Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 67

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 67

Selama dalam perjalanan, ia berpikir dan menimang langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Pertama, sudah tentu ia harus mencari tahu alamat perkumpulan Jeng Siong Hwe untuk meminta kembali Pedang Darah.

Kedua, mencari ibunya, entah sudah mati atau masih hidup. Sejak kematian Iblis Timur, terputuslah sumber penyelidikannya untuk menuntut balas. Jika ibunya belum ditemukan, dendam kesumat ini akan selamanya tenggelam ditelan masa. Kecuali ada kejadian di luar dugaan, hakikatnya mustahil ia dapat menyelesaikan semua urusan ini secara sempurna.

Ketiga, mencari tahu keberadaan Loh Cu Gi.

Dengan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, tak lama kemudian ia sudah menginjak jalan raya dan menempuh perjalanan tanpa tujuan tertentu. Banyak urusan yang harus dikerjakan, namun setiap pekerjaan itu sangat sukar dan rumit; ia bingung harus mulai dari mana.

Hari itu, saat tengah melakukan perjalanan, tiba-tiba ia melihat dua bayangan orang yang sangat dikenal tengah berlari kencang puluhan tombak di depannya. Hatinya tergerak. Dengan mengembangkan gerak kelit dari pelajaran Bu Siang Sin Hoat yang sangat hebat dan menakjubkan, ia tahu-tahu sudah melampaui kedua orang itu, lalu membalikkan tubuh untuk menghadang di tengah jalan.

Kedua orang itu berseru kaget dan lekas-lekas menghentikan langkah. Saat diperhatikan, ternyata mereka adalah Siang Siau Hun dan Si Ban Cwan, si Maling Bintang. Bahwa Siang Siau Hun bisa berjalan bersama si Maling Bintang benar-benar mengejutkan dan mengherankan Suma Bing. Setelah melihat jelas sosok yang menghadang mereka adalah Suma Bing, seketika Siang Siau Hun dan Si Ban Cwan terhenyak, melongo, dan terbelalak.

Segera Suma Bing memberi hormat kepada si Maling Tua, lalu dengan riang gembira menyapa, "Adik Hun!" Wajah Siang Siau Hun tampak kurus dan pucat, air mukanya berkerut-kerut, tubuhnya gemetar. Matanya yang bundar, jeli, dan bening menatap nanap wajah Suma Bing. Perlahan-lahan, air mata meleleh keluar dengan deras.

Keadaan ini membuat Suma Bing melengak dan tak habis heran.

"Apakah ini bukan mimpi?" akhirnya tercetus juga ucapan Siang Siau Hun.

Rasa heran dan kejut Suma Bing kian membesar. Ia bertanya tak mengerti, "Adik Hun, apakah yang telah terjadi?"

"Buyung," si Maling Bintang akhirnya ikut bicara dengan suara gemetar, "apa kau belum mati?"

"Mati? Mengapa aku harus mati? Apa maksudnya ini?"

"Bukankah kau terjungkal masuk ke Lembah Kematian akibat dikeroyok oleh dua di antara Si Tiau Khek?"

Baru sekarang Suma Bing sadar. Ia menyahut, "Memang begitu kejadiannya, dari mana Cianpwe bisa tahu?"

"Aku, si Maling Tua, bersama Nona Siang mengejar jejakmu ke Bu Kong San. Di bibir jurang Lembah Kematian, kami bersua dengan Racun Diracun. Dari mulutnyalah kami mengetahui bahwa kau sudah jatuh masuk jurang. Waktu itu, Nona Siang hampir tidak ingin hidup lagi..."

Suma Bing berpaling ke arah Siang Siau Hun, suaranya halus, "Adik Hun!"

Siang Siau Hun mengeluh panjang, lalu menubruk ke dalam pelukan Suma Bing sambil terisak, "Engkoh Bing, peluklah aku erat-erat, biar kurasakan kehadiranmu ini. Katakanlah bahwa ini bukan impian!"

Serta-merta Suma Bing memeluknya kencang, kedua tangannya melingkar di pinggang gadis itu. Ia berucap penuh haru, "Adik Hun, tenanglah!" Pertemuan dalam keadaan kurang wajar ini membuat Siang Siau Hun lupa diri; tanpa menghiraukan kehadiran si Maling Bintang, ia terus menubruk dalam pelukan Suma Bing.

Mendengar ucapan Suma Bing, seketika wajah Siang Siau Hun memerah. Tersipu-sipu, ia mendorong Suma Bing hingga mundur tiga langkah. Suma Bing sendiri pun merasa kikuk dan malu.

Si Maling Bintang, Si Ban Cwan, berdeham lalu berkata, "Cobalah kau tuturkan pengalamanmu untuk kami dengar!"

"Waktu Wanpwe terjungkal jatuh ke dalam jurang oleh pukulan gabungan Heng Si Khek dan Hui Bing Khek, untung tiga puluh tombak di bawah sana ada sebuah batu besar yang menonjol keluar, maka selamatlah jiwaku." Terpaksa Suma Bing berbohong karena ingat pesan Giok Li Lo Ci yang melarangnya membeberkan rahasia keadaan Lembah Kematian itu kepada orang luar.

"Oh, memang kalau orang baik pasti mendapat rahmat Tuhan!" puji si Maling Bintang, lalu katanya kepada Siang Siau Hun, "Bagaimana Nona baik, aku pernah berkata bocah ini berumur panjang, bukan? Kalau waktu itu kau benar-benar menerjunkan diri masuk jurang, bukankah kau mati konyol dan penasaran!"

Tanpa terasa Siang Siau Hun tertawa geli. Wajahnya yang semula dirundung kesedihan kini berubah cerah dan berseri. Mendadak si Maling Bintang bertanya, "Buyung, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan Racun Diracun?"

"Hubungan? Ada apa memangnya?"

"Kedatangan Racun Diracun di bibir jurang itu agaknya hendak menolongmu, tapi dia terlambat setindak. Waktu Nona bodoh ini menuntut balas kepadanya, dia diam saja. Dihantam tanpa memberi perlawanan sehingga muntah darah. Karena menyentuh tubuhnya, tangan Nona ini keracunan hebat. Tanpa diminta, dia malah mengeluarkan obat penawarnya lalu pergi begitu saja..."

"Ada kejadian demikian?"

"Masa aku, si Maling Tua, pernah berbohong?"

"Urusan ini sangat ganjil dan susah dijelaskan, Wanpwe juga tidak mengerti."

"Lagi pula, dalam sebulan lebih ini, anak buah Bwe Hwa Hwe yang mati akibat racun tanpa bayangan tak terhitung banyaknya. Peristiwa ini menimbulkan gelombang kegusaran dan kehebohan yang susah dibendung. Menurut kabar, pihak Bwe Hwa Hwe sudah mengutus gembong silat kelas tinggi untuk menuntut balas kepadanya..."

"Teka-teki yang sukar dipecahkan! Akan tetapi, Wanpwe pasti akan memecahkannya!"

Sebuah lengking tawa yang aneh dan menggiriskan mendadak terdengar dari kejauhan. Suma Bing berseru kaget, "Suara tawa Racun Diracun! Biar kupergi melihat!" Secepat kilat tubuhnya melenting tinggi lalu berkelebat ke arah datangnya suara. Dalam sekejap, bayangannya sudah menghilang.

Si Maling Bintang menjulurkan lidah, serunya kagum, "Gerakan apakah itu? Kecepatannya benar-benar susah dibayangkan. Apa mungkin dia ketiban rezeki apa?"

Siang Siau Hun juga tidak kalah heran dan kagetnya, "Lo Cianpwe, mari kita ikut melihat ke sana?"

"Baik, mari!" Tua dan muda ini segera berlarian kencang menuju arah yang sama.

Sementara itu, Suma Bing mengembangkan ilmu dari Bu Siang Sin Hoat yang belum lama ini dipelajarinya, lalu meloncat dengan kecepatan penuh ke arah datangnya suara. Kecepatannya seolah meteor terbang; dalam jangka waktu singkat, tiga li sudah dicapainya.

Di dalam sebuah hutan kecil di depan sana, terlihat dua bayangan hitam dan putih tengah berhadapan dengan bersitegang leher. Si hitam adalah Racun Diracun, sedangkan yang putih adalah Rasul Penembus Dada. Bu Siang Sin Hoat benar-benar menakjubkan; Suma Bing sudah mendesak maju sejauh tiga tombak namun masih belum ketahuan oleh kedua tokoh lihai itu.

Terdengar Rasul Penembus Dada mendesis, "Racun Diracun, kau keluarkan suara iblismu, apakah kau hendak mengundang bala bantuan?"

Suara Racun Diracun tidak kalah dingin dan kaku, "Kau tidak perlu tahu!"

"Manusia beracun, sungguh besar nyalimu! Berani kau menggunakan Pedang Darah palsu untuk mengelabui Pun Si Cu (aku si Rasul)?"

"Hm, Pedang Darah itu, bukankah kau sendiri yang memintanya dengan paksa? Toh aku tidak memberi pertanggungan jawab akan asli atau palsu, bukan!"

Tergerak hati Suma Bing yang bersembunyi di balik pohon. Sungguh di luar sangka bahwa Pedang Darah yang direbut Rasul Penembus Dada dari Racun Diracun tempo hari itu ternyata palsu.

Rasul Penembus Dada mengancam penuh kekejaman, "Kupandang muka pemilik benda yang kau tunjukkan tempo hari. Kalau kau mau menyerahkan Pedang Darah itu, aku tidak akan memperpanjang urusan ini."

"Kalau aku menolak?" ejek Racun Diracun.

"Kematian bagimu!"

"Belum tentu!"

"Apa benar kau tidak mau menyerahkan pedang itu?"

"Pedang bertuah itu kuperoleh dari tangan Iblis Timur. Tentang asli atau palsu, lebih baik kau minta pertanggungjawaban Iblis Timur saja!"

"Iblis Timur sudah mati kutembusi dadanya!"

"Kalau begitu, maaf, aku tidak ikut campur dalam urusan itu lagi."

"Kau manusia beracun, agaknya sebelum melihat peti mati kau takkan menangis?"

"Sembarang waktu aku bersiap untuk gugur bersama kau."

Mendadak Rasul Penembus Dada memperdengarkan suara tawa yang menyedot semangat orang, serunya, "Kau sedang bermimpi! Ketahuilah, betapapun berbisanya kau, Racun Diracun, apa yang bisa kau lakukan terhadapku?"

Tergetar perasaan Racun Diracun. Batinnya, apakah kedatangannya ini sudah siap sedia?

Sementara itu, Suma Bing juga gugup dan bimbang. Jika Pedang Darah itu benar-benar palsu, berarti semua rencananya akan gagal total. Iblis Timur sudah mati, maka Pedang Darah yang asli akan terpendam selamanya. Karena pikirannya ini, ia tidak dapat lagi mengendalikan diri, lalu berkelebat keluar.

Racun Diracun berseru kaget dan berulang kali mundur beberapa langkah, tanyanya, "Suma Bing, kau belum mati?"

Suma Bing mengangguk, "Ya, aku masih hidup!"

Agaknya Rasul Penembus Dada juga terperanjat. Mengandalkan kemampuannya, ternyata ia masih tidak mengetahui kedatangan orang lain. Setelah sosoknya muncul, barulah ia menyadari. Dalam ingatannya, anak muda ini tidak memiliki kepandaian setinggi itu.

Suma Bing bertanya kepada Racun Diracun penuh perhatian, "Pedang Darah milik Tuan itu apa benar adalah yang palsu?"

Sejenak Racun Diracun ragu-ragu. Matanya menatap ke arah Rasul Penembus Dada, lalu berkata, "Dalam hal ini, boleh kau bertanya kepada Saudara ini!"

Terdengar lambaian baju berdesir terbawa angin. Siang Siau Hun bersama si Maling Bintang memasuki gelanggang. Begitu melihat tokoh-tokoh di hadapan mereka, seketika wajah mereka berubah kaget. Tentang Racun Diracun tidak perlu dipersoalkan lagi, namun Rasul Penembus Dada adalah gembong misterius yang paling ditakuti di dunia persilatan. Entah bagaimana Suma Bing bisa ikut terlibat dalam pertikaian kedua orang sakti ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment