Chapter 66
Pedang darah sudah jatuh ke tangan Rasul Penembus Dada, momok paling ditakuti oleh kaum persilatan. Kehebatan kepandaiannya tak tertandingi; seumpama seseorang berlatih sepuluh tahun lagi pun, belum tentu dapat menandinginya. Adalah Rasul Penembus Dada yang juga menerima perintah orang lain. Sudah tentu Pedang Darah pasti berada di tangan orang di balik layar itu. Kepandaian seorang Rasul saja sudah cukup malang melintang menyapu seluruh dunia persilatan, maka tidak perlu disinggung betapa hebat kepandaian orang di balik layar itu.
Kalau dirinya hendak merebut Pedang Darah dari Jeng-siong-hwe, bukankah bagai memetik bulan di langit? Tapi Pedang Darah adalah benda peninggalan ayahnya; ayahnya mati lantaran benda bertuah itu. Sebab itu pula hingga kini nasib ibunya belum diketahui. Sedang dirinya juga lolos dari renggutan maut karena benda keramat itu juga. Tidak perlukah direbut kembali?
"Apa kau ada kesukaran?" desak Giok-li Lo Ci dingin.
"Ya."
"Kesukaran apa?"
"Pedang darah jatuh ke tangan Rasul Penembus Dada, tidak mudah untuk merebutnya kembali!"
"Pesan itu adalah peninggalan suhu yang tidak boleh diganggu gugat. Lagi pula, Pedang Darah dan Bunga Iblis adalah dua benda keramat yang harus disatupadukan; hanya memperoleh salah satu saja berarti barang rongsokan yang tak berguna."
"Ini wanpwe paham!"
"Walaupun aku ada niat membantu kau, tapi aku tidak bisa melanggar peraturan perguruan."
Suma Bing merenung agak lama, lalu berkata tegas, "Wanpwe tidak menghiraukan mati atau hidup, aku bersumpah akan merebut kembali Pedang Darah itu!"
"Baik sekali, kutunggu kedatanganmu!"
"Harap bertanya syarat yang kedua itu."
"Itu harus menunggu setelah kau menyelesaikan syarat pertama baru bisa kuberitahukan."
Dingin perasaan Suma Bing, tapi apa boleh buat, ia menghela napas panjang. Katanya, "Baiklah, kalau begitu wanpwe minta diri."
"Permisi? Kau tidak bisa keluar!"
"Tidak bisa keluar? Mengapa?"
"Kau tahu tempat apa ini?"
"Tempat apa?"
"Lembah Kematian, salah satu tempat keramat bagi kaum persilatan."
Betapa kejut Suma Bing susah dilukiskan dengan kata-kata. Serunya lesu, "Lembah Kematian?"
"Benar, keempat penjuru merupakan dinding licin yang curam, tiada jalan keluar atau masuk."
"Lalu bagaimana Cianpwe keluar masuk?"
"Terbang merambat dinding."
Suma Bing tertawa ringan, ujarnya, "Kalau Cianpwe bisa keluar masuk, wanpwe juga akan mencoba sekuat tenaga."
"Kemampuanmu masih terpaut jauh, kau takkan berhasil. Kalau sudah dinamakan Lembah Kematian sebagai salah satu dari tiga tempat keramat, kalau semua orang dapat semudah itu keluar masuk, maka nama Lembah Kematian boleh dihapus."
"Harap suka memberi penjelasan!"
"Meski dinamakan lembah, tapi empat penjuru sekelilingnya terkepung oleh dinding batu yang tinggi dan lempang menyerupai sebuah sumur besar. Mulutnya besar, dasarnya sempit, sedemikian licin dinding batu itu laksana dipapas golok. Seratus tombak tingginya baru ada batu menonjol untuk berpijak. Coba, apa kau mampu sekali loncat mencapai setinggi ratusan tombak tanpa berpijak benda apa pun?"
Diam-diam Suma Bing melelet lidah, sahutnya, "Hal itu wanpwe mengakui takkan mampu berbuat begitu."
"Maka kukatakan kau tidak mungkin bisa keluar!"
"Lalu wanpwe..."
"Kau harus bersabar. Setelah satu bulan kemudian, baru kau dapat keluar dengan mudah secara selamat. Menurut apa yang aku tahu, kau terhitung orang pertama yang dapat keluar dari Lembah Kematian ini dengan masih hidup. Dulu belum pernah ada, kelak juga mungkin tidak akan ada!"
"Satu bulan, kenapakah?" tanya Suma Bing tidak mengerti.
"Akan kuturunkan dua jenis gerak tubuh kepadamu, setelah kau berlatih sempurna kau boleh keluar dari sini!"
"Ini..."
"Suma Bing," ujar Giok-li Lo Ci menyeringai dingin, "kalau bukan karena hubunganku dengan Sia-sin Khong Jiang, aku tidak akan menurunkan ilmu rahasia perguruanku kepada kau. Itu berarti kau juga tidak bakal hidup sampai sekarang. Jangan harap lagi kau dapat keluar dari sini dengan masih hidup."
"Bukan begitu maksud wanpwe. Hanya aku tidak sudi menerima budi orang lain secara gratis."
"Hm, bagus, bertulang ksatria. Tapi semua pengalamanmu yang membawa berkah bagi kau ini anggap saja sebagai wahyu dari suhumu. Tadi aku pernah berkata, kalau kau bukan murid Sia-sin Kho Jiang yang memikul tugas suci yang dibebankan kepada dirimu, seratus Suma Bing pun harus dikubur di dasar lembah ini!"
Ini memang kenyataan dan bukan ancaman atau omong kosong belaka. Sudah tentu Suma Bing sendiri juga maklum akan hal ini. Terlintas akan pesan suhunya, lantas terpikir juga Bunga Iblis harus dicapainya. Teringat pula orang telah menyembuhkan lukanya, malah menolong jiwanya dan menembuskan jalan darah mati-hidupnya. Budi sedemikian besar ini, kalau dirinya tidak mau menerima kebaikan orang yang hendak menurunkan ilmu, bukankah terlalu tidak tahu budi?
Karena pikirannya ini, terunjuk rasa haru dan syukur. Katanya, "Budi Cianpwe yang besar ini, selama hidup ini mungkin tidak mungkin aku dapat melunasi."
"Ah, omong kosong. Dari sekarang juga, kuturunkan dua gerak tubuh dari Bu Siang Sin Hoat yang dinamakan Sin-sek dan San-sek (gerak naik dan gerak kelit). Gerak naik dapat membuat kau melambung tinggi ratusan tombak tanpa meminjam tenaga luar, sedang gerak kelit adalah suatu gerakan lihai sedemikian cepat sampai dapat mengelabui pandangan musuh. Kalau kedua ilmu ini sudah sempurna kau latih, tidak peduli betapa lihai dan tinggi kepandaian lawanmu itu, dengan mudah kau dapat menyelamatkan diri. Jalan darah mati-hidupmu sudah tembus, lebih gampang lagi mempelajari kedua ilmu itu. Mengandalkan bakatmu, waktu satu bulan sudah cukup berkelebihan."
Entah karena girang atau terharu, tubuh Suma Bing sampai gemetaran. Pengalaman yang ajaib ini seolah-olah dirasakan dalam mimpi. Waktu menempuh perjalanan menuju ke Bu-kong-san ini, harapannya tidak sedemikian besar. Sungguh tak disangka kiranya bahwa keinginannya bisa terkabul; dari mengalami bencana malah mendapat rezeki sebesar ini. Bukan saja Bunga Iblis sudah pasti dapat ditemukan, malah memperoleh dua ilmu yang tiada taranya. Hal ini benar-benar di luar dugaan sebelumnya.
Oleh karena itu, terpaksa Suma Bing harus tinggal dalam gua di dasar Lembah Kematian itu selama satu bulan untuk mempelajari dua jenis ilmu dari Bu-hoat. Sang waktu berjalan sangat cepat, satu bulan dengan cepat sudah berlalu. Dalam waktu yang pendek itu, Suma Bing sudah sempurna mempelajari gerak naik dan gerak kelit serta intisarinya.
Pada hari ketigapuluh, Giok-li Lo Ci bicara sungguh-sungguh kepada Suma Bing, "Nak, kudoakan tugasmu dapat kau laksanakan secara lancar. Cepatlah kau merebut balik Pedang Darah itu untuk dipadukan dengan Bunga Iblis, supaya dapat memperoleh ilmu digdaya yang merajai segala ilmu silat, maka terkabullah cita-cita para almarhum yang telah mendahului kita. Sekarang kau boleh segera berangkat!"
"Banyak terima kasih atas budi Cianpwe yang besar dan tak ternilai ini."
"Tidak perlu sungkan. Kuturunkan ilmu perguruanku karena kau memikul tugas perguruan, anggaplah sebagai maksud baikku kepadanya (Sia-sin Kho Jiang). Tentang Bunga Iblis itu, menurut pesan mendiang Suhu, siapapun orang itu yang dapat memasuki Lembah Kematian ini dan bermaksud hendak meminta Bunga Iblis itu, setelah dapat memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, dengan mudah dapat memperolehnya. Maka kau pun tidak perlu banyak khawatir."
"Meskipun begitu ketentuannya, hal itu tidak akan mengubah pendirian wanpwe akan budi Cianpwe yang besar ini!"
"Marilah, biar kuantar kau keluar lembah!"
Keluar dari dalam gua, tampak keadaan dalam lembah masih sedemikian pekat akan kabut yang tebal bergulung-gulung. Bagi orang yang lwekangnya agak rendah, pasti tidak dapat melihat tegas dan membedakan apa yang dipandang di depannya. Tidak lama kemudian tibalah mereka di bawah sebuah dinding tinggi yang sebelah atasnya agak sedikit menjorok ke depan.
Segera Giok-li Lo Ci menunjuk dan berkata, "Terpaut lima tombak dari kaki dinding, gunakanlah gerak naik dari Bu Siang Sin Hoat. Kau harus berputar melambung tinggi, kira-kira mencapai ketinggian seratus tombak kemudian ada sebuah batu menonjol keluar. Batu itu dapat kau gunakan untuk injakan dan seterusnya; terpaut delapan atau sepuluh tombak pasti ada batu-batu yang dapat kau gunakan untuk berloncatan. Pergilah, tapi ingat, kalau kau datang kembali, kau harus menggunakan jalan ini lagi; kalau tidak, kau takkan mampu masuk ke dalam lembah. Dan masih ada satu soal lagi yang paling penting, keadaan dalam Lembah Kematian ini jangan sekali-kali kau uarkan di kalangan Kang-ouw. Awas, jangan lupa!"
Setelah memberi hormat, tubuh Suma Bing segera melejit tinggi beberapa tombak. Sambil mengempos semangat dan mengerahkan tenaga, seketika ia rasakan badannya sangat enteng bagai kapuk, seolah-olah badannya melayang tanpa menggunakan tenaga. Sekali tumitnya menutul di batu dinding, tubuhnya terus meluncur lagi lebih cepat menjulang ke atas. Menurut teori pelajarannya, dia berganti napas dan mengubah gaya di tengah udara, tubuhnya melengkung membuat setengah lingkaran. Dalam sekejap mata kemudian, dia sudah berputar naik sekitar ratusan tombak.
Benar juga, dilihatnya sebuah batu menonjol keluar. Batu ini tidak lebih dari tiga kaki luasnya, di sini ia berhenti sebentar mengganti napas, terus terbang naik lagi. Tak lama kemudian kakinya sudah menginjak puncak jurang. Ia masih ingat tempat itu adalah di mana untuk pertama kali ia berjumpa dengan Giok-li Lo Ci. Sudah dua bulan sejak dia datang, dan dalam jangka yang pendek ini seolah-olah Suma Bing sudah berganti tulang dan bersalin rupa. Bukan saja jalan darah mati-hidup sudah tembus, malah memperoleh pelajaran Bu-hoat yang sangat ampuh.
JILID 7
RASUL PENEMBUS DADA DIUSIR LARI OLEH KEHEBATAN ILMU SUMA BING
Di sini ia berdiri sebentar merenungkan apa-apa, terus mengembangkan ilmu ringan tubuhnya, berlarian cepat keluar pegunungan.