Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 54

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 54

Karena ketetapannya, kedua tangannya bergerak lincah melintang ke depan.

"Blang!" Sambil mengeluh kesakitan, wanita itu terhuyung lima kaki jauhnya. "Loh Tju-gi, akan kukeremus dagingmu, kuminum darahmu!" Sambil memaki kalang kabut, wanita itu menyerbu datang lagi dengan serangan kalap.

Tergetar perasaan Suma Bing. Sambil berkelit kian kemari, otaknya berpikir, "Kiranya aku disangka Loh Tju-gi, suheng yang murtad itu."

Apa wajahku mirip dengan Loh Tju-gi?

Namun tidak mungkin. Sedikitnya, usia Loh Tju-gi sudah pertengahan umur. Usia kami terpaut terlalu jauh, mana mungkin salah kenal!

Hanya ada satu kepastian bahwa perempuan ini pasti pernah dirugikan oleh Loh Tju-gi.

Serta-merta, ia teringat akan ibunya, San-hoa-li Ong Fang-lan. Tanpa terasa, tubuhnya bergidik dan merinding.

Menurut cerita si maling bintang, Si Ban-tjwan, ibunya dulu pernah diperkosa oleh bangsat Loh Tju-gi itu. Apa mungkin...

Sekali melejit, ia menyingkir sejauh dua tombak dan berdiri tegak. Ia perlu menenangkan gejolak hatinya.

Pada saat itulah, tiba-tiba sebuah tandu datang dengan kecepatan bagai terbang.

"Peknio!" Tanpa terasa mulut Suma Bing berseru kejut.

Tiba-tiba perempuan gila itu berteriak nyaring, lalu berlari pergi sekencang-kencangnya.

"Cegat dia!" Membarengi seruan ini, sebuah bayangan melesat datang lewat sampingnya.

Kontan Suma Bing mengirim sebuah hantaman keras ke arah bayangan tersebut. Debu dan kerikil beterbangan, bayangan itu tersuruk jatuh di atas tanah. Dia tidak lain adalah guru dari Ting Hoan, yaitu Pek-hoat-sian-nio.

Sambil menggeram gusar, Peknio melancarkan sebuah pukulan keras. Segera Suma Bing mengangkat tangan menyambut dengan kekerasan yang sama.

'Bum!' Di tengah dentuman menggelegar, kedua belah pihak sama-sama tersurut mundur satu tindak.

Dalam mundur setindak itulah, Pek-hoat-sian-nio sudah melancarkan selentikan jarinya lagi. Beruntun angin selentikan melengking saling susul menyambar ke depan. Terpaksa Suma Bing jumpalitan ke samping untuk menghindar.

Menggunakan kesempatan ini, Peknio melejit ke depan dengan kecepatan yang sukar diukur.

"Kemana kau pergi?" Tubuh Suma Bing juga ikut melesat datang. Di tengah udara, ia melancarkan pukulan-pukulan lihai yang membuat Peknio terpaksa meluncur turun.

"Suma Bing, apa maksudmu ini?"

"Kita selesaikan perhitungan lama!"

"Hm, tidak malu kau turun tangan kepada seorang perempuan yang pikirannya kurang waras? Malah kau merintangi aku pergi mengejar dia. Jikalau terjadi sesuatu di luar dugaan, awas, kau harus bertanggung jawab!"

Terperanjat hati Suma Bing. Jadi benar pikiran perempuan itu kurang waras? Untuk apa Peknio mengejar perempuan gila itu? Namun, kebencian hatinya mendesak untuk melakukan langkah selanjutnya, maka dengan dingin ia menantang: "Peknio, dua kali hadiahmu yang berharga tempo hari, biar hari ini kukembalikan."

Sinar mata Peknio menyala-nyala gusar, rambut putihnya berdiri kaku. Ia membentak keras, "Suma Bing, kau mencari mati?"

"Belum tentu mencari mati, kita setali tiga uang."

"Baiklah, biar kusempurnakan keinginanmu itu!" Bentak Peknio sambil mengirim serangan ke arah Suma Bing. Karena gusar, kekuatan pukulannya seumpama kilat menyambar dan geledek menggelegar.

Sejak mendapat Kiuyang-tjauko dari pemberian Setan Barat, lwekang Suma Bing bertambah berlipat ganda. Sekali turun tangan, kekuatan pukulannya pun bukan main hebatnya. Terjadilah pertempuran mati-matian yang susah dilerai.

Keempat gadis pemikul tandu menonton di luar gelanggang dengan muka pucat dan hati berdebar keras.

Sekonyong-konyong terdengar suara pekik nyaring yang mengerikan dari kejauhan. Suara itu benar-benar membuat bulu roma berdiri. Serta-merta, Suma Bing dan Peknio menghentikan pertempuran.

Wajah Peknio berubah pucat. Sebat sekali tubuhnya meluncur ke arah suara pekik mengerikan itu.

Sejenak Suma Bing tertegun lalu membatin, "Apa pekik kesakitan yang mengerikan ini keluar dari mulut perempuan gila itu?" Lantas teringat olehnya akan kata-kata yang diucapkan perempuan gila itu, tubuhnya bergidik. Dengan kecepatan luar biasa, ia pun berlari mengejar ke depan.

Tiga li kemudian, di tengah jalan raya, rebah terlentang sebuah mayat bergelimang di antara banjir darah. Kepala mayat ini sudah hancur terpukul, wajahnya rusak berlepotan darah hingga susah dikenali. Sungguh mengerikan dan mengenaskan. Rantai hitam panjang itu kini sudah terlepas dari lehernya, separuh di antaranya terendam di tengah merah darah.

Tubuh Suma Bing gemetar keras, pandangannya nanap mengawasi mayat di depannya. Sebuah pikiran menakutkan merangsang hatinya hingga keringat dingin membasahi jidatnya. Akhirnya tercetuslah perkataannya, "Siapakah dia?"

Air mata meleleh deras di kedua pipi Peknio. Dengan geram ia melotot ke arah Suma Bing, lalu membungkuk memayang jenazah di atas tanah itu dan masuk ke dalam tandu. Segera keempat gadis berseragam hijau berlarian pergi dengan cepat.

Suma Bing terlongong-longong memandangi noda darah di atas tanah seperti orang linglung.

"Suma Siangkong!" Sebuah suara nyaring merdu membuat Suma Bing tersentak dari lamunannya.

Seorang gadis cantik rupawan yang berwajah pucat tengah berdiri tegak di hadapannya. Dia tidak lain adalah Ting Hoan.

"Nona Ting!" seru Suma Bing terharu.

Sejenak Ting Hoan menatap wajah Suma Bing dengan penuh perasaan kasih mesra, tapi tak lama kemudian wajahnya berubah membeku. Ia berkata, "Suma Siangkong, kau berkukuh hendak berkelahi dengan suhuku, sehingga jiwa suciku menjadi korban."

"Dia adalah sucimu?"

Ting Hoan mengiakan.

"Dalam hal ini, kunyatakan penyesalanku. Siapakah pembunuhnya?"

"Bwetiang!"

Gigi Suma Bing gemeratak gusar. Serunya penuh kebencian, "Mengapa ketua Bwe-hwa-hwe mau turun tangan terhadap seorang perempuan yang pikirannya kurang waras? Malah turun tangan secara keji lagi!"

"Kulihat kau bergebrak dengan suhuku, maka segera aku datang mengejar seorang diri. Sayang aku terlambat juga. Waktu aku menyusul, dia sudah mendapat celaka. Durjana itu baru saja pergi, sekian jauh aku mengejar tidak terkejar."

"Siapakah nama sucimu ini?"

"Untuk apa kau menanyakan ini?"

"Aku hanya ingin tahu saja!"

"Dia bernama Lim Siok-tien."

Suma Bing menghela napas lega. Katanya lagi, "Apakah aku boleh bertanya tentang keadaannya selama ini?"

"Dia seorang wanita yang harus dikasihani..."

"Dia pernah dipermainkan seorang lelaki?"

"Dari mana kau tahu?"

"Dia salah sangka aku sebagai Loh Tju-gi, maka dia nekat hendak menempur aku."

Wajah Ting Hoan beringas. Katanya penuh kebencian sambil mengertak gigi, "Benar, Loh Tju-gi sudah mempermainkan dia, lalu meninggalkannya pergi. Dia melahirkan seorang anak perempuan yang meninggal tidak lama kemudian, dia sendiri pun menjadi gila..."

"Loh Tju-gi akan datang, suatu hari pasti kuhancur-leburkan tubuhnya!"

"Eh, bukankah dia adalah..."

"Dia murid murtad dari perguruanku, juga musuh besar keluargaku. Selama aku masih hidup, terbang ke langit atau menyusup ke bumi, pasti akan kucari dia sampai ketemu!"

Ting Hoan menghela napas panjang, ujarnya, "Mengapa tidak sedari tadi kau katakan hal ini?"

"Kenapa?"

"Guruku juga menyangka kau sebagai murid Loh Tju-gi itu, maka dia turun tangan kepadamu!"

"Jadi begitulah duduk perkaranya."

"Setelah pikirannya kurang beres, setiap melihat pemuda gagah ganteng, lantas suciku menganggapnya sebagai Loh Tju-gi. Karena terpaksa, maka suhu mengurungnya dengan memborgol lehernya dengan rantai. Sungguh tak diduga beberapa hari yang lalu dia dapat terlepas, maka kita beramai-ramai datang mengejar..."

"Apa kau melihat dengan tegas orang yang membunuh dia adalah Ketua Bwe-hwa-hwe?"

"Sedikit pun tidak salah."

"Hm, aku juga tidak akan melepaskannya! Oh ya, Nona Ting, bukankah gurumu juga tengah mencari Tiang-un Suseng..."

"Benar, kenapa?"

"Belum lama berselang, aku baru saja berpisah dengan Tiang-un Suseng. Si orang berkedok yang bersama aku itulah orangnya."

"Si orang berkedok itu adalah Tiang-un Suseng?"

"Begitulah, baru sekarang aku mengetahui kedok sebenarnya."

"Tapi sekarang kami tidak perlu lagi mencari dia."

"Mengapa?"

"Tiang-un Suseng Poh Jiang adalah duplikat dari Wi-thiantjhiu yang kenamaan di Bulim. Tujuan kita dulu adalah hendak meminta dia mengobati penyakit gila suciku itu, sekarang suci sudah menemui bencana, tidak perlu lagi mencari dia!"

Suma Bing manggut-manggut sambil berdiam diri.

Kata Ting Hoan lagi, "Tentang kesalahpahamanmu dengan guruku, kuharap sejak saat ini dapat dijernihkan."

"Ya, tentu dapat."

"Sekarang kau hendak ke mana?"

"Menuju ke Bu-kong-san!"

"Apa keperluanmu ke sana?"

Sejenak Suma Bing berpikir dan ragu-ragu, akhirnya ia berkata jujur, "Aku berharap dapat menemukan Bunga-iblis..."

"Bunga-iblis?" seru Ting Hoan penuh keheranan, "Apa Bunga-iblis berada di Bu-kong-san?"

"Bukan, konon Bunga-iblis itu berada di tangan Bu-siang Sin-li. Justru tempat bersemayam Bu-siang Sin-li berada di Bukongsan..."

Berubah air muka Ting Hoan, katanya, "Bu-siang Sin-li, seorang Tjian-pwe aneh di dalam dongeng, sudah lama tidak muncul di Kangouw, malah katanya ilmu silatnya setinggi langit. Seumpama kenyataan memang begitu, kukawatir..."

Suma Bing tertawa tawar, katanya, "Aku tahu, tapi besar tekadku untuk mendapatkannya."

"Baik, kudoakan kau berhasil."

"Terima kasih!"

"Aku harus segera kembali membantu mengurus jenazah suci..."

"Silakan, Nona Ting, aku juga harus segera berangkat!"

"Suma Siangkong..."

"Nona masih ada perkataan apa?"

"Aku... aku..."

"Kalau ada perkataan apa-apa, silakan katakan saja."

Wajah Ting Hoan merah jengah, bibirnya sudah bergerak hendak berkata tapi ditelannya kembali. Lalu sambil menunduk dia memainkan ujung bajunya, sikapnya kikuk dan malu-malu, benar-benar membuat orang merasa geli dan tenggelam dalam alunan asmara.

Mendadak ia mengangkat kepalanya lagi seakan tiba-tiba bertambah besar nyalinya, suaranya halus merdu, "Ada sepatah kata hendak kuberitahukan kepadamu."

"Coba katakan?"

"Aku teringat pada waktu kau mengobati lukaku dulu itu..."

"Nona terluka karena aku, peristiwa itu selalu mengganjal dalam hatiku. Dalam hal ini, pasti aku tidak akan melupakan..."

"Tidak!"

"Mengapa tidak?" Tanpa terasa berdetak keras jantung Suma Bing, entah apa maksud dengan 'tidak' itu.

"Walaupun kaum persilatan tidak mengukuhi adanya adat istiadat lama, tapi sedikit banyak ada batas-batasnya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment