Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 56

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 56

Dua pemuda itu memasuki rumah makan Jui-lay-ki dan mencari tempat duduk di samping jendela di sudut ruangan. Tak lama kemudian, arak dan hidangan telah memenuhi meja di hadapan mereka. Dengan lahap dan tanpa bicara, mereka menyantap semua makanan yang lezat tersebut.

Suasana di dalam rumah arak itu sangat ramai. Para pengunjung rata-rata tengah memperbincangkan sepak terjang Jeng-siong-hwe; wajah mereka menunjukkan rasa takut dan tegang.

Sekonyong-konyong, suara keributan di ruang makan yang gaduh itu sirap seketika. Keheningan yang menyeramkan mencekam sanubari setiap hadirin; sedemikian sunyi hingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar.

Suara si maling bintang, Si Ban-tjwan, berbisik gemetar, "Sudah datang!" Tanpa terasa, hati Suma Bing berdebar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan; tampak wajah semua hadirin pucat ketakutan, mata mereka nanap memandang ke arah tangga loteng.

Di ujung tangga sana berdiri tegap dengan angker seorang berseragam putih dengan mengenakan kedok putih pula. Bagi kaum persilatan, jika kepandaiannya tidak sangat tinggi, jarang ada orang yang berani mengenakan pakaian serba putih karena warnanya sangat menyolok, baik di siang maupun malam hari. Jubah panjang di depan dada orang aneh ini tersulam cundrik berwarna merah darah.

"Rasul Penembus Dada!" batin Suma Bing. Kemunculan Rasul Penembus Dada di rumah makan itu benar-benar di luar dugaan semua orang, membuat Suma Bing merasakan ketegangan.

Perlahan dan pasti, Rasul Penembus Dada melangkah mantap di antara meja-meja makan. Bagai dewa kematian yang tengah mencari sasarannya, ke mana pun ia lewat, orang-orang menundukkan kepala, tidak berani beradu pandang. Semua orang bertanya-tanya dalam hati, kepada siapa maut akan menjemput? Dua lubang bundar di balik kedok putihnya memancarkan sinar mata dingin yang berkilat bagai tajamnya pedang, menciutkan nyali setiap orang.

Bola mata Suma Bing membelalak, mengikuti gerak-gerik Rasul Penembus Dada. Tiba-tiba ia merasa dua sinar dingin dari sorot mata orang itu sedang berbenturan dengannya hingga bulu kuduknya berdiri. Batinnya, "Apakah aku yang dituju?" Namun, sorot mata orang itu segera beralih ke tempat lain. Setiap hadirin seolah tengah menanti hari kiamat. Derap langkah kakinya yang berkeresek di atas papan loteng terasa bagai irama kesedihan yang mengantar arwah kematian. Suasana mencekam hingga hati serasa membeku.

Sifat Suma Bing yang congkak dan angkuh membuatnya tak tahan menanggung suasana mencekam ini. Ia bergegas bangkit, namun si maling bintang menekan pundaknya, menyuruhnya duduk kembali. Rasul Penembus Dada berhenti di samping sebuah meja besar di sebelah timur.

Di meja itu duduk seorang pria berusia lanjut yang berpakaian perlente dari sutra mengilap, diapit dua perempuan muda yang berpupur tebal. Di hadapan si orang tua itu duduk dua orang Tosu, sementara di baris belakang berdiri empat laki-laki berpakaian centeng.

"Siapakah orang tua berpakaian perlente itu?" tanya Suma Bing kepada si maling bintang.

"Dialah Ang Bong-cun, iblis cabul yang paling kenamaan di dunia persilatan."

"Jadi si tua perlente inilah yang telah dipilihnya!"

Di tengah suara pekik kaget, kedua perempuan dan kedua Tosu itu bergegas bangkit dan lari bersembunyi di belakang si tua perlente. Wajah mereka pucat pasi. Ang Bong-cun sendiri berdiri gemetar, semangatnya seakan tersedot hilang, mulutnya terbuka lebar tanpa mampu mengeluarkan suara.

"Kau ini yang bernama Ang Bong-cun?" suara Rasul Penembus Dada melengking dingin, menusuk hati.

"Ya, itulah Lohu adanya. Entah Tuan ada petunjuk apa?" sahut Ang Bong-cun gemetar.

Bibir Rasul Penembus Dada tampak bergerak; agaknya ia menggunakan ilmu *Giseng* (suara semut menimbulkan gelombang) untuk bicara secara rahasia. Wajah Ang Bong-cun semakin pucat, tubuhnya gemetar dan terhuyung hampir roboh. Keringat dingin sebesar kacang menetes deras. Ang Bong-cun membentak bengis, "Siapa kau?"

"Rasul Penembus Dada menerima perintah ketua kami untuk melaksanakan kematianmu!" Suaranya sedingin es, membuat semua pendengar bergidik seram.

Mendadak Ang Bong-cun menggerung keras, kedua tangan disodokkan ke depan, menggenjot dada Rasul Penembus Dada; ia sepertinya sudah nekat untuk gugur bersama. Seolah tidak merasakan serangan dahsyat itu, Rasul Penembus Dada menggerakkan sebelah tangan dengan lincah. Tanpa mengeluarkan suara, tubuh Ang Bong-cun terpental mundur bagai diterjang kekuatan tak kasatmata.

Suma Bing diam-diam memuji; kepandaian Rasul Penembus Dada ini sungguh mengejutkan. "Ang Bong-cun, kau tidak akan menyesal menghadapi ajalmu," ucap Rasul Penembus Dada. Ang Bong-cun yang panik kembali menyerang dengan tangan terangkat. Sebuah bayangan putih berkelebat cepat, lalu terdengar jeritan yang mengerikan. Dada dan punggung Ang Bong-cun seketika berlubang besar, darah segar menyembur keluar.

"Brak!" Tubuhnya roboh menumbuk meja.

Adegan pembunuhan yang terang-terangan ini membuat hadirin terhenyak ketakutan. Bayangan putih itu berkelebat bagai burung bangau, meluncur keluar jendela, dan menghilang dalam sekejap mata. Suma Bing segera bergegas mengejar.

"Hai Suma Bing, gila kau!" seru Si Ban-tjwan. Namun, bayangan Suma Bing sudah menghilang. Seluruh rumah arak pun geger. Si maling bintang membanting kaki, meletakkan sekeping perak di meja, lalu ikut mengejar keluar.

Begitu sampai di luar, Suma Bing melihat setitik putih tengah berloncatan di atas atap rumah, jaraknya ratusan tombak. Suma Bing menyumpah dalam hati, "Sampai ke ujung langit pun akan kukejar!" Dengan kecepatan anak panah, ia mengerahkan seluruh tenaga ilmu meringankan tubuhnya.

Di ujung kota terdapat hutan lebat. Titik putih itu menghilang di dalam sana. Tanpa pikir panjang, Suma Bing masuk ke dalam hutan yang gelap. Sepeminauman teh kemudian, ia telah menempuh puluhan *li*, namun bayangan putih itu tetap hilang tanpa jejak. Saat ia berniat berputar untuk pergi, sejalur angin dingin menghembus tengkuknya. Ia segera bergeser lima kaki ke samping dan membalik tubuh, namun tidak ada siapa-siapa.

Angin dingin menyerbu lagi dari arah belakang. Bulu kuduk Suma Bing berdiri. "Apa aku bertemu setan?" pikirnya. Ia menenangkan diri, perlahan memutar tubuh, dan menyapu pandang ke empat penjuru dengan matanya yang tajam.

Darahnya tersirap. Di atas pohon, tidak jauh di belakangnya, tergantung sesosok mayat manusia. Mayat itu sudah kurus kering, tinggal kulit membungkus tulang, bergoyang gontai ditiup angin. Namun, keadaannya janggal. Ia melihat ternyata ada empat mayat yang tergantung di empat penjuru, dengan dirinya berada tepat di tengah-tengahnya. Leher mereka terikat kencang pada dahan pohon.

Jantung Suma Bing berdebar keras. Tiba-tiba, salah satu mata mayat itu berputar, mulutnya mengeluarkan pekik tawa melengking. Tiga mayat lainnya ikut tertawa bersahutan, suara yang mengerikan bagai tawa setan di neraka.

Suma Bing akhirnya paham. Dari ngeri, hatinya berubah gusar. Ia membentak keras, "Tutup mulut!" Bentakan laksana geledek itu membuat suara tawa keempat setan gantung itu sirap seketika.

"Menyamar jadi setan untuk menakuti orang, aliran manakah yang melakukan permainan rendah ini?" teriak Suma Bing.

Salah satu sosok aneh menyahut dingin, "Bujang, kau inikah murid Kho-lo-sia yang bernama Suma Bing?"

Suma Bing terkejut, namun dengan angkuh dan dingin, ia mengiyakan pertanyaan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment