Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 71

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 71

"Silakan Sicu merasakan kelihayan ilmu silat dari Siaulim!" Serempak dengan selesainya ucapan itu, pukulannya sudah melesat datang.

Dalam gusarnya, Liau Ngo Taysu mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan ajaran tunggal Siaulim yang terampuh, yaitu pukulan *Cui Pi Ciang*. Betapa keras dan hebat pukulan ini, sungguh dapat menghancurkan batu yang paling keras sekalipun.

Meskipun mulut Suma Bing berkata sembarangan, di dalam hati ia tidak berani memandang enteng kelihayan para pendeta Siaulim yang sudah berusia tua ini. *Kiu Yang Sin Kang* pun tak ayal segera dikerahkan hingga sepuluh bagian tenaganya.

*Cui Pi Ciang* dan *Kiu Yang Sin Kang* sama-sama memiliki kekuatan tenaga keras yang bersifat panas. Suara menggelegar menggetarkan bumi dan bangunan kelenteng di sekitarnya. Kontan, Liau Ngo Taysu terpental jauh sejauh satu tombak lebih sambil menghamburkan darah segar. Keenam pendeta dinas itu juga tidak luput terpelanting diterjang angin badai yang mengembang ke empat penjuru.

"Liau Ngo Sute, mundurlah!" Alis putih Liau Seng Taysu berkerut dalam, berdiri tenang dan garang di undakan depan Tayhiong Potiam. Liau Seng Taysu bersabda memberi hormat, lalu mengundurkan diri bersama keenam pendeta berdinas itu.

Sekonyong-konyong suara kelintingan bergema. Delapan belas pendeta bertubuh kekar dan berwajah garang bengis berbaris keluar dari kiri kanan pintu samping Toatian, masing-masing terbagi sembilan dan berbaris jajar di kedua sisi. Diam-diam Suma Bing membatin: ini pasti Cap Pek Lohan (delapan belas Lohan) yang kenamaan dari Siaulim itu.

Belum hilang pikirannya, menyusul berjalan keluar seorang pendeta tua beralis putih, lalu berdiri berhadapan dengan Liau Seng Taysu. Peraturan Siaulim sangat keras; meskipun terjadi urusan penting, para muridnya tidak diperbolehkan sembarangan bergerak.

Selanjutnya, seorang pendeta tua yang mengenakan kasaya terbuat dari satin dan berwajah bersih agung perlahan-lahan keluar dari ruangan besar itu. Di belakangnya, tidak kurang dari dua puluh pendeta tua dan muda mengikutinya. Segera Liau Seng dan pendeta yang baru datang itu membungkuk bersabda, lalu berseru lantang, "Menghadap Ciangbun yang mulia!"

"Para sute tidak perlu peradatan!" Kiranya, pendeta tua yang ber-kasaya satin bersulam itu tidak lain adalah Ciangbun Hongtiang Siaulim-si, Liau Sian Taysu.

Segera Suma Bing mengangkat tangan memberi hormat, "Yang Mulia, apakah Anda Ciangbun Hongtiang?" Sikap yang dingin dan nada yang menghina ini membuat para pendeta Siaulim yang hadir membelalak gusar.

Ciangbun Liau Sian Taysu bersabda Buddha, lalu berkata, "Memang Pinceng Liau Sian adanya. Kedatangan Sicu ini sudah saya dapatkan laporannya dari pengawas kelenteng..."

Tidak sabaran lagi, segera Suma Bing menandaskan, "Lalu bagaimana keputusan Ciangbun Taysu?"

"Dari mana Sicu mengetahui bahwa di belakang puncak Siaulim-hong ada terkurung seorang perempuan?"

"Ini aku tidak dapat memberi jawaban, hanya ingin kutegaskan apakah benar ada hal itu?"

"Ya, memang ada!"

Berdetak keras jantung Suma Bing, ujarnya penuh haru, "Kalau ada, aku yang rendah mohon perkenankan untuk bertemu!"

"Apa hubungan Sicu dengan perempuan yang terkurung itu?"

"Ini..." sesaat lamanya Suma Bing tidak mampu memberi jawaban positif. Tak mungkin dia mengatakan bahwa perempuan itu adalah ibunya, bagaimana kalau bukan? Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, lalu ia menyahut, "Aku yang rendah harus membuktikan apakah perempuan itu adalah orang yang kupikirkan!"

Berubah serius wajah Liau Sian, katanya sungguh-sungguh, "Kalau begitu, hakikatnya Sicu belum tahu siapakah perempuan yang terkurung itu?"

"Boleh dikata demikian!"

"Bukankah permohonan Sicu itu membuat keributan tanpa aturan?"

Wajah Suma Bing mengelam hitam, "Yang Mulia sebagai ketua, kata-katamu penuh pertanggungjawaban, ini bukan membuat keributan tanpa aturan!"

Keruan wajah Liau Sian Taysu memerah jengah, tanyanya, "Siapakah orang yang Sicu pikirkan itu?"

Benak Suma Bing bekerja keras: ada baiknya tidak kukatakan. Kalau membongkar asal-usul sendiri dan orang yang dikurung itu sebaliknya bukan ibunya, hal ini akan membawa rintangan banyak dalam pengejarannya terhadap musuh-musuhnya. Maka segera ia menyahut, "Hal ini susah kuterangkan, aku hanya ingin bertemu sekali saja dengan orang itu. Kalau bukan orang yang kupikirkan, segera aku minta maaf dan pergi dari sini!"

"Kita juga ada kesukaran, tak dapat meluluskan permohonan Sicu."

Suma Bing berusaha menahan gusar, tanyanya, "Kalau begitu harap tanya, siapakah perempuan yang dikurung itu?"

"Urusan ini menyangkut kepentingan dan rahasia partai kita, maka tak dapat kujelaskan!"

Meluap amarah Suma Bing susah ditekan lagi, dengusnya dingin, "Secara hormat aku mohon bertemu, kalau Ciangbunjin tidak bisa meluluskan, maka jangan salahkan aku..."

"Sicu hendak berbuat apa?" desak Liau Sian dengan nada berat, matanya pun menyorot garang menyala-nyala.

"Aku akan membuktikan sendiri!"

Semua pendeta yang hadir membelalak gusar dan mematung bagai arca tembaga. Otot di dahi mereka merongkol keluar menahan gusar, tapi di hadapan ketua mereka, sebelum menerima perintah, mereka tak berani bergerak. Suasana semakin meruncing tegang penuh mengandung nafsu pembunuhan.

Agaknya kepandaian dan latihan batin Liau Sian sudah sempurna. Air mukanya masih kelihatan sabar dan welas asih, suaranya datar, "Mungkin Sicu takkan mampu bergerak sesuka hatimu!"

"Belum tentu!" bentak Suma Bing murka, terus memutar tubuh hendak...

Sebelum kakinya bertindak, delapan belas Lohan yang berdiri di samping kanan kiri itu mendadak secepat kilat menggeser kedudukan. Tahu-tahu Suma Bing sudah terkepung. Suma Bing mendengus hina keras, ejeknya, "Kalian takkan mampu merintangi aku."

Kelebat tubuhnya seringan asap tanpa bayangan, laksana setan mengambang, tahu-tahu sudah berada di luar kurungan. Kesempatan untuk berpikir bagi delapan belas Lohan belum ada, tahu-tahu sudah kehilangan musuhnya.

"Bu Siang Sin Hoat!" tercetus seruan dari mulut Liau Sian, wajahnya pun berubah. Seruan Liau Sian Taysu ini menggegerkan seluruh hadirin. Suma Bing sendiri juga melongo heran; hanya sekali lihat saja lantas ketua Siaulim-si ini dapat menyebutkan asal-usul gerak tubuhnya itu.

Agaknya Ketua Siaulim, Liau Sian Taysu, sangat terpengaruh oleh perasaannya, suaranya gemetar, "Di mana pengawas kelenteng?"

"Tecu di sini!" sahut Liau Seng sambil merangkap tangan.

"Harap pengawas kelenteng perintahkan seluruh penghuni kelenteng bersiap siaga!"

"Tecu terima perintah!"

"Di mana pelaksana hukum?"

Seorang pendeta tinggi tegap tampil ke depan, "Tecu di sini!"

"Silakan Ngo Tianglo keluar!"

"Tecu terima perintah!"

Seketika suara lonceng bergema membumbung ke angkasa, membawa ketegangan yang meruncing bagi biara kuil yang agung ini. Bayangan manusia berkeliaran di luar dan dalam Siaulim-si yang besar itu sudah penuh terjaga ketat seumpama jaring-jaring laba-laba. Baru sekarang Suma Bing menginsafi situasi yang menegangkan ini, hatinya berdetak keras; naga-naganya Siaulim-si mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi dirinya.

Keadaan berubah memburuk sedemikian cepat setelah dirinya melancarkan pelajaran *Bu Siang Sin Hoat*. Langkah Liau Sian menuruni undakan, para pendeta pelindung di belakangnya juga tidak ketinggalan maju mengikuti.

"Suma Sicu, harap suka sebutkan perguruanmu?"

"Ciangbunjin sudah tahu tapi sengaja bertanya?" balas tanya Suma Bing dongkol.

"Yang Pinceng maksudkan adalah asal-usul *Bu Siang Sin Hoat* itu?"

"Ini, maaf, tak perlu kusebutkan!"

"Apa hubungan Sicu dengan *Bu Siang Sin Li*?"

Suma Bing membatin; mungkin *Bu Siang Sin Li* ada pertikaian apa dengan pihak Siaulim-si. *Bu Siang Sin Li* adalah tokoh yang menggetarkan dunia persilatan (bulim) pada ratusan tahun yang lalu. Peristiwa ini susah dijelaskan, maka ia menggeleng serta katanya, "Tiada sangkut paut apa-apa!"

"Lalu dari mana Sicu mempelajari *Bu Siang Sin Hoat* itu?"

"Sukar kujelaskan!"

Pada saat itulah mendadak terdengar tembang panjang, "Para Tianglo sudah tiba!"

Lima orang pendeta tua beralis putih panjang mengenakan kasaya merah perlahan-lahan keluar dari Toatian. Segera Liau Sian maju dua langkah, sedikit membungkuk, dan berseru, "Menyusahkan para Tianglo ikut hadir di sini!"

Serentak kelima Tianglo bersabda Buddha sambil membungkuk tubuh. Seorang yang terdepan segera berkata, "Kami beramai tidak berani menerima hormat besar Ciangbunjin, tecu sekalian menghadap pada Ciangbunjin!"

"Tidak berani, para Tianglo silakan, tidak perlu banyak peradatan!"

Sambil memejamkan mata, kelima Tianglo itu memasuki gelanggang. Seorang yang terdepan tiba-tiba membuka matanya, dua sorot kilat yang tajam menatap wajah Suma Bing tanpa berkedip. Tanpa mengenal gentar atau takut, Suma Bing juga memandang lawannya lekat-lekat.

Siaulim Ngo Lo sudah berusia hampir seabad, selama ini tidak gampang-gampang keluar setengah langkah dari Tianglo-wan. Sekarang kelima Tianglo ini keluar bersama, membuktikan betapa penting urusan ini. Tapi Suma Bing sendiri sampai pada detik itu masih bersikap dingin seakan tanpa ambil perhatian; sedikit pun dia tidak tahu apa yang bakal terjadi.

Ketegangan semakin meruncing. Mendadak tanpa membuka suara, Tianglo terdepan itu memutar kedua tangannya, terus disodokkan ke depan. Kekuatan pukulan yang dilancarkan mendadak ini laksana geledek menyambar, hebat perbawanya. Betapapun tinggi *Lwekang* Suma Bing, rasanya takkan mampu membalas menyerang atau bertahan, terpaksa tubuhnya berkelebat menyingkir. Tanpa disadari, ia menggunakan pelajaran *Bu Siang Sin Hoat*.

Setelah melancarkan pukulannya, segera Tianglo itu menarik ulang serangannya, suaranya datar berat, "Benar adalah *Bu Siang Sin Hoat*."

Pada saat itulah keempat Tianglo lainnya mendadak membuka mata, menatap tajam ke arah Suma Bing. Kedatangan Suma Bing adalah hendak menyelidiki jejak ibunya, tak terduga begitu ia menggerakkan ilmu *Bu Siang Sin Hoat*, pokok persoalannya malah menjadi perhatian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment