Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 65

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 65

Saking tak tertahan, ia jatuh pingsan lagi.

Ketika siuman kembali, seluruh tubuhnya terasa segar bugar, penuh semangat, dan nyaman. Darah berjalan lancar, dan dengan sedikit saja tenaga dalam yang ia gunakan, tenaga itu melanda bagai gelombang ombak lautan.

Terdengar suara itu berkata lagi, "Sukses, anak muda, jalur darah mati-hidupmu sudah tembus, bangunlah!" Suma Bing sudah pasrah pada nasib bahwa tubuhnya pasti akan mati hancur lebur. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengalami keanehan yang membawa keberuntungan, hampir-hampir ia tidak percaya bahwa itu kenyataan.

Maka, begitu membuka mata, bergegas ia melompat bangun. Ia melihat bahwa ia berada di dalam sebuah ruang batu yang tertata sedemikian mewah dan bersih tanpa debu. Atas, bawah, dan sekitarnya berwarna putih kehijauan, seperti batu giok.

"Anak muda, kau dapat datang ke mari, ini bisa dianggap sebagai jodoh!" Suara itu terdengar nyaring dan merdu, serta sudah sangat dikenalnya. Ia menduga ia pernah mendengar suara itu, entah di mana.

Ketika ia celingukan, bayangan seseorang pun tidak terlihat. Hatinya tiba-tiba merasa giris dan terkejut. Serunya dengan penuh hormat, "Cianpwe siapakah gerangan itu, bisakah Suma Bing meminta bertemu untuk menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan ini?"

"Anak muda, apa kau masih belum tahu siapa aku?"

Tiba-tiba Suma Bing berseru kegirangan, "Anda adalah Lo-cianpwe?"

"Benar, memang akulah." Begitu suaranya sirna, di atas ranjang batu yang terletak di tengah ruangan itu, samar-samar mulai terlihat bayangan orang. Eh, benar juga, ia tak lain tak bukan adalah Giok-li Lo Ci.

Suma Bing termangu-mangu sekian lamanya, baru kemudian maju memberi hormat, "Terima kasih banyak atas budi pertolongan Cianpwe yang besar!"

"Tidak perlu banyak basa-basi, tentu tadi Anda keheranan mendengar suaranya tak terlihat wujudnya, bukan?"

"Ya, memang begitulah!"

"Inilah ilmu Buhoat."

"Buhoat, Buhoat, tanpa wujud..." Berulang kali Suma Bing menggumam dan menyebut-nyebut nama Buhoat, agaknya ia menemukan sesuatu.

Giok-li Lo Ci adalah kekasih Sia-sin Kho Jiang semasa masih muda. Demi cinta ini, ia sudah menanti di bibir jurang selama lima puluh tahun. Wajahnya yang dulu ayu molek, kini sudah berkeriput dan rambutnya pun sudah beruban.

Suma Bing sendiri tidak menduga, setelah terjatuh ke dalam jurang, ia bisa ditolong olehnya, bahkan membantu dirinya menembus jalur darah mati-hidupnya, sehingga ilmu Lwekangnya maju berlipat ganda. Kini ia sudah berganti tulang dan beralih rupa.

"Nak, Buhoat adalah ilmu paling ampuh, tiada duanya di jagat ini. Ilmu ini dapat membuat tubuhmu menghilang dari pandangan mata biasa. Sejak tadi aku berada di sampingmu, tapi selama itu kau tidak melihatku."

"Maka itu dinamakan 'Bu-siang' (tanpa wujud), sudah pahamkah kau?" Suma Bing tengah berpikir, ia berpikir secara mendalam dan menyeluruh. Mendadak ia tersentak, lantas bertanya, "Locianpwe, konon di Bu-kong-san ini ada seorang Cianpwe aneh yang menamakan diri Buli..."

Berubah pucat wajah Giok-li Lo Ci, ia bertanya, "Jadi, tujuanmu ke mari adalah hendak mencari jejak Bu-siang-sin li?"

"Benar," sahut Suma Bing penuh haru, "Harap Cianpwe sudi memberi petunjuk..."

"Apa tujuanmu yang utama?"

Sekilas Suma Bing berpikir cepat, lalu sahutnya sungguh-sungguh, "Ingin memohon suatu benda."

"Benda apa?"

"Bunga-iblis!"

Giok-li Lo Ci melompat turun dari ranjang batu, agaknya ia pun kaget dan heran, "Anda ingin meminta Bunga-iblis?" Suma Bing mengiakan.

"Dari mana Anda bisa tahu kalau Bunga-iblis berada di tangan Buli?"

"Diberitahu oleh Bibi Ong Fong-jui!"

"Orang seperti apakah Ong Fong-jui itu?"

"Wanpwe tidak begitu jelas."

"Berapa usianya?"

"Kurang lebih tiga puluh tahun!"

"Aneh. Tidak mungkin, tiada seorang pun yang tahu soal ini di kalangan Kangouw."

Tergerak hati Suma Bing, ia bertanya, "Apakah Lo-cianpwe adalah..."

"Bukan."

"Buli adalah guruku. Sudah setengah abad yang lalu ia tidak muncul di dunia persilatan, sepuluh tahun yang lalu orang tua itu meninggal..." Kegembiraan Suma Bing sungguh susah dilukiskan dengan kata-kata, sungguh di luar pengetahuannya bahwa Giok-li Lo Ci ternyata adalah murid tunggal Buli.

Karena mengalami bencana, ia malah mendapat berkah ditambah lagi dengan hubungannya dengan gurunya semasa muda. Kejadian ini sungguh sangat kebetulan, di luar dugaan. Hanya entah...

Terdengar Giok-li Lo Ci bertanya lagi, "Untuk apa Anda hendak meminta Bunga-iblis?"

"Mendiang suhu..." Setelah membuka mulut, barulah Suma Bing sadar telah kelepasan bicara, tapi sudah tidak mungkin ditarik kembali.

Sebab, pada pertemuan pertama, ia pernah membohongi Giok-li Lo Ci bahwa gurunya tengah melatih semacam ilmu dan menutup diri.

Tapi sekarang tanpa sengaja ia menyebut 'mendiang guru'.

Berubah pucat wajah Giok-li Lo Ci, kedua matanya berkilat-kilat menakutkan. Sekali raih ia mencengkeram lengan Suma Bing serta bertanya, "Apa katamu?"

Suma Bing insaf bahwa tak mungkin ia dapat mengelabui lagi, terpaksa ia menjawab penuh kesedihan, "Dia... orang tua itu sudah meninggal!"

"Apa, ia sudah mati? Mengapa tempo hari Anda mengatakan ia sedang bersemayam melatih ilmu?"

"Wanpwe tidak tega melihat Cianpwe meratapi diri karena putus asa."

Giok-li Lo Ci melepas cengkeramannya dari tangan Suma Bing. Sambil mendongak ia tertawa terbahak-bahak sambil terisak-isak. Tawanya ini seperti keluhan binatang yang terluka, membuat pendengarnya merinding ngeri.

Air mata meleleh deras bagai butir-butir mutiara yang putus benang.

Hakikatnya tawa itu adalah tangis, tawa yang lebih sedih, pilu, dan duka nestapa daripada tangis.

Suma Bing terhenyak mematung memandang wanita yang tak beruntung ini, entah apa lagi yang harus ia katakan untuk menghibur kedukaannya itu.

Bagi seseorang, selama hidup ini mengejar satu harapan atau cita-cita, tetapi akhirnya harapan atau cita-cita itu menjadi hampa, seumpama impian belaka. Betapa besar pukulan ini bagi sanubarinya, betapa perih dan nestapanya dapatlah dibayangkan. Rasanya tiada ucapan atau bujukan halus yang dapat menghibur hatinya yang terluka itu, dan cara yang terbaik hanyalah melampiaskannya dengan tangis yang memilukan dan merawan hati.

Lama-kelamaan, suara tawa pilu itu pun berhenti dan berganti isak tangis yang lirih, "Mati! Hahahaha! Cinta selamanya membawa duka, impian indah selalu membangunkan tidur. Ternyata dia sudah mati!"

Teringat oleh Suma Bing betapa kasih sayang Sia-sin Kho Jiang mengasuh dirinya sejak kecil, tanpa disadari air matanya juga ikut meleleh. Namun akhirnya tertahan juga, karena bagi seorang gagah, air mata tidak mudah dialirkan!

Ruang batu itu sesaat menjadi sedemikian sunyi senyap, diliputi kabut kesedihan.

Setengah jam kemudian, barulah suasana yang mencekam sanubari ini mulai mereda.

Dengan lemah dan lesu, Giok-li Lo Ci kembali duduk di atas ranjang batunya, seolah-olah dalam sekejap itu usianya bertambah tua dan lesu. Pukulan batin yang berat ini melampaui apa yang dapat diterimanya.

Dengan nada rendah dan berat, Suma Bing berkata, "Cianpwe, harap Anda mengekang diri."

Giok-li Lo Ci memejamkan mata, menenangkan gejolak hatinya, lalu bertanya, "Nak, teruskan ceritamu, bagaimana ia sampai meninggal?"

Wajah Suma Bing beringas, serunya sengit, "Dua puluh tahun yang lalu, orang tua itu dikorek sebelah matanya dan dikuntungi kedua kakinya oleh musuh..."

"Siapa yang turun tangan?"

"Suhu terjebak dalam suatu tipu muslihat, biang keladinya adalah suheng Loh Tju-gi, si murid durhaka. Sebelumnya ia meracuni mendiang suhu sehingga kehilangan sebagian besar tenaga dalamnya. Dan secara kebetulan Buyu, yang kurang jelas mengetahui duduk perkara sebenarnya, datang menuntut balas..."

"Jadi, Buyu ikut berkomplot dalam kejahatan itu?"

"Tidak, hakikatnya Buyu juga salah satu pihak yang terkecoh dalam peristiwa itu, mereka juga terjebak dalam adu domba Loh Tju-gi. Sekarang Bu Lim Sip Yu hanya tersisa Tiang-un Suseng seorang. Namun Tiang-un Suseng sebaliknya adalah kekasih suci."

"Lalu bagaimana dengan Loh Tju-gi itu?"

"Lima belas tahun yang lalu, setelah menggondol gelar jago nomor satu di seluruh jagat, mendadak ia menghilang entah ke mana. Kepandaiannya sekarang mungkin sudah lebih tinggi daripada mendiang suhu. Maka suhu berpesan kepada Wanpwe supaya berdaya upaya untuk memperoleh Pedang Darah dan Bunga-iblis agar dapat melatih kepandaian tinggi tiada taranya untuk mencuci nama baik perguruan."

"Sebab itulah maka Anda harus memperoleh Bunga-iblis itu?" Suma Bing mengiakan.

Setelah merenung sekian lamanya, lalu Giok-li Lo Ci berkata, "Apakah Pedang Darah itu sudah menampakkan diri di mayapada ini?"

"Enam belas tahun yang lalu," demikian tutur Suma Bing, "benda bertuah itu diperoleh oleh mendiang ayah Suma Hong, selanjutnya sudah berganti tangan berulang kali, dan yang terakhir direbut oleh Rasul Penembus Dada..."

"Rasul Penembus Dada? Mengenai urusan dunia persilatan, aku sudah lama terpisah dan tidak tahu-menahu. Orang seperti apakah si Rasul Penembus Dada itu?"

"Konon kabarnya, beberapa bulan yang lalu muncul di dunia persilatan suatu perkumpulan rahasia yang menamakan diri Jeng-siong-hwe (Perkumpulan Penembus Dada). Setiap kali membunuh korbannya, ia menggunakan sebilah cundrik untuk menembusi dada sang korban. Dalam jangka waktu yang pendek ini, beberapa tokoh-tokoh lihai dari aliran putih atau hitam, tidak kurang dari lima puluh orang kosen, sudah tertembus dadanya oleh senjatanya yang mengerikan itu."

"O." Giok-li Lo Ci mengangguk-angguk paham.

"Saya ingin bertanya, Cianpwe, bolehkah kiranya Wanpwe meminta Bunga-iblis itu?"

"Boleh, tapi ada syaratnya."

Suma Bing membatin, "Tak peduli syarat apa itu, aku pasti harus setuju." Bahwasanya Bunga-iblis adalah benda yang harus didapatkan, di satu pihak karena pesan suhunya, di lain pihak juga untuk melaksanakan cita-cita ayahnya semasa masih hidup. Maka segera ia menyahut tegas, "Harap bertanya, syarat apakah itu?"

Sejenak Giok-li Lo Ci menatap wajah Suma Bing, lalu katanya perlahan-lahan, "Syarat ini adalah peninggalan dari mendiang guruku, tak boleh diubah lagi..."

"Saya ingin bertanya, apa syarat pertama?"

"Syarat pertama, kalau Anda ingin meminta Bunga-iblis, Anda harus membawa Pedang Darah ke mari. Apa syarat ini mampu Anda lakukan?"

Seketika Suma Bing melongo tanpa kuasa membuka mulut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment