Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 166

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 166

"Sedikit kesalahanku sehingga aku membunuh ibu mertua; pasti Thong Ping selamanya tidak akan memberi ampun kepadaku. Memang hakikatnya juga tidak bisa dimaafkan. Beruntung keluarga Phoa sudah ada keturunan. Arwah Cici pasti tidak menyesal lagi."

"Cu-giok, janganlah kau lakukan perbuatan bodoh ini."

"Cihu, terhadap kau, aku juga menyesal dan bertobat. Biarlah aku mati untuk menebus kesalahanku itu!"

"Cu-giok..."

"Aku akan minta pengampunan dulu kepada ibu mertua..." Sambil berkata, dia menubruk maju, terus terkapar di depan kuburan.

Suma Bing merasa kaki tangannya membeku linu, keringat dingin membasahi tubuh. Mimpi pun tidak terduga olehnya Phoa Cu-giok benar-benar senekat ini. Waktu diraba denyut nadinya, ternyata napasnya sudah berhenti. Selain menggunakan racun, dia tak berhasil mencari pangkal kematian Phoa Cu-giok yang sedemikian cepatnya.

"Mungkin dia yang benar. Dosanya terlalu besar, seumpama hidup terus juga akan sengsara dan menderita seumur hidup. Ah, sungguh kasihan Thong Ping dan anaknya," demikian Suma Bing menggumam sendiri.

Manusia itu tetap manusia; dia mempunyai perasaan dan mempunyai pikiran. Tak tertahan lagi, Suma Bing mencucurkan air mata tanda ikut berduka cita. Phoa Cu-giok pernah berkata kelak akan memberikan pertanggungan jawabnya kepada Thong Ping, inikah pertanggungan jawabnya?

Pada saat itulah sebuah bayangan tengah berlari terbang mendatangi. Dia bukan lain adalah Thong Ping, istri Phoa Cu-giok yang ditinggal pergi.

"Suma Siauhiap!"

"O, Nona Thong!"

"Dia..."

"Dia sudah mati," kata Suma Bing pilu. "Dia membunuh diri untuk menebus kesalahannya dan minta pengampunan terhadap ibumu."

Wajah Thong Ping berubah pucat. Sambil menjerit panjang, dia menubruk jenazah Phoa Cu-giok terus menangis menggerung-gerung. Lama kemudian, baru Thong Ping menghentikan tangisnya.

Baru sekarang Suma Bing ada kesempatan membuka mulut, "Nona Thong, aku tahu kau tetap mencintainya, tapi memang hanya itulah jalan satu-satunya yang harus dia tempuh."

Thong Ping berusaha menekan perasaannya. Sambil menyeka air mata, dia berkata, "Suma Siauhiap, apa yang dapat kukatakan? Dia adalah kekasihku, ayah dari anakku, tapi dialah musuh besarku yang membunuh ibuku!"

"Nona, biarlah sang waktu menghanyutkan semua ini, biar rasa kebencianmu ikut terkubur karena kematiannya. Berikanlah rasa cintamu dan alihkan kepada anakmu serta keturunannya."

"Benar, aku pasti dapat!"

"Sebelum ajal, dia berpesan supaya aku mengawasi hidup kalian dan memberi bimbingan kepada putrinya. Dia adalah adik iparku, sudah tentu tugas ini harus kupikul juga. Sekarang aku masih ada urusan penting menanti penyelesaian. Setelah semua urusan dapat kubereskan, pasti aku kembali ke sini untuk mengatur hidup kalian ibu beranak selanjutnya."

"Suma Siauhiap, budimu ini kutanam dalam sanubariku. Aku hidup tenteram dan senang di tempat ini, tak usah..."

"Itu kelak kita bicarakan lagi. Sekarang yang terpenting, urus dulu jenazah Cu-giok."

"Biarlah nanti aku yang mengurus penguburannya. Suma Siauhiap, masih ada urusan, silakan kau melaksanakan tugasmu."

Agak lama Suma Bing menimbang, akhirnya berkata, "Kalau begitu terpaksa aku berangkat dulu. Dalam setengah bulan pasti aku sudah kembali kemari."

"Silakan Siauhiap!"

Dengan rasa berat, Suma Bing meninggalkan Thong Ping, langsung menuju ke Pek-jio-gay. Menurut keterangan si maling bintang, Thi-koan-im Lim Siang-hiang telah mencukur rambut menjadi pendeta di biara Yok-cu-am di Bukit Gajah Putih. Inilah musuh terakhir yang harus dibunuhnya juga.

Bukit Gajah Putih menjulang tinggi di selatan Sungai Tiangkang. Dinamakan Bukit Gajah Putih karena bentuknya seperti gajah, juga batu-batunya berwarna putih seperti seekor gajah yang sedang mendekam. Di puncak bukit, di dalam hutan rimba itu, letak Biara Yok-cu-am yang berdinding merah dan berbenteng batu putih.

Tatkala itu sang surya baru saja muncul dari peraduannya, kabut masih tebal di puncak bukit. Namun, sepagi itu di depan pintu Biara Yok-cu-am datanglah seorang pemuda berwajah ganteng, bermuka dingin membeku tanpa emosi. Tidak perlu banyak kata, pendeknya pemuda ini bukan lain adalah Suma Bing yang meluruk tiba hendak menuntut balas.

Tiba-tiba terdengar gema genta bertalu-talu, lantas terdengar kelintingan serta sabda Buddha dan mantram yang halus merdu. Suasana yang tenteram dan tenang ini menghilangkan segala perasaan kesal dan hawa nafsu. Demikian juga Suma Bing, dia terlongong sekian lama tenggelam dalam renungannya, hilang lenyap segala kemurkaannya. Tapi bagaimana juga, tekadnya hendak menuntut balas tak dapat digoyahkan. Bergegas dia melangkah ke depan pintu, terus mengetok pintu biara dengan gelang tembaga.

Setelah terdengar derap langkah ringan dari sebelah dalam, baru dia tarik kembali tangannya. Di lain saat pintu biara terpentang mengeluarkan suara berkereyotan. Seorang nikoh muda belia berdiri di ambang pintu. Begitu melihat wajah sang tamu, kontan berubah air mukanya. Saking kejut sampai dia mundur beberapa langkah, cepat-cepat kedua tangan dirangkapkan terus bersabda, "Omitohud, selamat pagi Sicu. Harap maaf bahwa biara kita tidak menerima tamu pria..." sampai di tengah jalan, tiba-tiba suaranya terhenti.

Dua pasang mata saling tatap dengan tajam. Wajah masing-masing berubah berulang-ulang. Suma Bing berkeluh dengan sedihnya, "Adik Hun!"

Kiranya nikoh muda belia ini bukan lain adalah Siang Siau-hun yang telah lari pergi setelah melukai Phoi Kin-sian tempo hari. Bahwa ternyata akhirnya Siang Siau-hun mencukur rambut dan menjadi pendeta di biara Yok-cu-am ini, mimpi juga tidak tersangka oleh Suma Bing.

Siang Siau-hun menundukkan kepala, suaranya hampir tak terdengar, "Pinni berjuluk Liau In!"

Perih rasa hati kecil Suma Bing seperti ditusuk-tusuk jarum, pengalaman yang lalu segera terbayang di depan mata. Siang Siau-hun adalah kekasihnya yang pertama. Di dalam kuil bobrok itulah mereka bercumbu dan mengikat janji pertama kalinya. Secara terang-terangan dia pernah melimpahkan perasaan seorang gadis remaja yang baru tumbuh dewasa, dia pernah berjanji untuk sehidup semati sampai akhir zaman.

Waktu dirinya keracunan Pek-jit-kui oleh racun berbisa Tangbun Yu, Siang Siau-hun juga pernah bersumpah untuk menyertainya ke liang kubur. Tatkala jiwanya sudah tergantung di bibir jurang kematian, juga Siang Siau-hun pernah rela mempersembahkan segala miliknya termasuk kesuciannya. Semua pengalaman yang lalu satu per satu terbayang di depan matanya.

Akhirnya Suma Bing menghela napas dan ujarnya, "Adik Hun, kenapa kau..."

"Pinni sudah menjadi seorang pendeta, harap Sicu memanggil gelaranku saja."

Inilah ucapan yang dikatakan dari mulut kekasihnya yang pernah bersumpah sehidup semati. Bagi yang sudah mensucikan diri, apa benar segala sesuatu miliknya harus ikut dikuburkan? Akhirnya Suma Bing tertawa, tawa yang getir, tawa ejekan bagi hidup mana yang harus mengalami penderitaan gelombang.

"Adik Hun, kematian Phoa Kin-sian bukan karena kesalahanmu. Buat apa kau sedemikian tega menyiksa dirimu, kenapa kau memilih jalan ini? Adik Hun, ini bukan perbuatan seorang cerdik..."

Kepala Siang Siau-hun ditundukkan semakin rendah, jubahnya yang gondrong dan tebal tampak gemetar berdesir. Dengan sedih Suma Bing menelan air liur, katanya pula, "Adik Hun, apakah semua ini sudah terlambat?"

Mendadak Siang Siau-hun angkat kepala, sepasang matanya berlinang air mata namun sikapnya tenang dan serius, ujarnya sesenggukan, "Sicu, Pinni sudah bertekad menjadi murid Sang Buddha yang saleh untuk menghimpas segala dosa dan akibat. Harap Sicu tidak menanam dosa lagi di atas tubuhku."

Perasaan Suma Bing semakin dingin sampai jantungnya terasa membeku, ujarnya sambil tersenyum hambar, "Adik Hun, semua kejadian dalam dunia ini memang sulit ditentukan sebelumnya, tiada sesuatu yang abadi dalam dunia fana ini, memang kaulah yang benar, aku minta maaf..."

"Omitohud! Kedatangan Sicu ini adalah..."

Bercekat hati Suma Bing. Segera, tekad lain melenyapkan segala keraguannya. Katanya dengan nada berat, "Apakah gurumu ada di dalam?"

"Tengah sembahyang pagi!"

"Apakah julukan gurumu sebelum menjadi pendeta adalah Thi-koan-im Lim Siang-hiang?"

"Benar, jadi kedatangan Sicu ini adalah hendak menuntut balas pada peristiwa delapan belas tahun yang lalu itu?"

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, sahutnya mengertakkan gigi, "Benar!"

"Karena insaf dan menyesal sebab perbuatan-perbuatan dosa pada masa yang lalu, maka beliau masuk menjadi murid Sang Buddha. Pernah berapa kali beliau mengatakan selalu menunggu kedatangan Sicu ini!"

Lagi-lagi Suma Bing tergetar kaget, hatinya merasa sesuatu yang susah dikatakan. Baru sekarang terpikirkan olehnya, bagi kaum persilatan hidupnya selalu dilembari bayangan pedang dan warna darah, apakah sepak terjangnya sendiri tidak keterlaluan? Hanya karena kematian ayahnya seorang, entah sudah berapa banyak jiwa dan darah mengalir karenanya.

Tapi pikiran ini hanya berkelebat sebentar saja dalam benaknya. Dendam masih menjajari seluruh tekad bajanya, maka dengan pandangan menyesal dia pandang Liau In sebentar lalu melangkah masuk ke dalam biara.

Bangunan biara ini tidak besar, hanya terdapat sebuah ruang sembahyang di tengah yang saat itu penuh diselubungi asap dupa yang bergulung-gulung ke tengah angkasa. Penerangan api lilin berkelap-kelip, denting kelintingan masih terdengar nyaring diselingi suara mantram yang berirama halus. Tampak seorang nikoh setengah baya mengenakan jubah yang terbuat dari kain ungu kasar tengah berlutut di atas kasur bundar, sikapnya tenang angker.

Suma Bing terhenyak di tempatnya, suasana yang tenang angker dan damai ini menyebabkan tekadnya yang besar membekal hawa membunuh tak kuasa lagi diungkat keluar. Nikoh tua itu meneruskan tembang mantramnya tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Bergegas Liau In juga ikut masuk ke dalam ruang sembahyang ini, dia berdiri tegak khidmat di pinggiran, wajahnya wajar tanpa emosi seperti sebuah patung batu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment