Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 62

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 62

Kalau begitu, apakah benar dia sudah menunggu selama lima puluh tahun? Dalam secercah ingatannya, terbayang wajah suhunya semasa masih muda pada lima puluh tahun yang lalu.

Maka, tanpa menjawab, dia balik bertanya: "Jadi, Cianpwe selalu menunggunya di tempat ini?"

"Di sinilah kita mengikat janji. Dia mengatakan pasti akan datang, aku percaya dia takkan menipu aku!"

"Sudah berapa lama Cianpwe menunggu di sini?"

"Aku tidak tahu!"

"Yang kutanyakan tadi, bagaimana Cincin Iblis ini bisa berada di tanganmu?" Giok-li Lo Ci kembali mengalihkan pembicaraan pokok.

"Sebab aku adalah muridnya!"

Giok-li Lo Ci terharu dan bergembira: "Kau adalah murid Engkoh Jiang-ku?"

"Benar!"

"Di mana dia berada?"

"Dia..."

"Katakanlah, di mana dia?"

Tanpa terasa Suma Bing merasa mendelu dalam hati, kerongkongannya seperti disumbat sesuatu. Bahwa suhunya sudah menutup mata, apakah hal ini harus diberitahukan kepadanya? Apa dia kuat menerima pukulan batin ini? Atau membiarkan dia menunggu lagi dengan penuh harapan yang tak mungkin kunjung datang? Apakah penipuan demikian tidak terlalu kejam? Sesaat dia menjadi bimbang, entah bagaimana dia harus memberi jawaban yang positif.

Lima puluh tahun, ya, selama lima puluh tahun dia telah menunggu sampai usia sudah tua pun tidak disadarinya. Betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan demi cintanya.

Cinta itu buta dan cinta memang dapat membuat jiwa orang gersang, ah, sungguh kasihan!

Giok-li Lo Ci mendesak maju dua langkah, suaranya berteriak hampir menggila: "Katakan, di mana Sia-sin Kho Jiang berada?"

"Dia... dia..."

"Dia bagaimana?"

Benak Suma Bing bekerja keras. Daripada membiarkan ia meninggal secara mengenaskan dengan putus harapan, adalah lebih baik memberikan secercah harapan untuk hidup. Kalau toh dia sudah menanti selama lima puluh tahun, apa pula halangannya untuk menanti lagi entah sampai berapa lama. Kalau dikatakan secara kenyataan, tindakannya ini memang agak terlalu kejam, tapi apa boleh buat, maka segera sahutnya lantang: "Dia, orang tua itu, sedang menutup diri karena tengah melatih suatu ilmu!"

"O, aku tidak dapat menyalahkan dia, dia pasti datang!"

Suma Bing benar-benar sudah tak dapat menahan suasana yang menyedihkan ini, cepat-cepat ia memberi hormat terus berkata: "Wanpwe minta permisi!"

"Baik, bila kau bertemu dia, katakan bahwa aku tengah menunggunya."

Suma Bing mengiakan, terus bergegas pergi meninggalkan Giok-li Lo Ci. Sambil berlari-lari kecil, ia menyusuri pinggir jurang. Jurang itu agaknya luas sekali dan tak berujung pangkal, sekian lama sudah ia berlari masih belum sampai pada ujungnya.

Sang surya mulai meninggi, sinar matahari yang terang mulai mengurangi kabut yang tebal itu. Alam sekelilingnya mulai jelas terlihat. Suma Bing menghentikan langkahnya dan mendongak melihat situasi sekitarnya, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri. Sudah setengah harian ia berputar-putar, kiranya baru mencapai setengah dari lingkaran jurang itu. Tempat ia berada sekarang tepat berhadapan dengan tempat ia tadi berpisah dengan Giok-li Lo Ci, bahkan samar-samar terlihat juga tubuh yang berdiri menyendiri bagai tonggak di atas batu cadas itu.

Suma Bing menggeleng-geleng kepala, gumamnya: "Korban cinta yang mengenaskan!"

Sekonyong-konyong beberapa bayangan manusia berkelebatan meluncur datang dengan kecepatan seperti bintang jatuh, melesat mendatangi ke arah puncak di pinggir jurang tempat dia berada. Dalam waktu yang singkat, orang-orang itu sudah datang semakin dekat. Sorot pandangan Suma Bing melintas, sontak timbullah nafsu membunuh yang berkobar-kobar. Kiranya para pendatang itu adalah tujuh jagoan dari Bwe-hwa-hwe. Agaknya seorang tua berseragam kuning sebagai pimpinan dari rombongan enam orang lainnya yang masing-masing bertubuh tinggi tegap.

"Berhenti!" tiba-tiba Suma Bing menghardik dengan keras!

Tujuh orang itu segera menghentikan langkahnya. Si orang tua yang memimpin itu berseru kaget: "Sia-sin Kedua!"

Sontak keenam laki-laki tegap lainnya berubah air mukanya, tersipu-sipu mereka menyebar diri bersiap menghadapi segala kemungkinan. Suma Bing sendiri sesaat melengak heran karena musuh menyebut dirinya sebagai Sia-sin (Malaikat Sesat) Kedua. Menurut anggapannya, perbuatannya tidak menyeleweng, lantas dengan alasan apa mereka menyebut dirinya sebagai Malaikat Sesat Kedua? Si orang tua pemimpin itu segera menggerakkan sebelah tangannya, selarik sinar merah meluncur tinggi ke tengah angkasa.

Diam-diam Suma Bing mengumpat kelicikan musuh ini. Sungguh di luar prasangkanya bahwa para jagoan Bwe-hwa-hwe ini ternyata mengikuti jejaknya memasuki pegunungan Bu-kong-san ini juga. Pertanda sinar merah itu sudah terang kalau memanggil bala bantuan untuk menghadapi dirinya. Maka segera ia mendesak maju serta bertanya dingin: "Kalian mengikuti jejakku, ya?"

Serta-merta ketujuh orang itu melangkah mundur ketakutan. Si orang tua pemimpin mendesis geram: "Suma Bing, di empat penjuru sudah dijaga ketat dan penuh jebakan, seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat lolos!"

Hawa membunuh di wajah Suma Bing semakin tebal, tawanya mengejek dingin: "Maka perlu kusilahkan kalian membuka jalan bagi tuan besarmu ini..."

Belum habis ucapannya, kedua tangannya beruntun bergerak menyodok ke depan. Bukan saja serangannya ini sangat aneh dan dahsyat, kekuatannya pun bukan main hebatnya. Si orang tua pemimpin berlaku sangat cerdik, sebat sekali ia mendahului melompat menyingkir. Lain dengan keenam anak buahnya yang tidak sempat lagi menyingkir, mereka tergulung ke empat penjuru. Begitu pukulan pertama dilancarkan, gesit sekali Suma Bing mendesak maju sambil berputar secepat kilat, tangannya melancarkan sebuah hantaman.

Terdengar teriakan ngeri, dua di antara enam laki-laki tegap itu mencelat setinggi dua tombak terus melayang masuk jurang yang tidak kelihatan dasarnya. Keruan lima orang kawannya ketakutan setengah mati. Si orang tua pemimpin segera berseru keras: "Mundur!"

"Mimpi!" sambil membentak ini, badan Suma Bing melesat cepat bagai bayangan setan. Sigap sekali, tahu-tahu pergelangan tangan si orang tua sudah dicengkeram olehnya. Kesempatan untuk berkelit belum ada, tahu-tahu dirinya sudah kena diringkus oleh lawan. Keruan pucat pasi dan ketakutan setengah mati si orang tua pemimpin itu, keringat dingin membanjir membasahi tubuhnya. Saking gentar dan ketakutan, empat laki-laki tegap lainnya sampai terpaku berdiri bagai patung dengan tubuh gemetaran. Derap langkah ramai dari kejauhan semakin dekat.

Mendadak Suma Bing menghentakkan tangannya, bagai sebuah bola besar si orang tua dilemparkan masuk ke dalam jurang yang dalam. Pekik panjang yang menyayat hati menggema jauh dari ketinggian, semakin mengecil lirih, terus menghilang di dasar jurang. Bagai tersadar dari mimpi, keempat laki-laki tegap segera melarikan diri pontang-panting seperti dikejar setan.

"Lari ke mana kalian!" di tengah bentakan yang menggelegar ini, lagi-lagi Suma Bing melesat tinggi dan jauh, berbareng dikirimnya empat kali pukulan jarak jauh yang dahsyat. Empat gelombang angin pukulannya hampir bersamaan melanda keempat sisa anggota Bwe-hwa-hwe yang lari ketakutan itu. Di lain saat, segera terdengar jerit dan pekik kesakitan yang riuh rendah, empat tubuh manusia seperti juga kawan-kawannya melayang jatuh ke dalam jurang.

"Buyung, kejam benar perbuatanmu ini!" sebuah suara dingin sedingin es mendengus tiba.

Sigap sekali Suma Bing membalikkan tubuh, maka terlihat dua di antara empat Setan Gantung, yaitu Heng-si-khek dan Hui-bing-khek, telah berdiri tak jauh di hadapannya. Tubuh mereka kurus kering dan pucat pasi bagai mayat hidup, di lehernya masih terikat tali gantungan. Tanpa terasa melonjak kaget benak Suma Bing. Satu di antara keempat Setan Gantung saja berkepandaian lebih tinggi dari gurunya, maka sudah terang kalau dirinya bukan tandingan mereka. Akan tetapi, sifat pembawaannya yang keras kepala dan congkak membuatnya tidak mengenal arti takut, dengan beringas dan gagahnya ia berdiri tegak sekokoh gunung.

Heng-si-khek menyeringai tawa seram, desisnya: "Buyung, bencana susah dihindari, lebih baik kau menyerah saja terima kematianmu!"

Dibarengi dengan kata-katanya ini, kedua tangannya secepat kilat mendorong ke depan. Kecepatan cara turun tangannya ini benar-benar menakjubkan hingga waktu berpikir bagi musuh pun tidak sempat lagi. Agaknya Suma Bing juga tidak mau kalah perbawa, dipusatkannya seluruh kekuatan tenaga ke arah tangan dan disertai dengan dengusan keras, ia songsongkan kedua tangannya ke depan juga. Dorongan disambut dengan dorongan. Tapi, sebelum dorongan dahsyat kedua belah pihak saling bentur, mendadak Heng-si-khek mengubah cengkeraman tangannya menjadi pukulan.

Dentuman dahsyat segera terjadi di atas pegunungan yang sunyi hingga suaranya menggelegar terdengar jauh. Tubuh Heng-si-khek bergoyang limbung, sementara Suma Bing tersurut mundur delapan kaki jauhnya. Dan hampir dalam waktu yang bersamaan, dari samping sebelah sana Hui-bing-khek juga melancarkan sebuah hantaman keras bagai topan badai menggulung ke arah Suma Bing yang belum sempat berdiri tegak. Lagi-lagi Suma Bing mencelat sejauh beberapa tombak baru dapat berdiri tegak, mulutnya menghambur darah segar.

Heng-si-khek sudah mendesak maju hendak menyerang lagi.

"Lo-toa, tahan dulu!" mendadak Hui-bing-khek berseru mencegah.

"Kenapa?"

"Apa tidak kita ringkus hidup-hidup saja?"

"Ketua khawatir akan membawa buntut yang susah dikendalikan, dia ingin kematian bocah kerdil ini."

"Tapi kau ingat, dia, orang tua itu..."

Untuk kedua kalinya Suma Bing mendengar "Dia, orang tua itu" dari mulut musuh-musuhnya ini. Di sinilah letak kunci daripada Bwe-hwa-hwe mengejar dan hendak membunuh dirinya. Tokoh macam apakah sebenarnya orang yang disebut sebagai "dia, orang tua itu" tersebut? Mengapa dia mengutus orang untuk membunuh dirinya? Dengan kedudukan dan ketenaran nama Si-tiau-khek, empat gembong iblis yang ternama ini saja masih rela tunduk dan menerima perintahnya, maka dapatlah dibayangkan tentu tokoh itu bukan sembarang orang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment