Chapter 61
Saat tengah berpikir, ia mendapati tidak jauh di sebelah sana sebuah pohon besar yang berlubang. Bergegas ia menuju ke arah pohon besar itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara kesiur angin di belakangnya. Cepat-cepat Suma Bing membalikkan tubuh dengan penuh kewaspadaan. Terlihat seorang gadis cantik bak bidadari tengah berdiri lemah gemulai di hadapannya, terpaut hanya dua tombak.
"Adik Sian, kau... kau..."
"Engkoh Bing!"
Kiranya gadis cantik itu tidak lain adalah Phoa Kin-sian yang sudah memiliki ikatan jodoh sebagai istri Suma Bing. Munculnya Phoa Kin-sian secara tiba-tiba di dalam rimba itu benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Seketika teringat akan adegan di dalam rimba di luar kuil bobrok dulu, tanpa terasa wajah mereka memerah jengah.
"Adik Sian, bagaimana kau bisa datang kemari?"
"Kulihat ada beberapa orang anggota Bwe-hwa-hwe meronda di luar hutan. Saking ingin tahu, kucoba-coba kemari memeriksa. Eh, Engkoh Bing, kau terluka?"
"Benar!"
"Terluka oleh siapa?"
Suma Bing menuturkan secara ringkas dan jelas. Berkerut dalam alis Phoa Kin-sian, katanya penuh kasih sayang, "Engkoh Bing, kau perlu segera berobat!" Lalu dengan langkah lemah gemulai, ia datang menghampiri dan memapah Suma Bing masuk ke dalam lubang pohon. Seumpama seorang istri setia yang tengah melayani suaminya dengan penuh rasa cinta kasih, timbul suatu perasaan manis dan mesra dalam benak Suma Bing. Apalagi bau harum yang memabukkan perasaan itu membuat hatinya melayang-layang.
Lubang pohon itu cukup besar, lebih dari setombak luasnya, cukup untuk mereka mengumpat sementara di situ. Phoa Kin-sian mengeluarkan dua butir pulung obat lalu perlahan-lahan dijejalkan ke dalam mulut Suma Bing, serta berkata lemah lembut, "Engkoh Bing, biar kubantu kau..."
"Tidak perlu, dengan keampuhan Kiukang dibantu khasiat obatmu, kukira cukup."
"Baiklah, biar aku yang menjaga di luar!" Ia menggeser maju ke mulut lubang, sedangkan Suma Bing segera duduk bersamadi mengerahkan tenaganya.
Waktu berjalan dengan cepat, siang sudah berganti malam. Dalam kegelapan malam di dalam lubang pohon itu, sepasang kekasih tenggelam dalam perasaan bahagia yang tak berujung pangkal. Sambil menggelendot di dada Suma Bing, Phoa Kin-sian berkata malu-malu, "Engkoh Bing, agaknya aku..."
"Kau kenapa?"
"Aku... aku..." Setengah harian Phoa Kin-sian tergagap tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Dalam pandangan Suma Bing yang berkepandaian tinggi, kegelapan malam tidak menjadi soal. Samar-samar masih terlihat olehnya sikap malu-malu dari wajah kekasihnya itu.
"Adik Sian, sebenarnya ada apakah?"
"Agaknya, aku... aku sudah punya..."
"Punya apa?"
Kepalan tangan Phoa Kin-sian memukul agak keras di dada bidang Suma Bing. Serunya agak gemetar, "Dungu, aku tidak tahu!"
Suma Bing melongo dan garuk-garuk kepala. Entah mengapa mendadak Phoa Kin-sian ngambek, maka perlahan-lahan tangannya mengelus rambut gadis itu sambil berujar, "Mengapa perkataanmu sendlap-sendlup tak karuan?"
"Apa betul kau tidak tahu?"
"Kalau tidak kau katakan, mana aku bisa tahu? Toh aku bukan cacing di dalam perutmu!"
"Aku sudah mengandung!"
"Apa, kau sudah mengandung?" Suma Bing memeluk Phoa Kin-sian dengan kencang, saking girang badannya gemetar dan mulutnya bergumam, "Kita bakal punya anak..."
Bagai seekor domba yang manja, Phoa Kin-sian membiarkan Suma Bing memeluknya semakin kencang hingga susah bernapas.
"Adik Sian, kau bertempat tinggal bersama Bibi Jui?"
"Ya."
"Di manakah?"
"Suhu menyuruh aku sementara tidak memberitahu kepada kau."
"Mengapa?"
"Dapat mencari kau. Ai, Engkoh Bing, katamu Pedang Darah sudah jatuh di tangan Rasul Penembus Dada?"
"Begitulah kenyataannya."
"Biar kulapor kepada Suhu untuk merebutnya kembali..."
"Jangan, aku bersumpah untuk merebutnya sendiri."
Malam terus merayap mendekati pagi. Sang surya sudah muncul dari peraduannya, jagat raya sudah terang benderang. Suma Bing berjalan keluar dari lubang pohon menggandeng tangan Phoa Kin-sian.
"Engkoh Bing, saat ini kau hendak ke mana?"
"Aku hendak ke Bu-kong-san mengadu peruntungan, mungkin aku dapat mencari jejak Bunga Iblis. Siapa tahu?"
"Aku pergi bersama kau, kita dapat saling membantu."
"Tidak, Adik Sian, apa kau lupa kau sudah ada..."
"Itu tidak menjadi halangan." Phoa Kin-sian memberikan senyuman manis yang menggiurkan kepada Suma Bing. Tak tertahan, Suma Bing lantas memeluk dan menciumnya sekali. Begitulah mereka bergandengan menyusuri rimba menuju jalan raya, lalu berpisah dengan rasa berat dan haru.
Siang dan malam, Suma Bing menempuh perjalanan menuju Bu-kong-san. Bu-kong-san adalah gunung-gemunung yang berlapis-lapis dan bersusun menjulang tinggi ke angkasa. Tidak perlu dipersoalkan apakah Buli, si manusia aneh berusia seabad itu, masih hidup di dunia fana ini atau tidak. Hanya untuk mencari gua tempat ia bersemayam di antara sekian luas hutan, dataran tinggi, serta lembah-lembah di alas pegunungan yang belum pernah dijajaki manusia, itu ibarat mencari jarum di lautan.
Sejak beranjak memasuki pegunungan, Suma Bing langsung memanjat ke puncak tertinggi melalui jurang-jurang dan hutan-hutan lebat. Tak mengenal lelah, ia menjelajah dan mengarungi segala penjuru; tidak ketinggalan tempat-tempat yang mencurigakan telah ia selidiki. Satu hari, dua hari, tiga hari, tahu-tahu sebulan sudah berlalu dengan cepat tanpa terasa. Selama ini sedikit pun Suma Bing belum mendapat hasil yang diharapkan. Keputusasaan mulai merangsang benaknya.
Hari itu, Suma Bing tengah menjelajah sampai di pinggir sebuah jurang yang dalam dan tak terlihat dasarnya. Memandangi kabut tebal yang bergulung-gulung di depan matanya ini, terasa seakan dirinya berada di awang-awang. Sekonyong-konyong sebuah helaan napas panjang yang penuh mengandung kegetiran hati samar-samar terdengar di telinganya. Helaan napas itu membuat pendengarannya merasa seakan ia semakin tenggelam ke dalam lembah sunyi yang tak berujung pangkal, seumpama kepala diguyur air dingin di musim dingin; gemetar dan membeku seluruh tubuhnya.
Pandangan Suma Bing menjelajah keempat penjuru. Terlihat di atas sebuah batu cadas besar yang menonjol keluar di pinggir jurang sebelah sana, berdiri tegak mematung bayangan seseorang. Dari pakaian yang melambai-lambai diembus angin pegunungan, tidak perlu diragukan itulah seorang wanita.
Aneh dan mengherankan, di lembah pegunungan di atas batu cadas ini, dari mana datangnya seorang wanita yang menghela napas sedemikian sedih memilukan? Timbul rasa heran dan ingin tahu dalam diri Suma Bing. Perlahan-lahan ia mengendap mendekati. Dari jarak dekat inilah baru ia melihat dengan jelas, kiranya itulah seorang wanita setengah umur berambut ubanan, tengah asyik memandang kabut di depannya yang bergulung-gulung mengambang bebas di tengah udara. Dari bangun tubuhnya yang ramping semampai, dapatlah dibayangkan pasti semasa mudanya wanita ini adalah seorang gadis yang ayu rupawan.
Lama sekali kedua belah pihak tetap membisu tanpa buka suara. Batu cadas tempat wanita berambut ubanan itu berdiri luasnya tidak lebih dari tiga kaki. Di bawahnya adalah jurang dalam yang tak kelihatan dasarnya; jikalau terpeleset jatuh, pastilah tubuhnya akan hancur lebur. Tak urung timbul secercah kekhawatiran dalam lubuk Suma Bing.
Akhirnya, terdengar wanita tua itu membuka suara, "Siapa itu?" Suaranya dingin tanpa emosi.
"Aku yang rendah, Suma Bing!"
"Enyah dari sini!"
Suma Bing melongo. Agaknya orang tengah menanti seseorang, maka segera ia bertanya, "Apakah Cianpwe tengah menantikan seseorang?"
"Apa kau memanggil Cianpwe kepadaku?"
"Apa tidak pantas?"
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Belum cukup sembilan belas tahun!"
"Cianpwe... Apakah aku sudah tua?" Wanita tua itu bicara dan bergumam sendiri. Suma Bing tergerak hatinya; ucapan yang sangat ganjil sekali. Di kolong langit ini, masa ada orang yang tidak mengetahui usianya sendiri? Apa mungkin dia seorang linglung yang tidak waras pikirannya...
Sejenak merandek, lantas wanita tua itu menggumam lagi, "Aku Giok-li Lo-ci ternyata sudah tua. Tidak, aku belum tua, aku tidak boleh tua. Mengapa dia tidak kunjung datang juga?"
Suma Bing berpikir, kiranya perempuan tua ini bernama Giok-li Lo-ci. Entah siapakah orang yang dimaksudkan itu. "Lo-cianpwe..."
Mendadak Giok-li Lo-ci berpaling ke arah Suma Bing, sorot matanya berkilat-kilat, "Siapa kau? Dari mana kau tahu aku bermarga Lo?"
Suma Bing menjadi bingung. Dilihat dari sorot matanya yang terang dan jernih, pastilah bukan orang yang linglung atau gelap pikiran. Apalagi ilmu dalam atau *lwekang*-nya sudah sempurna; justru yang mengherankan, cara bicaranya membuat orang tidak habis mengerti.
Maka segera ia menyahut, "Bukankah kau sendiri yang mengatakan?"
"Apa betul?"
"Lo-cianpwe tengah menanti seseorang?"
"Benar!"
"Siapakah dia?"
"Usianya mungkin lebih tua sedikit dari kau..."
"Apakah putramu?"
"Hus, kurang ajar!"
"Siapakah namanya? Mungkin aku dapat membantu."
"Namanya Sia-sin Kho Jiang!"
Suma Bing melonjak kaget dan mundur tiga langkah. Hampir ia tidak percaya akan pendengarannya. Seketika ia terhenyak di tempatnya tanpa kuasa mengeluarkan suara. Kiranya perempuan ini tengah menanti suhunya! Sejak kena dikeroyok hingga menjadi cacat sampai mati, suhunya belum pernah muncul di kalangan Kangouw selama dua puluh tahun. Sejak diam-diam sucinya, Sim Giok-sia, bertunangan dengan Tiang-un Suseng, maka akhirnya ia dikurung oleh suhunya selama tiga puluh tahun, saat mana usianya pun sudah mendekati lima puluhan.
Sebaliknya, Giok-li Lo-ci mengatakan bahwa orang yang dinantikan kedatangannya ini berusia sedikit lebih tua dari dirinya. Jikalau itu benar, bukankah itu berarti dia telah menanti selama lima puluh tahun lebih? Kabarnya suhu dan subonya bertengkar dan berpisah, apa mungkin karena perempuan ini?
Mendadak Giok-li Lo-ci berteriak melengking, bergegas meninggalkan batu cadas itu dan melompat maju ke hadapan Suma Bing, serta serunya gemetar, "Benda apa yang kau pakai di jari tengahmu itu?"
Suma Bing terperanjat, sahutnya, "Cincin Iblis!"
"Cincin Iblis?"
"Benar!"
"Dari mana benda itu kau dapatkan?"
Semakin besar dan tepatlah dugaan Suma Bing bahwa perempuan tua yang bernama Giok-li Lo-ci ini adalah kekasih suhunya semasa masih muda dulu.