Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 74

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 74

"Lari!" tiba-tiba si Maling Bintang membentak keras. Tubuhnya sudah melejit ke depan secepat anak panah; dalam sekejap saja sepuluh tombak sudah dilampauinya.

"Sicu, berhenti!" sebuah bayangan hitam lainnya muncul dan meluncur turun di hadapan si maling tua, Si Ban Cwan.

Itulah seorang pendeta tua yang membawa tongkat besi panjang. Kedua matanya berkilat-kilat, memancarkan sinar yang menakutkan di kegelapan malam. Di belakang sana, Siang Siau Hun juga sudah terkepung oleh keenam pendeta tadi tanpa mampu meloloskan diri.

Si Maling Bintang tertawa dingin, tubuhnya mencelat miring ke samping. Dibarengi sebuah bentakan keras, pendeta tua itu berkelebat lagi dan tahu-tahu sudah mencegat di depan si maling tua.

Wut! Ia menyapukan tongkat senjatanya. Dari cara ia melompat mencegat dan melancarkan serangan, dapat dipastikan bahwa *lwekang* pendeta tua ini bukan main hebatnya. Karena mengempit Suma Bing, gerak-gerik si maling tua kurang leluasa. Ia tidak dapat melayani serangan dengan serangan, sehingga terpaksa berkelit mundur delapan kaki jauhnya.

Mendadak Suma Bing meronta serta berteriak, "Cianpwe, lepaskan aku! Lekas kau pergi!"

"Buyung, tidak mungkin terjadi, legakan hatimu, mereka takkan melukai serambutmu," ujar si maling tua.

Pendeta tua itu melintangkan tongkatnya serta berkata, "Oh, kiranya adalah Siao Sicu yang kenamaan itu. Maaf Pinceng berlaku kurang hormat, silakan kembali ke dalam kuil untuk berdamai!"

"Pendeta tua, apa gelaranmu?" tanya si Maling Bintang, Si Ban Cwan, dengan acuh tak acuh.

"Pinceng Liau Cin!"

"Baik, kuturuti kemauanmu, kembalilah!"

Benar juga, segera si Maling Bintang, Si Ban Cwan, membalik tubuh menuju ke arah pintu besar kelenteng agung itu. Saat itu, Siang Siau Hun masih terkepung oleh enam murid Siau Lim Si. Keadaannya sudah terdesak, rambutnya awut-awutan, dan keringat membanjir.

"Berhenti!" segera Liau Cin berseru ke arah enam muridnya. Keenam pendeta tegap gagah itu segera mematuhi perintahnya dan berloncatan mundur. Sambil membenarkan letak sanggul kepalanya, Siang Siau Hun mengikuti di belakang Maling Bintang, Si Ban Cwan, menuju ke arah kelenteng.

Di luar pintu besar kelenteng itu sudah terpasang beberapa buah tenglong besar hingga sekitarnya terang benderang seperti siang hari. Tampak Liau Sian, Ciangbunjin Siau Lim Si, sudah menanti di tengah pintu. Di belakangnya beruntun berdiri kelima Tianglo, pengawas kelenteng Liau Seng, Liau Ngo si petugas penyambut tamu, serta banyak murid yang bertugas jaga. Tidak ketinggalan juga kedelapan belas Lohan berjajar di kedua belah sisi; suasana sangat tegang dan sunyi.

Setelah meletakkan Suma Bing di atas tanah, Maling Bintang Si Ban Cwan tersipu-sipu mengangkat tangan memberi hormat ke arah Liau Sian, "Silakan, Ciangbunjin!"

Liau Sian bersabda sambil merangkapkan tangan, "Malam-malam Lo Sicu menyelundup ke dalam kelenteng, malah hendak membawa lari orang hukuman."

Tak tertahan lagi Suma Bing membentak gusar, "Tutup mulutmu! Tuan sebagai ketua dari satu aliran besar, cara bicaramu harus tahu aturan dan bertanggung jawab. Memang aku sedikit lalai dan kena diringkus oleh kalian, aku menyesalkan kepandaianku yang tidak becus. Bagaimana bisa kau anggap aku sebagai orang hukuman kalian untuk merendahkan derajat harga diriku?"

Setelah tertawa dingin, si Maling Bintang Si Ban Cwan ikut menimbrung, "Partai kalian mengurung Suma Bing, malah memunahkan ilmu silatnya lagi, dengan alasan apa kalian berani berlaku sewenang-wenang?"

Sahut Liau Sian dengan nada berat, "Suma Sicu membikin onar, melukai anak murid kami, dan yang lebih penting, asal-usulnya sangat mencurigakan!"

"Dalam hal apa dia mencurigakan?"

"Gerak tubuh yang dipertontonkan itu menyangkut suatu peristiwa penting dalam partai kami pada seabad yang lalu!"

Keterangan ini bukan saja membuat Si Ban Cwan dan Siang Siau Hun tercengang heran, juga Suma Bing tidak kurang pula kejutnya. Agaknya prasangkanya benar, soal ini menyangkut pada *Bu Siang Sin Hoat* yang dikembangkannya itu, tapi sebab utamanya ia tidak dapat menyimpulkannya. Karena sudah bersumpah pada Giok Li Lo Ci untuk tidak membocorkan keadaan di Lembah Kematian, maka pengalamannya di *Bu Kong San* yang membawa berkah itu tidak diketahui orang lain.

Sekilas si Maling Bintang Si Ban Cwan melirik ke arah Suma Bing, lalu berpaling lagi ke arah Liau Sian serta bertanya, "Dapatkah kiranya Ciangbunjin menerangkan sebab musabab dari peristiwa lama itu?"

"Peristiwa itu menyangkut rahasia partai kita. Maaf, tak dapat kami memenuhi permintaanmu itu."

"Aku, maling tua, masih ada satu pertanyaan, harap suka memberi penjelasan."

"Silakan Sicu katakan!"

"Sia Sin Kho Jiang, satu di antara *Bu Lim Su Ih* itu, adakah permusuhan dengan partai kalian?"

"Tidak!"

"Kalau toh Lam Sia tiada permusuhan dengan partai kalian, ketahuilah Suma Bing adalah murid Lam Sia. Malah pengalamannya di dunia Kangouw belum cukup setahun, bagaimana bisa dikatakan dia tersangkut paut dengan peristiwa lama partai kalian?"

"Maksud tujuan dan asal-usul Suma Sicu ini sangat mencurigakan. Tidak bisa tidak, partai kami harus membikin terang urusan ini!"

"Kalau urusan ini belum jelas, mana boleh kalian menahan dan mengurungnya secara semena-mena?"

"Justru tujuan kita adalah membikin terang urusan ini!"

"Tujuan Suma Bing mendatangi Siau Sit Hong ini terutama hanya ingin membuktikan perempuan yang kalian kurung di belakang puncak itu adalah orang yang tengah dicarinya. Beginilah penjelasannya!"

"Ya, memang mungkin perempuan itu adalah orang yang tengah dicari oleh Suma Sicu itu!"

"Siapakah dia?" tanya Suma Bing terharu.

"Hati Sicu sendiri pasti sudah tahu!"

Darah Suma Bing bergolak, terasa dadanya hampir meledak, sinar matanya memancarkan kebencian yang menyala-nyala buas. Jikalau *lwekang*-nya tidak tertutup, mungkin segera ia turun tangan melabrak musuh ini. Sambil kertak gigi, suaranya mendesis, "Perhitungan ini, aku Suma Bing harus menebusnya berlipat ganda!"

Tanpa menghiraukan sikap Suma Bing itu, Liau Sian berpaling ke arah si Maling Bintang, "Omitohud, dosa, dosa... Silakan Lo Sicu dan Li Sicu ini segera turun gunung!"

"Tidak bisa!" hampir bersamaan maling tua dan Siang Siau Hun berseru.

Jawaban ketus dan kasar ini membuat semua anak murid Siau Lim Si yang hadir merasa gusar. Dengan penuh kemarahan, mereka melotot ke arah maling tua dan Siang Siau Hun.

Kata Liau Sian Taysu kepada Liau Seng Taysu, "Harap Sute menggusur tawanan!"

Liau Seng, si pengawas kelenteng, segera mengiakan, lantas menghampiri ke arah Suma Bing dengan langkah lebar.

*Sreng.* Siang Siau Hun mencabut keluar pedangnya. Si Maling Bintang juga bergegas menghadang di depan Suma Bing. Ketegangan semakin meruncing seakan-akan dalam kesenyapan sebelum hujan badai bakal mendatang.

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah suara tawa aneh yang mendirikan bulu roma, mendengung di tengah udara. Berubah hebat air muka para jagoan dari Siau Lim Si, serta-merta Liau Seng juga menghentikan langkahnya.

Sebuah bayangan hitam bagai setan, seenteng burung hinggap, memasuki gelanggang. Kiranya itulah seorang aneh yang berpakaian serba hitam sampai kulit dan wajahnya juga berwarna hitam, hanya sepasang bola matanya lebih banyak putih daripada hitamnya.

Sekonyong-konyong, di antara barisan anak murid Siau Lim Si terdengar sebuah seruan kaget: "Racun! Diracun!"

Tentang "Racun Diracun", pernah mengalahkan Pak Tok Tangbun Lu, baru terbatas beberapa orang saja yang mengetahui. Tapi dia berani menggunakan julukan "Racun Diracun" malang melintang di dunia persilatan, sehingga membuat Tangbun Lu yang selama ini sudah merajai dunia racun akhirnya tunduk bersembunyi diri. Maka, dapatlah dibayangkan betapa berbisanya manusia beracun ini.

Kehadiran Racun Diracun di Siau Lim Si ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Demikian juga para pendeta Siau Lim Si tidak kalah besar kejut dan takutnya, entah apa maksud tujuan manusia paling beracun ini muncul di sini.

"Apakah Sicu ini yang disebut Racun Diracun oleh kaum persilatan?" tanya Liau Sian penuh kewaspadaan.

Racun Diracun mengiakan, suaranya dingin menusuk telinga, membuat orang merinding karenanya.

"Ada urusan apa Sicu berkunjung kemari?"

"Sudah tentu, kalau tiada urusan penting tidak bakal aku sudi berkunjung."

"Pinceng minta penjelasan!"

"Bukankah pertanyaan Ciangbunjin ini sangat berlebihan? Karena urusan Sia Sin kedua Suma Bing inilah aku datang!"

Berubah pucat wajah Liau Sian, para pendeta lainnya juga sontak unjuk rasa gusar dan gentar.

"Sicu khusus datang untuk Suma Bing?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Harap Sicu menerangkan secara jelas!"

Racun Diracun terbahak-bahak, lalu serunya, "Urusan ini sangat gampang, kubawa dia turun gunung!"

Liau Cin Taysu tidak kuat menahan sabar lagi, sambil menggerakkan senjata tongkatnya ia membentak, "Sicu anggap Siau Lim tiada orang kosen?"

Racun Diracun tertawa ejek, "Aku tidak peduli kesimpulan apa yang Taysu pikirkan!"

Kejut dan heran merangsang benak Suma Bing. Ternyata Racun Diracun datang hendak menolong dirinya. Sepak terjangnya selama ini sudah tentu bukan terjadi secara kebetulan saja. Tapi, mengapa dia berbuat demikian?

Liau Sian melambaikan tangan mencegah perbuatan Liau Cin selanjutnya, suaranya terdengar sangat berat, "Mengandalkan alasan apa Sicu berani membawa orang pergi?"

Tidak kalah garangnya, Racun Diracun balas bertanya, "Lalu mengandalkan apa pula partai kalian mengurung dan menghukum orang lain?"

"Sebab dia berkeliaran dalam kelenteng melukai orang, dan juga karena dia tersangkut dalam peristiwa yang sudah terkatung-katung selama seabad!"

"Peristiwa apa yang terkatung-katung itu?" tanya Racun Diracun sambil tertawa sinis.

"Peristiwa itu merupakan rahasia partai kita, harap maaf Pinceng tidak bisa memberi keterangan!"

"Itulah bagus sekali, urusanku juga sangat penting dan terahasia, maka hendak kubawa dia pergi, maaf aku juga tidak bisa menerangkan panjang lebar!"

Wajah Liau Sian mengelam dalam, matanya memancarkan cahaya terang tajam. Agaknya ketua Siau Lim Si yang diagungkan ini benar-benar sudah marah besar. Perlahan dan berat dia maju tiga langkah, suaranya bengis, "Apa Sicu berani berbuat semena-mena?"

"Sungguh menggelikan, ini mana boleh dianggap semena-mena."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment