Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 167

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 167

"Apakah dengan tingkahnya yang bertobat ini lantas perempuan tua itu dapat menghapus utang darahnya?" Karena pikiran itu, timbullah nafsu membunuh dalam diri Suma Bing. Kepalanya diangkat, dia merogoh cundrik penembus dada yang terselip di ikat pinggangnya.

Bersamaan dengan itu, perempuan tua tersebut baru saja selesai menjalankan sembahyangnya. Setelah menutup kitab suci perlahan-lahan, dia bangkit dari kasur bundar itu lalu berputar menghadapi Suma Bing dengan sikap yang wajar dan tenang.

Katanya dengan nada halus dan damai, "Agaknya Siau-sicu ini adalah keturunan Suma Hong Sicu, bukan?"

"Benar!"

"Dulu karena ketamakan diri ini sehingga menanam akibat seperti ini. Seperti yang dikatakan: siapa menanam padi akan menuai padi, siapa menanam semangka akan menuai semangka. Ajaran kita mengutamakan hukum karma; ada sebab pasti ada akibat. Maka, silakan Siau-sicu segera turun tangan!" Habis berkata, dia duduk kembali di atas kasur bundar itu. Dari awal sampai akhir, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.

Dengan lincah, Suma Bing melejit ke hadapan perempuan tua itu. Cundrik di tangannya sudah diayun, tinggal menusukkannya ke ulu hati. Namun, sikap perempuan tua itu tampak acuh tak acuh, bahkan alisnya pun tidak bergerak.

Waktu ujung cundrik Suma Bing terpaut satu sentimeter di depan ulu hati, tangannya mulai gemetar. Rona wajahnya sukar ditentukan perubahannya. Bagi seorang yang sudah insaf dan rela bertobat di hadapan Tuhan, betapa pun, dia tidak memiliki keberanian lagi untuk menusukkan senjatanya ke tubuh orang.

Mendadak dia menjadi lemah. Mungkin sekarang dia sendiri juga sadar dan insaf bahwa dosa yang ditanamnya terlalu berat. Meskipun tujuannya adalah menuntut balas, semua ini tidak akan terampunkan dan menyalahi hukum Tuhan. Wajahnya semakin muram, hilanglah angkara murka yang menyesatkan pikirannya.

Dia mengeluarkan buku daftar catatan, lalu membakarnya dengan api lilin. Sekejap saja buku itu telah habis terbakar menjadi abu. Setelah menghela napas panjang, dia berpaling kepada Liau In serta berkata, "Adik Hun, inilah untuk penghabisan kali aku memanggilmu, sekarang aku pergi!"

Muka Liau In gemetar, sikapnya tidak tenang lagi, pucat menakutkan. Mulutnya sudah bergerak namun ditelannya kembali, sampai terakhir baru tercetus suaranya yang lirih, "Maaf, aku tidak mengantar!"

Suma Bing merasa hatinya kosong dan hampa. Perlahan dia berjalan keluar, langkahnya terasa sedikit limbung. Setelah berada di luar biara, dari puncak bukit dipandangnya air Sungai Tiangkang yang mengalir bergelombang. Mendadak tangannya terayun; dia melempar cundrik penembus dada itu ke dalam sungai dan sebentar saja lenyap ditelan ombak. Kini semua sudah berakhir dan tamat!

"Dik!" pada saat itulah mendadak terdengar helaan napas sedih di belakangnya.

Suma Bing terperanjat dan berpaling ke belakang. Hampir saja dia tidak percaya akan pandangannya, entah kapan, tiba-tiba Mo-in Siancu Phoa Kiau-nio sudah berdiri di belakangnya. Justru yang mengherankan, kini wajahnya sudah kehilangan sifat-sifat genit yang menggiurkan itu.

Suma Bing berseru penuh haru, "Cici!"

"Dik, pertemuan kita ini memang jodoh, namun hampir saja aku berdosa karena pertemuan ini. Ketahuilah, aku seorang perempuan yang sudah lanjut usia; karena sebutir buah saja sehingga aku tetap kelihatan remaja. Biarlah pertemuan kita akhiri sampai di sini. Pengurus biara ini adalah sumoayku. Sejak saat ini di kalangan dunia persilatan selamanya tidak akan terdengar nama Mo-in Siancu lagi." Sampai di sini dia berhenti lalu mengeluarkan sebuah benda serta berkata lagi, "Inilah pedang darah, kukembalikan kepadamu."

Suma Bing menyambutnya sambil mengangsurkan seruling batu giok juga, katanya, "Cici, seruling ini juga milikmu, silakan kau ambil kembali."

"Dik, simpanlah saja sebagai kenang-kenangan, aku tak perlu menggunakannya lagi."

Dari dalam biara masih terdengar tembang mantra yang halus, tenang, dan damai. Sambil mengangguk dan tersenyum simpul, perlahan Mo-in Siancu mengundurkan diri. Dia tidak mengucapkan selamat berpisah. Mulut Suma Bing bergumam entah apa yang diucapkan. Di lain saat, dia sudah berlari kencang turun dari Bukit Gajah Putih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment