Chapter 59
"Kebetulan bertemu kau di sini, ini memudahkan pekerjaanku."
"Jadi, aku yang rendah ini juga tengah kau cari?"
"Ucapanmu benar!"
"Untuk urusan apa?"
"Kau bernama Suma Bing?"
"Tidak salah!"
"Murid Sia-sin Kho Jiang?"
"Benar!"
Seketika berubah sorot mata Rasul Penembus Dada. Tahu-tahu Suma Bing merasa pandangannya kabur. Belum sempat otaknya berpikir, sebuah cundrik yang berkilauan berhawa dingin sudah mengancam ulu hatinya. Kecepatan gerak serangan ini benar-benar susah dibayangkan.
Keruan melonjak keras jantung Suma Bing. Hanya sejenak wajahnya berubah pucat, lalu kembali seperti sediakala dengan sikap yang angkuh dan keras kepala. Katanya, "Tuan hendak berbuat apa?"
"Menembusi dadamu."
Bergetar seluruh tubuh Suma Bing, tanyanya, "Sebab apa?"
"Sudah tentu harus kuberitahu kepada kau. Sekarang jawablah pertanyaanku terakhir, Loh Tju-gi itu apamu?"
"Loh Tju-gi? Dia musuh besarku!"
"Musuh besar?"
"Benar, musuh besar yang harus kubeset kulitnya dan kuhancurleburkan badannya. Ia adalah murid durhaka yang mencelakai gurunya sendiri."
Di mulut berkata begitu, dalam hati Suma Bing tengah membatin, "Heran, mengapa pula menyangkut pada diri Loh Tju-gi?"
Sejenak Rasul Penembus Dada merenung, lalu tanyanya pula, "Jadi kau dengan dia adalah kakak-adik seperguruan?"
"Jadi tuan ini tengah mengompres keteranganku?"
"Boleh dikata demikian!"
"Kalau begitu maaf, selamanya aku yang rendah tidak suka diperas!"
Rasul Penembus Dada tertawa dingin, ancamnya, "Apa kau tahu betapa nikmat bila dadamu kutembusi dengan cundrikku ini?"
"Ha, paling banyak mati."
"Kau tidak takut mati?"
"Mengapa harus ditakuti?"
"Cukup gagah."
Suma Bing menjadi gusar, semprotnya, "Tuan hendak membunuh orang pasti ada alasannya, bukan?"
"Kau sudah mulai takut?"
"Hm, takut? Kutanyakan alasanmu hendak membunuh aku!"
"Gampang sekali, sebab kau seperguruan dengan Loh Tju-gi!"
Terkenang oleh Suma Bing peristiwa yang belum lama ini terjadi karena ada hubungan juga dengan Loh Tju-gi, maka hampir saja jiwanya melayang di tangan Pek-hoat Sian Nio. Sekarang juga karena ada hubungan dengan Loh Tju-gi maka Rasul Penembus Dada mencari dirinya. Entah dari mana harus diterangkan persoalan ini. Maka lantas katanya dingin, "Aku sudah terjatuh di tangan tuan, mau disembelih atau dibunuh, terserah kepadamu."
"Tapi ada satu hal perlu kutekankan, kau boleh menggunakan alasan apa saja untuk membunuh aku, tapi jangan menyinggung nama Loh Tju-gi lagi!"
"Kalau tidak, mati pun aku takkan meram!"
"Mengapa?"
"Murid durhaka dan sampah kaum persilatan, aku bersumpah hendak menghancurleburkan tubuhnya."
Lama dan lama sekali Rasul Penembus Dada tenggelam dalam pikirannya menerawangi apa yang harus dilakukan selanjutnya. Akhirnya suaranya mendesis, "Suma Bing, kau pasrah nasib saja. Apa pun alasanmu tidak berguna, kau sudah ditakdirkan untuk mati."
Suma Bing menyeringai seram, ujarnya, "Silakan turun tangan!"
Pada saat itulah, mendadak Rasul Penembus Dada malah menarik mundur cundriknya dan berpaling ke arah dalam rimba serta berseru lantang, "Siapa itu main sembunyi seperti pancalongok? Lekas menggelundung keluar!"
Diam-diam Suma Bing memuji kagum akan kepandaian Rasul Penembus Dada yang lihai ini. Sedikit pun dirinya tidak merasakan apa-apa, sebaliknya ia malah mengetahui adanya seseorang yang mengumpet di dalam rimba, bahkan diketahui letak sembunyinya lagi.
Waktu Rasul Penembus Dada menarik cundriknya dan putar tubuh, kesempatan ini sebenarnya dapat digunakan Suma Bing untuk turun tangan membokong atau melejit menyingkir. Tapi dasar sifatnya memang angkuh dan tinggi hati, tidak terpikirkan olehnya semua itu. Dengan tenang, ia tetap berdiri di tempatnya.
Memang apa yang diperbuatnya ini sangat tepat. Dengan kepandaian Rasul Penembus Dada yang sedemikian tinggi, bilamana benar-benar ia turun tangan membokong, kematianlah yang akan menimpa dirinya.
Begitulah, bertepatan dengan habis ucapan Rasul Penembus Dada, seorang aneh yang berwarna serba hitam legam bagai arang melompat keluar dari dalam rimba sana.
"Racun Diracun!" benak Suma Bing berseru. Bahwa Racun Diracun bisa muncul di situ pada saat itu pula benar-benar susah dibayangkan.
Melihat keanehan bentuk orang yang mendatangi ini, agaknya Rasul Penembus Dada juga merasa heran. Sejenak tertegun, lantas ia membentak, "Kawan kosen dari manakah?"
"Akulah Racun Diracun!"
"O, Racun Diracun. Kau tahu siapa aku ini?"
"Rasul Penembus Dada!"
"Jadi, kau sudah tahu dan sengaja melanggar?"
"Melanggar apa?"
"Kau berani mengintip gerak-gerik Rasul Penembus Dada, apa kau sudah bosan hidup?"
Racun Diracun mengekeh tawa dingin, serunya, "Mulut besar yang sombong, aku Racun Diracun tidak ingin hidup lama, tapi kau juga akan menyesal karena usiamu pendek."
"Hehehehe, kawan, kau sangka bisa menggunakan racun lantas bisa selamanya selamat?"
"Aku tidak berpendapat begitu, biar aku bicara terus terang. Mengenai ilmu silat, mungkin aku yang rendah takkan terlepas dari tangan kejimu. Tapi tuan belum tentu dapat lolos juga dari racun berbisaku."
Suma Bing merasa kaget luar biasa. Kiranya kedatangan Racun Diracun adalah hendak melabrak Rasul Penembus Dada yang sudah menggetarkan dunia persilatan ini.
Terdengar Rasul Penembus Dada tertawa dingin, ujarnya, "Racun Diracun, sebelum kau menggunakan racunmu, mungkin jiwamu sudah melayang lebih dulu."
Racun Diracun membalas dengan tawa sinisnya, semprotnya, "Mungkin sebelum tuan turun tangan membunuh aku, kau sudah terkena racun berbisa yang menamatkan jiwamu."
"Seandainya sekarang ini aku sudah terkena bisa, aku masih mampu mencabut nyawamu."
"Sudah tentu, dengan kemampuan tuan segala racun berbisa tidak akan dapat segera membinasakan jiwamu, tapi waktunya tidak akan lama. Kalau tuan ingin mencoba, marilah kita gugur bersama, bagaimana?"
Betapa tinggi kepandaian Rasul Penembus Dada, tak urung berdiri juga bulu romanya. Musuh berani menamakan diri sebagai Racun Diracun, apalagi sudah tahu betapa menakutkan nama Rasul Penembus Dada, toh orang masih berani datang dan menantangnya lagi. Agaknya kedatangannya ini mempunyai pegangan yang mantap.
Oleh karena pikirannya ini, segera ia berkata lagi, "Jadi kedatanganmu ini ada maksud tertentu, bukan?"
"Sedikit pun tidak salah."
"Coba katakan alasanmu?"
"Karena dia aku datang!"
"Dia? Maksudmu Suma Bing?"
"Benar!"
Hal ini bukan saja mengejutkan Rasul Penembus Dada, juga Suma Bing merasa di luar dugaan. Bahwa Racun Diracun meluruk datang adalah karena dirinya, boleh dikata sangat mustahil.
"Untuk dia kau datang?"
"Memangnya kenapa?"
"Kuharap tuan melepaskan dia!"
"Kurasa tuan salah alamat. Tidak bisa karena dosa-dosa Loh Tju-gi lantas dia harus mati konyol di bawah cundrikmu itu."
"Hai, kawan, apa hubunganmu dengan dia?"
"Hubunganku sangat erat!"
"Coba kau terangkan!"
"Maaf, aku tidak dapat menutur!"
"Hm, kau sangka dengan obrolanmu itu lantas aku dapat melepaskan dia begitu saja?"
"Jadi tuan bersedia untuk gugur bersama?"
Lebih besar lagi rasa kejut dan heran Suma Bing. Bahwa Racun Diracun adalah musuh bebuyutan tangguh, tak nyana kalau manusia paling berbisa ini rela dan ikhlas hendak berkorban jiwa demi kepentingannya. Hal ini benar-benar mustahil dan tidak masuk di akal.
Apa mungkin ia mempunyai sesuatu maksud tertentu? Benar, ia pernah memberi dorongan dan nasihat kepada dirinya untuk mencari Mo-hoa. Jikalau Bunga Iblis sudah didapat, maka tanpa syarat ia hendak mengembalikan Pedang Darah kepada dirinya. Bahwa Pedang Darah dan Bunga Iblis adalah dua benda pusaka kaum persilatan yang diimpikan dan hendak diperebutkan. Siapa mendapatkan kedua benda keramat itu, pasti kepandaiannya tiada taranya di dunia ini.
Apa tidak mungkin ia hendak meminjam tenagaku untuk mencari Bunga Iblis, lalu dari tanganku ia hendak merebutnya kembali? Tapi ini juga tidak mungkin. Kalau Pedang Darah sudah berada di tangannya, mengapa ia sendiri tidak mau mencari Bunga Iblis itu? Tentang ilmu silat, ia lebih tinggi berlipat ganda dari dirinya...
Suma Bing terlongo hampa, sungguh ia tidak habis mengerti ke mana sebenarnya tujuan orang itu. Kenyataan Racun Diracun rela menjual jiwanya untuk dirinya pun tidak pernah ia duga.
Tengah ia menunduk menepekur, terdengar Rasul Penembus Dada tertawa dingin dan berkata hambar, "Sobat, biar kusempurnakan keinginanmu!" Sambil berkata, kakinya melangkah maju mendekati ke arah Racun Diracun.
Ketegangan semakin meruncing penuh nafsu membunuh. Segera Suma Bing menggerung dengan beringas, "Berhenti!"
Serta-merta Rasul Penembus Dada menghentikan langkahnya, lalu berpaling dan mengejek, "Kau tidak perlu kesusu, segera akan sampai giliranmu!"
"Tutup mulutmu!"
"Bagaimana?"
"Aku tiada ikatan atau hubungan apa-apa dengan Racun Diracun, aku tidak sudi menerima budi luhurnya ini."
"Jadi maksudmu..."
"Lepaskan dia pergi, kau urusan dengan aku saja!"
"Tapi dia sendiri mengatakan berhubungan erat dan kental dengan kau?"
"Dia bohong dan membual!"
Segera Racun Diracun menyela berkata, "Suma Bing, tidak perlu main sangkal, aku tidak takut kepadanya!"
Rasul Penembus Dada mendengus dongkol, desisnya, "Tidak peduli bagaimana, adalah kau sendiri yang mencari kematian!"
Darah bergolak merangsang jantung Suma Bing. Saking gugup, ia berteriak panjang, "Jangan!" Sambil berteriak, ia kerahkan seluruh tenaganya, sekali berkelebat ia maju menubruk sambil kirim serangan ke arah Rasul Penembus Dada.
Rasul Penembus Dada tertawa mengejek, enteng sekali sebelah tangannya diayun, bergelombanglah angin pukulannya bagai hujan badai derasnya...
Di tengah suara mengguntur dari benturan kedua pukulan yang dahsyat itu, Suma Bing melolong panjang kesakitan, darah berhamburan dari mulutnya, badannya terpental terbang dan terbanting keras di kejauhan sana.
Agaknya Rasul Penembus Dada belum puas begitu saja, lagi-lagi kakinya mendesak maju ke arah Racun Diracun. Segera Racun Diracun angkat sebelah tangannya berseru, "Nanti dulu!"
"Kau masih ada pesan apa yang perlu disampaikan?"
"Kuharap tuan suka memberi kelonggaran sekali ini kepada dia."
"Jiwamu sendiri sudah di ambang kematian, buat apa kau mintakan belas kasihannya?"
Suma Bing mendongak sambil berteriak menggila, "Aku Suma Bing tidak perlu mengemis kasihan orang lain!" Karena mulutnya terpentang, darah menyembur lagi sedang tubuhnya pun tergolek lemas di atas tanah.