Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 60

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 60

"Jadi, Tuan tidak mau mengampuni jiwanya?" tanya Racun Diracun.

"Hm, termasuk jiwamu juga!"

"Kalau sementara bagaimana? Boleh, bukan?"

"Sementara? Apa maksudmu?"

"Sasaran tepat yang harus Tuan cari sebenarnya adalah Loh Tju-gi, sedangkan dia sendiri juga merupakan musuh besar Loh Tju-gi. Kuharap Tuan dapat memberi kesempatan untuk dia menuntut balas. Dan lagi, bukankah Tuan juga mendapat perintah dari orang lain..."

"Tutup mulutmu! Hal itu tidak perlu kau urus!"

"Tapi bagaimanapun juga, aku minta Tuan suka memberi kesempatan sekali ini. Kalau hari ini..."

"Bukankah terlalu bertele-tele? Setiap saat, setiap waktu aku dapat mencabut jiwanya. Kalau kesempatan hari ini hilang, bukankah besok sama saja? Apa bedanya dan apa manfaatnya kelebihan hidup satu hari?"

"Apa boleh buat, aku sendiri juga mendapat perintah untuk meminta belas kasihannya!"

"Mendapat perintah dari siapa?"

"Kukira Tuan kenal akan pemilik benda ini?" Setelah berkata demikian, ia merogoh sebuah benda dari dalam bajunya, menyodorkannya ke depan mata Rasul Penembus Dada, lalu dengan cepat menyimpannya kembali.

Walaupun Suma Bing terluka parah dan tidak mampu bergerak, setiap pembicaraan kedua orang ini dapat didengarnya dengan jelas. Entah mendapat perintah dari siapakah Racun Diracun untuk menolong jiwanya, lebih tidak diketahui lagi benda apakah yang diperlihatkan kepada Rasul Penembus Dada itu.

"Bagaimana?"

"Kawan, kau adalah..." Suara Rasul Penembus Dada penuh dengan perasaan heran dan terkejut.

"Mengandalkan benda ini, kuharap Tuan dapat sementara melepas tangan," sergah Racun Diracun dengan cepat.

Sekian lama Rasul Penembus Dada ragu dan bimbang, akhirnya berkata, "Baik, tapi hanya sementara saja. Kelak sukar dikatakan!"

"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih!"

"Tidak perlu!" Bayangan putih berkelebat bagai segumpal asap dan menghilang di balik hutan.

Racun Diracun menghampiri Suma Bing seraya berkata, "Lukamu tidak ringan?"

Sambil mengertakkan gigi, Suma Bing merangkak bangun. Sahutnya, "Tidak menjadi soal, hanya aku berhutang budi sekali lagi kepada Tuan."

"Aku bekerja menurut perintah, kau tidak perlu ambil hati!"

"Tuan mendapat perintah dari siapa?"

"Maaf, tidak boleh kuberitahu kepadamu!"

Suma Bing menghela napas panjang, katanya, "Biar kelak kubalas kebaikanmu ini. Selamat bertemu." Dengan sempoyongan, ia berjalan keluar rimba.

"Kau tidak boleh pergi!" Suma Bing melengak dan menghentikan langkahnya, tanyanya, "Tuan masih ada omongan?"

"Kau harus berobat untuk memulihkan tenagamu."

"Itu mudah dan dapat kulakukan sendiri."

"Yang kumaksud sekarang ini, biar kubantu kau."

Memang sifat pembawaan Suma Bing angkuh dan keras kepala. Selamanya dia tidak sudi menerima budi orang lain, apalagi dia tengah curiga mungkin Racun Diracun mempunyai maksud tersembunyi yang belum diketahui. Maka segera ia tertawa, "Terima kasih akan kebaikanmu ini!"

"Suma Bing, keangkuhanmu ini tidak akan membawa faedah untuk kau. Kalau kau bentrok lagi dengan orang-orang Bwe-hwa-hwe dalam keadaan luka parah dan tidak mampu membela diri, apakah sudah kau bayangkan akibatnya?"

Setelah tertegun sekian lama, sikap Suma Bing masih tetap kukuh, "Hal itu sudah kupertimbangkan."

Racun Diracun menggelengkan kepala tanpa dapat berbuat apa-apa, ujarnya, "Baiklah, kau boleh pergi. Jangan kau lupa selekasnya mencari Bunga Iblis, Pedang Darah tengah menanti kau!"

Suma Bing membatin, seandainya tidak menemukan Bunga Iblis, Pedang Darah adalah milik ayahnya, bagaimana pun juga ia harus merebutnya kembali. Dalam hati ia berpikir demikian, namun di mulut ia menyahut, "Baik!" Lalu dengan langkah sempoyongan ia pergi.

Mendadak sebuah bayangan putih berkelebat lagi. Tahu-tahu Rasul Penembus Dada sudah melesat kembali ke dalam rimba. Kembalinya Rasul Penembus Dada membuat hati Suma Bing dan Racun Diracun tergetar.

Segera Racun Diracun mendahuluinya menyapa, "Untuk apa Tuan kembali lagi?"

Suara Rasul Penembus Dada mendesis dingin, "Hampir aku kelupaan sebuah urusan besar."

"Urusan apa?"

"Serahkan Pedang Darah kepadaku!"

Tergetar hebat hati Racun Diracun, tanpa terasa kakinya mundur dua langkah, serunya, "Mengapa harus kuserahkan kepadamu?"

"Kenapa kau tidak perlu tahu, lekas kau serahkan!"

"Tidak bisa!"

"Kau tahu akibatnya?"

"Barang itu tidak berada padaku, berada di..."

Rasul Penembus Dada mengekeh tawa dingin, serunya, "Kawan, tahulah diri! Benda apa yang kau kempit di ketiak kirimu itu?"

Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Racun Diracun. Sungguh di luar sangkanya bahwa Rasul Penembus Dada ternyata telah berhasil melatih ilmu aneh yang sudah lama menghilang di dunia persilatan, hingga matanya dapat melihat benda tersembunyi di balik baju.

Di lain pihak, Suma Bing juga tidak kalah heran dan terkejutnya. Muka Racun Diracun hitam legam bagai arang, sehingga susah diketahui mimik wajahnya, tapi karena kedok rahasianya terbongkar, agaknya ia terkejut juga.

Rasul Penembus Dada mendesak lagi, "Kawan, bekerjalah melihat gelagat!"

Agaknya Racun Diracun kewalahan, terpaksa ia menyahut, "Tapi terlebih dulu aku harus melapor kepada pemilik benda yang kutunjukkan kepadamu tadi..."

"Justru karena memandang muka pemilik benda itu aku mau melepaskan Suma Bing. Ini sudah melanggar kebiasaanku. Tentang Pedang Darah itu, tak peduli siapa pemiliknya, harus diserahkan kepada aku. Tiada kesempatan untuk kamu berdebat!"

"Jadi Tuan benar-benar memaksa?"

"Sudah tentu!"

Adalah Suma Bing yang tidak kuat menahan amarahnya, serunya dari samping, "Tuan mengandalkan kepandaian hendak merampas dengan kekerasan..."

"Lebih baik kau tutup mulut!"

Tubuh Racun Diracun tergetar hebat menahan perasaan hati. Sekian lama baru ia kuat menyahut dengan gemetar, "Tidak sukar Tuan mengambil Pedang Darah itu, tapi kau harus mengambil jiwaku dulu!"

"Bukankah itu sangat gampang?"

"Perlu dijelaskan terlebih dahulu, setelah kau memperoleh Pedang Darah, kau takkan kuat berjalan sejauh satu li."

"Kau berani menggunakan racun?"

"Ya, karena terpaksa."

"Jadi maksudmu kita gugur bersama?"

"Sedikit pun tidak salah."

"Aku khawatir sukar terlaksana keinginanmu itu."

"Ada baiknya Tuan mencoba?"

"Bagus sekali, mari mulai!"

Dibarengi dengan lenyap suaranya, Rasul Penembus Dada mendesak maju secepat kilat. Kelima jari tangannya bagai cakar garuda mencengkeram. Dengan kepandaian Racun Diracun yang lihai, ternyata sedikit pun ia tidak mampu berkelit atau melawan, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram oleh musuh.

Namun, pada saat itu pula dengan kecepatan luar biasa, sebelah tangan Racun Diracun yang lain sudah menampar wajah lawan. Terdengar Rasul Penembus Dada menggeram keras di mana pergelangan tangannya menghentak dengan kuat, kontan tubuh Racun Diracun terlempar jatuh dua tombak jauhnya.

Dalam gebrak pertama ini, kedua belah pihak bergerak sedemikian cepat seumpama kilat berkelebat hingga susah diikuti pandangan mata. Begitu menyentuh tanah, secepat itu pula tubuh Racun Diracun melejit bangun, kontan mulutnya memuntahkan darah.

Sebelum dia bernapas lega, tubuh Rasul Penembus Dada dengan kecepatan bagai angin lesus merangsang tiba. Terdengar kain robek, jubah panjang di depan dada Racun Diracun sudah berlubang. Tahu-tahu Pedang Darah sudah berada di tangan Rasul Penembus Dada.

Racun Diracun berteriak beringas, "Kau sudah terkena Racun Tanpa Bayangan, ditambah Induktahun. Ketahuilah, kau takkan bisa keluar dari rimba ini!"

"Sekarang kuperintahkan kau mengeluarkan obat penawarnya!" suara Rasul Penembus Dada agak gemetar.

"Kau bermimpi di siang hari bolong!"

"Kau tidak mau keluarkan?"

"Tidak!"

"Itu berarti kau mesti mati, termasuk dia juga!"

"Kau sudah berjanji untuk melepas dia?" desis Racun Diracun mengertakkan gigi.

"Sekarang kucabut kembali pernyataanku itu!"

"Kau plin-plan dan menjilat ludahmu sendiri. Kau lebih rendah dari sampah kaum persilatan."

"Pergilah kalian menjadi pahlawan gagah di neraka." Mendadak sebelah tangannya diayun ke atas, maka meluncurlah secarik sinar merah terang benderang menjulang tinggi ke langit. Lalu katanya lagi, "Kawan, tanda pertolongan sudah kulepas. Sebentar lagi pasti datang orang untuk mengambil Pedang Darah ini. Kau tidak menyangka, bukan?"

Sekali berkelebat, tubuhnya sudah mendekati Suma Bing. Sebilah cundrik yang berkilau mengancam ulu hati Suma Bing. Racun Diracun memekik kejut, serunya, "Baik, kuberikan obat penawarnya!"

Sigap sekali Rasul Penembus Dada membalik tubuh menghampiri Racun Diracun, pintanya, "Serahkan obat penawarnya!"

Cepat-cepat Racun Diracun menjentikkan dua butir pil obat. Rasul Penembus Dada meraihnya dan tidak segera ditelan. Sinar matanya berkilat-kilat menatap Racun Diracun, katanya, "Kawan, kau menyebut diri sebagai Racun Diracun, dapatkah aku percaya akan obat penawarmu ini?"

Racun Diracun mendengus geram, semprotnya, "Tuan, kau terlalu memandang rendah orang!"

"Baik, kupercaya kau takkan berani main gila. Kuingat kebaikanmu ini!" Setelah berkata begitu, segera ia menelan obat penawar itu.

"Rasul Penembus Dada," seru Suma Bing penuh kebencian, "Aku bersumpah untuk merebut kembali Pedang Darah itu!"

"Itu tergantung dari keberuntunganmu!" Bayangan putih berkelebat ringan, tubuhnya melejit hilang dari pandangan mata.

Dengan rasa penuh penyesalan, Suma Bing menghadapi Racun Diracun, katanya, "Tuan, aku Suma Bing berhutang budi terlalu banyak kepadamu. Biarlah kelak kita bicarakan lagi!" Sambil terbungkuk-bungkuk ia berjalan pergi. Racun Diracun membanting kaki, lalu secepat kilat ia pun melayang pergi.

Sukar sekali Suma Bing menggerakkan kedua kakinya, seakan berlaksa kati beratnya. Setelah berjalan satu li lebih, di depannya menghadang lagi sebuah hutan lebat yang gelap. Batinnya, aku harus mencari tempat tersembunyi untuk berobat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment