubuh entah memeriksa apa.
Waktu sang malam berganti pagi, mereka sudah berlari sampai ratusan *li* lebih. Simaling Bintang menunjuk sebuah kota yang terlihat tak jauh di depan sana, katanya, "Buyung, mari kita masuk kota tangsel perut dulu. Bagaimana juga, mereka tidak bakal dapat lari!"
Suma Bing sendiri tidak tahu apa yang dimaksud tidak bakal lari, dengan hampa dia mengiakan. Setelah masuk kota, langsung mereka memasuki sebuah rumah makan yang bernama Ko-siu-lau, terus pesan makanan dan minuman. Setelah meneguk secangkir arak, Simaling Bintang berkata, "Ayo gasak semua, jangan melamun saja, kita harus memburu waktu!"
Sambil makan, bertanyalah Suma Bing, "Cianpwe, bagaimanakah kejadiannya semalam?"
"Semua terjadi secara kebetulan. Sebetulnya aku, simaling tua, menuju ke Ngo-bi-san untuk memberi penjelasan tentang penyamaran orang atas dirimu itu. Ternyata si gundul dari Ngo-bi, It-hu-cu, seorang yang bijaksana dan gampang diajak bicara. Kiranya dia mau memberi muka kepada simaling tua ini, mencoret perhitungan dalam hatinya atas dirimu itu."
"Untuk kepentinganku sampai Cianpwe susah payah, wanpwe ucapkan terima kasih!"
"Tidak perlu. Setelah aku turun gunung, ternyata It-hu-cu pimpin tiga puluh anak muridnya yang berkepandaian tinggi menceburkan diri dalam kalangan *kangouw* untuk menyelidiki jejak Pekong."