Chapter 57
"Apa kau sudah pernah mendengar nama Si-tiau-khek?"
"Si-tiau-khek? Belum pernah dengar!"
"Huh, biar hari ini kau berkenalan!"
Di tengah suara lengking tawanya, Si-tiau-khek melayang turun ke atas tanah. Kedudukan mereka tetap terpencar di empat penjuru, mengepung Suma Bing di tengah-tengah. Leher mereka masih terhias tali gantung; sikap raganya benar-benar seperti mayat hidup. Pemandangan ini sungguh membuat siapa pun yang melihatnya merasa seram dan takut.
Segera salah seorang yang berperawakan paling tinggi membuka suara, "Buyung, ingatlah baik-baik. Jangan sampai setelah kau menghadap Giam-lo-ong, kau masih tidak mampu menyebut nama orang yang mencabut nyawamu. Toayamu ini adalah pentolan dari Si-tiau-khek yang bernama Heng-si-khek."
Lalu, berturut-turut ia menunjuk dan menyebut: Bou-bong-khek, Hui-bing-khek, dan Teh-tjiam-khek.
Sekilas Suma Bing menyapu pandang keempat mayat gantung itu, lalu berseru dengan nada mengejek, "Aku juga bisa menyempurnakan kalian menurut cara nama gelaran kalian masing-masing. Tapi sebelum turun tangan, aku ingin mengetahui apa tujuan kedatangan kalian?"
"Buyung," jengek Heng-si-khek sinis. "Kematianmu sudah di depan mata, tidak perlu kau membual percuma. Mau tahu tujuan kami? Kami menginginkan jiwamu!"
Sontak membara hawa amarah Suma Bing. Ia berseru dengan nada berat, "Kalian tidak mau mengatakan tujuan kalian, terpaksa aku yang rendah ini berlaku kurang hormat."
"Buyung, kau masih terpaut terlalu jauh!" tukas Bou-bong-khek dengan suara melengking.
"Silakan kau mencoba lebih dulu!" Sambil membentak keras, Suma Bing melancarkan sebuah hantaman ke arah Bou-bong-khek. Gelombang angin badai melanda, namun tampak Bou-bong-khek mengangkat tangannya yang kurus kering dan berputar satu lingkar. Seketika angin pukulan Suma Bing yang dahsyat itu hilang sirna. Malah, sejalur angin dingin menerjang dan merangsang dirinya. Betapa hebat kekuatan hawa dingin ini, Suma Bing terbentur mundur tiga langkah.
Baru sekarang Suma Bing merasa sangat terkejut. Lwekang musuh kiranya lebih tinggi dan lihai dari dugaannya semula. Salah seorang dari mereka saja sudah sedemikian lihai, apalagi jika berempat bergerak serentak mengeroyok dirinya; sudah pasti ia bukan tandingan mereka.
Akan tetapi, dasar sifat bawaan Suma Bing memang keras, angkuh, dan tak mengenal takut. Begitu tubuhnya berdiri tegak lagi, sambil menggerung keras, ia melancarkan hantaman dengan seluruh kekuatan Kiukang. Gelombang panas bergulung-gulung bagai badai ombak menerjang ke arah musuh.
Agaknya Bou-bong-khek dapat melihat kehebatan pukulan ini. Tanpa berayal, tubuhnya maju selangkah, kedua kaki sedikit ditekuk, lantas kedua tangannya disurung ke depan.
Setelah suara menggelegar bagai bumi meledak, tanah pasir berhamburan. Suma Bing sempoyongan mundur lima langkah, darah bergejolak hampir menyembur keluar dari mulutnya. Sebaliknya, Bou-bong-khek hanya tergeliat dua kali tanpa berkisar dari tempatnya semula.
Ia menjengek, "Bagaimana, bocah busuk? Satu di antara kami sudah cukup mencabut nyawamu, bukan?"
Sekarang Suma Bing benar-benar merasa bergidik. Sejak dirinya menelan Kiuyang-tjau-ko, Lwekangnya sudah maju berlipat ganda, namun sungguh di luar sangka bahwa ia masih tidak kuat melawan satu di antara setan gantung ini. Lwekang Ketua Bwe-hwa-hwe agaknya lebih unggul dari Buih, sementara keempat setan gantung ini naga-naganya masih lebih unggul lagi dari Ketua Bwe-hwa-hwe. Tapi untuk tujuan apakah para setan gantung ini mencari dirinya? Bahwa kepandaian mereka memang hebat, namun sebelum ini dirinya belum pernah mendengar nama Si-tiau-khek!
Dua kali terpental mundur, tanpa terasa Suma Bing sampai di hadapan Hui-bing-khek. Tahu-tahu sebuah jari tangan sudah menekan jalan darah besar Bing-bun-hiat milik Suma Bing, disusul suara dingin yang menggiriskan, "Buyung, jangan bergerak!"
Tergetar perasaan Suma Bing, seketika membara hawa amarahnya, "Membokong dan melukai orang, terhitung orang gagah macam apa kau?"
"Bocah busuk!" semprot Heng-si-khek. "Waktu tidak menunggu orang. Dengan cara begini lebih gampang dan cepat, jadi tak usah lagi kami berempat susah payah. Seumpama benar-benar mau berkelahi, sekali kami turun tangan serempak, kutanggung tubuhmu pasti hancur lebur jadi perkedel!"
Saking murka, Suma Bing mengertakkan gigi, desisnya penuh kebencian, "Si-tiau-khek, ingatlah penghinaan ini. Akan datang suatu hari aku, Suma Bing, pasti membunuh kalian berempat!"
"Buyung, kudoakan kau mendapat kesempatan itu. Hanya sayang, ucapanmu ini bagai kentut yang tak berguna."
Mendadak Teh-tjiam-khek menjerit keras melengking seperti pekikan setan. Sebuah bayangan orang melesat tiba memasuki hutan. Segera Si-tiau-khek berseru lantang bersamaan, "Lapor pada Ketua, kami sudah bekerja menurut perintah!"
"Kalian berempat tak perlu banyak peradatan."
Waktu Suma Bing memandang, hampir saja dadanya meledak saking gusar, karena bayangan yang baru muncul ini ternyata bukan lain adalah Ketua Bwe-hwa-hwe. Sungguh di luar dugaan bahwa Si-tiau-khek yang lihai ini kiranya adalah begundal Bwe-hwa-hwe. Juga, ia tak habis mengerti mengapa Ketua Bwe-hwa-hwe ini sedemikian besar hasratnya hendak melenyapkan dirinya.
Tidak lama kemudian, beruntun berdatangan beberapa orang berseragam hitam dari empat penjuru, baju di depan dada mereka bersulam sekuntum bunga Bwe besar.
Segera Heng-si-khek maju minta petunjuk, "Lapor Ketua, bagaimana bocah ini harus kubereskan?"
Tanpa ragu, Ketua Bwe-hwa-hwe menyahut, "Gusur pulang ke markas besar."
"Wah, ini agak berabe kalau terjadi sesuatu di tengah jalan. Tapi orang tua itu ingin dia hidup dan hendak menginterogasinya sendiri..."
"Apakah Hwe-tiang masih ingat tentang peristiwa Pek-kut-ji yang sudah muncul dua kali?"
Tercekat hati Suma Bing. Timbul pertanyaan dan rasa curiga dalam benaknya, entah siapakah 'orang tua' yang dimaksud oleh Ketua Bwe-hwa-hwe ini. Naga-naganya, Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri juga mendapat perintah dari orang lain.
Terdengar Ketua Bwe-hwa-hwe berkata dengan nada berat, "Hal itu sudah diatur dengan rapi sekali. Tutuklah jalan darah bocah ini agar lebih gampang kalian menggusur pergi. Lalu, silakan kalian berempat masing-masing mengendarai sebuah kereta, berpencar dari empat jurusan langsung kembali ke markas besar!"
"Kalau begitu, hamba sekalian sudah paham," sahut Heng-si-khek. "Setiap kereta memuat seorang yang berwajah sama dan pakaian yang sama pula, berpencar dari empat penjuru."
Segera terdengar suara ringkik kuda dan roda kereta berkeletak-keletok mendatangi. Empat kereta kecil memasuki gelanggang. Kedua mata Suma Bing mendelik merah membara; sungguh di luar dugaannya bahwa ia bakal begitu gampang terjatuh dalam cengkeraman iblis musuh-musuhnya ini.
Segera Ketua Bwe-hwa-hwe berkata lagi, "Pakaian kalian berempat juga harus diganti supaya tidak menimbulkan kecurigaan atau perhatian orang!"
"Hamba terima perintah."
"Bocah ini harap Lo-toa yang mengantar?"
"Baik!"
Diam-diam Suma Bing tidak habis mengerti. Didengar dari cara Ketua Bwe-hwa-hwe bicara kepada Si-tiau-khek, benar-benar membuat orang susah menebak betapa tinggi kedudukan Si-tiau-khek di dalam Bwe-hwa-hwe. Apalagi kepandaian Si-tiau-khek agaknya masih lebih unggul dari Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri.
"Mulai berangkat!"
Seketika Suma Bing merasa seluruh tubuhnya tergetar hebat, beberapa jalan darah besar ditubuhnya beruntun ditutuk. "Buk", kontan tubuhnya terkapar di atas tanah. Seluruh tubuh terasa lemas lunglai, mulut tak kuasa bicara. Sia-sia saja matanya melotot merah gusar, sisa tenaga untuk melawan pun sudah tidak mampu dikerahkan.
Seorang laki-laki segar segera maju mendekati. Sigap sekali orang ini mengenakan sebuah kedok ke muka Suma Bing, lalu mengganti juga pakaiannya dengan jubah warna hitam yang bersulam sekuntum bunga Bwe di depan dada. Hampir meledak dada Suma Bing dan ia jatuh pingsan saking gusar.
Bersama itu, Si-tiau-khek juga telah mengeluarkan kedok masing-masing terus dikenakan untuk menutupi wajah mereka yang beringas. Sorot mata Ketua Bwe-hwa-hwe mencorong tajam dari dalam kedoknya. Sekilas ia menyapu pandang ke arah Heng-si-khek dan berkata, "Lo-toa, hati-hatilah sepanjang jalan!"
"Hamba sudah paham."
"Kalau terjadi sesuatu dan terpaksa, kuberi izin untuk melenyapkan jiwanya. Dan juga, kalau kebentur lagi dengan Pek-kut-ji atau Rasul Penembus Dada, kau harus hati-hati. Layanilah dengan hormat, jangan menggunakan kekerasan. Inilah perintahku!"
"Hamba terima perintah!"
"Sekarang boleh berangkat, naik kereta kedua!"
Bou-bong-khek, Hui-bing-khek, dan Teh-tjiam-khek segera melesat naik ke atas kereta kesatu, kedua, dan ketiga. Sedangkan Heng-si-khek segera menjinjing tubuh Suma Bing langsung menuju ke kereta kedua.
Pada saat itulah, mendadak kerai kereta tersingkap. Sebuah bayangan putih mulus keluar dari dalam kereta, melayang enteng bagai roh halus di depan kereta. Pakaiannya sepan serba putih dan mengenakan kedok putih pula. Di depan dadanya bergambar sebilah cundrik berwarna merah darah.
Seketika terdengarlah suara pekik terkejut dan suasana menjadi ribut.
"Rasul Penembus Dada!"
"Rasul Penembus Dada!"
Bahwa Rasul Penembus Dada bisa keluar dari kereta kedua ini benar-benar merupakan hal yang sangat mustahil dan susah dibayangkan. Seketika Si-tiau-khek terhenyak kaget di tempat masing-masing. Tidak ketinggalan Ketua Bwe-hwa-hwe juga terkejut mundur tiga langkah, tubuhnya gemetar menahan perasaan. Begitu suara ribut-ribut itu sirap, suasana menjadi sedemikian hening lelap dan menegangkan. Keseraman seketika meliputi lubuk hati setiap hadirin.