Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 69

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 69

Siang Siau-hun bertanya dengan bingung, "Locianpwe, mengapa kau merintangi aku?"

Si Maling Bintang tertawa lebar, lalu berkata, "Pertama, sudah pasti kau bukan lawannya. Bukankah bocah ini, Suma Bing, sudah berkata bahwa saat ini dia tidak akan menuntut balas? Itu berarti dia tidak akan turun tangan membantumu. Mengandalkan lwekang, aku si maling tua mungkin masih kuat bertahan beberapa jurus, tapi kau jangan lupa modal lawan yang terampuh, yaitu racun. Selain bocah ini, di seluruh kolong langit, siapa yang berani memandang rendah permainan bisanya?"

"Kedua, dilihat dari sepak terjang lawan, agaknya mengandung rahasia yang susah dipecahkan. Sebelum teka-teki ini terpecahkan, lebih baik kau jangan terburu-buru turun tangan."

Mendengar nasihat yang panjang lebar ini, Siang Siau-hun mengangguk-angguk tanpa mengeluarkan suara.

"Adik Hun, hendak ke manakah kau bersama Si cianpwe..."

"Buyung," tukas si Maling Bintang. "Aku si maling tua mendapat satu kabar..."

"Kabar apa?"

"Dalam sebuah gua di puncak Siau-sit-hong di Gunung Siong-san, terkurung seorang perempuan. Menurut kabarnya, dia sudah dipenjarakan selama dua puluh tahun. Aku si maling tua curiga..."

"Curiga apa?"

"Aku curiga mungkin dia adalah ibundamu yang lolos dari Puncak Kepala Harimau di Tiam-cong-san itu!"

Jantung Suma Bing melonjak keras. "Apa betul?" tanyanya penuh keperihan.

"Kenyataan ini sangat bertepatan. Dikatakan dalam waktu, ibumu sudah menghilang selama enam belas tahun, hampir sama dengan kabar dua puluh tahun itu. Lagipula, dalam pengeroyokan di Puncak Kepala Harimau dulu, ada juga anak murid Siau-lim-si. Mungkin waktu ibumu menuju ke sana hendak menuntut balas, lantas terkurung di dalam gua itu..."

Mata Suma Bing mendelik bagai dua butir kelereng, seluruh tubuhnya gemetaran.

Si Maling Bintang melanjutkan ceritanya, "Sejak kau terjungkal ke dalam jurang, aku si maling tua bersama Nona Siang bersiap hendak mewakili kau melaksanakan cita-citamu yang belum terkabul untuk mencari jejak ibundamu. Sungguh sangat kebetulan, seorang murid preman Siau-lim-si mengoceh dan membeber rahasia ini di waktu mabuk. Setelah kuselidiki dan kuanalisa, maka kita memutuskan hendak meluruk ke Siau-lim-si untuk membikin terang rahasia itu. Tak disangka, dari kena bencana, kau malah mendapat rezeki. Memang ini sudah menjadi kehendak Tuhan!"

"Sedemikian luhur hati Locianpwe, selama hidup ini Suma Bing akan berterima kasih!" Saking terharu, mata Suma Bing merah dan hampir menangis.

"Eh, si maling tua hanya ingin menebus kesalahanku dulu, untuk mencari ketenangan hidup di hari tua."

"Baiklah, Wanpwe minta diri!"

"Minta diri? Hendak ke mana kau?"

"Ke Siau-lim-si!"

"Bagus, mari kita pergi bersama. Besar hasratku untuk segera terbang tiba di Siau-lim-si guna menyelidiki kebenaran kabar itu."

"Sejarah mengakui Siau-lim-pay sebagai satu perguruan silat terbesar yang memimpin kaum persilatan. Jago-jago silat dalam biara besar itu tak terhitung banyaknya, jangan kau gegabah..."

Suma Bing menjengek dingin, lalu menukas ucapan si Maling Bintang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment