Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 68

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 68

Rasul Penembus Dada berpaling ke arah Siang Siau Hun dan Si Maling Bintang sambil membentak, "Enyah dari sini!" Suaranya dingin dan mengiris pendengaran.

Tanpa terasa, Siang Siau Hun dan Si Maling Bintang tergetar lalu mundur beberapa langkah.

Suma Bing maju dua langkah dengan suara berat berkata kepada Rasul Penembus Dada, "Dengan bukti apa Tuan berani memastikan bahwa Pedang Darah itu adalah palsu?" Kedua mata Rasul Penembus Dada bercahaya menatap ke arah Suma Bing, ujarnya, "Suma Bing, kau ini seumpama kutu terbang menyambar pelita, mengantarkan kematianmu sendiri!" Sambil berkata, pergelangan tangannya dibalikkan. Entah bagaimana, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam sebilah cundrik yang berkilauan, lalu ia menyambung lagi, "Kau harus mati di bawah cundrik ini!"

Bergolak amarah Suma Bing; saking gusar, ia malah tertawa besar, "Tuan, silakan kau turun tangan!"

"Engkoh Bing!" teriak Siang Siau Hun sambil menubruk masuk ke gelanggang.

"Kembali!" bentak Rasul Penembus Dada, begitu sebelah tangan dikebutkan.

Kontan Siang Siau Hun berpekik kesakitan, tubuhnya terpental balik seperti layang-layang yang putus benangnya. Tersipu-sipu Si Maling Bintang bergerak maju menyambut. Sedang Suma Bing membentak sengit, terus menghantam sekuatnya ke arah Rasul Penembus Dada.

Rasul Penembus Dada mendengus ejek. Sebelah tangannya bergerak melingkar terus ditarik balik. Gerak-gerik aneh ini bukan saja dengan mudah memunahkan kekuatan pukulan Suma Bing, malah Suma Bing juga merasakan suatu daya tolak yang sangat kuat menyerang tubuhnya hingga terdorong mundur tiga langkah. Dengan kekuatan berlipat ganda, Suma Bing ternyata masih belum kuat menahan kebut sebelah tangan lawan. Hal ini betul-betul sangat mengejutkan.

Agaknya Racun Diracun juga tidak mau tinggal diam, melejit maju seraya mengancam, "Terpaksa aku harus turun tangan!"

"Manusia beracun, jangan tergesa-gesa," bentak Rasul Penembus Dada dingin, "Biar kubereskan yang ini dulu!" Membarengi ucapannya, Rasul Penembus Dada mendorong sebuah tangannya ke arah Racun Diracun. Kekuatan dan kecepatan dorongannya ini secepat kilat; betapa hebat tenaganya benar-benar menggetarkan semangat orang. Sampai-sampai Racun Diracun yang berkepandaian sedemikian tinggi pun tidak sempat lagi untuk membalas menyerang atau menyingkir.

'Blang!' Racun Diracun sempoyongan setombak lebih, hampir roboh, mulutnya berpekik tertahan.

Rasul Penembus Dada mengayunkan cundriknya serta mengancam, "Suma Bing, serahkan jiwamu." Cahaya kilat berkelebat, ujung runcing cundrik itu sudah melesat keluar. Cara tusukan ini bukan saja cepat bagai kilat, juga aneh, sehingga orang yang diserang tiada kesempatan untuk berkelit atau bersiap siaga.

Ramailah teriakan dan seruan kaget. Racun Diracun, Si Maling Bintang, dan Siang Siau Hun tanpa berjanji berbareng terbang memburu sambil melancarkan sebuah pukulan. Hakikatnya, bagaimanapun juga, tiga orang ini tidak akan mampu merintangi kecepatan Rasul Penembus Dada. Diterpa badai pukulan bergulung-gulung dari gabungan tiga orang, Rasul Penembus Dada hanya diam saja, punggungnya diserang, tubuhnya bergoyang gontai tanpa tergeser sedikit pun.

Serasa pandangannya kabur, tahu-tahu Suma Bing yang berada di hadapannya sudah menghilang. Matanya berkilat-kilat menyapu ke sekeliling, tampak Suma Bing tengah berdiri tenang di belakang Rasul Penembus Dada. Keruan kejadian ini membuat ketiga orang itu melongo terkejut. Kepandaian Rasul Penembus Dada memang bukan main hebatnya. Begitu cundriknya mengenai tempat kosong dan kehilangan bayangan musuhnya, sebat sekali tubuhnya terus menggeser kedudukan delapan kaki baru membalikkan tubuh. Sekarang dia berhadapan lagi dengan Suma Bing.

"Suma Bing, Cundrik Penembus Dada ini selamanya belum pernah dilancarkan main-main. Yang dapat terhindar dari tusukannya, terhitung kau satu-satunya!"

"Tapi..."

"Bagaimana?"

"Keajaiban hanya muncul satu kali!"

"Kenapa tidak kau coba-coba lagi?" ejek Suma Bing.

Rasul Penembus Dada menggeram gusar, ujung cundriknya lagi-lagi meluncur cepat sekali, dibarengi tangan kiri yang juga melancarkan sebuah tamparan. Serangan cundrik dan tamparan itu dilancarkan berbareng. Rasanya tokoh-tokoh silat zaman itu takkan ada seorang pun yang mampu bertahan; seumpama ada, pun dapat dihitung dengan jari.

Tapi sungguh ajaib, begitu Rasul Penembus Dada turun tangan, bayangan musuhnya lagi-lagi menghilang tak keruan parasnya. Malah bertepatan dengan itu, kontan ia merasa badai angin pukulan sudah menerjang tiba dari belakangnya. Keruan bercekat hati Rasul Penembus Dada, secepat kilat ia melesat sejauh dua tombak. Begitu ia memutar tubuh... eh, heran bin ajaib, lagi-lagi gulungan angin pukulan menerpa tiba dari belakang.

Tiga orang yang menonton di pinggiran hanya melihat bayangan Suma Bing berkelebatan, kadang muncul, tiba-tiba lenyap lagi bagai bayangan setan yang selalu membuntuti tubuh musuhnya. Gerak tubuh semacam ini, jangan dikata melihat, mendengarnya pun belum pernah. Berulang-ulang Rasul Penembus Dada berkelebatan berusaha menghindari bayangan lawan, namun sia-sia belaka. Akhirnya, karena kewalahan, ia berhenti dan berdiri tenang, kedua tangannya dengan gerak-gerik aneh membuat lingkaran-lingkaran di samping belakangnya...

Dar!

Dentuman yang menggelegar menggetarkan bumi, badai angin segera mengembang ke empat penjuru. Gerak tubuh Suma Bing seketika berhenti juga. Meski gerak tubuhnya sangat aneh dan menakjubkan, tapi karena tenaga dalamnya terpaut terlalu jauh dibanding lawan, ia hanya cukup untuk membela diri tapi tak bakal kuat untuk menyerang musuh.

Kedua lengan Rasul Penembus Dada tergetar dan bergerak cepat saling berlawanan beruntun membuat beberapa lingkaran, maka kekuatan tenaganya ini menimbulkan angin puyuh yang bergulung saling berlawanan juga. Lima tombak sekelilingnya batu pasir beterbangan. Si Maling Bintang bertiga juga terdesak mundur berulang-ulang. Adalah Suma Bing malah seenaknya berdiri di luar lingkungan putaran angin puyuh itu tanpa bergerak, tanpa reaksi sedikit pun.

"Bu Siang Sin Hoat!" tiba-tiba Rasul Penembus Dada berseru kejut.

Ketiga orang yang hadir juga tidak kepalang kejut dan tergetar perasaan mereka. Menurut kabarnya, *Bu Siang Sin Hoat* adalah pelajaran tunggal dari *Bu Siang Sin Li* yang sangat rahasia. Semua tokoh-tokoh silat kosen zaman ini mungkin sudah tiada seorang pun yang pernah melihatnya. Bahwa hari ini bisa dipertunjukkan oleh Suma Bing, benar-benar membuat orang sukar mengerti. Sebaliknya, Suma Bing sendiri juga diam-diam merasa terkejut bahwa lawan bisa mengenal asal-usul ilmu silatnya itu. Ini benar-benar sangat aneh dan ganjil.

Sejenak Rasul Penembus Dada mematung seperti kehilangan sukma, lantas tanpa membuka suara lagi, mendadak melejit tinggi terus menghilang. Gembong silat yang paling ditakuti ini bisa mendadak pergi, malah membuat semua orang yang tinggal hadir melengak heran dan bertanya-tanya! Karena gentar akan nama *Bu Siang Sin Li* ataukah mempunyai perhitungan lain, ini tidak dapat diketahui.

Ingatan Suma Bing selalu dibayangi oleh Pedang Darah, sebab ini sangat penting demi sukses atau gagal cita-citanya untuk menuntut balas. Maka, segera ia menandaskan kepada Racun Diracun, "Pedang Darah yang diperoleh Rasul Penembus Dada dari Tuan itu sebenarnya tulen atau palsu?"

Dingin sikap Racun Diracun, "Buat apa kau tanyakan hal itu?"

"Apa Tuan sudah lupa akan janji kita itu?"

"Tidak!"

"Lalu bagaimana Tuan hendak menepati..."

"Dalam hal ini kau tidak perlu khawatir. Aku juga perlu tahu, tugasmu yang harus kau laksanakan itu apakah sudah selesai kau lakukan?"

Si Maling Bintang dan Siang Siau Hun bergantian memandang sini memandang sana, hati mereka bertanya-tanya entah perjanjian apa yang telah mereka ikrarkan. Tapi waktu sorot pandangan Siang Siau Hun menatap ke arah Racun Diracun, sinar itu mengandung kebencian yang menyala-nyala.

Mendengar pertanyaan itu, bergejolak perasaan Suma Bing, suaranya gemetar, "Aku sudah menyelesaikannya!"

"Jadi kau sudah memperoleh Bunga Iblis itu?"

"Bunga Iblis sih belum kudapat, tapi pemiliknya sudah berjanji begitu aku memperoleh Pedang Darah, segera dia memberikan Bunga Iblis itu."

"Siapakah orang itu?"

"Maaf, siapa dia aku tidak bisa menerangkan."

"Suma Bing, dapatkah aku mempercayai ucapanmu?"

"Itu berarti Tuan benar-benar masih menyimpan Pedang Darah yang tulen itu?"

"Sudah tentu!"

Suma Bing berpikir keras, lalu katanya, "Tuan hendak menyerahkan Pedang Darah itu menurut perjanjian kita atau..."

"Atau bagaimana?"

"Kalau Tuan dapat menyerahkan secara perjanjian kita dulu, aku rela menukarnya dengan segala syarat. Kalau bukan, demi memperoleh Pedang Darah itu, aku tidak akan kenal kasihan..."

Racun Diracun bicara dengan tenang, "Aku sudah pernah berkata kuserahkan tanpa syarat, masa kujilat lagi ludahku, tapi..."

"Tapi apa?"

"Saat ini tidak kubawa!"

"Lalu kapan aku bisa menerima?"

"Kelak kalau kita bertemu lagi!"

"Kapan kita bertemu lagi?"

"Sekarang sukar ditentukan, pendek kata tidak akan terlalu lama."

Melihat sorot mata Siang Siau Hun yang penuh dendam kebencian itu, tergerak hati Suma Bing, lantas katanya kepada Racun Diracun lagi, "Setengah tahun yang lalu, Tuan pernah menggunakan Racun Tanpa Bayangan membunuh Siang Siau Moay dan kekasihnya. Aku sudah pernah berkata supaya perhitungan itu diselesaikan sendiri oleh Nona Siang, tapi sekarang niatku itu telah kurobah..."

"Niat apakah itu?"

"Sudah pasti Nona Siang bukan tandinganmu, maka aku bersiap untuk mewakili dia..."

"Sekarang juga?"

"Bukan, kelak. Tapi perlu ditandaskan, jikalau Tuan tidak dapat menyerahkan Pedang Darah itu, kuharap secara terus terang Tuan katakan sekarang juga, pasti aku tidak akan memaksa."

Racun Diracun mengekeh tawa, "Suma Bing, itu dua persoalan jangan kau campur adukkan dalam satu penyelesaian. Dengan senang hati kusambut pernyataanmu ini. Sembarang waktu aku siap terima pengajaran di kalangan Kangouw, bolehlah legakan hatimu?"

"Tuan, sikapmu ini sungguh menggembirakan. Tentang piutang kita berdua, kelak pasti aku akan memberikan pertanggungjawabanku."

"Ah, rasanya tidak perlu, antara kita berdua tiada utang piutang apa!"

"Sreng!" Siang Siau Hun mencabut pedang sambil maju beberapa langkah, bentaknya beringas, "Iblis laknat, sekarang tiba giliran nonamu menuntut keadilan kepadamu."

"Nona Siang, peristiwa dulu hari itu adalah salah paham..."

"Hm, salah paham? Dua jiwa manusia lantas dapat dipertanggungjawabkan dengan kata-kata salah paham itu!"

"Sukar aku menjelaskan, tapi aku minta keringanan. Kuharap Nona Siang dapat melulusi supaya penuntutan balas sakit hati ini bisa diperpanjang satu tahun!"

"Tidak bisa."

Alis putih Si Maling Bintang berkerut, selanya, "Nona, baik, lulusilah!"

"Mengapa?"

Agaknya Suma Bing juga ingat sesuatu, tercetus dari mulutnya, "Adik Hun, cepat atau lambat, hanya satu tahun, lulusilah!"

Siang Siau Hun menatap Suma Bing dalam-dalam penuh arti, akhirnya pedang disarungkan lagi serta serunya jengkel, "Iblis laknat, setahun kemudian kalau bukan kau yang mampus, biar aku yang mati!"

Dingin Racun Diracun menyapu pandang ketiga orang di depannya, lalu perlahan-lahan memutar tubuh, lantas pergi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment