Chapter 73
Para murid Shaolin dan para pelindung kelenteng melihat Ciangbunjin turun tangan sendiri. Mereka beramai-ramai merubung maju sehingga suasana di dalam gelanggang semakin tegang dan mencekam, membuat orang susah bernapas.
Sungguh kebetulan, pada saat itulah mendadak lonceng gereja berdentang keras memekakkan telinga, lalu disusul suara seorang petugas jaga yang berseru keras, "Hudco telah tiba!" Seketika semua murid Shaolin menunjukkan rasa hormat dan khidmat. Mereka mundur ke kedua belah samping dan berdiri dengan rapi. Ketiga Tianglo yang tengah bertempur juga segera melompat keluar gelanggang untuk menghentikan pertempuran. Berjejer bersama Ciangbun Hongtiang, mereka menghadap ke Toa Tian (ruang besar). Dalam hati, Suma Bing juga terkejut; ia bertanya-tanya tokoh macam apakah orang yang disebut Hudco itu.
Tengah ia berpikir demikian, tampak olehnya seorang pendeta tua kurus kering agak bungkuk, mengenakan jubah kebesaran, muncul dari dalam ruang sembahyang. Jalannya pelan dan lemah, sedemikian lemah gerak kakinya itu seumpama diembus angin pun pasti bisa roboh.
"Masa pendeta tua bagai mayat hidup inikah yang disebut Hudco?" demikian batin Suma Bing.
Segera Ciangbun Hongtiang tampil ke depan tiga langkah, kedua lutut ditekuk sambil berseru, "Ciangbun Tecu Liau Sian menghadap Hudco!"
"Kau sebagai pejabat Ciangbun, Lolap tidak berani terima, silakan!" Kelihatannya pendeta tua kurus kering bagai mumi ini tinggal kulit pembungkus tulang, tapi suaranya sedemikian keras mendengung memekakkan telinga. Tampak hanya sedikit menggerakkan tangannya saja, tubuh Liau Sian yang setengah membungkuk itu terangkat bangkit dan mundur ke tempat asalnya lagi.
Sekarang giliran kelima Tianglo yang menyembah hormat sambil berseru, "Harap Supek terima hormat kami!" Maka beramai-ramai para murid dari semua tingkatan bersabda Buddha, lalu berlutut dan memberikan hormat.
Suma Bing tercekat dalam hati. Usia kelima Tianglo sudah hampir seabad, sedangkan pendeta tua ini kiranya seangkatan lebih tinggi dari mereka, atau lebih tinggi dua tingkat dari Ciangbun Hongtiang. Bukankah usianya sudah lebih dari seabad? Suasana sekelilingnya sedemikian hening dan penuh keagungan. Pelan-pelan si pendeta tua itu melangkah maju mendekat.
Di mana pandangan Suma Bing melihat, tanpa terasa ia merinding dan menyedot hawa dingin. Ternyata cara berjalan pendeta tua ini, kakinya mengambang tiga sentimeter tanpa menyentuh tanah. Terang sekali ilmu ringan tubuh yang dikembangkan ini adalah *Leng Hi Poh* yang paling dibanggakan dan paling sukar dipelajari itu.
Kira-kira terpaut dua tombak di hadapan Suma Bing, barulah pendeta itu menghentikan langkahnya. Kelopak mata yang terpejam itu mendadak terbuka lebar, hanya sekali berkelebat saja lantas terpejam lagi. Meski hanya sekali kedipan saja, ini cukup membuat seluruh tubuh Suma Bing tergetar.
Mendadak pendeta tua merangkapkan kedua tangan di depan dada, sambil menengadah mulutnya bergumam, "Tecu Hui Kong melanggar pantangan dan sumpah selama enam puluh tahun, semoga para Cousu suka memberi ampun akan pelanggaran yang terpaksa ini!" Habis ucapannya, kedua matanya dipentang lebar lagi, dua sinar kehijauan dari matanya menatap setajam ujung pisau ke muka Suma Bing.
Agak lama kemudian baru ia membuka kata lagi, "Asal Siau Sicu bicara secara terus terang, dosa-dosamu dapat dihapus."
"Tidak mungkin," sahut Suma Bing tegas.
"Kalau begitu, terpaksa Lolap benar-benar melanggar pantangan?"
"Silakan!"
Kedengaran suara Hui Kong melengking tinggi bersabda Buddha, sebelah tangannya yang kurus kering bagaikan batang kayu itu diangkat mencengkeram ke arah Suma Bing dari kejauhan. Melihat gaya serangan orang ini, terkesiap hati Suma Bing. Ia cepat-cepat mengayunkan kedua tangan, tetapi siapa sangka baru saja tangannya bergerak, tenaga dalam ternyata susah dihimpun dan dikerahkan. Keruan kagetnya tak terhingga, maka terlihat cengkeraman musuh ditarik kembali; seketika suatu daya sedot yang kuat sekali membuat dirinya tanpa kuasa terseret ke hadapan orang itu.
Beruntun jari-jari Hui Kong menjentik lalu katanya, "Untuk sementara waktu Lwekang Siau Sicu kututup. Setelah semua urusan beres baru boleh kupulihkan lagi. Kuharap kau tahu diri!" Habis berkata, ia memutar tubuh dan dalam sekejap mata bayangannya sudah menghilang di dalam ruang Toa Tian.
Timbul rasa kejang dan linu kesakitan dalam tubuh Suma Bing. Dalam keadaan yang sudah terlambat ini, meskipun mata melotot dan gigi gemeretak gusar, apalagi yang dapat diperbuatnya? Dalam pada itu, para Tianglo juga segera pergi.
Terdengar Ciangbun Hongtiang berseru lantang, "Semua bubar dan harus selalu waspada! Selain pengawas kelenteng dan para murid petugas, semua kembali ke tempat masing-masing." Beramai-ramai para pendeta bersabda dan memberi hormat, terus mengundurkan diri tanpa bersuara. Tinggal empat pendeta petugas dan Liau Seng Taysu berdiri tegak di belakang Ciangbun Hongtiang Liau Sian Taysu.
Liau Sian maju beberapa langkah, suaranya berat berkata, "Sekarang Sicu boleh memberitahukan maksud kedatanganmu sebenarnya dan asal-usulmu, bukan?"
"Tidak!" sahut Suma Bing beringas.
"Suco kami pernah berkata, kalau kau mau bicara, urusan ini habis sampai di sini saja, bahkan Lwekangmu dapat dipulihkan lagi."
"Aku yang rendah tidak sudi menerima budi kalian ini."
Berubah wajah Liau Sian, katanya sambil berpaling ke arah Liau Seng Taysu, "Sementara waktu Sicu ini kuserahkan kepada Sute. Antarkan dia masuk ke Ceng Sim Sek (ruang perenungan). Setelah dia mau buka mulut, baru kita rundingkan lagi." Liau Seng Taysu mengiakan, bersama keempat murid petugas mereka membungkuk mengantar kepergian Ciangbun Hongtiang.
Dua murid petugas itu lantas menggiring Suma Bing ke ruang samping sebelah sana. Apa yang dinamakan Ceng Sim Sek ternyata adalah sebuah rumah batu yang rapat dipagari jeruji besi. Agaknya di sinilah tempat peranti menghukum para murid Shaolin yang berdosa atau melanggar aturan.
Demikian juga Suma Bing, ia terkurung dalam Ceng Sim Sek itu. Menggunakan ilmu totok yang tertinggi dan terampuh untuk menutup hawa murninya, ia lumpuh dan tenaganya tak ubahnya seperti orang biasa. Sungguh susah dibayangkan sampai di manakah taraf kesempurnaan ilmu dan Lwekang Hui Kong. Didengar dari sabda renungannya tadi, naga-naganya ia sudah selama enam puluh tahun baru keluar untuk pertama kali ini. Benar-benar tak tersangka, sebelum tujuan utamanya dapat terlaksana, malah dirinya harus tersangkut dalam lingkaran yang menyebalkan ini.
"Siapakah wanita yang terkurung di gua di belakang puncak Siau Sit Hong itu? Apakah ibunya San Hoa Li, Ong Fang Lan? Atau perempuan lain yang berdosa besar yang memang setimpal menerima hukumannya itu?"
Selama satu hari satu malam, dalam perasaan Suma Bing seakan-akan sudah dua tahun lamanya. Laksana seekor singa yang baru saja dimasukkan dalam kerangkeng, selama satu hari satu malam itu sekejap pun belum pernah matanya dipejamkan. Rasa gusar, benci, dan dendam selalu merangsang benaknya, sedetik pun belum pernah meninggalkan pikirannya.
"Kalau aku tidak mati, kalau aku bisa keluar, hm..." demikian gumamnya penuh penasaran. Dengusan hidung terakhir itu tidak sukar dibayangkan, itulah yang mewakili pelimpahan hatinya yang penuh gelora dendam!
Sudah berulangkali Liau Seng Taysu datang membujuk, setiap kali selalu mengundurkan diri tanpa hasil. Pada tengah malam hari kedua, cuaca sangat gelap, angin pegunungan menghembus kencang. Tanpa mengeluarkan suara, pintu jeruji besi rumah batu itu terbuka lalu tertutup lagi dengan cepat. Sebuah bayangan pendek tambun tapi selincah kucing enteng sekali melayang masuk ke dalam rumah batu di mana Suma Bing berada.
"Siapa itu?"
"Ssst! Buyung jangan keras-keras, inilah aku si maling tua!"
Suma Bing merasa kejut dan heran. Ternyata si maling bintang, Si Ban Cwan, juga telah menyusul tiba sampai Shaolin. Entah menggunakan cara apa dia dapat lolos dari penjagaan yang sedemikian ketatnya, malah dapat membuka pintu jeruji besi itu lagi.
"Buyung, mari keluar!"
"Keluar?"
"Eh, apa kau ingin cukur gundul menjadi Hwesio, selama hidup ini tinggal dalam kurungan di Shaolin ini?"
"Seorang laki-laki berani datang secara terang juga harus pergi secara terang-terangan pula," begitulah semprot Suma Bing uring-uringan, "Mana aku, Suma Bing, mau pergi secara sembunyi begitu?"
Si maling tua mendengus ejek, katanya, "Buyung, apa kau mengharap para pendeta Shaolin ini beriring mengantarmu keluar? Kenyataannya kau sudah menjadi orang hukuman, masih berlagak apa segala. Shaolin tidak akan pindah tempat, apa kelak kau tidak dapat datang lagi? Dengan menyerempet bahaya, si maling tua ini mencuri kunci dari tubuh Liau Seng Taysu untuk menyambut kau keluar kurungan. Perbuatanku ini baru pantas disebut manusia rendah?"
Hampir saja Suma Bing tidak kuat menahan rasa gelinya. Ia ujar, "Baiklah, aku pasti akan datang lagi!"
"Buyung, ingat kata-kataku, jangan kau main kukuh dan keras kepala. Kalau sampai konangan, berarti kau menyulut sumbu bencana, menyesal pun tak berguna."
"Apakah luar dalam kelenteng ini tidak ada penjagaan?"
"Sudah tentu ada!"
"Lalu Cianpwe..."
"Hehehehe, julukan si maling bintang merampok rembulan, masakah nama kosong belaka."
"Tapi aku tertotok oleh Hui Kong Taysu hingga Lwekang-ku lenyap..."
"Paling perlu kita keluar dulu, urusan belakang!"
Tanpa banyak cakap lagi, si maling bintang Si Ban Cwan menjinjing tubuh Suma Bing dan dikempitnya di bawah ketiaknya. Secara diam-diam laksana setan, mereka keluar dari Shaolin tanpa diketahui oleh seorang pun jua. Sebuah bayangan langsing tahu-tahu muncul dari kegelapan sebelah depan sana.
"Locianpwe, bagaimana?" tanya bayangan itu.
"Mencuri ayam menggerayangi anjing adalah modal si maling tua yang paling diandalkan, pasti takkan salah, mari pergi!"
Bayangan langsing yang sembunyi di luar kelenteng itu bukan lain adalah Siang Siau Hun.
"Engkoh Bing!" seru Siang Siau Hun riang gembira.
Mendadak terdengar sebuah bentakan keras dan berat, "Sicu dari manakah itu yang berkunjung ke biara kami?" disusul enam bayangan besar beruntun muncul dan tepat mencegat di tengah jalan mereka.