Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 164

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 164

Dua puluh orang yang masih bertahan hidup berdiri terpaku seperti patung, terkesima dan banyak di antaranya menderita luka-luka. Sepasang mata Suma Bing berkilat menyapu keempat penjuru, mencari jejak Loh Cu-gi.

"Serang!" tiba-tiba orang tua beruban itu memberi aba-aba. Puluhan jagoan yang masih hidup, setelah tertegun sejenak, serempak menyerbu ke arah pintu.

Terdengar Si Maling Bintang berseru gelisah, "Buyung, anjing tua beruban itulah!" Hati Suma Bing tergerak; kedua tangannya direntangkan dan bergerak secepat kilat sambil melesat masuk ke dalam. Jeritan dan teriakan terdengar bersahutan saat puluhan orang melayang nyawanya di tangan Suma Bing.

Mendadak sebuah suara terdengar, "Loh Cu-gi, menyerahlah saja!" Suma Bing terhenyak di tempatnya. Orang yang berbicara itu tidak lain adalah Go-hiangcu yang berwajah kuning. Pada saat itu pula, orang tua beruban tersebut bergerak cepat; sekali raih, ia mencengkeram tengkuk lelaki bermuka kuning itu, lalu mundur mepet ke dinding.

Sementara itu, Si Maling Bintang tengah berkelahi sengit melawan anak buah Bwe-hwa-hwe. Kini Suma Bing mengerti segalanya. Matanya mendelik tajam menatap orang tua beruban itu, lalu mendesis, "Loh Cu-gi, hari akhirmu sudah tiba. Gunakan darahmu untuk menebus dosa-dosamu!"

Orang tua beruban itu tertawa menusuk telinga. Di tengah tawanya, ia perlahan melepas kedok di wajahnya. Tampaklah wajah pria paruh baya yang cakap namun mengandung kekejaman yang sadis. Tidak salah lagi, dia adalah sesepuh Bwe-hwa-hwe, Loh Cu-gi.

Wajah Suma Bing membeku, memancarkan hawa membunuh yang tebal. Matanya menyiratkan kebencian yang menciutkan nyali. Sambil maju selangkah, ia berkata, "Loh Cu-gi, kau harus bersedia menerima pembalasan atas segala perbuatanmu." Wajah Loh Cu-gi gemetar dengan gigi berkerotok. Tiba-tiba, ia mengulurkan jari menotok beberapa jalan darah di tubuh lelaki bermuka kuning itu.

Di tengah keluhan yang mengerikan, terjadi suatu keanehan. Seketika wajah lelaki kuning itu berubah hebat; dalam sekejap mata, ia berubah menjadi wajah seorang pemuda yang cakap dan halus.

"Phoa Cu-giok!" teriak Suma Bing kaget. Ia mundur beberapa langkah. Ia tidak menyangka bahwa lelaki bermuka kuning yang dipanggil Go-hiangcu ini ternyata adalah penyamaran Phoa Cu-giok. Teka-teki yang tersimpan sekian lama kini terbongkar seluruhnya. Ternyata, menyamar dan menyelundup ke dalam Bwe-hwa-hwe adalah cara Phoa Cu-giok untuk membantu usaha Suma Bing.

Sementara itu, pertempuran di pintu besar telah selesai; Si Maling Bintang dengan mudah membereskan semua musuhnya. Mendadak Phoa Cu-giok tertawa hambar dan berteriak serak, "Cihu, lekas turun tangan, jangan pedulikan aku!"

"Cu-giok," ujar Suma Bing penuh haru, "kenapa kau harus menyiksa diri?"

Bola mata Loh Cu-gi berputar. Mendadak ia berteriak keras, "Keparat, sambutlah!" Sambil bersuara, ia mengangkat tubuh Phoa Cu-giok dan melemparkannya ke arah Suma Bing. Terpaksa Suma Bing mengulurkan tangan untuk menyambut tubuh adik iparnya itu. Menggunakan peluang tersebut, Loh Cu-gi segera menekan alat rahasia di dinding belakangnya, lalu menyelinap masuk dan menghilang.

Dari samping, Si Maling Bintang memburu dan merebut tubuh Phoa Cu-giok sambil berkata, "Berikan padaku!"

Phoa Cu-giok berteriak tertahan, "Jangan kejar, tunggulah di mulut lembah..."

Suma Bing melepas tangan dan melenting keluar gua secepat kilat. Ia berlari menuju mulut selat, mencari tempat untuk bersembunyi dan menanti dengan sabar. Lahirnya ia tampak tenang, namun hatinya bergejolak keras. Akankah Loh Cu-gi muncul di mulut selat ini sesuai perkataan Phoa Cu-giok? Jika kali ini ia berhasil lolos lagi, mencarinya di kemudian hari pasti akan sangat sulit.

Tiba-tiba, jantung Suma Bing berdetak lebih keras. Sebuah batu besar yang terletak lima tombak dari tempat persembunyiannya bergerak, lalu perlahan menggeser ke samping. Muncul sebuah lubang kecil, dan dari dalamnya melesat bayangan seseorang. Itu adalah Loh Cu-gi.

Baru saja Loh Cu-gi keluar dan celingukan, Suma Bing sudah bangkit menyerbu sambil membentak lantang, "Loh Cu-gi, sudah lama tuan mudamu menunggu di sini!"

Loh Cu-gi terlonjak kaget dan mundur, wajahnya berubah ketakutan, namun matanya masih memancarkan kebencian yang meluap. Tokoh yang pernah menduduki kursi tertinggi di dunia persilatan itu kini tampak ketakutan seperti anjing terjepit.

Suma Bing segera melejit di hadapan Loh Cu-gi untuk mencegah pelarian. Wajah Loh Cu-gi berubah ungu membeku. Tanpa suara, kedua tangannya diangkat dan didorong ke depan. Sinar merah yang mencorong terang meluncur deras. Sekali serangan ini, ia mengerahkan seluruh tenaga Kiukang yang telah dilatihnya dengan sempurna.

Suma Bing melompat mundur sejauh satu tombak lebih, menghindari serangan dahsyat itu. Begitu serangan Loh Cu-gi mengenai tempat kosong, ia segera meloncat mundur ke belakang.

"Mau lari ke mana!" Suma Bing yang sudah siaga segera berputar dan melejit ke arah musuh. Jurus Bintang Menggeser dikeluarkan secepat kilat. Dalam benturan keras tersebut, Loh Cu-gi terpaksa mundur lima langkah. Tanpa memberi celah, Suma Bing merangsek dengan pukulan berantai. Angin badai membumbung tinggi ke angkasa. Di bawah tekanan yang hebat, Loh Cu-gi menjadi mati kutu dan tak mampu membalas.

Saking bernafsu, Suma Bing melancarkan sepuluh jurus dan empat puluh delapan pukulan. Kewalahan, Loh Cu-gi akhirnya terpaksa menggunakan cincin iblis yang direbutnya dari Suma Bing tempo hari. Cincin iblis adalah benda pusaka milik Lam-sia yang sangat ampuh. Dengan mengandalkan kekuatan latihan Loh Cu-gi, sorot sinarnya menjadi sangat mematikan.

Suma Bing mengerahkan seluruh kekuatan Giok-ci-sin-kang. Pertempuran hidup dan mati itu berlangsung di antara semak belukar, mengejutkan margasatwa di hutan sekelilingnya. Keduanya mengerahkan segala tipu daya dan tenaga dahsyat. Dua ratus jurus kemudian, pancaran sinar cincin iblis Loh Cu-gi semakin suram. Kekuatan cincin itu bergantung pada tenaga murni si pemakai, dan Loh Cu-gi mulai payah serta terdesak.

Dua bayangan muncul dari balik batu. Mereka adalah Si Maling Bintang yang menggendong Phoa Cu-giok yang terluka berat. Mendadak Suma Bing berteriak keras, "Roboh!" sambil mengerahkan seluruh tenaganya untuk jurus Membuka Langit Menutup Bumi.

Loh Cu-gi memekik seram. Tubuhnya tergulung oleh badai pukulan Suma Bing dan melayang sejauh tiga tombak sebelum terbanting ke tanah dengan keras hingga menyemburkan darah. Gembong penjahat itu mencoba bangkit kembali, namun Suma Bing sudah kembali membentak dan menjojohkan tangan tepat ke dada lawan.

Loh Cu-gi terhuyung dan jatuh terduduk tanpa bergeming. Suma Bing mendekat dengan wajah penuh kemenangan, mendesis sambil mengertakkan gigi, "Loh Cu-gi, hukum alam tak memberi ampun bagimu."

Loh Cu-gi melolong sedih, tangannya diangkat untuk memukul batok kepalanya sendiri. Sigap, jari Suma Bing menyentil, mengeluarkan dua jalur angin keras. Tangan Loh Cu-gi seketika lemas.

"Loh Cu-gi, semudah itukah kau hendak mengakhiri dosamu?"

"Keparat, apa yang hendak kau perbuat!"

"Akan kubikin darahmu habis setetes demi setetes, supaya jiwamu amblas perlahan."

Loh Cu-gi meronta, namun tubuhnya roboh kembali. Suma Bing mencengkeram dadanya dan menjinjingnya tinggi-tinggi. Sebuah lolong mengerikan memecah kesunyian alam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment