Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 163

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 163

Kebetulan pihak Siau-lim juga mendapat kabar akan munculnya kembali Hwe-hud, murid murtad di dalam Bwe-hwa-hwe. Maka, di bawah pimpinan Ngo-lo, mereka hendak membekuk murid durhaka ini. Tanpa berjanji sebelumnya, dua rombongan ini lantas bergabung menjadi satu. Sementara itu, bibimu dan pihak perkampungan bumi secara berturut-turut juga mendapat bisikan dari seseorang.

Peristiwa Bwe-hwa-hwe yang memasang jebakan untuk melenyapkan jiwamu juga sudah mereka ketahui, maka buru-buru mereka menyusul dan tiba. Akhirnya, mereka mendapat kabar lagi bahwa kau terjebak dan tertawan musuh. Waktu mereka tengah memikirkan cara untuk menolong dirimu, kebetulan rombongan Siau-lim dan Ngo-bi telah tiba. Yang paling menggembirakan, Tio Keh-siok, gadis jelita itu, juga ikut datang. Di bawah petunjuk Tio Keh-sioklah, dengan mudah mereka menerjang masuk ke dalam barisan Imheng-tin. Peristiwa selanjutnya, kau sudah melihat sendiri!

"Siapakah orang yang memberi bisikan itu?"

"Go-hiang-cu dari Bwe-hwa-hwe, laki-laki bermuka kuning itu!"

"Apa tujuannya dia membantu kita?"

"Siapa tahu!"

Pertanyaan ini mengganjal di dalam sanubari Suma Bing. Apakah tujuan dan maksud perbuatan Go-hiang-cu ini? Selama ini Mo-in Siancu tidak muncul, agaknya dia mengalami bencana. Tutur si maling bintang lebih lanjut: "Laki-laki bermuka kuning itu memberikan kepadaku sebuah peta rahasia, dan sebelumnya dia sudah merusak beberapa alat rahasia sehingga dengan gampang saja aku memperoleh benda-benda pusaka yang telah dikuasai oleh Loh Cu-gi."

Suma Bing manggut-manggut tanpa bersuara, namun hatinya tengah membatin, entah dapat atau tidak cincin iblis dan pedang darah kelak dapat direbut kembali. Cincin iblis terang-terangan berada di tangan Loh Cu-gi, sedang pedang darah berada di tangan Mo-in Siancu. Apalagi kalau Mo-in Siancu mengalami bencana, maka jejak pedang darah itu susah dicari. Begitulah sambil makan dan bercakap-cakap, setelah perut merasa kenyang, terus mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Saking tak tertahan, akhirnya Suma Bing bertanya, "Cian-pwe, sebetulnya kita ini tengah mengejar siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan Loh Cu-gi si durjana itu," jawab si maling bintang di luar dugaan Suma Bing.

"Loh Cu-gi? Apa Cian-pwe sudah tahu ke mana dia pergi?"

"Ada orang yang menunjukkan jalan. Tapi aku sendiri juga belum tahu asal-usul orang ini!"

"Apa mungkin laki-laki bermuka kuning lagi?"

"Tebakanmu betul!"

Dalam bercakap-cakap itu, mereka tiba di persimpangan jalan lagi. Lagi-lagi si maling bintang membungkuk-bungkuk dan celingukan ke sana kemari. Sekali ini, Suma Bing turut memperhatikan dan menemukan sesuatu. Matanya mengikuti gerak-gerik si maling bintang yang saat itu telah berhenti di pinggir jalan. Di hadapannya tampak jajaran batu yang berbentuk bunga bwe, maka tanyanya: "Inikah yang kau cari?"

"Terhitung kau cerdik, batu besar di depan berbentuk bunga bwe ini menunjukkan arahnya, mari jalan!"

Berkobar semangat Suma Bing. Waktu tengah hari, mereka membelok menuju jalanan kecil di alas pegunungan, tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah selat kecil. Di mulut selat, mereka dapati lagi batu-batu yang berbentuk bunga bwe, hanya kali ini kurang sebutir batu yang menunjukkan arah itu. Kata si maling bintang dengan nada berat dan prihatin: "Kita sudah tiba di tempat tujuan."

"Di dalam lembah ini?"

"Begitulah menurut petunjuk rahasia ini."

Rasa dendam dan sakit hati merangsang deras dalam aliran darah Suma Bing. Ujung bibirnya menyinggung senyum ejek yang sinis, dan di balik senyum sinis inilah tersembunyi sifat kebuasan dengan hawa membunuh yang sadis. Betapa sudah dia mengharapkan waktu yang sekian lama dinanti-nantikan ini.

Batu berserakan tak teratur di dalam mulut lembah, pohon-pohon besar juga tidak kurang banyaknya menambah seram suasana yang sunyi ini. Setelah saling berpandangan, Suma Bing dan si maling bintang mengembangkan ilmu ringan tubuh, terus melesat ke dalam lembah. Mendadak di hadapan sana berkelebat sebuah bayangan terus menghilang. Gerak Suma Bing secepat kilat, sekali loncat tubuhnya melenting keras terus menubruk tiba. Agaknya kepandaian orang itu juga tidak lemah, sekali melayang lima tombak dengan mudah dicapainya, terus menghilang ke balik batu.

Sudah tentu Suma Bing tidak rela kehilangan jejak musuh. Bagai bayangan setan, tubuhnya melenting ke tengah udara. Dari ketinggian inilah dia bergerak setengah lingkaran terus menubruk turun, di mana jarinya ditekuk dan ditusukkan, melesatlah angin tusukan jarinya itu. Kontan terdengar jeritan keras, bayangan itu jumpalitan dua kali terus roboh di antara himpitan batu. Waktu Suma Bing hinggap di atas tanah, langsung dia menjinjing tubuh musuh ini. Sementara itu, si maling bintang juga sudah menyusul tiba.

Kiranya bayangan itu adalah seorang pemuda berwajah halus cakap mengenakan seragam hitam yang tersulam bunga bwe di depan dadanya. Gambar putih bunga bwe itu kini sudah berlepotan darah!

"Di mana Loh Cu-gi sembunyi? Katakan!" Suma Bing mengancam dengan bengisnya.

Tiba-tiba pemuda seragam hitam itu mengulurkan jarinya menusuk ke pelipisnya sendiri. Suma Bing sudah tidak keburu mencegah perbuatan yang nekat ini. Si maling bintang menggelengkan kepala, ujarnya: "Agaknya kunyuk ini adalah pengawal pribadi Loh Cu-gi sendiri." Suma Bing mendengus dongkol, terus melemparkan jenazah pemuda itu, katanya: "Loh Cu-gi pasti sembunyi di sekitar sini, dan pasti mereka sudah bersiaga mendengar teriakan yang keras tadi. Mari kita harus bergerak cepat."

Sepuluh tombak kemudian, sebuah bayangan berkelebat menghilang lagi. Begitu mengembangkan ginkang masing-masing, Suma Bing dan si maling bintang berloncatan gesit selincah kera di atas ujung-ujung batu tanpa mengeluarkan sedikit suara. Ketangkasan dan kemahiran yang menakjubkan ini benar-benar harus dipuji. Tatkala itu, di tengah dinding lembah, ada beberapa sorot mata tengah mengamati Suma Bing dan si maling bintang yang tengah berlari lewat.

Itulah sebuah gua yang besar, atau boleh dikatakan sebuah ruangan besar di dalam tanah. Dikatakan ruangan karena perhiasan dan perabot dalam gua ini sedemikian mewah. Mulut atau pintu ruangan ini tertutup oleh alingan batu-batu runcing, jadi sebelum dekat tidak gampang dicari atau ditemukan.

Di tengah ruangan, seorang tua ubanan mengenakan jubah panjang warna hijau tengah duduk dengan angker di atas kursi kebesaran. Kedua sampingnya berdiri tegak tidak kurang lima puluh anak buahnya yang paling setia, tua-muda dan tinggi-rendah tak teratur. Seorang laki-laki berseragam hitam bergegas lari masuk terus berlutut di depan orang tua ubanan itu, serunya: "Lapor sesepuh, musuh sudah menerobos sampai dasar lembah."

"Sudah tahu, mundur!"

Sepasang mata orang tua ubanan ini memancarkan sorot terang yang menakutkan. Pandangannya menyapu seluruh para jagoannya yang berdiri tegak itu, suaranya terdengar dingin menciutkan nyali: "Aneh, Suma Bing si bocah keparat dan si maling bintang bagaimana bisa mengejar sampai di sini, hanya terpaut langkah depan dan belakang."

Keadaan sunyi mencekam hati, tiada seorang yang bersuara menjawab. Berhenti sebentar, suara orang tua ubanan semakin dingin mengancam: "Di antara kita sendiri pasti ada pengkhianat yang menjadi mata-mata musuh!" Sambil berkata, pandangannya menyapu selidik semua hadirin. Agaknya dari mereka ini, ia hendak mendapatkan siapakah yang telah murtad dan mendurhakai perkumpulan. Suasana sedemikian hening lelap, seumpama jarum jatuh juga bisa terdengar. Hampir semua orang dapat mendengarkan jalan pernapasannya masing-masing.

Pandangan yang tajam satu per satu menatap wajah semua orang, terakhir berhenti di wajah laki-laki bermuka kuning. Sikap laki-laki bermuka kuning tetap tenang tanpa berubah air mukanya, namun tak urung sinar matanya menunjukkan rasa takut. Perkataan orang tua ubanan sepatah demi sepatah setajam ujung golok: "Go-hiang-cu, apakah kau adanya?"

Seluruh pandangan semua orang seketika tertuju ke arah laki-laki bermuka kuning yang dipanggil Go-hiang-cu itu. Segera laki-laki bermuka kuning menekuk sebuah lututnya sambil berseru lantang: "Harap sesepuh suka periksa biar betul!"

Orang tua ubanan menyeringai, tanyanya tajam: "Go-hiang-cu, waktu kau masuk menjadi anggota, apakah kau pernah baca sepuluh undang-undang peraturan besar kita?"

Go-hiang-cu mengiakan.

"Apa bunyi nomor tiga?"

"Segala perintah sesepuh harus dijunjung tinggi melampaui segalanya, semua anak murid harus tunduk dan patuh akan perintah ini!"

"Bagus, kalau begitu kau bereskan sendiri jiwamu!"

Laki-laki bermuka kuning berjingkrak berdiri sambil mengangkat kepala serta mundur beberapa langkah, suaranya gemetar membela diri: "Hamba ada melanggar pantangan apa?"

"Lebih baik aku salah membunuh seratus daripada melepas seorang, ini perintah!"

Laki-laki bermuka kuning mundur lagi beberapa langkah. Dari mulut gua terdengar suara jerit kesakitan yang rendah dan berat, sebuah bayangan orang merangkak bergelindingan masuk ke dalam, perkataannya tersenggal di tenggorokannya: "Lapor sesepuh, musuh..."

Belum habis ucapannya, dua bayangan orang sudah berkelebat masuk ke dalam ruangan. Yang datang ini bukan lain adalah Suma Bing dan si maling bintang. Mendadak orang tua ubanan bergegas bangun sambil menghardik keras: "Serang dengan sekuat tenaga!"

Seketika terdengar gerungan dan bentakan riuh rendah, angin pukulan bergulung-gulung menerpa ke arah pintu ruangan besar. Suma Bing berteriak keras: "Serahkan jiwa kalian!"

"Membuka langit menutup bumi," jurus ketiga dari Giokkang dilancarkan dengan hebatnya. Gempuran yang dahsyat membuat seluruh ruangan tergetar hebat sehingga terasa tergonjang-ganjing. Keadaan dalam ruangan sungguh sangat mengenaskan, darah dan daging manusia beterbangan ke empat penjuru. Tiga puluhan musuh yang lihai, tiada satu pun yang masih ketinggalan hidup dengan tubuh yang masih utuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment