Chapter 58
Kurang lebih baru satu bulan Rasul Penembus Dada muncul di dunia persilatan, tetapi sepak terjangnya benar-benar sangat menggemparkan. Seakan-akan dunia persilatan sudah mendekati masa akhirnya; entah dia berasal dari aliran hitam atau putih, begitu mendengar nama dan melihat wujudnya, mereka segera lari lintang pukang menyelamatkan diri.
Sudah tahu, namun Ketua Bwe-hwa-hwe sengaja mengajukan pertanyaan, "Tuan orang sakti dari mana?"
"Rasul Penembus Dada!" Kata-kata ini keluar dari mulut tokoh misterius yang menakutkan itu. Tekanan nada dan irama suaranya benar-benar menyedot semangat semua anggota Bwe-hwa-hwe yang hadir.
Merandek sejenak, lantas Ketua Bwe-hwa-hwe berkata lagi, "Tuan datang kemari ada petunjuk apakah?"
"Kau inikah Ketua Bwe-hwa-hwe?"
"Tidak salah!"
"Sebutkan namamu?"
Lagi-lagi Ketua Bwe-hwa-hwe tergetar mundur satu langkah, suaranya gemetar, "Ini... maaf, tak dapat kukabulkan."
Rasul Penembus Dada mengekeh tawa dingin, ancamnya, "Kau berani membangkang?"
Walaupun jalan darah Suma Bing tertutup dan mulut tak dapat bicara, namun telinganya masih bisa mendengar. Dengan jelas ia menyaksikan dan mendengar segala perubahan yang terjadi. Hatinya turut terkejut dan heran bahwa Rasul Penembus Dada bisa mendadak muncul di situ.
"Blang!" Tubuh Suma Bing dilontarkan sejauh tiga tombak dan rebah tak berkutik di atas tanah.
Sebat luar biasa, keempat Setan Gantung itu lantas berpencar ke empat penjuru mengepung Rasul Penembus Dada. Dengan pandangan dingin, Rasul Penembus Dada mendengus hina, tanpa melirik sekejap pun ke arah keempat Setan Gantung tersebut. Suasana seram ini semakin memperuncing ketegangan di lubuk hati setiap hadirin.
Sejenak menenangkan hatinya, lantas Ketua Bwe-hwa-hwe bertanya, "Tuan ingin mengetahui nama besarku, apakah tujuan Tuan?"
"Ingin kuketahui wajah aslimu, mudah bukan?"
"Apa tidak keterlaluan keinginan Tuan ini?"
"Sekarang lebih baik kau segera tanggalkan kedokmu itu!" Nada kata-katanya seakan memerintah dan tidak memberi kelonggaran sedikit pun.
Bahwasanya Buih yang kenamaan juga tidak masuk dalam pandangan Ketua Bwe-hwa-hwe ini. Sebaliknya, menghadapi ketemberangan Rasul Penembus Dada, sikapnya agak takut-takut. Tapi di hadapan sekian banyak anak buahnya, demi menjaga gengsi, tak dapat tidak ia harus memberanikan diri supaya tidak memperlihatkan kelemahannya.
Maka segera ia menyahut lantang, "Maaf, tak dapat kuturuti keinginan Tuan!"
"Selamanya kata-kata Rasul Penembus Dada sekokoh gunung, tidak mengenal apa yang dinamakan 'tidak bisa'. Ketahuilah, di seluruh kolong langit ini tidak akan kubiarkan seseorang menyembunyikan wajahnya di hadapanku!"
"Memangnya kenapa?"
"Itu bukan urusan yang harus kau tanyakan!"
"Baiklah, kutandaskan sekali lagi, tidak bisa!"
"Apa kau sudah membayangkan akibatnya?"
"Sebagai ketua, selamanya aku belum pernah diancam."
"Hehehehehe... obrolan impian!"
"Tuan terlalu menghina orang!" Disertai suara bentakan menggelegar, keempat Setan Gantung serempak mengirim pukulan menyerang Rasul Penembus Dada. Bersamaan dengan itu, Ketua Bwe-hwa-hwe malah melejit jauh menyingkir tiga tombak di luar gelanggang.
Maka terdengarlah suara dentuman yang dahsyat memekakkan telinga; kontan keempat Setan Gantung mundur terhuyung beberapa langkah. Hanya gebrak pertama kali ini cukup membuat kuncup dan ciut nyali setiap anggota Bwe-hwa-hwe yang hadir. Betapa hebat gabungan tenaga keempat Setan Gantung ternyata masih tidak kuat melawan seorang, malah terpental balik sendiri. Lwekang sedemikian hebat benar-benar sangat mengejutkan dan menggetarkan.
Pada saat keempat Setan Gantung terhuyung mundur dan belum sempat berdiri tegak, itulah tiba-tiba terlihat sebuah bayangan putih berkelebat secepat kilat. Tahu-tahu Rasul Penembus Dada sudah melejit tiba di hadapan Ketua Bwe-hwa-hwe sejarak uluran tangan. Serta-merta Ketua Bwe-hwa-hwe tersurut mundur ketakutan.
"Tanggalkan kedokmu!" perintah suara dingin Rasul Penembus Dada.
"Tidak bisa!"
"Manusia sombong!" Tiba-tiba terdengar sebuah lengkingan suara aneh. Hui-bing-khek, salah satu dari keempat Setan Gantung, dengan kecepatan kilat mendadak menubruk ke arah Rasul Penembus Dada. Belum tubuhnya tiba, rangsangan angin pukulannya sudah melanda lebih dulu.
"Kembali!" Sebuah tangan Rasul Penembus Dada diayun, kontan tubuh Hui-bing-khek terpental balik di tengah udara.
Maka pada saat yang bersamaan itu terdengar pula suara bentakan yang riuh rendah; ketiga Setan Gantung yang lain serentak ikut menyerbu datang dengan pukulan-pukulan dahsyat yang mematikan.
Rasul Penembus Dada menggeram gusar, topan angin pukulannya sekokoh gunung kontan menerjang keluar memapak maju mengiringi suara geramannya itu. Kontan terdengar suara mendehem keras seperti hendak muntah, diselingi suara lolong maut yang mengerikan. Bau-bing-khek dan Heng-si-khek terpental terbang delapan kaki jauhnya. Adalah Teh-tjiam-khek yang paling mengenaskan, badannya terbawa terbang tergulung topan angin pukulan hingga jungkir balik seperti layang-layang putus benangnya; hujan darah pun terjadi di tengah udara.
Hampir dalam waktu yang sama, Ketua Bwe-hwa-hwe juga telah melancarkan sebuah hantaman dahsyat dari seluruh kekuatannya membokong punggung Rasul Penembus Dada. Pukulannya ini bukan saja keras, juga cepat laksana kilat menyambar. Seolah-olah punggung Rasul Penembus Dada tumbuh mata, tanpa berpaling lagi tiba-tiba tubuhnya bergerak melingkar laksana seekor belut. Di mana kakinya menginjak tanah lagi, tahu-tahu tubuhnya sudah melejit tiba di hadapan Ketua Bwe-hwa-hwe sejauh tidak lebih dari tujuh kaki.
Melihat pukulan yang paling diandalkan ternyata mengenai tempat kosong, tanpa terasa terbang semangat Ketua Bwe-hwa-hwe. Belum sempat lagi otaknya berpikir, tahu-tahu ia merasakan pergelangan tangannya kesakitan; kiranya tangan kanannya telah digenggam kencang oleh Rasul Penembus Dada.
Sementara itu, Suma Bing sudah melupakan di mana dirinya berada, kedua matanya dengan melongo mengawasi gelanggang pertempuran. Bahwasanya dia sendiri sangat ingin melihat dan mengetahui bagaimana sebenarnya wajah asli dari Ketua Bwe-hwa-hwe ini; besar harapannya hendak membuka kedok musuhnya ini yang selalu memburu dirinya. Teka-teki ini agaknya segera akan terpecahkan.
Buncah dan ributlah para anggota Bwe-hwa-hwe yang hadir, pucat dan gemetar tubuh mereka melihat ketuanya diringkus musuh. Namun, mereka insaf dan tak berani menampilkan diri untuk menolong.
"Jangan lukai majikan kami!" terdengar ketiga Setan Gantung itu berteriak beringas. Di tengah suara pekik gusar mereka itulah, berbarengan mereka menubruk maju lagi sambil menyerang kalap.
Sekali jinjing dengan enteng sekali, Rasul Penembus Dada mengangkat tubuh Ketua Bwe-hwa-hwe untuk dijadikan tameng menangkis pukulan tiga Setan Gantung yang meluncur tiba dari tengah udara. Terpaksa tersipu-sipu ketiga Setan Gantung menarik balik serangannya; kalau tidak, pasti ketua mereka sendiri bakal mati konyol.
Dengan nada hina dan muak, Rasul Penembus Dada mengancam, "Setan gentayangan, berdirilah yang agak jauh!"
Setelah saling berpandangan, benar-benar juga tanpa berani banyak bicara, tiga Setan Gantung itu segera mundur beberapa langkah. Tampak tubuh Ketua Bwe-hwa-hwe gemetar keras, mungkin baru sekarang dia merasakan betapa nikmat sebagai orang yang ditawan oleh musuh.
"Lekas kau turun tangan sendiri!" Suara ini seolah-olah mengandung daya perintah yang tak dapat dibantah dan diabaikan.
Maka di lain saat, kedok kain muka telah ditanggalkan. Terlihat sebuah wajah cakap ganteng dari seorang pemuda yang mengandung kebengisan; pancaran matanya buas dan dugal. Tergetar perasaan Suma Bing; sungguh di luar prasangkanya bahwa Ketua Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan itu ternyata adalah seorang pemuda yang sepadan dengan dirinya.
Ada permusuhan dendam apakah pemuda ini terhadap dirinya? Ya, benar, masih ada seorang lain di belakang layar yang mereka sebut sebagai 'dia orang tua' itu. Lalu siapa pula orang tua itu? Para jagoan Bwe-hwa-hwe rata-rata menunjukkan rasa terkejut, tercengang, dan penuh kecurigaan; baru pertama kali ini mereka melihat jelas wajah asli ketua mereka selama mereka mengabdi di bawah perintahnya.
"Tuan sudah puas belum?" tanya Ketua Bwe-hwa-hwe sambil mengertak gigi.
Agaknya Rasul Penembus Dada juga merasa di luar dugaan, sejenak ia tertegun lalu sahutnya, "Masih ada satu hal..."
"Cepat katakan!"
"Siapa namamu?"
"Tjhiu Thong!"
Rasul Penembus Dada melepas tangannya lalu mundur satu tindak, katanya, "Sampai sekian saja, kalian boleh pergi!"
Kata Tjhiu Thong, Ketua Bwe-hwa-hwe, dengan penuh kebencian, "Tuan harus ingat perhitungan hari ini."
"Hehehehehe, kutunggu pembalasanmu!"
Segera Ketua Bwe-hwa-hwe melambaikan tangannya ke arah tertua dari keempat Setan Gantung yaitu Heng-si-khek sambil berseru, "Bawa pergi!"
Sekali berkelebat, Heng-si-khek melejit ke samping Suma Bing.
"Jangan sentuh dia!" cegah Rasul Penembus Dada sambil mengangkat sebelah tangannya. Seketika Heng-si-khek terhenyak di tempatnya.
Gigi Ketua Bwe-hwa-hwe gemeretak menahan amarah yang tak terkendalikan, geramnya, "Apa maksud Tuan sebenarnya?"
"Tidak apa-apa, lekas kalian pergi!"
Ketua Bwe-hwa-hwe membanting kaki dengan gemas dan dongkol, serunya, "Tuan, gunung tetap menghijau, air selalu mengalir, kelak kita bertemu lagi!" Habis berkata, ia melambaikan tangan memberi perintah untuk mundur.
Maka bayangan orang berkelebatan, suara roda kereta berkeletokan menjauh; dalam sekejap mata semua sudah pergi bersih.
Di pihak lain, Suma Bing merasa heran dan tak habis mengerti, masa kedatangan Rasul Penembus Dada ini adalah khusus hendak menolong dirinya? Sepasang mata Rasul Penembus Dada berkilat-kilat menyedot semangat menatapi wajah Suma Bing. Tiba-tiba jari-jarinya bergerak-gerak dari kejauhan, beruntun ia menutuk.
Seketika bebas tutukan jalan darahnya, Suma Bing bergegas melompat bangun, terus merangkap tangan sambil berseru, "Atas pertolongan Tuan..."
"Kau jangan salah sangka," tukas Rasul Penembus Dada dengan suara dingin kaku tak berperasaan. "Kedatanganku ini bukan hendak menolong kau!"
Suma Bing tertegun, tanyanya, "Lalu apa maksud kedatangan Tuan ini?"
"Mengejar jejak Ketua Bwe-hwa-hwe."