Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 70

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 70

"Kalau orang yang dipenjarakan itu benar-benar adalah Bundaku, darah para pendeta Siau Lim Si akan mengalir dan menyirami seluruh puncak Siau Sit Hong." Ucapan yang mengandung nafsu membunuh yang besar ini membuat si maling tua dan Siang Siau Hun bergidik seram.

Suma Bing tertawan di dalam kuil Siau Lim Si.

"Buyung, kau akan menimbulkan banjir darah di tempat suci yang agung itu?"

"Bila perlu akan kulakukan!"

"Buyung, jangan kau bersimaharaja dan membunuh tanpa dosa."

"Tanpa dosa? Biarlah kenyataan membuktikan apakah benar para pendeta Siau Lim itu tidak berdosa."

"Mari berangkat, kita bisa saling bantu-membantu!"

"Jangan, wanpwe ingin berangkat sendiri! Kebaikan Cianpwe yang luhur ini selamanya takkan kulupakan!"

Lalu ia berpaling ke arah Siang Siau Hun dan berkata lagi, "Adik Hun, maafkan aku. Jagalah dirimu baik-baik, selamat bertemu!"

Alis si maling tua berkerut, serunya lantang, "Buyung! Itu hanya satu rekaan saja, jangan kau terlalu gegabah, orang yang dipenjarakan itu mungkin bukan ibumu."

"Baik, Wanpwe terima nasihat ini!" Suara sahutan Suma Bing ini terdengar sudah sangat jauh sekali. Akhirnya, tak tertahan lagi air mata Siang Siau Hun meleleh deras membasahi pipi.

"Eh, nona elok, buat apa kau merengek dan sesenggukan? Memang begitulah tabiatnya, bukan dia memandang rendah hubungan kita bersama. Mari kita juga berangkat mengikuti di belakangnya!"

Siang Siau Hun manggut-manggut. Bersama si maling bintang, mereka berlari kencang mengejar di belakang Suma Bing. Secepat terbang, Suma Bing menempuh perjalanannya menuju ke Siau Lim Si, siang dan malam hampir belum pernah berhenti. Besar harapannya bahwa wanita yang terkurung di gua puncak Siau Sit Hong itu adalah ibunya, San Hoa Li Ong Fang Lan.

Terbayang olehnya wajah ibunya yang belum pernah dilihatnya. Lantas terbayang juga calon istrinya, Phoa Kin Sian, gadis nan ayu rupawan bak bidadari. Dia sudah mengandung, sekuntum bunga bahagia mekar pada wajahnya yang selama ini sayu dan redup. Agaknya dia sudah melupakan segala pengalaman yang pahit getir selama ini.

Hari itu, di depan puncak Siau Sit Hong muncul seorang pemuda ganteng, bertubuh tegap, gagah, berwajah dingin membeku penuh kecongkakan. Dia tidak lain adalah Sia Sin kedua, Suma Bing. Menyusuri jalanan gunung yang berliku-liku, Suma Bing tengah menempuh perjalanannya menuju ke gereja Siau Lim Si. Tidak lama kemudian, pintu biara yang agung itu sudah samar-samar terlihat dari kejauhan. Serta-merta berdetak hati Suma Bing, ketegangan mulai melingkupi benaknya.

Tiba-tiba terdengar sabda Buddha yang keras menggetarkan telinga. Muncullah dua pendeta berjubah abu-abu, tangan mereka membekal tongkat Hong Pian Jan dan menghadang di tengah jalan. Tanpa disadari, Suma Bing menghentikan langkahnya. Salah seorang pendeta itu, sebelah tangannya dirangkap di depan dada memberi sapa hormat lalu bertanya, "Sicu ini orang kosen dari manakah?"

"Aku yang rendah, Suma Bing!"

Mendadak berubah air muka kedua pendeta itu. Kata pendeta yang bicara tadi, "Sia Sin kedua yang dikabarkan di Bulim itu adalah Sicu adanya?"

Suma Bing mengiakan sambil manggut-manggut.

"Ada pengajaran apakah tuan datang ke biara kita?"

"Ada urusan penting, aku ingin berjumpa dengan Ciang Bun Hong Tiang!"

Lagi-lagi kedua pendeta itu tergetar. Kata yang lain, "Sicu ingin bertemu dengan Hong Tiang?"

Suma Bing menganggukkan kepala. "Benar!" sahutnya tidak sabaran.

"Silakan Sicu sebutkan maksud kedatanganmu agar ada alasan Siau Ceng melapor pada Ci Khek (pendeta penerima tamu)!"

"Yang ingin kutemui hanyalah Ciang Bun Hong Tiang kalian. Tentang maksud kedatanganku, nanti setelah ketemu Hong Tiang kalian baru kukatakan."

"Ini merupakan peraturan biara kita. Adalah Ci Khek yang menyambut tamu, apakah itu urusan kecil atau besar, baru dilaporkan kepada pengawas atau Hong Tiang."

"Peraturan biara kalian terlalu melit," jengek Suma Bing. "Silakan kalian berdua lapor, katakan Suma Bing ingin ketemu Hong Tiang kalian."

Rona wajah kedua pendeta itu berubah tak menentu. Salah seorang segera berkata, "Kalau Sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf Siau Ceng tak bisa melapor, silakan turun gunung saja!"

Membeku wajah Suma Bing, desisnya, "Aku yang rendah minta bertemu secara hormat, terhitung aku segan dan menghormati partai kalian, ini sudah sangat sungkan sekali. Kalau kalian benar berkukuh ingin aku menyebut maksud kedatanganku, maaf..."

"Bagaimana?"

"Maka terpaksa aku yang rendah langsung mencari sendiri Ciang Bun kalian."

Kedua pendeta itu mundur ketakutan sambil melintangkan Hong Pian Jan.

"Apa kalian mau berkelahi?" ejek Suma Bing menghina.

Salah seorang pendeta itu berseru gusar, "Tempat suci yang agung, tidak boleh membuat kerusuhan di sini, harap Sicu suka berpikir panjang!"

"Bagus benar tempat suci yang diagungkan!" dengus Suma Bing sambil melangkah maju hendak menerjang.

"Sicu tidak mendengar nasihat, terpaksa Siau Ceng turun tangan!"

Dua batang Hong Pian Jan berseliweran bagai bayangan gunung membawa deru angin badai yang menungkrup ke arah Suma Bing.

"Enyah kalian!" Begitu kedua tangan Suma Bing bergerak aneh sekali, tahu-tahu kedua Hong Pian Jan yang menyambar-nyambar tadi sudah dicekal di kedua tangannya. Keruan kaget kedua pendeta jubah abu-abu itu bukan kepalang, serasa semangatnya terbang ke awang-awang. Sekuat tenaga mereka menarik berbareng, namun sedikit pun tidak bergeming.

Mendadak sejalur hawa panas yang kuat menerjang ke arah mereka melalui tongkat panjang mereka sendiri. Seketika kedua pendeta itu merasa tergetar, cekalan tangannya kontan terlepas, badan mereka tersurung sempoyongan delapan kaki jauhnya. Suma Bing melontarkan kedua Hong Pian Jan itu ke tanah, seketika kedua tongkat panjang itu amblas separuhnya ke dalam tanah, lalu secepat terbang ia berlari ke atas.

"Siapa itu bernyali besar berani menerjang masuk biara, melukai orang?"

Begitu bentakan bagai geledek ini berhenti, lantas muncul seorang pendeta tua tinggi kekar bagai sebuah menara melayang tiba di tengah jalan, kebetulan tiba menghadang di hadapan Suma Bing. Setelah itu beruntun muncul lagi delapan pendeta pertengahan umur yang bertubuh kekar dan gagah perkasa.

Menghadapi situasi yang tidak menguntungkan ini, mau tak mau Suma Bing harus berpikir, "Sebelum duduk perkara sebenarnya dapat kuketahui, ada lebih baik aku tidak melukai orang, langsung saja menerjang ke biara besar, rintangan-rintangan ini sangat menyebalkan."

Karena pikirannya ini, segera ia kembangkan gerak kelit dari pelajaran Bu Siang Sin Hoat, begitu berkelebat mengitari barisan para pendeta itu terus langsung berlari ke pintu besar pesanggrahan gunung di depan sana. Para pendeta itu hanya merasa pandangan mereka kabur, lantas tahu-tahu kehilangan bayangan musuhnya. Keruan kejut mereka bukan buatan. Waktu mereka berpaling ke belakang, dilihatnya musuh sudah melesat tiba di luar pintu pesanggrahan. Serentak mereka membentak beramai-ramai terus menguber dengan kencang.

Para pendeta di dalam pintu pesanggrahan agaknya sudah mendengar keributan ini dan sudah siap siaga, beberapa puluh pendeta segera memberondong keluar mencegat di pintu besar itu. Akan tetapi, bagai bayangan iblis, tahu-tahu Suma Bing sudah berkelebat melewati puluhan pendeta ini dan dalam sekejap mata sudah tiba di luar pintu biara. Cara gerak tubuh itu benar-benar belum pernah ada dalam dunia persilatan.

"Sicu harap berhenti!" Seorang pendeta tua yang kurus tinggi berdiri tegap di tengah pintu biara, matanya berkilat-kilat menatap wajah Suma Bing.

Gesit sekali Suma Bing menghentikan tubuhnya, dingin ia menatap orang, tanyanya, "Siapakah Toa Su ini?"

"Pinceng Liau Seng, pengawas kelenteng ini. Siapakah Sicu ini?"

"Aku yang rendah bernama Suma Bing!"

"Untuk apa kau menerjang kemari melukai orang?"

"Aku yang rendah ada urusan penting mohon bertemu dengan Ciang Bun Hong Tiang kalian, murid kalian merintangi tidak kenal aturan..."

"Perbuatan Sicu ini agaknya memandang rendah partai kita!"

Disemprot terang-terangan, bergolak amarah Suma Bing, desisnya geram, "Aku yang rendah merasa sudah berlaku sangat sungkan sekali!"

Berubah air muka Liau Seng si pengawas kelenteng, sorot matanya semakin tajam menyala-nyala, lebih kentara akan kesempurnaan latihan kepandaiannya. Para pendeta yang mengejar tiba melihat pendeta pengawas sudah keluar menguasai keributan ini, beramai-ramai mereka menyingkir ke samping dan mundur teratur.

"Ada urusan apa Sicu hendak bertemu dengan Hong Tiang kita?"

"Setelah ketemu Hong Tiang kalian, belum terlambat kujelaskan."

"Katakan kepada Pinceng juga sama saja!"

"Apa Taysu berani bertanggung jawab?"

"Mungkin!"

Berubah serius wajah Suma Bing, suaranya rendah berat, "Aku harus tahu siapakah perempuan yang kalian kurung di gua belakang puncak ini?"

Wajah Liau Seng berubah kaku menegang dan mundur dua tindak, tanyanya, "Dari mana juntrungan ucapan Sicu ini?"

"Orang beribadat pantang berbohong, Toa Su, kau mengaku tidak?"

"Apa maksud Sicu sebenarnya?"

"Tidak apa-apa, hanya ingin kutahu orang yang terkurung itu siapa!"

"Ini..."

"Taysu tidak berani menjawab?"

Liau Seng bungkam, Suma Bing tertawa dingin, katanya lagi, "Kalau Taysu tidak berani menjawab, terpaksa aku minta petunjuk Hong Tiang kalian saja!"

Belum habis ucapannya, tahu-tahu bayangannya sudah menghilang. Bergidik seram Liau Seng Taysu, mengandal kesempurnaan latihannya ternyata tidak mampu melihat orang menggunakan gerak tubuh apa menghilang dari pandangannya, ini hampir menyerupai ilmu sesat. Maka sebat luar biasa ia membalik berlari masuk biara.

Setelah melewati Wi To Tiam, di depan pekarangan Tay Hiong Po Tiam, jauh-jauh sudah terdengar suara bentakan dan makian. Kiranya pendeta penyambut tamu dan beberapa pendeta yang sedang berdinas jaga sudah mengepung Suma Bing di tengah pekarangan itu. Liau Seng Taysu langsung berlari masuk ke belakang.

Terdengar Liau Ngo Taysu, pendeta penyambut tamu, tengah membentak gusar, "Sicu menerjang tiba dan membuat huru-hara di biara kita, agaknya memandang rendah kepandaian kaum Siau Lim kita?"

"Taysu tidak mau pergi melapor, apa aku harus menerjang langsung menuju ke kamar Hong Tiang?"

"Kalau Sicu masih sedemikian kurang ajar dan tak mengenal aturan, terpaksa Pinceng turun tangan!"

"Mengandal kepandaianmu, masih bukan tandinganku!"

Kata-kata yang terang-terangan menghina ini membuat Liau Ngo Taysu dan keenam pendeta dinas itu naik pitam dan berubah air mukanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment