Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 165

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 165

Di pegunungan, lengan kanan Loh Cu-gi yang mengenakan Cincin Iblis dibetot putus dari badannya seperti membetot pupu ayam. Inilah pertunjukan yang paling seram, kejam, dan mengerikan.

Dari jari yang sudah terputus itu, Suma Bing menanggalkan Cincin Iblis miliknya, lalu menotok pundak Loh Cu-gi untuk mencegah darah mengalir deras. Dengan nada seram menakutkan, ia berkata, "Loh Cu-gi, kau menghina dan mencelakai guru serta mendurhakai leluhur. Lenganmu ini terhitung sekadar sebagai penebus dosa kepada perguruan." Tubuh Loh Cu-gi berkelejotan, wajahnya pucat pasi tanpa darah.

Teriakan yang menggetarkan sanubari terdengar lagi; lengan kiri Loh Cu-gi pun dipuntir putus. "Dengar, kau mencelakai Suci Sim Giok-sia, membunuh Tiang-un Suseng Pho Jiang, menyebar kejahatan, dan menyebar maut di kalangan Kangouw. Di mana-mana kau menimbulkan gelombang pertengkaran dan keributan. Kematianmu ini masih belum cukup untuk menebus segala dosamu. Biarlah lenganmu ini menjadi barang tanggungan."

Jika dadanya tidak dicengkeram oleh Suma Bing, tentu Loh Cu-gi tidak akan sanggup berdiri. Suma Bing merogoh saku baju dan mengeluarkan sebilah senjata tajam yang berkilau memancarkan sinar dingin. Ia mengejek, "Sungguh tak diduga, kau pun tidak lupa membawa Cundrik Penembus Dada ini." Sambil berkata pelan, tangannya diangkat dengan nada dingin, "Loh Cu-gi, hutang darah di Puncak Kepala Harimau dulu, sekarang..."

"Nanti dulu, anak Bing!" Mendengar seruan ini, tubuh Suma Bing gemetar dan tanpa sadar ia melepaskan pegangannya. Tubuh Loh Cu-gi limbung, terhuyung mundur, lalu roboh telentang.

Seorang perempuan setengah umur yang cantik dengan wajah membeku entah kapan sudah berdiri di belakang Suma Bing. Begitu membalikkan tubuh, Suma Bing segera berlutut dan menjerit sedih, "Bu!" Tak tertahankan, air matanya mengalir deras.

"Nak, bangunlah. Ayahmu pasti tahu di alam baka, dia bisa tentram dan beristirahat di sana." Setelah berkata demikian, Cundrik Penembus Dada di tangan Suma Bing dimintanya, lalu ia beranjak ke depan Loh Cu-gi. Dengan geram ia membentak, "Orang she Loh, apa kau masih ingat akan cundrik ini? Seharusnya kau sudah tahu hari ini pasti akan datang." Tubuh Loh Cu-gi bergetar dan matanya terpejam. Perlahan-lahan San-hon-li Ong Fan-lan menggerakkan cundriknya hingga menusuk telak ke dada Loh Cu-gi.

Tak terdengar jeritan sakit, hanya dengusan putus napas. Kala jiwa seorang gembong sudah padam, ambisi dan ketamakan yang hendak menguasai dunia persilatan pun ikut lenyap. Perkumpulan Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan Bulim juga terhapus dari catatan sejarah.

Simaling Bintang dan Phoa Cu-giok terkesima menonton adegan seram ini. Tanpa mencabut kembali cundriknya, Ong Fan-lan memutar tubuh dengan seluruh badan berkeringat dan menggigil. Wajahnya kembali tenang dan wajar seperti murid sang Buddha yang saleh.

"Bu," panggil Suma Bing sesenggukan.

"Nak," ujar San-hon-li Ong Fan-lan sambil menepuk pundaknya dengan suara tenang, "Baiklah, jaga dirimu. Ibu mendoakan kebahagiaanmu."

Tergetar perasaan Suma Bing, ia berkata, "Bu, sejak saat ini anak akan selalu mendampingi Ibu."

"Tidak, Nak. Kau mempunyai jalan hidupmu sendiri. Kuharap kau berani menyusuri jalan itu sampai ke ujung pangkalnya. Ibu mengucap selamat bertemu kembali..."

Suma Bing meraung menangis seperti anak kecil, ujarnya sedih, "Bu, kau..."

Ong Fan-lan tersenyum pahit, menyela, "Nak, kau sudah dewasa, tentu kau harus memahami maksud ibumu. Ibumu adalah seorang yang sudah berdosa; dosa ini akan kubawa masuk ke liang kubur. Sebelum nyawaku sampai titik penghabisan, aku ingin dengan tenang merenungi dan menebus dosa ini. Nak, selamat bertemu, jangan terlalu banyak kata, Ibu maklum isi hatimu..." Habis berkata, dengan ringan ia melayang pergi bak awan.

"Bu!" pekik Suma Bing sedih. Ia hendak mengejar, namun sebuah bayangan menghalanginya. Dia adalah Simaling Bintang, Si Ban-cwan, yang sejak tadi menonton dari pinggir.

Ia memanggil di luar kebiasaan dengan serius, "Suma Bing, kau tidak boleh..."

"Cianpwe, apanya yang tidak boleh?" senggak Suma Bing sambil sesenggukan.

"Ya, ikutlah ibumu pergi, kalau kau tidak ingin lagi bertemu dengan ibumu kelak."

"Ini, kenapa?"

"Pasti kau belum lupa bahwa ibumu dulu pernah ternoda oleh Loh Cu-gi. Hal itu merupakan noda hitam yang tak dapat dihapus dalam sanubarinya dan takkan terlupakan selama hidupnya. Jangan kau memaksa dia, kalau tidak, kau dapat membayangkan akibatnya."

Baru sekarang Suma Bing tersadar dan berdebar hatinya. "Terima kasih akan petunjuk Cianpwe ini."

"Kuangkapkan selamat akan usahamu yang berhasil menuntut balas ini."

"Bantuan Cianpwe yang besar dan berharga itu selamanya takkan kulupakan."

"Urusan kecil. Simaling Bintang bekerja hanya untuk menentramkan hati kecilnya, tak perlu banyak dipersoalkan. Setelah segala urusan selesai, apakah kau hendak kembali ke Perkampungan Bumi?"

"Wanpwe masih ada satu urusan yang belum selesai."

"Urusan apa?"

"Masih ada seorang musuh besar yang ikut pengeroyokan di Puncak Kepala Harimau itu yang belum kucabut nyawanya."

"Siapa?"

"Thi-koan-im, Lim Siang-hiang!"

"Dia juga ikut?" seru Simaling Bintang terkejut. "Apa kau tahu di mana sekarang Thi-koan-im berada?"

"Apa Cianpwe tahu jejaknya?"

"Secara kebetulan saja Lohu ketahui, siluman yang dulu malang melintang itu kini sudah menjadi pemeluk agama yang saleh."

"Apa? Jadi dia sudah mencukur gundul menjadi pendeta?"

"Tidak salah!"

"Dapatkah Cianpwe memberi petunjuk, dia berada di mana?"

"Dia berada di Pek-jio-gay, Yok-cu-am. Jaraknya kira-kira tiga hari perjalanan."

"Terima kasih akan petunjuk ini."

"Cihu!" panggilan serak dan lemah itu membuat Suma Bing tersentak, hampir saja ia lupa bahwa di hadapannya masih ada Phoa Cu-giok, pemuda yang sudah insaf akan kejahatan yang telah diperbuatnya dulu. Jikalau Phoa Cu-giok tidak menyamar dan menyelundup ke dalam Bwe-hwa-hwe, pasti tidak sedemikian gampang dan lancar ia menunaikan tugas menuntut balas ini.

Suma Bing segera maju bertanya, "Cu-giok, bagaimana lukamu?"

Phoa Cu-giok tertawa getir, ujarnya, "Lwekangku sudah punah seluruhnya."

"Apa? Jadi Loh Cu-gi telah melenyapkan seluruh kepandaianmu?"

"Ya, waktu dia melemparkan tubuhku, sebelumnya dia telah menotok jalan darahku."

Saking geramnya, Suma Bing menggigit gigi sampai berbunyi. Ia berkata sungguh-sungguh, "Cu-giok, penderitaanmu ini karena aku. Selain merasa menyesal, aku bersumpah akan membantumu sekuat tenaga untuk memulihkan Lwekangmu lagi."

"Cihu, tidak perlu lagi..."

"Kenapa?"

"Orang macamku ini seharusnya sejak lama sudah mati!"

"Cu-giok, orang yang sudah insaf masih dapat diampuni. Di alam baka, cici pasti merasa terhibur dan tenteram."

"Budi cici terhadapku, mati seratus kali pun belum menandingi sepersepuluh ribu kebaikannya."

"Cu-giok, yang sudah silam tak perlu disinggung lagi."

"Cihu, hanya untuk menebus dosaku itulah aku menyelundup ke dalam Bwe-hwa-hwe. Kupikir, kalau cici tahu di alam baka, pasti dia senang melihat sumbangsihku ini. Sebetulnya aku dapat menggunakan racun, tapi bila teringat kau harus menuntut balas dan membunuh dengan tanganmu sendiri..."

Suma Bing terharu, tenggorokannya tersumbat dan hidungnya terasa kecut. Entah apa yang tengah dipikirkan, Phoa Cu-giok terlongong-longong mendongak memandangi langit, lama kemudian baru bersuara, "Cihu, kuminta kau mengiringi aku pergi ke Sucwan Barat ke rumah keluarga Thong Ping."

"Betul, kau harus pergi melihat Thong Ping serta putrinya. Dia seorang wanita yang welas asih dan budiman, pasti dia dapat memaafkan segala kesalahanmu dulu."

"Semoga begitu," sahut Cu-giok sambil menunduk. "Cihu, mari kita berangkat."

Suma Bing berpikir sebentar lalu menyetujui. Ia berputar mencabut Cundrik Penembus Dada dari ulu hati Loh Cu-gi, menyeka noda darahnya, lalu menyelipkannya di pinggang. Dengan tajam ia mengawasi jenazah Loh Cu-gi dan berkata, "Loh Cu-gi, serigala dan binatang alas akan membereskan badanmu yang kotor ini."

Simaling Bintang menggeleng sambil menghela napas panjang, "Suma Bing, selamat bertemu kelak, Lohu juga harus pergi."

Suma Bing merasa berat berpisah, katanya, "Cianpwe, hati-hatilah sepanjang jalan. Kalau ada waktu senggang, harap mampir dan berkumpul di Perkampungan Bumi."

Tanpa bersuara lagi, Simaling Bintang menggerakkan tubuhnya yang bulat seperti bola, sekejap saja bayangannya sudah hilang dari pandangan.

Dua hari kemudian, Phoa Cu-giok serta Suma Bing sudah sampai di atas sebuah bukit kecil di luar perkampungan Thong-keh-kip di Sucwan Barat. Kiranya bukit ini merupakan pekuburan bagi keluarga Thong-keh-kip itu. Sambil mengerutkan kening, Suma Bing bertanya, "Cu-giok, apa yang hendak kau lakukan di sini? Bukankah hendak menilik Thong Ping?"

Segera Phoa Cu-giok menunjuk sebuah kuburan yang agak besar dan berkata, "Cihu, inilah tempat istirahat ibu mertuaku."

Suma Bing melengong, hatinya merasa giris.

"Cihu, terima kasih atas kesudianmu berkunjung kemari sejauh ini. Aku ada satu permintaan, harap kau suka memberi muka kepadaku!"

"Permintaan apa?"

"Thong Ping seorang yang harus dikasihani, putrinya juga masih bayi. Kuharap kau suka membantu mengawasi, kuminta kau suka memberi kabar kepada guruku..."

Suma Bing khawatir, tanyanya gugup, "Apa maksudmu ini?"

"Phoa Cu-giok seorang yang paling berdosa di dunia ini, masih ada muka aku hidup terus..."

"Cu-giok, janganlah kau menyia-nyiakan harapan cicimu, dan yang terpenting pertanggungjawabanmu kepada Thong Ping dan anaknya..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment