Chapter 55
"Tubuh seorang gadis kalau sudah diraba dan dijamah oleh seorang laki-laki, dia... dia harus bagaimana?"
Suma Bing tertegun, lalu ujarnya, "Nona, waktu itu aku mengobati lukamu."
"Ya, memang mengobati lukaku, tapi seorang gadis memandang kesucian dirinya melebihi jiwa sendiri. Hakikatnya kita sudah bersentuhan tubuh. Aku berkata demikian bukan karena ingin memohon sesuatu, aku hanya berharap supaya kau tahu selama hidup ini badanku tidak akan menjadi milik laki-laki lain!"
Jantung Suma Bing hampir melonjak keluar, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dengan gugup ia berteriak, "Nona Ting, ini... ini..."
Kata Ting Hoan dengan kalem dan tenang, "Sudah kukatakan aku tidak memohon apa-apa, asal kau tahu maksud hatiku saja. Sudah tentu aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Ucapanku sampai sekian saja, harap kau jaga dirimu baik-baik!"
Habis berkata, sekali lagi ia memandang wajah Suma Bing lekat-lekat penuh harap, lalu tubuhnya melenting tinggi menghilang di kejauhan sana.
"Adik Hoan!" Saat Suma Bing tersadar, dia berseru memanggil, tetapi bayangan Ting Hoan sudah hilang tanpa jejak.
Serasa ada benda yang menindih sanubarinya, sedemikian berat benda itu sehingga membuatnya susah bernapas. Hubungan lelaki dan perempuan, antara cinta dan persahabatan, tiada batas perbedaan yang jelas. Waktu kau merasa resah, gundah, dan susah tenteram, mungkin itulah pertanda cinta, tak peduli dalam keadaan bagaimana kamu menanggapi pertemuan itu.
Untuk pertama kalinya hatinya resah karena cinta, karena cinta telah membelenggu dirinya tanpa ia sadari sebelumnya. Tanpa terasa ia menghela napas panjang.
Tengah ia tenggelam dalam renungannya, mendadak sebuah bayangan manusia datang dengan sempoyongan ke arah tempat Suma Bing berdiri. Waktu Suma Bing tersadar dan membalikkan tubuh, bayangan itu sudah terpaut tiga tombak dari dirinya.
Saat melihat orang yang mendatangi ini, seketika membara hawa amarahnya. Menggeser kaki, ia segera mencegat di tengah jalan sambil menghardik keras, "Berhenti!"
Kiranya yang datang ini tidak lain adalah Tang-mo, salah satu dari tokoh yang sejajar dengan Se-kui, Pak-tok, dan Lam-sia. Tang-mo menurut dan menghentikan langkahnya. Terlihat oleh Suma Bing pandangan kedua mata orang itu begitu redup, napasnya memburu, dan jidatnya basah oleh keringat yang meleleh deras.
Suma Bing terkejut dalam hati, bertanya-tanya apakah iblis laknat ini terluka parah. "Iblis Timur, akhirnya kita bertemu juga di sini!"
"Kau... kau..." seru Tang-mo terbata-bata.
"Akulah Suma Bing, murid Lam-sia Su-hay..." Tubuh Tang-mo terhuyung-huyung hampir roboh; agaknya ia hampir tak kuat lagi berdiri.
Suma Bing membatin, "Luka iblis ini tidak ringan, entah terluka di tangan siapa dia." Maka segera ia bertanya, "Apa kau terluka?"
Iblis Timur menggigit bibir menahan sakit dan menguatkan hatinya, serunya beringas, "Buyung, memang aku terluka parah, kau mau apa?"
Hawa membunuh menyelimuti raut wajah Suma Bing, desisnya dingin, "Aku ingin mencabut nyawamu!"
Lagi-lagi tubuh Tang-mo terhuyung mundur, geramnya, "Buyung, kau tidak adil menggunakan kesempatan ini..."
"Tutup mulutmu! Tidak peduli bagaimana kau hendak berkata, yang terang hari ini kau harus mati!"
"Ada permusuhan apa aku dengan kau?"
"Permusuhan! Hehehe, Tang-mo, ketahuilah dendam ini sedalam lautan dan setinggi gunung. Tapi sebelum aku turun tangan, harap sudilah kau berlaku terus terang, jawablah beberapa pertanyaanku."
"Buyung, kau..."
"Dengar, peristiwa pengeroyokan di puncak Kepala Harimau di Gunung Tiam-tjong-san dulu itu..."
"Buk!" Suma Bing berjingkrak kaget. Ternyata Tang-mo sudah roboh binasa. Darah menyembur deras dari dadanya bagai mata air. Saking gugup, hampir saja bibir Suma Bing tergigit putus oleh giginya sendiri. Ia memburu maju, membalikkan tubuh orang itu, dan memeriksa dengan teliti. Tampak sebuah lubang besar di depan dadanya yang menembus sampai ke punggung.
Bahwa iblis laknat ini dengan luka dada yang tembus ke punggung masih kuat menutup jalan darah dan berlarian sejauh itu, kekuatan *lwekang*-nya benar-benar sangat mengejutkan.
Tapi siapakah yang telah melukainya? Dengan kepandaian dan *lwekang* Tang-mo yang lihai, orang yang mampu mengalahkan atau membunuhnya kiranya hanya beberapa tokoh hebat pada zaman itu. Bahwasanya luka Tang-mo itu bukan karena kena pukulan atau ilmu aneh, melainkan dadanya tertembus oleh sebilah senjata tajam. Maka dapatlah dibayangkan bahwa si pembunuh itu pasti berkepandaian lebih tinggi dari Iblis Timur sendiri.
Saking menyesal, Suma Bing membanting-banting kaki. Tang-mo adalah salah seorang musuh besar yang ikut dalam peristiwa berdarah di puncak Kepala Harimau di Tiam-tjong-san. Dari mulutnyalah dia bersiap mengejar musuh-musuh besar lainnya. Sungguh tidak disangka, sumber yang terpercaya ini justru terputus.
Siapakah yang telah membunuh Iblis Timur? Angkara murka hatinya beralih kepada orang yang membunuh Iblis Timur itu karena kematiannya membuat Suma Bing kehilangan sumber pengejaran kepada musuh-musuh besarnya. Mengawasi jenazah musuh besarnya yang tergolek mati di tangan orang lain ini, perlahan-lahan kegusarannya semakin memuncak. Tangannya diangkat hendak menghantam...
"Orang mati dendam lunas, sangat keterlaluan kalau kau merusak jenazahnya!"
Suma Bing mendengus keras sambil menarik kembali tangannya. Terlihat olehnya orang yang bicara ini tidak lain adalah si Maling Bintang, Si Ban-tjwan.
"Si-tjianpwe, apakah baik-baik saja selama berpisah?"
"Hehe, baik-baik saja!"
"Apakah Tjianpwe tahu Tang-mo terbunuh oleh siapa?"
Seketika Si Maling Bintang Si Ban-tjwan menunjukkan rasa heran dan terkejut, "Apa kau sendiri tidak bisa melihat?"
Suma Bing menggeleng dengan hampa, "Menurut hematku, dadanya tertembus oleh senjata tajam. Tentang siapa yang turun tangan, belum dapat kuketahui!"
"Ha, peristiwa besar yang menggegerkan itu, masa kau belum dengar?"
"Peristiwa besar?"
"Pada saat ini dunia persilatan sudah menanjak pada akhir zaman karena di mana-mana tersebar keseraman dan kekejaman dengan bau anyir darah!"
Suma Bing mengerutkan alis, tanyanya, "Wanpwe minta petunjuk?"
Baru pertama kali inilah Suma Bing merendahkan diri mengaku sebagai *wanpwe* (angkatan rendah) kepada Si Maling Bintang. Karena Si Maling Bintang pernah memberitahukan kepadanya bahwa ibunya, San-hoa-li Ong Fang-lan, masih hidup, dan ia juga menyanggupi untuk membantu mencari jejak ibunya itu, maka Suma Bing merasa sangat berterima kasih.
Kata Si Maling Bintang Si Ban-tjwan serius, "Iblis Timur mati di tangan Rasul Penembus Dada yang diutus oleh perkumpulan yang bernama Jeng-siong-hwe!"
"Jeng-siong-hwe?" seru Suma Bing terkejut. "Aneh benar nama itu, belum pernah kudengar di kalangan *kangouw*."
"Rasul Penembus Dada muncul di *bulim* baru beberapa bulan saja. Dalam jangka waktu satu bulan, kaum persilatan dari aliran hitam atau putih yang mati tertembus dadanya oleh sebilah cundrik tidak kurang dari lima puluh orang. Malah para korban itu kalau bukan salah seorang pentolan daerah, pasti tokoh *kosen* yang kenamaan..."
"Bukankah kepandaian orang yang menampakkan diri sebagai Rasul Penembus Dada itu sangat hebat dan mengejutkan?"
"Sudah tentu. Iblis laknat berkepandaian tinggi seperti Tang-mo saja tidak mampu membela diri, maka dapatlah kau bayangkan sendiri. Adalah yang paling mengejutkan bahwa Siau-lim-si yang terkenal sebagai pentolan yang merajai dunia persilatan juga tidak luput dikunjungi oleh Rasul Penembus Dada itu. Di bawah penjagaan ketat beratus murid lihai dalam kelenteng itu, masih dengan leluasa dia menembuskan senjatanya di dada Liau Khong Hwesio, kepala pengawas dari Lo-han-tong, dan dua muridnya."
"Benar-benar ada peristiwa besar ini?"
"Seluruh dunia persilatan sudah geger dan gempar, sayang mata dan kupingmu kurang jeli."
"Perkumpulan macam apakah Jeng-siong-hwe itu?"
"Teka-teki!"
"Siapakah pemimpinnya?"
"Tiada yang tahu!"
Dingin perasaan Suma Bing. Bahwa Bwe-hwa-hwe sudah merupakan perkumpulan rahasia di kalangan *kangouw*, kini muncul lagi sebuah Jeng-siong-hwe yang serba misterius dan menakutkan.
"Apakah tujuan Jeng-siong-hwe menimbulkan kancah pembunuhan berdarah itu?"
"Masih merupakan teka-teki!"
"Jeng-siong-hwe membunuh Tang-mo sehingga aku kehilangan sumber penyelidikanku untuk menuntut balas. Perhitungan ini..."
"Apa kau hendak menagih pada mereka?"
"Sudah tentu!"
"Buyung, sudahi saja. Saat ini yang terpenting adalah mencari jejak ibundamu. Kalau ibumu masih sehat walafiat, kupercaya takkan ada seorang pun musuh besarmu dapat lolos."
Sikap Suma Bing menjadi lesu dan bersedih, "Harapan ibu masih hidup agaknya sangat kecil."
"Mengapa?"
"Kalau dia masih hidup, selama puluhan tahun ini mengapa tidak kelihatan jejaknya? Mungkin setelah meninggalkan Tiam-tjong-san, dia tidak luput dari tangan kejam para musuh..."
"Itu juga mungkin, tapi bagaimana pun juga harus diselidiki sampai seterang-terangnya!" Kata Si Maling Bintang, "Sudah banyak tempat kujajaki, sampai sekarang masih belum dapat kuperoleh..."
Dengan penuh perasaan haru, Suma Bing memberi hormat kepada Si Maling Bintang, ujarnya, "Kebaikan Tjianpwe selamanya akan kuingat dalam lubuk hatiku!"
"Buyung, tidak perlu. Untuk menentramkan sanubari maling tua inilah aku berbuat begitu. Dulu kalau aku tidak terluka parah dan belum pulih lagi tenagaku, mungkin perkembangan selanjutnya bisa berubah. Hehe, yang lalu tidak perlu diperbincangkan lagi! Mari ke kota di depan sana, mencari warung dan minum arak untuk menghilangkan kesal!"
Tanpa menanti jawaban Suma Bing lagi, segera ia berlari ke depan. Sekilas Suma Bing melirik ke jenazah Tang-mo, terus mengikuti di belakangnya. Tak lama kemudian mereka sudah memasuki sebuah kota besar yang ramai.