Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 64

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 64

Sungguh tak terduga, kekasih yang sangat dicintainya ternyata kini telah tiada. Hatinya terasa membeku, tangan dan kakinya dingin, seluruh tubuh mengejang linu, otaknya berdengung, dan jantungnya berdenyut keras. Ia segera menjerit histeris, "Tidak, dia belum mati! Engkoh Bing-ku tidak mungkin mati, dia... tak mati..." Suaranya yang memilukan hati benar-benar membuat orang lain turut berduka dan bersedih.

Sepasang mata si Maling Bintang membelalak besar, wajahnya merah padam penuh kegusaran. Dengan suara gemetar, ia berseru, "Tuan yang turun tangan?"

Segera Racun Diracun menggelengkan kepala, ujarnya, "Heng-si dan Hui-bing, dua Setan Gantung itu, adalah jagoan kelas satu dari Bwe-hwa-hwe."

"Si-tiau-khek?"

"Tidak salah."

"Mana jenazahnya?"

"Terjungkal masuk jurang, di bawah sanalah."

Akhirnya, pecahlah tangis Siang Siau-hun yang menyayat hati. Sedemikian sedih ia meratapi kekasihnya yang pergi mendahuluinya. Tangis ini menjadi pertanda betapa besar rasa cinta kasihnya terhadap Suma Bing. Ia menangis begitu sedih hingga suaranya serak dan air matanya kering.

"Engkoh Bing, tunggu aku!" ratap Siang Siau-hun dengan suara serak sambil terus berlari ke bibir jurang.

"Budak goblok, jangan kau berbuat bodoh!" Si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, membentak keras sembari menyambar pergelangan tangan Siang Siau-hun.

"Lepaskan aku!"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Mencari Engkoh Bing-ku!"

"Apa kau tahu tempat apa ini?"

"Tempat... apa?"

"Lembah Kematian. Inilah Lembah Kematian, salah satu dari tiga tempat keramat di Bu-lim. Keempat penjuru lembah ini merupakan tebing dan dinding batu yang curam, tidak ada mulut lembah. Selain melompat turun dari atas batu cadas itu, tidak ada jalan lain untuk turun ke bawah. Selama beratus tahun, tiada seorang pun yang memasuki lembah ini bisa tinggal hidup. Lembah Kematian merupakan salah satu tempat bertuah bagi kaum persilatan yang menyimpan banyak teka-teki dan misteri."

Siang Siau-hun mematung dan mengigau, "Apa faedahnya aku hidup merana di dunia fana ini?"

"Kau salah. Kalau kau benar-benar cinta Suma Bing, kau harus berusaha menuntut balas. Apalagi agaknya nasibnya tidak begitu jelek; mati atau hidupnya masih menjadi pertanyaan. Buat apa kau menyiksa diri?"

Sementara itu, Racun Diracun melangkah mundur meninggalkan pinggir jurang, lalu menuju ke arah samping dan meninggalkan mereka. Sekonyong-konyong Siang Siau-hun menjerit beringas, "Iblis laknat, tidak semudah itu kau hendak pergi!"

Racun Diracun menghentikan langkahnya dan berbalik, tanyanya, "Bagaimana?"

Nasib sial Suma Bing membawa keberuntungan. Secepat kilat Siang Siau-hun melejit maju ke depan Racun Diracun, langsung menampar dada lawan sambil memaki gemas, "Aku inginkan jiwamu!"

"Nona, goblok, jangan! Beracun..." Si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, berteriak gugup dan berjingkrak kalang kabut. Meskipun Si Ban-tjwan sudah berusaha mencegah, namun sudah terlambat. Telapak tangan Siang Siau-hun sudah menekan dada Racun Diracun.

"Blang!" Racun Diracun tersurut mundur tiga langkah; darah segera meleleh dari ujung bibirnya. Seketika Si Ban-tjwan terhenyak heran. Siang Siau-hun sendiri juga tertegun dan terpaku di tempatnya. Kekuatan Siang Siau-hun yang dapat membuat Racun Diracun muntah darah dalam sekali pukul adalah kejadian yang sulit dimengerti dan mustahil, tetapi kenyataannya memang demikian.

Racun Diracun tidak berkelit atau menyingkir, ia pasrah saja dipukul tanpa mengerahkan tenaga atau membalas menyerang. "Mengapa?"

"Racun!" Tiba-tiba Si Ban-tjwan berpekik kaget. Sontak Siang Siau-hun juga sadar dari keterkejutannya. Benar saja, lengan kanannya sudah membengkak berwarna merah kehitaman, terasa linu, dan tidak dapat digerakkan lagi.

Racun Diracun mengayunkan sebelah tangannya dan berkata kepada Si Ban-tjwan, "Inilah obat penawarnya, ambillah!"

Cepat-cepat Si Ban-tjwan meraih obat itu. Walaupun luas pengalamannya di kalangan Kangouw, ia tetap heran dan bertanya-tanya, tidak mampu menyelami alasan di balik kejadian ini. Mengapa Racun Diracun memberikan obatnya? Setelah melemparkan obat, Racun Diracun melejit terbang menghilang. Kecepatan gerak tubuhnya benar-benar membuat orang kagum; hanya dua kali berkelebat, bayangannya sudah hilang dari pandangan. Biasanya, Si Maling Bintang sangat membanggakan ilmu meringankan tubuhnya, namun jika dibandingkan dengan apa yang disaksikan sekarang, ia diam-diam menghela napas mengakui keunggulan orang tersebut.

Siang Siau-hun hampir tidak percaya dengan kenyataan ini, tanyanya, "Lo-cianpwe, mengapa iblis laknat itu bisa berbuat begitu?"

Si Maling Bintang tertawa pahit, sahutnya sambil menggeleng, "Aku si maling tua juga tidak mengerti latar belakangnya. Yang paling penting, kau harus segera menelan obat penawar ini."

"Tidak mau."

"Ha, mengapa?"

"Dendamku sedalam lautan, mana boleh aku menerima obatnya..."

"Apa kau sudah bosan hidup?"

Pertanyaan ini membuat jantung Siang Siau-hun berdenyut kencang, rona wajahnya berubah tak menentu, sahutnya, "Tapi aku bersumpah untuk membunuhnya!"

"Itu lain persoalan, yang paling penting kau makan dulu obat ini."

"Apa aku dapat mempercayai obatnya?"

"Pasti dapat dipercaya. Dengan lwekang dan kepandaian Racun Diracun, bila ia mau mencabut jiwamu, itu semudah membalikkan telapak tangan. Aku pun belum tentu dapat selamat. Tapi kenyataan bahwa ia pasrah saja kau pukul sampai muntah darah tanpa membalas, tentu ada latar belakang yang sulit dimengerti. Kau terkena racun karena tanganmu menyentuh badannya. Kalau ia mengandung maksud jahat, buat apa ia berbuat demikian? Maka legakanlah hatimu, telanlah obat ini."

Apa boleh buat, akhirnya Siang Siau-hun menerima obat penawar itu dan menelannya. Sebentar saja, rasa linu dan bengkak itu mulai hilang tanpa bekas.

"Nona baik, mari kita pergi!"

"Tapi Engkoh Bing...?" Mata Siang Siau-hun memerah, hampir menangis; berat rasanya untuk pergi.

"Orang baik tentu akan mendapat restu Tuhan. Kalau seumpama memang ia sudah menemui ajalnya di dasar jurang, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menuntut balas bagi kematiannya."

"Menuntut balas... benar, tapi bagaimana dengan jenazahnya..."

"Nona, bodoh, kau tidak perlu berputus asa. Sedemikian luhur hatimu, seumpama meninggal pun, Suma Bing akan merasa tenteram. Lembah Kematian merupakan salah satu tempat keramat dan bertuah bagi kaum persilatan, manusia siapa pun takkan dapat berkuasa menentang nasib ilahi..." Bicara sampai di sini, si Maling Bintang merandek sebentar lalu katanya pula, "Nona baik, sedemikian besar rasa cintamu kepadanya, maka kau harus mewakilinya melaksanakan cita-citanya yang belum tercapai!"

Siang Siau-hun tertegun, tanyanya, "Cita-cita apa yang belum terlaksana?"

"Mencari ibunya, San-hoa-li Ong Fang-lan, entah sudah mati atau masih hidup."

Seketika tubuh Siang Siau-hun bergidik, suaranya gemetar, "Apa, jadi dia adalah keturunan Suhiap Suma Long?"

"Benar. Mengenai riwayat hidupnya, mungkin hanya Lohu dan seorang misterius lainnya yang mengetahui!"

"Konon kabarnya di kalangan Kangouw, dulu kala itu..."

"Kabar angin itu kebanyakan tidak sesuai dengan kenyataan, mana boleh dipercaya."

Rona wajah Siang Siau-hun mengeras penuh kebulatan tekad, serunya, "Lo-cianpwe, mari kita pergi!"

"Ya, marilah."

Sejenak Siang Siau-hun memandang ke bawah jurang dengan penuh rasa menyesal, lalu sambil mengertakkan gigi, bersama si Maling Bintang ia melompat jauh meninggalkan tempat itu.

Tiba di luar lingkungan pegunungan, tidak jauh dari sana terlihat sebuah jalan raya. Di pinggir jalan itu tampak bergelimpangan berpuluh mayat manusia. Cara kematian mereka hampir sama; rata-rata panca indera mereka mengeluarkan darah segar kehitaman, seperti terpukul mampus oleh hantaman berat. Dari pertanda di pakaian mereka, terang bahwa mereka adalah anak buah dari Bwe-hwa-hwe!

Tanpa terasa Siang Siau-hun berseru kejut, "Inilah buah tangan Racun Diracun!"

Si Maling Bintang memeriksa dengan teliti, lalu menyahut sambil manggut-manggut, "Benar, Racun Tanpa Bayangan!"

"Untuk apa Racun Diracun turun tangan terhadap anak buah Bwe-hwa-hwe?"

"Soal ini sukar dimengerti. Para jagoan Bwe-hwa-hwe ini terang juga mengikuti Suma Bing sampai di Bu-kong-san ini. Ditinjau dari serangkaian kejadian ini, agaknya memang Racun Diracun sengaja hendak menuntut balas bagi nasib Suma Bing yang buruk itu. Tentang kenapa ia berbuat demikian, soal ini sukar ditebak."

Siang Siau-hun menggeleng hampa penuh tanda tanya lalu melanjutkan perjalanan.

Sekarang, baiklah kita ikuti keadaan Suma Bing yang terjungkal masuk jurang. Dalam keputusasaannya, mulutnya menggembor keras, "Aku tidak bisa mati, aku mati penasaran!" Belum lenyap suaranya, tahu-tahu tubuhnya menumbuk sebuah batu cadas yang menonjol keluar. Seketika ia merasa seakan tubuhnya remuk redam kesakitan. Tangannya menggapai-gapai, mencoba mencakar dan berpegang, namun tidak membuahkan hasil. Tubuhnya kembali terpelanting meluncur ke bawah, dan pada saat lain ia sudah kehilangan kesadaran.

Entah sudah berselang berapa lama, waktu sepercik kesadarannya mulai pulih, samar-samar ia rasakan sejalur hawa hangat bergulung-gulung merembes masuk ke dalam tubuhnya melalui jalan darah di ubun-ubun kepala. Sedemikian deras arus panas itu membuat kesadaran dan semangatnya berangsur pulih kembali. Begitu bisa berpikir, lantas terlintas suatu pertanyaan dalam benaknya: "Apa aku belum mati?"

Terdengar sebuah suara berkata di pinggir kupingnya, "Himpun semangat dan salurkan tenaga."

Tersipu-sipu Suma Bing menghimpun semangat dan mulai menjalankan pernapasan mengatur jalan darah. Dengan kekuatan tenaga murni dalam tubuhnya, ia menuntun arus panas itu mengarungi seluruh tubuhnya. Semakin lancar, semakin cepat, dan semakin bergolak. Tanpa terasa, tubuhnya semakin bergetar keras.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment