Chapter 63
"Lo-sam, ini perintah Ketua!" kata Heng-si-khek.
Agaknya Hui-bing-khek bersungguh hati, ia menyahut, "Kalau orang tua itu menyalahkan..." "Biar Ketua yang bertanggung jawab! Kita berempat saudara boleh dikata mendapat perintah hanya untuk membantu Ketua..." "Lo-sam, bocah ini agak misterius. Ternyata sedemikian banyak orang kosen menjadi dekingnya, sampai Rasul Penembus Dada yang baru saja muncul di Kangouw pun agaknya melindungi bocah ini. Sekarang kesempatan yang susah dicari ini janganlah kita abaikan begitu saja. Kesempatan seperti ini susah dikatakan lagi kapan dapat kita peroleh!"
Sungguh geram Suma Bing bukan kepalang. Ia tidak mengira musuh berani begitu takabur merundingkan nasib hidup matinya. Dengan penuh kebencian dan gusar, mulutnya mendesis, "Si-tiau-khek, kalau aku Suma Bing tidak sampai mati, awas kalian akan kubeset kulit kalian hidup-hidup..."
"Hehehehe, Buyung, sayang kematianmu sudah pasti!" Kedua tangannya bergantian menyodok dan mendorong ke depan. Pukulan Heng-si-khek kali ini bertujuan hendak menamatkan riwayat hidup Suma Bing. Suma Bing mengertakkan gigi, kedua tangan ditekuk lalu didorong ke depan secara keras melawan keras.
*Dar!*
Diselingi pekik kesakitan yang menyayat hati, tubuh Suma Bing terpental setinggi dua tombak, terus melayang jatuh masuk ke jurang yang dalam itu. Bermula ingatannya masih sadar, seakan tubuhnya mengambang dan melayang-layang di tengah udara. Tanpa terasa ia menggerung keras, "Masa aku harus mati secara begini? O, aku mati penasaran!" Jeritan yang mengerikan ini hampir tidak terdengar jelas oleh dirinya sendiri, hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Dalam pada itu, setelah memukul jatuh Suma Bing ke dalam jurang, segera Heng-si-khek berkata kepada Hui-bing-khek, "Tugas sudah selesai, mari kita pergi..."
"Pergi?" mendadak sebuah suara dingin menyelak di belakang mereka, "Jiwa kalian juga harus ditinggalkan!"
Perlahan-lahan kedua Setan Gantung ini membalik tubuh. Tampak oleh mereka seorang bertubuh tinggi lencir berwarna serba hitam berdiri tiga tombak di belakang mereka. Kedua mata manusia itu memancarkan kebencian yang menyala-nyala. Manusia kejam dan telengas seperti kedua Setan Gantung ini pun tak urung bergidik seram dan gentar.
Mata Hui-bing-khek melebar memandang ke arah lawan, serunya, "Tuan inikah yang bernama Racun Diracun..."
"Ya, benar."
"Tuan sombong dan takabur, berani bermulut besar hendak mengambil jiwa kita bersaudara, apa kau sudah bosan hidup?"
"Tidak, hanya kalian berdua..."
Heng-si-khek memperdengarkan tawa mengejek, "Agaknya tuan hendak menuntut balas bagi si sesat kedua, Suma Bing itu?"
"Ucapanmu tepat sekali."
"Tidak perlu banyak bacot lagi, silakan tuan turun tangan!"
Racun Diracun mendengus keras. Tanpa sungkan lagi, segera ia mengirim sebuah hantaman mengarah ke Heng-si-khek. Begitu besar dan dahsyat perbawa angin pukulannya ini seakan dapat membelah gunung dan menghancurkan batu. Heng-si-khek memiliki niat hendak mencoba kekuatan lawan, maka segera tangannya pun didorong ke depan, dorong-mendorong secara keras melawan keras.
Begitu angin pukulan kedua belah pihak saling berbenturan dan menimbulkan gelombang angin lesus yang membumbung tinggi ke angkasa, tubuh Racun Diracun hanya goyah sedikit. Lain halnya dengan Heng-si-khek, badannya limbung satu langkah. Bahwasanya kepandaian dan lwekang Si-tiau-khek sudah jarang tandingan di kalangan Kangouw, salah satu di antara Setan Gantung saja cukup membuat kuncup nyali para musuhnya. Adalah dalam gebrak pertama ini kelihatan jelas bahwa kepandaian Racun Diracun ternyata masih lebih unggul seurat dari mereka.
Agaknya Racun Diracun sudah bertekad bulat hendak melenyapkan jiwa musuh-musuhnya. Beruntun ia lancarkan lagi tiga rangkai pukulan dahsyat. Kali ini agaknya Heng-si-khek sudah merasakan kelihayan lawannya dan kapok, sebat sekali tubuhnya melejit menyingkir dua tombak jauhnya, tak berani beradu pukulan lagi.
Pada saat Heng-si-khek melejit menyingkir itu, dari samping Hui-bing-khek malah mendesak maju sambil mengulur cengkeraman tangannya langsung ke punggung Racun Diracun. Cara cengkeramannya ini boleh dikata sangat cepat hingga susah diikuti oleh pandangan mata. Tapi kepandaian Racun Diracun juga menakjubkan. Tahu bahwa dirinya dibokong dari belakang, pukulan tangannya mendadak diubah menjadi cengkeraman juga di tengah jalan sambil berputar memapak ke arah musuh.
Gerak-gerik kedua belah pihak boleh dikata secepat kilat. Terdengar suara mendehem keras. Cakar tangan Hui-bing-khek dengan telak mencengkeram amblas ke pundak Racun Diracun, hingga kelima jarinya merembes keluar darah segar bagai air ledeng. Terpaut sedetik, kelihatan cakar Racun Diracun yang berwarna hitam legam itu juga mencengkeram keras di lengan lawan.
Heng-si-khek menjerit kaget, serunya, "Lo-sam, cepat lepas tangan, Racun..." Sambil berpekik, tubuhnya meluncur di tengah udara seraya mengirim tendangan dan pukulan mengarah kepala serta dada Racun Diracun.
Mendadak dua bayangan mencelat berpencar. Terdengar Hui-bing-khek menggerung keras, tangan kirinya segera diayun memapas putus lengan kanannya sendiri. Kontan lengan kanannya jatuh buntung sebatas pundak, lalu beruntun ia menutuk beberapa jalan darah di pundak untuk menghentikan aliran darah. Lalu serunya dengan bengis, "Racun Diracun, akan datang suatu hari aku, Hui-bing-khek, akan membeset tubuhmu menjadi berkeping-keping."
Racun Diracun menyeringai sinis, sahutnya, "Sekarang juga hendak kubuat kalian setan-setan gentayangan mampus menjadi abu!"
Tapi sebelum Racun Diracun melaksanakan ancamannya, Heng-si-khek sudah membentak keras. Tangan panjang yang kurus kering bagai kayu bakar itu bergerak sebat hingga bayangan pukulan tangannya bertumpuk berlapis bagai gunung, langsung menungkrap ke atas kepala Racun Diracun. Perbawa dan gerak-geriknya seperti harimau gila yang kelaparan. Sejenak Racun Diracun melengak, sebat sekali tubuhnya jumpalitan mundur ke belakang sejauh satu tombak. Peluang inilah yang digunakan oleh Heng-si-khek untuk menarik Hui-bing-khek terus melarikan diri secepat meteor terbang.
Nada suara Racun Diracun penuh mengandung nafsu membunuh, berkatalah ia ke arah kedua Setan Gantung yang tengah melarikan diri itu, "Kalian takkan dapat lolos dari tanganku!" Habis berkata, ia melangkah maju ke pinggir jurang, memandang ke dasar jurang yang tertutup kabut tebal, dengan sedih ia menghela napas panjang.
Bertepatan dengan itu, dua bayangan manusia, satu tua dan yang lain masih muda belia, tengah melangkah ringan mendekati tempat di mana Racun Diracun berada.
"Lo-cianpwe, apa benar Engkoh Bing berada di pegunungan Bu-kong-san ini?"
"Tidak akan salah. Kusaksikan sendiri pihak Bwe-hwa-hwe tengah mengerahkan bala bantuannya mengobrak-abrik dan mengepung gunung ini untuk mencari jejaknya!"
"Tapi sudah tiga hari lamanya tanpa kita menemui jejak atau bayangannya!"
"Sedemikian luas dan besar lingkungan gunung ini, dia pun tidak mempunyai tujuan tertentu. Kita harus bersabar dan perlahan-lahan mencarinya!"
"Apa maksud tujuan Bwe-hwa-hwe mencari dan mencegat dia?"
"Mana dapat kita ketahui!"
Kedua orang tua dan muda ini ternyata tak lain adalah Si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, dan Siang Siau-hun. Mereka bertemu di tengah jalan tanpa berjanji sebelumnya, lalu sama-sama memanjat gunung hendak mencari dan mengikuti jejak Suma Bing.
Tiba-tiba Si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, mengangkat sebelah tangannya menghentikan langkah Siang Siau-hun sembari berkata, "Nanti dulu Nona, jangan ceroboh. Lihatlah bayangan siapa yang berada di pinggir jurang itu?"
"Peduli siapa dia!"
"Dialah Racun Diracun yang lebih berbisa dari Racun Utara itu!"
"Oh!" Siang Siau-hun berseru kejut. Sepasang matanya yang jeli bening lantas memancarkan nafsu membunuh yang menyala-nyala. Serunya gemetar, "Racun Diracun?"
"Benar, manusia serba hitam di dunia ini hanya dia seorang!"
"Aku hendak membunuhnya!"
"Untuk apa?"
"Aku hendak menuntut balas bagi adikku dan Li Bun-siang."
"Tapi Nona ayu, seumpama iblis jahat ini tidak menggunakan racun, kepandaian silatnya saja masih lebih unggul setingkat dari Buih. Ketahuilah, Ketua Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan nyali orang itu pun rada-rada takut dan gentar menghadapi dia, apalagi kau."
"Tak peduli, aku harus membunuhnya!" Mulut berkata begitu, tubuhnya pun segera berkelebat lari ke depan secepat anak panah.
"Budak ingusan, percuma saja kau mengantar kematian!" Si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, mengulur tangan hendak menjambret tapi tak kena. Secepat itu Siang Siau-hun sudah tiba di belakang Racun Diracun sejauh beberapa meter. Terpaksa ia mengeraskan hati dan menebalkan muka mengikuti maju.
Racun Diracun seolah-olah tidak merasa dan tidak mendengar, ia masih tetap berdiri tegap kesima. Karena besar tekadnya hendak menuntut balas bagi adik dan Li Bun-siang, Siang Siau-hun sudah melupakan segala keselamatan sendiri. Suaranya membentak bengis di belakang Racun Diracun, "Racun Diracun, iblis laknat, Nona ingin membeset dan menghancurleburkan tubuhmu!"
Perlahan-lahan Racun Diracun membalik tubuh menghadapi Siang Siau-hun yang mendelik gusar, lalu tanyanya dingin, "Apa kau hendak membunuh aku?"
"Tidak salah, hendak kuhancurleburkan tubuh iblis laknat seperti kau ini!"
Sekilas Si Maling Bintang menyapu pandang ke sekitarnya. Tampak olehnya di tanah banyak berceceran noktah darah dan sebuah lengan buntung. Lantas terlintas sebuah pertanyaan yang menakutkan dalam benaknya. Serunya terkejut, "Di sini tadi pernah terjadi pertempuran seru?"
Pandangan dingin dengan sorot mata yang menyedot semangat Racun Diracun beralih ke arah Si Maling Bintang, sahutnya, "Memang benar, pertempuran berdarah!"
"Apa termasuk juga si sesat kedua, Suma Bing?"
"Memang ada!"
Melonjak kaget Si Maling Bintang serta Siang Siau-hun. Cepat-cepat Siang Siau-hun bertanya, "Lalu ke mana dia sekarang?"
"Siapa?"
"Suma Bing!"
"Sudah mati."
Bagai disambar geledek, tubuh Siang Siau-hun terhuyung lima langkah. Pandangannya terasa gelap dan tubuhnya hampir roboh, wajahnya berkerut hebat. Sesaat itu terasa seakan dirinya terjatuh ke dunia lain.